Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Mobil sedan mewah meluncur mulus melewati jalanan protokol kota yang ramai.
Clara Wijaya duduk bersidekap di kursi belakang sambil melirik ke arah Arka.
Pria di sebelah nya itu tampak sangat tenang memandang pemandangan luar jendela.
"Sebenarnya apa yang ada di dalam kepala anehmu itu, Arka?" tanya Clara memecah keheningan kabin.
Arka menoleh pelan lalu tersenyum tipis.
"Memangnya ada apa, Nona calon istri?" jawab Arka santai.
"Kamu menyelamatkan kakekku, lalu sekarang kamu mau saja diajak makan siang olehku tanpa rasa canggung sama sekali," omel Clara.
"Kenapa harus canggung? Bukankah menyenangkan bisa jalan-jalan bersama wanita tercantik di kota ini?" puji Arka dengan nada usil.
Wajah Clara seketika merona merah padam mendengar pujian blak-blakan itu.
"B-siapa juga yang kamu puji!" sangkal Clara salah tingkah sambil membuang muka ke arah jendela.
Mobil mewah itu akhirnya melambat dan berhenti di depan sebuah restoran bintang lima berarsitektur klasik modern.
Restoran bernama Grand Imperial itu terkenal sebagai tempat berkumpulnya para kaum elite dan konglomerat papan atas.
Pak Joko membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.
Clara melangkah keluar dengan anggun disusul oleh Arka yang mengenakan pakaian kasual sederhananya.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam area lobi restoran, tatapan mata para pengunjung langsung tertuju ke arah mereka.
Lebih tepatnya, tatapan itu menyorot tajam ke arah Arka yang berpakaian sangat kontras dengan kemewahan tempat tersebut.
"Lihat pria itu, pakaiannya seperti buruh rendahan tapi berani masuk ke restoran semahal ini," bisik seorang tamu wanita berkalung berlian.
Clara mendengar bisikan-bisikan itu dan langsung merasakan amarah di dadanya naik.
Ia hendak melangkah untuk menegur tamu yang berbicara lancang tersebut.
Namun, sebuah tangan lembut tiba-tiba menahan pergelangan tangan Clara.
Arka menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tenang.
"Biarkan saja, anjing menggonggong kafilah berlalu," bisik Arka santai.
Clara tertegun melihat ketenangan luar biasa yang ditunjukkan oleh pria di sampingnya itu.
"Kamu benar-benar punya kesabaran seluas samudra," gumam Clara pelan.
Mereka berdua berjalan menuju meja VIP yang sudah dipesan sebelumnya oleh pihak restoran.
Namun, langkah mereka tiba-tiba terhalang oleh seseorang yang berdiri tepat di tengah jalur koridor.
Orang itu adalah Roy Handojo, anak tunggal dari pemilik Grup Handojo yang merupakan saingan bisnis utama keluarga Wijaya.
Roy mengenakan setelan jas merk ternama dengan rambut disisir ke belakang menggunakan minyak mengkilap.
Di sebelah Roy berdiri seorang wanita berpakaian seksi berpoles makeup tebal.
"Wah, wah... lihat siapa yang datang ke sini," sapa Roy dengan nada suara mengejek yang sangat menyebalkan.
"Bukankah ini nona besar Clara Wijaya? Tumben sekali makan di tempat berkelas, biasanya mencari makan di pinggir jalan."
Clara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat mendengar sindiran tajam dari musuh bebuyutannya itu.
"Roy Handojo! Jaga mulut kotormu!" bentak Clara dengan nada tinggi penuh kemarahan.
Roy tertawa renyah mendengar kemarahan Clara.
Matanya lalu beralih menatap sosok Arka yang berdiri di samping Clara dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh penghinaan.
"Oh, jadi ini pria pilihan kakekmu yang sempat bikin heboh kemarin?" ejek Roy sambil tersenyum sinis.
"Pantas saja keluarga Wijaya semakin merosot nilainya, ternyata selera cucunya cuma memelihara seorang pengemis jalanan."
Wanita di sebelah Roy ikut menutup mulutnya sambil terkekeh sinis mengejek.
"Iya benar, sayang. Kasihan sekali, bajunya bahkan lebih murah daripada harga lap meja di restoran ini," timpal wanita itu manja.
Clara merasa harga dirinya diinjak-injak di hadapan publik.
Ia hendak maju melayangkan tamparan ke wajah Roy yang sombong itu.
Namun, Arka bergerak lebih cepat memegang bahu Clara secara perlahan.
Arka melangkah maju satu langkah, berdiri tepat di hadapan Roy Handojo dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.
"Permisi Tuan Muda Handojo," ucap Arka dengan nada suara datar namun penuh tekanan.
Roy menaikkan sebelah alisnya menatap Arka dengan pandangan meremehkan.
"Kenapa, hah? Mau minta sumbangan karena bajumu kurang layak?" tantang Roy angkuh.
"Bukan minta sumbangan," jawab Arka tenang sambil tersenyum misterius.
"Saya cuma mau mengingatkan, kalau bentuk garis rahangmu itu menunjukkan tanda-tanda penyakit liver kronis akibat terlalu banyak minum alkohol murahan."
Mendengar ucapan itu, tawa di wajah Roy langsung mendadak lenyap seketika.
[Sistem Mendeteksi Target Mengalami Tekanan Mental Tingkat Menengah]
[Peluang Menjatuhkan Mental Lawan: 95 Persen]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Roy menatap Arka dengan mata melotot marah tidak terima.
"Bajingan sialan! Berani sekali kamu bicara sembarangan di depanku?!" maki Roy murka.
"Apa aku salah bicara?" balas Arka dengan senyuman santai yang semakin menyulut emosi Roy.
"Coba saja tekan bagian rusuk sebelah kananmu sekarang, apakah terasa nyeri seperti ditusuk jarum panas?"
Roy tertegun sejenak mendengar tebakan yang sangat spesifik itu.
Tanpa sadar, tangan kanan Roy meraba bagian rusuk kanannya sendiri karena rasa penasaran yang mendadak muncul.
Ugh!
Seketika itu juga, rasa nyeri yang luar biasa tajam menghantam bagian perut dan rusuk Roy hingga membuatnya terbungkuk kesakitan.
"Agh... perutku..." rintih Roy dengan wajah mendadak pucat pasi dibanjiri keringat dingin.
Wanita di sampingnya langsung panik memegang lengan Roy.
"Sayang! Ada apa denganmu?!" panik wanita itu histeris.
Clara Wijaya yang melihat kejadian itu terbelalak kaget tidak percaya.
Ia menatap Arka secara bergantian dengan Roy yang sedang merintih kesakitan di lantai.
"Apa yang kamu lakukan padanya, Arka?" bisik Clara kaget.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Nona," jawab Arka polos.
"Aku cuma mendiagnosis penyakitnya secara gratis."
Roy menggertakkan giginya menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam tubuhnya, menatap Arka dengan sorot mata penuh kebencian membara.
"Sialan... tangkap bajingan ini..." rintih Roy kepada dua pengawal pribadi berbadan besar yang berdiri di belakangnya.
Kedua pengawal berbadan kekar itu langsung melangkah maju mengepung Arka dengan kepalan tangan yang siap memukul.
Arka tetap berdiri tenang tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.