Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
????
"Tega sekali kamu sama adikmu sendiri, Mas! Cuman gara-gara wanita murahan kayak dia, kau sudah seperti ingin membunuh adikmu kandung mu! Apa kau masih bisa di anggap waras?" Teriakan Nada terdengar, tak terima sikap kakak iparnya yang menurutnya berlebihan.
Tapi, sedikit pun Anggara tak peduli dengan amukan itu. Dia tetap menatap Naura, mengabaikan Nada yang memarahinya.
Melihat kondisi Cakra prihatin, Naura segera mendekati suaminya itu sembari berjongkok dengan niat memeriksanya.
"Jangan menyentuhku! Sana kamu pergi!" Cakra membentak Naura, tak lupa dia juga menepis tangannya kasar, tak mau menerima bantuan dari wanita itu yang menurutnya sama saja menjatuhkan harga dirinya.
"Tubuhmu terluka. Diam sebentar, aku periksa lukanya,"
Melihat pria itu terluka, jiwa dokter Naura tetap saja tidak bisa hanya tinggal diam, membiarkan seseorang yang terluka di hadapannya tanpa membantu sedikit pun. Itu sangat keterlaluan.
"Menjauh kataku! Aku tidak butuh di pedulikan oleh wanita munafik kayak kamu!"
Tak peduli amukan pria itu, Naura tetap berinisiatif membantunya.
"Tetap diam disini, saya ambil obat dulu," wanita itu segera berlari masuk ke dalam kamar Cakra untuk mengambil kotak obat.
"Kau mau kemana? Tidak sopan masuk kamar orang tanpa izin!" Pekik Nada.
Akan tetapi, Naura mengabaikannya dan tetap masuk.
Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan kotak obat dari kamar Cakra.
"Emang tidak tahu sopan santun kamu ini ya! Aku sudah bilang jangan masuk ke kamar itu! Kamu tetap saja tidak mau mendengarku!" Marah Nada pada Naura.
"Kau mungkin lupa, kalau Cakra juga suamiku?" Naura berujar dengan wajah datar.
"Aku tidak akan mengakuimu!" Justru Cakra yang mencela, membela Nada.
"Saya tidak butuh di akui, yang pasti saya jelas secara hukum dan negara tertulis dalam surat nikah, istri sah Anda!" Naura memaksa mengobati Cakra, sehingga membuat pria itu berteriak kesakitan.
"Argh! Apa kau bisa pelan-pelan!" Ketus Cakra.
"Kalau begitu, diam dan menurut. Maka saya akan lembut! Anda yang ingin di obati, tapi sikap Anda mengalahkan anak kecil!"
Sial! Ternyata wanita ini sangat keras. Awalnya aku berniat ingin mempermainkannya, tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia akan melawan ku! Batin Cakra hanya bisa pasrah Naura mengobati bibirnya yang pecah.
Kau mengakui istrinya di depanku? Terdengar tidak terlalu bagus. Seharusnya kau itu milikku, bukan istrinya. Batin Anggara yang ternyata belum berangkat, dan menonton pertunjukkan pasangan di hadapannya.
Tak lama, Naura sudah selesai mengobati Cakra. Wanita itu segera berdiri dan kemudian menatap tajam Anggara.
"Bertindak kasar itu tidak baik! Seharusnya Anda tidak melakukan hal tadi!!" Naura, menegur sikap kasar Anggara.
Setelah itu, dia berniat ingin kembali ke kamarnya untuk bersiap karena akan berangkat kerja.
Akan tetapi, pria itu justru menarik lengannya hingga membuat Naura terhempas ke dada bidang pria itu.
"Anda ini ke----"
"Aku cuma membela mu, harusnya kau sudah tahu aku melakukan ini buat kamu," bisik pria itu di telinganya.
Cakra yang melihat Naura sangat dekat dengan Anggara, entah mengapa hatinya seperti terbakar.
Naura menarik tubuhnya menjauh dari Anggara.
Drrt.. drrt.. drrt
Ponsel Naura tiba-tiba berdering. Dia mengangkat panggilannya yang berbunyi. Di layar jelas tertulis. 'Anakku'
Nada yang sudah berdiri, tak sengaja melihat layar ponsel Naura.
Anakku? Batin Nada.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls