Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura tidak kenal : 34
“Siapa mereka?” Helyara berdiri di samping meja makan. Memperhatikan saksama bibi dan Sinta yang memakai pakaian santai, sopan.
Bi Isa, Sinta menunduk, pura-pura tidak mengenal nyonya rumah.
Siska langsung bersikap lembut, tidak lagi berbicara dengan nada kelas sosial kalangan atas. Menunjukkan posisinya sebagai istri pertama Alandi, yang juga berarti memiliki hak dirumah ini.
“Mereka pelayan yang baru saja tiba semalam, Nyonya.” Kepalanya menunduk, hati merutuk. Lama-lama muak sekali dirinya harus membungkuk di hadapan istri kedua suaminya.
“Mereka diambil dari yayasan penyalur tenaga kerja pembantu, atau langsung dijemput dikampung?” intonasinya cenderung lambat, serta terstruktur.
“Kalau itu saya kurang tau, Nyonya. Coba tanya ke tuan Alan,” Siska mahir memainkan peran serta mimik wajah.
“Tolong perkenalkan nama kalian, dan dari mana asalnya?” suara Helyara lembut namun berwibawa.
“Saya bi Isa, Nyonya. Adiknya mbak Mirma. Tapi kami beda desa tinggalnya. Semalam dijemput sama orang suruhan Tuan.” Bibi memandang sopan hanya sekilas, lalu menunduk lagi.
“Ini putri saya, Sinta namanya. Baru lulus SMU,” perkenalan sudah dilakukan sekarang diulang.
Sinta bersikap sopan, normal, tidak berulah. Masih membaca situasi, mengamati
“Semoga kalian betah disini. Untuk tugas harian, nanti saya tulis agar mudah diingat!” Helya melirik Siska yang berada di sebelahnya sedikit maju ke depan.
‘Apa-apaan si gendut? Buat aku kehilangan muka saja!’ Siska tidak terima. Tadi sudah bersikap layaknya nyonya rumah yang membagi tugas pembantu rumah tangga.
“Baik, Nyonya.” Angguk bi Isa dan Sinta.
“Pertama-tama, buatkan saya segelas teh tawar, dan rebuskan sebutir telur Ayam kampung, lalu panggang selembar roti. Bisa kan menggunakan alat itu!” Helya menunjuk pemanggang roti terletak di atas meja kitchen set.
“Kalau tidak bisa, tanya ke Siska. Dia sudah lama jadi pembantu disini. Betulkan, Sis?” senyum tipisnya penuh ejekan.
‘Kurang ajar!’ batinnya merutuk, tetapi kepala mengangguk.
“Cukup itu saja dulu. Sebelum kalian berdua melayani orang lain, utamakan sang nyonya rumah yakni — Saya.” Helya berbalik badan, bersiap-siap untuk keluar rumah lagi.
Alandi baru pulang dari lari pagi. Kaos ketat membalut tubuh atletisnya basah, celana diatas lutut juga lembab.
Pria berumur 31 tahun itu memasang ekspresi merajuk, enggan menyapa istrinya.
Dimasa lalu, jika Alandi menunjukkan sikap kurang senang, maka Helyara langsung panik, merasa bersalah, bergegas membujuk. Sering juga menggunakan uang untuk membeli barang-barang mahal sebagai hadiah.
Namun kali ini beda ceritanya, bukannya merayu, malah memancing emosi dipagi hari.
Helya enggan maju, berbicara dari jarak satu meter dan masih bisa didengar ketiga pelayannya. Sengaja.
“Kamu ambil pembantu baru kenapa gak nanyak ke aku, Mas?”
Alan bergeming, tidak menyangka istrinya menaikan intonasi suaranya.
“Sebelumnya dua orang cukup, lagian kerjaan rumah juga tidak banyak. Ngapain pakek tiga pelayan sekaligus?” cecar Helya menuntut.
“Pelankan suaramu, Helya! Aku ini imam, kepala keluarga, dimana wibawaku bila kamu membahas hal pribadi dihadapan ketiga pelayan kita?” secara tak langsung dirinya menyamakan Siska dengan bi Isa dan Sinta.
Reaksi Siska seperti keinginan Helyara — mengepalkan tangan, menatap nyalang.
“Kamu menuntut dihormati, tapi enggan menghargai aku. Seolah-olah suara ini tak layak didengar —”
Alan menyela. “Bukan seperti itu maksudnya.”
“Terus apa? Ini bukan pertama kalinya kamu memutuskan banyak hal tanpa terlebih dulu bertanya apalagi berunding denganku loh, Mas!” protes Helyara.
“Kamu sendiri yang dulu nyuruh aku menghandle rumah, kenapa sekarang dipermasalahkan?” Alan terprovokasi.
“Menghandle bukan berarti menguasai, Mas! Kita tinggal satu atap berstatus suami istri sah di mata negara. Kenapa keberadaanku seolah kamu anggap patung, untuk hal-hal kecil saja enggan berbagi. Lantas gunanya aku jadi istrimu apa?” suara Helya meninggi.
“Dari toko Emas Utomo warisan keluargaku kamu kendalikan, rumah beserta penghuninya pun dirimu kuasai — “
“Cukup Helyara!” nadanya meninggi, hilang sudah kesabaran Alandi. “Kamu mau mempermalukan suamimu sendiri, iya?”
“Baru sekali aku protes sudah kamu bilang mempermalukan, apa kabar denganku yang gak dianggap, cuma dimintai dana tapi gak tau kemana uang itu mengalir!” Helya mengimbangi nada tinggi suaminya.
“Kamu mencurigai Mas, Helya?”
“Mas gak mempercayaiku. Wajar kan kalau aku curiga?” tanyanya balik.
Helaan napas panjang terdengar sampai telinga wanita yang diam-diam tertawa puas dalam hati.
“Ada apa pagi-pagi udah ribut? Gak ada lagi ketenangan rumah ini?” Ganira keluar dari dalam kamar.
“Kalau mau tenang tinggal dirumah sendiri, Ma!” sahut Helya kilat.
“Kamu!” Telunjuknya menuding, tapi dicegah Alandi saat mau mengomel.
“Helya, Mas bukan gak mau ngomong, tapi sengaja menjaga suasana hatimu agar tetep tenang supaya program hamilnya berhasil, tidak sia-sia,” katanya menurunkan suara sekaligus menelan ego.
‘Alasan basi! Selalu anak yang dijadikan senjata.’ Helya menunduk, memutar bola mata malas.
“Caramu salah, Mas. Mau buat aku gak khawatir, tapi bertindak tanpa berdiskusi dulu, tiba-tiba sudah terjadi dan akhirnya aku juga tau … sama saja seperti memicu kambuhnya penderita penyakit jantung dikarenakan shock,” sarkasnya.
“Ini apa yang dipermasalahkan!” Ganira seperti biasa, tidak sabaran.
Alandi pun membeberkan, berharap ibunya membantu dia yang sudah kelimpungan menghadapi sikap baru Helya.
“Aku yang nyuruh Isa bawa anaknya, dikarenakan Siska mulai besok cuma seharian kerja di sini,” ujar Ganira.
“Siska!” teriak Helyara. “Sini kamu!”
Tergopoh-gopoh Siska mendekati. Berdiri di antara Alandi dan Helyara.
“Iya, Nyonya?”
“Jelaskan maksud mama mertuaku!” desak Helya.
“Bapak tiba-tiba minta tinggal bareng saya, Nyonya. Dia juga harus sering kontrol ke rumah sakit, dan masih mengkonsumsi obatnya sehari dua kali. Sebagai seorang anak, saya ingin berbakti di masa tua Beliau,” ungkapnya sangat lancar seperti menghafal teks pidato.
“Terus kamu bermaksud kerja dari pagi pulang sore, biar malamnya bisa menemani bapak kamu, gitu?”
‘Tumben pinter ban truk tronton ini?’ hina Siska.
“Betul, Nyonya. Saya mana tega tidak mengabulkan keinginan pria telah menua,” cicitnya pelan, sorot mata sendu.
‘Dasar drama queen! Kali ini apalagi rencanamu?’ Helya bersikeras menebak skenario Siska.
“Kenapa gak sekalian kamu berhenti kerja, biar fokus merawat bapakmu?”
“Sebenarnya saya mau, Nyonya. Tapi kalau gak kerja mau makan apa?”
‘Batu!’ sahut batin Helyara.
Helya tiba-tiba tersenyum kala mendengar celotehan Alam yang digendong Rianti. Bayi montok itu baru bangun tidur.
“Hai Alamsyah, pagi ini kamu kelihatan bahagia sekali. Sini coba Tante gendong biar terus tertawa riang.” Dia mendekati bayi menggigit mainan lunak.
Rianti mematung, tidak siap berinteraksi sedekat ini.
Alam ditarik oleh Helya, lalu dilambungkan tinggi-tinggi dengan dipegangi ketiaknya.
Siska diserang panik, takut bayinya dibanting Helyara yang masih terus mengajak bercanda.
“Jangan, Nyonya!”
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba