Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dua lelaki yang hampir adu jotos itu sama-sama menatap kaget dengan keberadaan Mila.
"Maafkan saya Mas Bagas. Karena sudah berani lancang datang ke rumah ini. Mila bersedia menjadi ibu pengasuh Emma untuk sementara waktu," ucap Mila dengan detak jantung berdebar-debar karena rasa takut serta menahan malu yang luar biasa. Ia hanya menunduk, tidak berani menatap Bagas.
Raut wajah Bagas terlihat begitu bengis dan ingin sekali marah kepada semua orang di rumah itu karena telah menghadirkan Mila untuk menjadi pengasuh putrinya.
"Bagas. Jika kau masih menolak model pengasuh seperti Mila. Detik ini juga, aku akan resign dari CEO Future Food," ancaman keras Yoga membuat situasi hidup Bagas semakin terjepit.
Singkat cerita. Duda satu anak itu terpaksa menyetujui Mila Asyari sebagai pengasuh Emma Zahra untuk sementara.
Keesokan paginya. Bagas langsung bergerak terbang ke Kalimantan dan menyerahkan semua urusan Emma dan Mila kepada Ibu serta Yoga Hardian.
Sebelum keberangkatan Mila ke Jakarta. Wita masuk ke dalam kamar adiknya.
"Mila! Apa kamu yakin bisa menjalani pekerjaan ini?" tanya lembut Wita dalam tatapan sendunya. Perempuan itu bisa merasakan keterpaksaan sang adik menjadi pengasuh putri dari mantan kekasihnya dulu.
"Mau gimana lagi," jawab ketus Mila masih tetap fokus menyusun pakaiannya.
"Satu kampung sudah heboh mencemooh kamu (julid massal)," celetuk Wita.
"Itu sudah menjadi resiko, biarkan saja?" jawabnya tegas Mila tidak perduli.
Wita menunduk malu. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia langsung menghampiri adiknya dan memeluk dengan sangat erat. Mila terkejut sampai-sampai pakaian yang ada ditangannya terjatuh ke lantai.
"Maafkan Mba yah?"
"Seharusnya, ini menjadi tanggung jawab Mba, bukan kamu?" bisik sedih Wita dengan hati yang hancur.
Mila hanya tersenyum sambil mengusap-usap lembut pundak Wita. Mila juga mengusap airmata di kedua pipinya kakaknya.
Malam itu terasa begitu panjang ku rasakan. Ada banyak kata-kata nasehat dari ibu yang harus aku catat di dalam hati dan pikiranku. Ada juga senyuman, tawa kecil hingga pelukan hangat dari mereka. Semua seakan-akan menyatu menjadi obat dan perban tebal untuk luka dari orang-orang yang terus menghujani panah di hatiku.
Hari terus berlalu.
Mila dan Emma diantar langsung oleh Hartati dan Yoga. Bagas memerintahkan Yoga untuk mendampingi ibunya sebagai pengganti dirinya.
Bagas tampak belum rela menerima Mila sebagai ibu pengasuh putrinya. Diam-diam Ia masih tetap kekeh mencari pengasuh lagi untuk Emma.
"Alhamdulillah. Kita sudah sampai!" Seruan bahagia Hartati terlihat sudah sehat setelah Emma mendapatkan pengasuh yang tepat. Beban pikirannya serasa terbang menghilang.
"Tring!" Ponsel Yoga berdering. Panggilan datang dari Bagas.
"Ada apa?" tanya Yoga.
"Ok. Mungkin Mila bisa diandalkan dalam mengurus Emma. Tapi bagaimana dengan nasib diriku?"
"Apa maksud mu Bagas?" tanya Yoga sampai dahi pemuda itu berkerut.
"Baru saja aku mendapatkan informasi. Jika Heru dulu melakukan ritual pelet untuk mendapatkan menantu kaya. Andai itu terjadi kepadaku, bagaimana tanggung jawab kalian?" tanya Bagas.
"Kabar hoax darimana lagi itu kau dapatkan. Bagas! Semakin hari aku semakin stres dengan cara berpikir mu. Kau begitu ahli di dunia pekerjaan mu. Tapi sangat nol mengendalikan masalah yang ada di dalam dirimu. Aku capek Bagas, hidupku tidak hanya mengurus dirimu dan keluargamu. Sebaiknya Emma diasuh di desa saja jika kau begitu khawatir!" ucap tegas Yoga begitu marah kepada Bagas.
"Trup!" Yoga tampak kesal tingkat tinggi. Ia langsung memutus telpon kemudian menghempaskan bokongnya di atas sofa yang empuk.
Meskipun Bagas terbilang atasan dari Yoga, tetapi pemuda itu tidak terima jika dirinya diperbudak dengan tingkah konyol Bagas.
"Kenapa dia yang punya anak, aku yang merasa gila!" gumam lelah Yoga memeganginya dahinya.
Tidak berapa lama. Bagas mengirimkan pesan singkat kepada Yoga.
"Sorry Mas. Yah sudah lanjut saja!"
*
Di langit Kalimantan. Terlihat Bagas begitu gelisah dan termenung memikirkan alur kehidupannya.
"Mengapa Mila bisa-bisanya muncul kembali di kehidupan ku? Awas saja, jika tujuannya hanya ingin merayu ku kembali, akan aku penjarakan dia dengan berbagai alasan, agar ia bisa berkumpul lagi dengan mantan suaminya itu," gumam Bagas masih menyisakan dendam cinta kepada Mila.
Tiga hari berada di Jakarta. Yoga dan Hartati memutuskan untuk pulang kembali ke desa. Sebelum pulang, Hartati mencium lembut dahi Emma lalu menyerahkannya kepada Mila.
"Mila!"
"Ibu titip Emma kepada kamu yah, rawatlah dia dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan hatimu!"
"Terima kasih Bu atas kepercayaannya!"
"Sama-sama!"
"Mila tau Bu. Mas Bagas benar-benar tidak menyetujui Mila untuk mengasuh Emma. Ini tidak lama, hanya menunggu kilang Bapak terjual saja. Saat ini Mila sangat membutuhkan pekerjaan dengan upah yang besar."
Hartati tersenyum.
"Kamu jangan pikirkan sikap Bagas. Lagian, dia jarang ada di rumah. Sebab itulah, kami membutuhkan ibu pengasuh yang benar-benar jujur!"
Mila mengangguk paham.
"Apa Ibu Wirda sakit? Sudah lama saya tidak melihatnya di pengajian?" tanya Hartati.
"Iyah begitulah Bu?" Jawab gugup Mila tidak ingin memberitahukan penyakit ibunya kepada orang lain.
"Sakit apa?" tanya Hartati.
"Ibu suka pusing kalau ke luar rumah!" jawab singkat Mila.
"Sudah dibawa ke dokter?"
"Sudah Bu!" Angguk Mila.
"Kalau begitu kami pulang dulu yah!"
"Hati-hati yah Bu."
"Mas Yoga!" panggil Mila.
"Iyah!"
"Titip kak Wita!" ucap lembut Mila.
Yoga langsung tersenyum manis menganggukkan setuju.
*
"Suasana rumah Mas Bagas tidak terlalu besar tetapi memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan mewah. Ia memiliki satu orang pelayan, supir sekaligus untuk merawat taman serta dua penjaga keamanan yang bergantian. Khusus untuk supir dan penjaga keamanan tempat tinggal mereka terpisah dari rumah utama Mas Bagas.
Aku berada satu kamar bersama Emma Zahra. Karena usia Emma masih terlalu kecil untuk tinggal sendiri di dalam kamarnya. Satu orang pelayan bernama Bibi Sari berada di lokasi yang dekat dengan dapur.
Setiap hari ada polisi wanita yang berjaga-jaga disekitar rumah Mas Bagas. Aku tidak mengerti apakah dia ditugaskan khusus untuk mengawasi ku atau tidak. Tapi aku tidak perduli aku hanya fokus kepada Emma.
Awal mengasuh Emma aku sedikit kesulitan dan benar-benar gugup. Emma type bayi yang terbangun di malam hari dan tidur di siang hari. Ia justru aktif beraktivitas di malam hari. Mungkin hal itu lah yang membuat pengasuh merasa kelelahan. Setelah mempelajari riwayat pencernaan Emma dari beberapa Dokter. Ternyata Emma merupakan bayi yang memiliki sistem pencernaan sensitif. Setiap takaran susu dan makanan yang masuk ke dalam lambungnya tidak boleh berlebih ataupun kurang. Hal ini yang menyebabkan ia sering diare sehingga kehilangan cairan tubuh. Benar-benar bayi premium!"
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂