Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Cincin yang Mulai Berarti
Reki sedikit ragu sebelum menjawab. “Cukup serius saat dulu menyatakan perasaan. Tapi Nyonya Alisha menolaknya.”
Ares mengangguk tipis. “Dan sekarang?”
“Belum ada info soal kedekatan mereka.”
Jari Ares yang semula mengetuk sandaran kursi berhenti. Ia menatap keluar jendela mobil. “Cari tahu lebih jauh.”
Reki menoleh. “Bagian mana, Tuan?”
Ares diam beberapa detik. “Hubungan mereka sekarang.”
“Baik.”
Ares kembali menatap jalanan di luar. “Dan satu lagi.”
Reki menunggu.
“Kalau dia masih punya rasa sama Alisha, aku mau tahu.”
“Baik, Tuan," jawab Reki patuh.
Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah sakit.
Reki membuka kembali berkas di tabletnya, sementara Ares meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Foto Yudhis masih terpampang di layar.
Ares mengembuskan napas pelan. “Reki.”
“Ya, Tuan?”
“Yudhis sering ketemu Alisha?”
Reki menoleh dari tablet. “Sejauh ini, kemungkinan iya. Dia menangani Raka.”
“Selain urusan rumah sakit?” tanya Ares.
“Saya belum punya informasinya.”
“Cari tahu.”
“Baik.” Reki kembali menunduk.
Ares menyandarkan kepala ke kursi. Beberapa detik kemudian, ia membuka ponselnya lagi. Foto Yudhis kembali muncul.
Ares memerhatikan foto itu beberapa detik sebelum mengunci layar. Namun bayangan kotak kue putu di tangan Alisha kembali muncul. Dari kecil.
Dia tahu apa saja tentang Alisha?
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Ares mengalihkan pandangan ke jendela.
Tiang-tiang listrik dan lampu jalan berkelebat di luar. Namun satu hal terus mengusik pikirannya. Kontrak mereka memiliki batas waktu. Dan pria itu tidak.
Ares menurunkan pandangan pada cincin di jarinya. Jempolnya mengusap permukaan cincin itu sekali. Lalu ia berhenti.
“Reki.”
“Ya, Tuan?”
“Kalau kontrak selesai...” Ares menggantung kalimatnya.
Reki melirik lewat kaca spion. “Kenapa, Tuan?”
Ares tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada cincin di jarinya.
Reki diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Kalau Tuan memang nyaman bersama Nyonya Alisha, kenapa gak dinikahi secara resmi?”
Jari Ares berhenti bergerak.
Reki melanjutkan, “Bukankah itu lebih sederhana ketimbang terus kepikiran kapan kontraknya berakhir?”
Ares mengangkat pandangan. “Kau tau kenapa aku gak pernah mau nikah.”
“Saya tau," jawab Reki.
“Jadi jangan bahas soal itu lagi," ucap Ares datar.
Reki tidak langsung menjawab. Mobil terus melaju melewati beberapa kendaraan di depan mereka.
“Saya cuma mau Tuan melihatnya dari sisi lain.”
Ares menatap keluar jendela.
“Dulu waktu Ayah saya sakit, kondisi keluarga kami juga gak bagus,” lanjut Reki. “Ibu sampai menjual semua harta warisan yang dia punya untuk biaya pengobatan.”
Ares tetap diam.
“Setelah Ayah sembuh dan kembali bekerja, Ibu gak pernah sekalipun mengungkit harta itu. Bahkan saat Ayah saya minta maaf karena merasa sudah membuat Ibu kehilangan warisannya, Ibu cuma bilang...” Reki tersenyum tipis mengingatnya. “‘Warisan nggak bikin aku bahagia.’”
Tatapan Ares perlahan bergeser pada pantulan wajah Reki di kaca spion.
“Katanya, melihat Ayah kembali sehat, lalu kami semua bisa berkumpul di rumah dan melihat anak-anaknya mencapai mimpi masing-masing... itu kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah dia miliki.”
Reki berhenti sebentar.
“Terus Ibu bilang, ‘Kamu tetap bersama kami dan menyayangi kami. Itu sesuatu yang gak bisa dibeli.’”
Tidak ada jawaban dari Ares.
Reki kembali menatap jalan. “Waktu kecil, saya pikir keluarga kami biasa aja. Rumah kecil, penghasilan pas-pasan, kadang harus menghitung pengeluaran sampai detail.” Sudut bibirnya terangkat. “Tapi kami selalu makan malam bersama kalo semua sedang di rumah. Sederhana, tapi rasanya cukup.”
Ares menundukkan kepala.
Cukup.
Entah kenapa kata itu terasa asing. Dulu keluarganya juga pernah seperti itu. Rumah yang tidak terlalu besar. Meja makan yang selalu terisi. Suara ayahnya saat membaca koran. Ibunya yang sesekali mengomel karena ia dan ayahnya meninggalkan barang sembarangan.
Semuanya pernah ada. Sampai suatu hari ibunya pergi. Bukan karena kekurangan, melainkan memilih pria lain yang memiliki lebih banyak uang.
Ares masih mengingat bagaimana ayahnya berubah setelah hari itu. Bagaimana rumah yang dulu terasa penuh tiba-tiba menjadi terlalu luas. Bagaimana setiap kali mendengar kata pernikahan, yang muncul di kepalanya bukan kebahagiaan, melainkan seseorang yang pergi setelah menemukan pilihan yang dianggap lebih baik. Tangannya mengepal di atas paha.
“Nggak semua keluarga berakhir seperti keluarga saya,” kata Reki pelan.
Ares menoleh.
Reki tidak menatapnya. “Dan gak semua perempuan menikah karena harta.”
Kalimat itu sederhana. Justru karena itu, Ares tidak bisa langsung membantahnya.
Wajah Alisha melintas di pikirannya. Perempuan yang tidak meminta hartanya. Tidak meminta namanya.
Bahkan ketika diberi kesempatan untuk mengambil lebih banyak, perempuan itu justru sibuk memastikan dirinya tidak melanggar batas yang ia yakini.
Ares kembali menatap cincin di jarinya.
“Dia tetap bisa pergi setelah semuanya selesai,” gumamnya.
“Bisa.” Jawaban Reki terlalu cepat.
Ares mengangkat alis.
Reki mengangkat bahu. “Pernikahan gak menjamin seseorang akan tinggal selamanya. Begitu juga kontrak.”
Tak ada jawaban ataupun sanggahan dari Ares. Mobil terus melaju dalam diam. Namun kali ini pikiran Ares tidak berhenti pada pertanyaan apakah Alisha akan meninggalkannya.
Ada pertanyaan lain yang jauh lebih mengganggu.
Kalau Alisha memang tidak berniat mengambil apa pun darinya, lalu apa sebenarnya yang membuatnya begitu takut membiarkan perempuan itu tinggal lebih lama?
Jempolnya mengusap permukaan cincin itu perlahan. Cincin yang awalnya hanya bagian dari kesepakatan.
Entah sejak kapan terasa seperti sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dilepaskan.
Dan kenapa ia mau memakainya?
***
Alisha berjalan melewati lobby menuju meja resepsionis. Ia baru saja hendak menanyakan sesuatu ketika seseorang dari arah berlawanan berbelok tanpa melihat ke depan.
Bruk!
Bahu mereka bertabrakan.
“Maaf.” Alisha mundur selangkah.
“Nggak apa-apa.” Pria itu ikut berhenti.
Namun bukannya langsung melanjutkan langkah, tatapannya justru tertahan pada wajah Alisha.
Rambutnya hanya diikat sederhana. Tidak ada riasan mencolok, hanya pelembap dan sedikit lip balm. Namun kulit wajahnya terlihat jauh lebih segar.
Pria itu mengangkat alis. “Sepertinya saya yang harus minta maaf.”
Alisha menggeleng kecil. “Nggak apa-apa, Pak.”
Ia hendak kembali berjalan ketika suara pria itu terdengar.
“Boleh saya tau nama Anda?”
Alisha berhenti. “Untuk apa?”
Pria itu tersenyum. “Supaya saya gak perlu menyebut Anda ‘wanita yang hampir saya tabrak’ kalo kita ketemu lagi.”
Alisha menatapnya sebentar. “Saya Alisha.”
“Alisha.” Pria itu mengulang namanya seolah sedang mengingat sesuatu.
“Saya—”
“Pak Arga.”
Suara seorang staf membuat pria itu menoleh.
“Ruang meeting sudah disiapkan.”
Arga mengangguk. “Sebentar.” Tatapannya kembali kepada Alisha. “Senang bertemu dengan Anda, Alisha.”
Alisha hanya mengangguk sebelum berbalik. Ia tidak menyadari bahwa beberapa langkah di belakang Arga, staf perusahaan saling bertukar pandang.
Salah satunya berbisik,
“Waduh.”
“Kenapa?”
“Kalau Pak Arga sudah mulai begitu...”
“Jangan bilang dia tertarik sama Alisha.”
Staf itu menghela napas.
“Kayaknya bukan cuma tertarik.”
Alisha baru beberapa langkah meninggalkan lobby ketika ponselnya bergetar.
Satu pesan dari Ares masuk.
> Jangan terlalu lama di rumah sakit. Cepet ke rumah.
Alisha menatap layar. Lalu tanpa sadar menoleh ke belakang. Arga masih berdiri di dekat lift. Dan pria itu sedang menatap ke arahnya.
Alisha segera mengalihkan pandangan dan kembali berjalan.
Ia tidak tahu pria itu masih memerhatikannya dari kejauhan, atau bahwa malam ini Ares akan mendapat informasi pertama tentang seorang pria bernama Arga.
...✨“Kita sering mengira yang paling menakutkan adalah kehilangan seseorang. Padahal, terkadang yang lebih menakutkan adalah menyadari bahwa kita sudah menganggapnya sebagai bagian dari hidup.”...
...“Keluarga bukan tentang siapa yang memiliki paling banyak, melainkan siapa yang tetap memilih tinggal ketika tidak ada lagi alasan untuk bertahan selain rasa sayang.”✨...
.
To be continued
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔