hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 9
Damian menggendong Emma dengan posisi bridal style saat memasuki mansion megah milik keluarganya. Wajah pemuda itu masih terlihat dingin, sementara kedua lengannya tetap kokoh menopang tubuh sang istri.
Di ruang tengah, Leonardo tampak duduk santai dengan segelas minuman berwarna merah gelap di tangannya. Aroma anyir yang samar tercium dari minuman tersebut, tetapi seolah sudah terbiasa dengan hal itu, Leonardo hanya memutar gelasnya pelan.
Tatapan pria itu beralih kepada Raina yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya terlihat dingin seperti biasa, tetapi ada sedikit rasa iba yang tersimpan di balik sorot matanya ketika melihat menantu mereka.
Awalnya, Leonardo berniat turun tangan untuk menolong Emma. Namun, begitu melihat Damian datang, pria itu mengurungkan niatnya. Ia memilih mengamati dari kejauhan, memastikan semuanya tetap terkendali.
Jika sesuatu yang buruk terjadi, barulah ia akan turun tangan. Namun, Leonardo cukup yakin bahwa putranya mampu melindungi Emma, meskipun gadis itu masih belum terbiasa dengan kehidupan keluarga vampir mereka.
Leonardo meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Emma yang masih berada dalam gendongan Damian.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Leonardo dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
Emma tidak langsung menjawab. Gadis itu hanya menundukkan kepala, jemarinya saling meremas gugup. Sejak mengetahui identitas asli keluarga suaminya, ia masih kesulitan mencerna semua kejadian yang menimpanya.
Leonardo menghela napas pelan sebelum kembali berbicara.
"Ayah harap kau tidak terlalu takut kepada kami, Emma. Kami memang berbeda dari manusia pada umumnya, tetapi bukan berarti kau harus selalu merasa terancam saat berada di sini," ujarnya, berusaha menenangkan gadis itu.
Emma tetap terdiam. Sesekali, matanya melirik Leonardo sebelum kembali menunduk. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Melihat sikap Emma, Raina yang sejak tadi menahan perasaannya akhirnya melangkah mendekat. Sorot matanya melembut saat menatap menantu yang kini menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Emma, Sayang..." panggil Raina lirih.
Perempuan itu mengulurkan tangannya, lalu mengusap lembut lengan Emma, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak berniat menyakitinya.
"Mami minta maaf, Sayang. Maafkan kami karena sudah menyeretmu ke dalam kehidupan keluarga ini tanpa memberimu kesempatan untuk benar-benar memahami semuanya," ucap Raina dengan nada penuh penyesalan.
Raina menelan ludah sebelum melanjutkan perkataannya.
"Mami tahu, semua ini pasti terlalu mendadak bagimu. Kau harus menerima kenyataan bahwa suamimu bukanlah manusia biasa, lalu sekarang kau juga harus menghadapi dunia yang bahkan mungkin tidak pernah terbayangkan olehmu sebelumnya."
Perempuan itu menghela napas panjang. Ada rasa bersalah yang sulit disembunyikan dari wajahnya.
"Kami tidak punya banyak pilihan, Sayang. Ada alasan mengapa Damian harus menikah dengan seorang manusia, dan keputusan itu akhirnya menyeretmu ke dalam semua masalah keluarga kami."
Raina menggeleng pelan, seolah masih sulit menerima kenyataan bahwa Emma harus ikut menanggung akibat dari keputusan mereka.
"Tapi itu bukan berarti Mami tidak memikirkan perasaanmu. Mami sungguh-sungguh minta maaf, Emma. Maafkan Mami, ya, Nak," tuturnya dengan suara bergetar.
Emma perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya berpindah dari Raina ke Leonardo, kemudian berhenti pada Damian yang masih menggendongnya.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tentang keluarga ini, tentang dunia vampir yang baru saja ia ketahui, dan terutama tentang alasan dirinya harus menikah dengan Damian.
Namun, untuk saat ini, Emma hanya mampu menggenggam pakaian Damian dengan jemari yang sedikit gemetar.
Damian menyadari gerakan kecil itu. Ia menundukkan kepala, menatap wajah Emma yang tampak kebingungan, lalu mengeratkan sedikit pelukannya untuk memastikan gadis itu tidak terjatuh.
"Sudah," ucap Damian singkat, tetapi suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Kau tidak perlu menjawab apa pun sekarang."
Emma mendongak, menatap wajah suaminya dengan sorot mata penuh tanya.
Sementara itu, Damian mengalihkan pandangannya kepada kedua orang tuanya.
"Dia butuh waktu," katanya tegas. "Jangan memaksanya menerima semuanya sekaligus."
Leonardo mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut mendengar putranya berbicara demikian. Sementara Raina hanya terdiam, kemudian mengangguk kecil.
"Baiklah," jawab Raina lembut. "Mami mengerti."
Damian kembali menatap Emma sebelum melangkah menuju tangga mansion, masih menggendong gadis itu dalam pelukannya.
Untuk pertama kalinya sejak semua rahasia itu terbongkar, Emma merasa bahwa setidaknya ada seseorang di mansion ini yang tidak akan membiarkannya menghadapi semuanya sendirian.
"Suamiku, aku takut Emma akan membenciku. Kau tahu, kan, betapa aku menginginkan seorang anak perempuan?" lirih Raina dengan mata berkaca-kaca.
Perempuan itu menunduk, berusaha menahan perasaan yang sejak tadi memenuhi dadanya.
"Aku bahkan sudah tidak peduli lagi dengan para pemburu vampir yang mengincar keluarga kita. Aku hanya takut, Leonardo. Aku takut Emma tidak akan pernah menganggap ku sebagai maminya," lanjut Raina dengan suara bergetar.
Leonardo yang mendengar kegelisahan istrinya langsung merengkuh tubuh Raina ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung perempuan itu dengan lembut, berusaha menenangkannya.
"Tenanglah, Ratuku," bisik Leonardo sambil mengecup puncak kepala istrinya. "Damian pasti bisa menyelesaikan semuanya. Meskipun pernikahan mereka masih seumur jagung, aku yakin putra kita tahu apa yang harus dilakukannya."
Raina mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
"Tapi bagaimana kalau dia tidak bisa, Leonardo? Bagaimana kalau Emma benar-benar membenci kita?" tanyanya lirih.
Leonardo tersenyum tipis, lalu mengusap pipi istrinya.
"Kalau begitu, kita beri dia waktu. Kita tidak bisa memaksanya menerima keluarga ini dalam semalam. Yang terpenting, jangan sampai rasa takutmu membuatmu menyerah sebelum mencoba menjadi keluarga yang baik untuknya," jawab Leonardo tenang.
Raina terdiam dalam dekapan suaminya. Meski perkataan Leonardo sedikit menenangkan hatinya, kecemasan itu masih belum sepenuhnya menghilang.
---
Sementara itu, di dalam kamar Damian, suasananya terasa begitu sunyi.
Damian berjalan mendekati ranjangnya, lalu perlahan menurunkan Emma ke atas kasur berukuran besar itu.
Ranjang yang selama ini menjadi wilayah pribadinya, bahkan tidak pernah ia izinkan disentuh oleh siapa pun. Namun, entah bagaimana, sekarang seorang gadis manusia justru berada di atasnya.
Dan yang lebih aneh lagi, Damian sama sekali tidak merasa keberatan.
Padahal, selama ini ia bahkan tidak suka jika orang lain menyentuh barang-barang miliknya, apalagi dirinya sendiri.
Damian berdiri di sisi ranjang, memperhatikan Emma yang duduk dengan wajah murung. Gadis itu terlihat masih berusaha mencerna semua kejadian yang dialaminya.
"Kau mau makan?" tanya Damian singkat sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Emma menggeleng pelan tanpa mengangkat wajahnya.
"Tidak."
Damian hanya mengangguk kecil. Ia tidak memaksa, meskipun tatapannya masih tertuju pada gadis itu.
Entah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Dari sekian banyak perempuan yang pernah ditemuinya, hanya Raina yang terbiasa menyentuhnya tanpa membuatnya merasa terganggu. Namun, sekarang Emma justru menjadi pengecualian yang tidak bisa ia pahami.
Bahkan, Damian mulai memikirkan sesuatu yang sejak tadi mengusik pikirannya.
Topeng yang selama ini bertengger di wajahnya.
Ia tidak pernah merasa perlu menunjukkan wajah aslinya kepada orang lain. Baginya, topeng itu sudah menjadi bagian dari dirinya, sekaligus batas yang memisahkannya dari dunia luar.
Namun, saat berada di dekat Emma, ia justru ingin melepaskannya.
Ia ingin mengetahui bagaimana reaksi gadis itu jika melihat wajah aslinya.
Sialnya, keinginan tersebut terasa begitu asing hingga Damian sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa memikirkannya.
"Hei."
Suara Emma sontak membuyarkan lamunannya.
Damian mengalihkan pandangan ke arah gadis itu.
"Apa?" sahutnya datar.
Emma mengangkat wajahnya. Kali ini, ia menatap Damian tanpa menghindar sedikit pun.
"Kau harus menjelaskan semuanya kepadaku. Apa yang terjadi semalam, apa yang terjadi hari ini, dan semua hal aneh yang baru saja kulihat," tuntut Emma tegas.
Damian terdiam sejenak sebelum mengembuskan napas pelan.
"Iya, aku akan menjelaskannya," jawabnya akhirnya.
Ia menarik sebuah kursi, lalu duduk di hadapan Emma. Tatapannya yang dingin membuat suasana kamar kembali terasa canggung.
"Semua yang kau lihat semalam memang nyata. Aku dan keluargaku adalah vampir."
Emma membeku.
Meskipun ia sudah mendengar pengakuan itu sebelumnya, mendengarnya secara langsung dari mulut suaminya tetap membuat jantungnya berdebar kencang.
Damian melanjutkan penjelasannya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
"Aku adalah seorang pangeran vampir. Keluargaku memimpin kaum vampir, dan suatu saat nanti, aku akan memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekarang."
Emma menelan ludah, berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Damian.
"Lalu, kenapa kau menikahiku?" tanyanya cepat. "Kenapa harus aku? Dari sekian banyak manusia di dunia ini, kenapa kau memilihku?"
Damian terdiam sesaat. Ia tahu pertanyaan itu pasti akan muncul, tetapi tetap saja, menjawabnya bukan perkara mudah.
"Aku menikahimu demi melindungi diriku dan kaumku," jawab Damian akhirnya.
Kening Emma langsung berkerut.
"Melindungi kalian? Maksudmu apa?"
"Para pemburu vampir sedang mengincar kami. Mereka terus mencari cara untuk menemukan kelemahan keluarga kerajaan vampir," jelas Damian dengan nada datar. "Pernikahan ini membuat mereka tidak mudah mencurigai hubungan kita dengan dunia manusia."
Emma menatapnya tidak percaya.
"Jadi, kau menikahiku cuma untuk dijadikan tameng?" tanyanya, suaranya mulai meninggi.
Damian tidak langsung menjawab.
Emma tertawa kecil tanpa rasa geli, lalu menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan, Damian. Kau sadar, kan, kalau aku ini manusia biasa? Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang dunia kalian. Tiba-tiba aku dinikahkan dengan seorang vampir, dibawa ke mansion yang penuh rahasia, lalu sekarang kau bilang pernikahan kita cuma untuk melindungi kaummu?"
Emma menatap Damian dengan mata berkaca-kaca, campuran antara marah, takut, dan kecewa memenuhi wajahnya.
"Memangnya kau pikir aku ini apa? Boneka yang bisa kau bawa ke mana saja sesukamu?"
Rahang Damian mengeras. Ia tidak terbiasa dihadapkan pada seseorang yang berani berbicara seperti itu kepadanya, apalagi dengan nada menantang.
Namun, kali ini ia tidak membentak.
"Sudah selesai?" tanyanya dingin.
Emma melotot.
"Belum! Aku masih punya banyak pertanyaan!"
Damian memijat pangkal hidungnya, menahan napas panjang.
"Kalau begitu, tanyakan satu per satu. Aku akan menjawabnya selama aku bisa."
Emma terdiam sejenak, seolah tidak menyangka Damian akan memberinya kesempatan untuk bertanya.
Namun, kesempatan itu tidak akan disia-siakannya.
"Baiklah," jawab Emma sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Pertanyaan pertama, kenapa kau selalu memakai topeng itu? Dan jangan berani-berani menghindar dari pertanyaanku, Damian!"
Untuk pertama kalinya malam itu, Damian benar-benar terdiam.
Tatapan Emma kini tertuju tepat pada topeng yang menutupi wajahnya.
Dan entah mengapa, pertanyaan sederhana itu justru membuat Damian merasa jauh lebih gelisah daripada saat membicarakan para pemburu vampir.
"Aku akan membuka topeng ini saat ritual darah," jawab Damian datar.
Emma mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memahami perkataan suaminya.
"Ritual darah?" ulangnya dengan dahi berkerut.
"Ritual yang akan membuat dirimu tidak bisa disentuh oleh vampir mana pun," jelas Damian sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
Emma terdiam sejenak sebelum kembali mengajukan pertanyaan.
"Termasuk kau?" tanyanya penasaran.
Damian menggeleng pelan.
"Kecuali aku, Emma. Kau istriku. Hanya aku dan keluargaku yang boleh menyentuhmu," jawabnya tegas.
Emma menatap Damian dengan ekspresi sulit diartikan. Ada rasa lega karena setidaknya ia tidak akan diganggu oleh vampir lain, tetapi perkataan suaminya juga menimbulkan pertanyaan baru di kepalanya.
"Kenapa harus begitu? Memangnya vampir lain akan melakukan sesuatu kepadaku?" tanyanya, kali ini dengan nada lebih serius.
Damian mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Wajahnya tetap dingin, tetapi sorot matanya berubah tajam.
"Karena darah manusia memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum kami. Terlebih lagi, kau sekarang berstatus sebagai istriku."
Ia kembali menatap Emma.
"Ada vampir yang akan menghormatimu karena kau bagian dari keluarga kerajaan. Namun, ada juga yang justru melihatmu sebagai kesempatan untuk menantangku."
Emma menelan ludah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa menikahi Damian akan membuat hidupnya serumit ini.
"Lalu, ritual darah itu akan dilakukan kapan?" tanyanya pelan.
"Pada malam bulan purnama berikutnya," jawab Damian singkat.
Emma menghela napas panjang, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sandaran ranjang.
"Hebat. Jadi, sekarang aku harus menunggu bulan purnama untuk mendapatkan perlindungan dari vampir-vampir aneh itu?" gerutunya kesal.
Damian mengangkat sebelah alisnya.
"Vampir aneh?"
"Iya! Memangnya kau pikir kalian semua normal?" balas Emma spontan.
Damian menatapnya selama beberapa detik sebelum mengembuskan napas pendek.
"Kau benar-benar tidak tahu cara menjaga ucapanmu, ya?"
Emma mengangkat dagunya dengan percaya diri.
"Kalau kau tidak suka, ya, jangan dengarkan!"
Damian menggeleng kecil. Aneh sekali, perempuan yang baru saja mengetahui bahwa dirinya hidup di tengah keluarga vampir itu masih sempat-sempatnya membantah.
Namun, bukannya marah, Damian justru mendapati dirinya ingin terus mendengarkan ocehan Emma. Sebuah kebiasaan yang seharusnya tidak pernah ia miliki.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭