Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Musa berdiri kaku di ruang tamu, pandangannya terus terlempar ke arah koridor belakang.
Menit demi menit berlalu, namun Laila tak kunjung kembali.
Dada Musa bergemuruh, disergap rasa gelisah luar biasa yang kian menusuk hingga ke tulang.
"Laila," bisik Musa rendah.
Perasaan tidak enaknya memuncak.
Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di ruangan itu, Musa melangkah lebar menyusuri koridor belakang.
Koridor itu sepi dan dingin. Mata tajamnya menyapu setiap sudut, hingga pandangannya terkunci pada sebuah benda kain berwarna gelap yang tergeletak di atas ubin.
Jantung Musa seolah berhenti berdetak. Ia berlutut, meraih kain itu dengan tangan bergetar. Itulah kain cadar milik Laila.
Bukan lagi seorang ustadz penurut, aura di sekitar Musa seketika berubah pekat dan membekukan udara.
Sorot matanya merah membara, dipenuhi insting membunuh yang tak lagi tertahan.
Musa menyambar ponselnya dan menghubungi Yusuf dengan napas menekan.
"Yusuf! Tutup seluruh akses keluar-masuk pesantren detik ini juga! Kepung area, acak dan putus seluruh sinyal jaringan sekitar! Jangan biarkan satu lalat pun lolos!"
"Siap, Bos!" sahut Yusuf dari balik telepon.
Dalam hitungan detik, sirene darurat internal berbunyi samar.
Puluhan pria berbadan tegap berpakaian serba hitam dengan senjata lengkap bergerak cepat menyisir seluruh sudut pesantren, menutup gerbang utama, dan memadamkan akses komunikasi luar.
Musa memutar badan, kembali ke ruang tamu dengan langkah tegas yang menghentak lantai.
Di tangannya, kain cadar Laila dicengkeram begitu kuat.
Kyai Adi, Kyai Adam, dan Umi Sinta terpukul hebat melihat perubahan drastis pada diri Musa.
Sosok pria santun yang mereka kenal telah lenyap sepenuhnya, berganti menjadi pimpinan mafia yang dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Musa berhenti di hadapan mereka, menatap Kyai Adi dan Kyai Adam dengan pandangan yang sanggup membunuh siapa saja.
"Dengarkan aku baik-baik," tumpah suara Musa, begitu rendah namun sarat ancaman yang menggetarkan jiwa.
"Istriku hilang di rumahku sendiri. Jika sampai terjadi sesuatu pada Laila, tidak akan ada satu pun orang di tempat ini yang selamat."
Kyai Adi bersimpuh di ubin yang dingin, tubuhnya gemetar hebat dihantam rasa bersalah dan ketakutan yang menjalar hingga ke tulang.
Kyai Adam hanya bisa mengusap dadanya sembari beristigfar lirih, tak sanggup membantah sepatah kata pun melihat menantunya kini bertransformasi menjadi penguasa duka yang murka.
Tiba-tiba Yusuf menerobos masuk dengan napas memburu, memegang tablet militer yang terus berkedip merah.
"Bos! Sinyal peretas jaringan kita menangkap aktivitas aneh beberapa detik sebelum pemblokiran sinyal penuh aktif," lapor Yusuf cepat.
"Satu unit mobil minibus hitam berpelat palsu menerobos jalur tikus belakang pesantren. Rekaman kamera satelit mikro kita mendeteksi pergerakan itu menuju bangunan terbengkalai di kawasan industri lama!"
Musa tak membuang waktu. Ia merampas tablet dari tangan Yusuf, menatap titik merah yang bergerak cepat di layar. Pendar matanya berkilat penuh kekejaman.
"Siapkan seluruh unit tempur utama," perintah Musa dingin dengan intonasi yang memutus semua keraguan.
"Ratakan bangunan itu. Siapa pun yang menyentuh Laila, pastikan mereka mati dengan cara paling menyiksa."
"Siap, Bos!" sahut Yusuf tegas lalu berbalik mengomandoi pasukannya.
Musa melangkah lebar meninggalkan ruang tamu tanpa menoleh lagi pada keluarga yang membisu.
Di halaman luar, puluhan mobil SUV hitam berarmor tebal sudah berjejer rapi dengan mesin meraung-raung.
Para pengawal bersenjata lengkap membungkuk hormat saat sang penguasa mendekat.
Sementara itu, di dalam bagasi mobil yang gelap dan pengap, Laila perlahan mulai meledakkan kesadarannya dari pengaruh obat bius.
Kepala terasa amat berat, napasnya tersengal di antara aroma bensin dan debu. Rasa sakit di pergelangan tangannya yang terikat erat membuat kesadarannya pulih sepenuhnya.
"Musa," bisik Laila lirih di balik sumpalan kain di mulutnya, merintih dalam kegelapan yang berguncang seiring laju mobil yang kian kencang menuju perangkap maut.
Mobil hitam itu akhirnya berhenti di dalam area gudang tua yang redup dan terbengkalai.
Bunyi derit rem beradu dengan kesunyian malam, berganti dengan suara derap langkah kaki yang mantap mendekati bagian belakang mobil.
Klek!
Pintu bagasi terangkat kasar, membiarkan cahaya lampu remang menyilaukan mata Laila yang baru saja terbebas dari pengaruh bius.
Pandangannya yang samar perlahan fokus, menangkap sosok Dokter Nakula yang berdiri menyeringai di hadapannya.
"Selamat datang di tempat barumu, Sayang," bisik Nakula dengan nada obsesif, menatap Laila yang terikat erat di dalam bagasi.
"MMMMPPHH!" Laila memberontak, mencoba menggeser tubuhnya menjauh sembari merancau di balik kain yang menyumpal rapat mulutnya.
Matanya memancarkan rasa benci dan ketakutan yang membara.
Nakula membungkukkan badan, menyentuh lembut pipi Laila yang memerah, meski Laila langsung memalingkan wajahnya dengan kasar.
"
Jangan buang-buang tenagamu, Laila," pendar mata Nakula berkilat makin gila.
"Suami mafiamu itu sebentar lagi akan datang... dan di tempat inilah aku akan memastikan kamu melihatnya hancur sebelum kamu benar-benar jadi milikku."
Tanpa memedulikan penderitaan Laila, Nakula menarik paksa tubuh Laila keluar dari bagasi, membopongnya masuk ke dalam inti gudang—tempat di mana perangkap maut berskala besar telah disiapkan untuk menyambut kedatangan Musa.
"Aku sudah menyiapkan pernikahan kita, Sayang," bisik Nakula penuh delusi.
Ia melemparkan tubuh Laila yang terikat ke sebuah kursi kayu di tengah ruangan yang remang, lalu membuka sumpalan kain di mulut wanita itu.
Laila terbatuk-batuk hebat, menghirup udara dingin yang berbau karat dan debu.
Dengan napas tersengal, ia menatap tajam ke arah Nakula.
"Kamu sudah gila, Nakula! Lepaskan aku!"
Nakula tertawa kecil, mengabaikan kemarahan di mata Laila. Ia menunjuk ke arah sudut ruangan yang dihiasi dekorasi pernikahan serba putih yang tampak kontras dan mengerikan di tengah gudang tua terbengkalai itu.
"Sebentar lagi suamimu yang hebat itu akan datang," lanjut Nakula dengan senyum penuh ancaman.
"Dan, di hadapan mayatnya nanti, kita akan resmi menjadi sepasang suami istri."
"Kamu gila, Nakula! Dan jangan berharap aku mau menikah denganmu!" jerit Laila lantang, menyuarakan seluruh kebencian dan penolakannya.
Pendar mata Nakula seketika berkilat murka mendengar penolakan tegas itu.
Tanpa rasa iba, ia mencengkeram rahang Laila dengan kasar dan kembali menyumpal mulut wanita itu dengan kain tebal.
"MMMMPPHH!"
Laila hanya bisa pasrah, menahan deru air mata yang menetes membasahi pipinya.
Musa, tolong aku. batin Laila menjerit dalam kegelapan dan ketakutan, membayangkan sosok suaminya yang kini menjadi satu-satunya harapannya.
Nakula menatap Laila sejenak dengan pendar kepuasan gila, lalu berbalik melangkah meninggalkan wanita itu sendirian di tengah gudang yang dingin.
Ia merogoh saku jasnya, menyambar ponsel, dan langsung menekan nomor pria bertato kalajengking.
"Umpan sudah berada di posisi. Misiku sudah selesai," tumpah Nakula begitu sambungan terhubung.
Di ujung telepon, terdengar tawa renyah nan dingin yang membekukan darah.
"Bagus sekali, Nakula," sahut pria bertato kalajengking itu dengan intonasi penuh kemenangan.
"Kamu sudah menjalankan bagianmu dengan sangat rapi. Dan selamat, Laila resmi menjadi milikmu."
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii