Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Sinar matahari pagi telah menyapu seluruh penjuru Puri Moretti, memancarkan cahaya keemasan yang hangat menembus tirai tipis kamar utama. Namun, suasana di dalam ruangan megah itu sama sekali jauh dari kesan tegang atau dingin yang biasanya menyelimuti kediaman sang Don.
Sejak pukul tujuh pagi, tok-tok teratur dari luar pintu sudah terdengar beberapa kali.
"Tuan... berkas mengenai perbatasan utara dan laporan keuangan faksi selatan sudah siap untuk ditinjau. Para petinggi faksi sudah menunggu di ruang rapat," suara Marco terdengar samar dari balik pintu kayu jati yang tebal, bernada penuh kehati-hatian dan kecemasan.
Namun, panggilan tugas yang biasanya ditanggapi dengan sigap dan tatapan mematikan itu kini sepenuhnya diabaikan.
Di atas peraduan king-size yang berantakan, Gabriel Moretti pria yang paling ditakuti di dunia bawah tanah dua negara sama sekali tidak menunjukkan niat untuk bergeser selangkah pun. Pria bertubuh tegap dengan tato raksasa yang menyelimuti punggung dan bahunya itu justru meringkuk, menyandarkan kepalanya yang berat tepat di atas pangkuan Aurora.
Kedua tangannya yang biasa memegang senjata api dan mencabut nyawa orang lain kini melingkar erat di pinggang Aurora, memeluk perut wanita itu bagaikan anak kecil yang takut kehilangan mainan terbesarnya.
"Gabriel... Marco sudah memanggilmu dari tadi," bisik Aurora pelan, jemari tangannya secara refleks menyusup ke dalam helai demi helai rambut hitam Gabriel yang agak berantakan. "Para petinggi faksimu sudah menunggu di bawah."
Gabriel tidak bergerak. Ia justru makin menyembunyikan wajah tampannya di balik lekuk leher dan dada Aurora, menghirup aroma wangi vanila dan bunga liar dari kulit wanita itu secara dalam-dalam.
"Biarkan mereka menunggu," gumam Gabriel dengan suara yang teredam di ceruk leher Aurora. Nada suaranya berbariton rendah, namun sarat akan sifat manja yang sangat kentara sebuah nada yang belum pernah terdengar oleh telinga siapapun di muka bumi ini. "Aku tidak ingin pergi ke mana-mana hari ini, Cara mia."
"Kau seorang Don," ujar Aurora lagi, mencoba memberikan dorongan halus seraya menepuk-nepuk bahu kokoh yang berada di dalam pelukannya. "Pekerjaanmu menumpuk setelah ditinggal bertingkat-tingkat minggu di negara sebelah."
"Aku tidak peduli," sahut Gabriel cepat. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, menatap wajah Aurora dari bawah.
Manik mata hitam yang biasanya memancarkan kedinginan, intimidasi, dan kebuasan pembantai itu kini sepenuhnya bersih dari ancaman. Yang tersisa hanyalah tatapan memohon, bening, dan keanak-anakan yang begitu telanjang. Bibir tegasnya yang biasa memberikan perintah eksekusi mati kini sedikit bersungut-sungut, menunjukkan rasa tidak suka karena kenyamanannya diganggu oleh urusan dunia luar.
"Hari ini aku milikmu. Kau tidak boleh menyuruhku pergi," lanjut Gabriel seraya makin mempererat pelukannya di pinggang Aurora, seolah-olah ia adalah seorang bocah laki-laki yang sengaja bergelayut manja karena tidak ingin ditinggal pergi oleh ibunya.
Melihat pemandangan yang sangat tidak masuk akal ini, dada Aurora berdesir aneh.
Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatinya, rasa gemas yang tidak bisa dibendung perlahan menyeruak. Sangat sulit untuk menyelaraskan fakta bahwa pria yang sedang bergelayut manja di pangkuannya ini adalah iblis bertangan dingin yang pernah meremukkannya dan membantai puluhan orang tanpa mengedipkan mata. Wajah tampan Gabriel yang biasanya keras, dingin, dan bengis bagaikan patung batu kini terlihat begitu polos, kontras, dan... menggemaskan dalam cara yang sangat berbahaya.
"Gabriel, kau ini seperti anak kecil," bisik Aurora tanpa sadar, sebuah senyuman tipis yang jujur tanpa topeng sandiwara terukir di sudut bibirnya.
Tangannya bergerak perlahan mengusap garis rahang kokoh Gabriel yang mulai ditumbuhi tipis-tipis bayangan jambang. Gabriel memejamkan matanya, menikmati sentuhan jemari Aurora di wajahnya dengan helaan napas lega yang panjang. Ia bahkan menggesekkan pipinya ke telapak tangan Aurora, persis seperti seekor kucing besar yang menuntut belaian tanpa henti.
"Kalau mereka melihatmu seperti ini, reputasimu sebagai kejam akan hancur dalam sekejap," goda Aurora lagi, mencoba menguji batas reaksi pria di pangkuannya.
Gabriel membuka matanya kembali, menatap Aurora lurus-lurus. "Biarkan saja. Di luar sana aku harus menjadi monster agar mereka tidak membunuhku. Tapi di kamar ini... denganmu... aku hanya ingin menjadi Gabriel-mu."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir sang Don, dipenuhi oleh kebenaran yang begitu polos hingga membuat jantung Aurora sempat berdetak abnormal sejenak.
Ketukan di pintu kembali terdengar, kali ini sedikit lebih keras. "Tuan Moretti? Maaf mengganggu, tapi rapat ini tidak bisa ditunda lagi..." suara Marco di luar terdengar makin panik.
Gabriel menggeram pelan, rasa terganggunya sangat jelas. Tanpa mengubah posisinya dari pangkuan Aurora, ia merai salah satu bantal empuk di sampingnya dan melemparnya kasar ke arah pintu kayu.
Brak!
"Pergi, Marco! Batalkan semua rapat hari ini! Jika ada yang berani menggangguku lagi sebelum besok pagi, aku sendiri yang akan memotong lidahnya!" teriak Gabriel dengan nada tegas yang membentak, namun begitu selesai berteriak, pria itu langsung kembali menanamkan wajahnya di perut Aurora, melanjutkan posisi bergelayut manjanya seolah tidak terjadi apa-apa.
Di luar pintu, suasana mendadak hening cipta. Suara langkah kaki Marco yang terburu-buru menjauh dari lorong menandakan sang tangan kanan memilih menyelamatkan nyawanya daripada memaksa sang majikan yang sedang 'mogok kerja'.
Aurora tidak mampu lagi menahan tawa kecilnya. Suara kekehannya yang halus dan renyah memecah kesunyian kamar.
"Kau benar-benar keterlaluan pada Marco," ujar Aurora seraya mengacak-acak rambut hitam Gabriel yang tebal.
Gabriel tidak merespons teguran itu dengan kekerasan. Pria itu justru merayap naik perlahan, menggeser tubuh besarnya hingga kini berbaring sejajar dengan Aurora di atas sprai sutra. Ia menyusupkan kepalanya di bawah dagu Aurora, menyelimuti tubuh wanita itu dengan pelukan protektif yang teramat hangat.
"Aku merindukanmu setiap detik saat berada di sana, Aurora," gumam Gabriel lirih di dekat telinga wanita itu. Suaranya tidak lagi menyembunyikan kelemahan. "Tempat di seberang sana sangat membosankan dan amis. Hanya saat kembali ke tempat ini, bersama aroma tubuhmu... aku merasa hidup kembali."
Aurora terpaku dalam pelukan hangat itu.
Jemari tangannya yang berada di punggung tegap Gabriel mendadak kaku sejenak. Pria ini menyerahkan seluruh pertahanannya, menelanjangi jiwanya, dan bertingkah bagai anak kecil yang haus akan kasih sayang hanya di hadapannya. Manusia paling berbahaya di dunia bawah ini benar-benar telah bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hatinya tanpa sisa.
Ada rasa hangat yang berbahaya merayap di dalam dada Aurora, bergesekan keras dengan rencana pelarian cold yang telah ia susun dengan rapi selama berminggu-minggu. Bagian rasional di dalam kepalanya menjerit, mengingatkannya bahwa pria yang sedang bermanja-manja ini tetaplah seorang iblis yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi sangat mengerikan jika dikhianati.
Namun, di bawah buaian sinar matahari pagi dan kehangatan dekapan Gabriel yang enggan melepasnya, Aurora memilih untuk menyimpan pikiran kelam itu rapat-rapat untuk sementara waktu.
Ia membalas pelukan Gabriel, mengusap punggung berotot sang Don dengan kelembutan yang jujur.
"Baiklah... kalau begitu hari ini kita tidak akan ke mana-mana," bisik Aurora pelan, mengalah pada kemanjaan pria berwajah tampan yang sedang bersembunyi di dalam dekapannya.
Gabriel mengukir senyuman puas di balik leher Aurora, mengecup kulit halus wanita itu berkali-kali dengan ritme yang lambat dan penuh kedamaian. Sang raja mafia yang ditakuti dunia kini dengan senang hati menjadi tawanan paling bahagia di dalam pelukan selirnya sendiri, benar-benar tidak menyadari bahwa kehangatan pagi ini adalah bagian dari hitungan mundur menuju hari di mana sangkar emasnya akan kosong melompong.