Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Lorong koridor menuju deretan ruangan dosen di lantai atas gedung utama tampak lengang dan dingin.
Sinar matahari siang menerobos lewat jendela-jendela kaca berbingkai kayu jati, membiaskan bayangan panjang dua insan yang kini berdiri saling berhadapan.
Suasana begitu hening, hingga deru napas mereka yang tertahan dapat terdengar jelas di udara. Rencana untuk pergi ke ruang seni rupa menguap begitu saja setelah obrolan panas di lorong tadi.
Langkah Jameson yang semula mengarah ke gedung Seni Rupa terhenti sepenuhnya, memutar arah dan membawa Hazel melangkah ke lorong sepi yang menuju area ruang kerja para staf pengajar.
"Kenapa?"
Suara halus dan merdu itu keluar dari bibir Hazel.
Suaranya terdengar begitu tenang, teratur, tanpa nada gemetar sedikit pun meskipun jantungnya berdegup kencang di balik atasan turtleneck krem yang mendekap lehernya.
Hazel menatap lurus ke sepasang mata hazel pekat milik pria di hadapannya. "Aku sudah katakan, aku tidak akan pernah menuntut apa pun darimu. Bersikaplah profesional layaknya seorang dosen dan juga mahasiswi. Dan tolong... jaga sikap Anda, Profesor Ashford."
Bukannya tersinggung atau terintimidasi, Jameson justru kembali terkekeh rendah.
Suara tawa dingin dan serak itu memantul pelan di dinding koridor. Ia memiringkan kepalanya, menatap Hazel dengan pandangan menilai yang sarat akan dominasi dan rasa percaya diri yang meluap.
"Jaga sikap?" ulang Jameson dengan nada meremehkan. "Kau pikir aku sedang berusaha merayumu, Miss Brooks? Jangan terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak tertarik membahas hubungan pribadi atau malam panas kita."
Jameson mengambil satu langkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum kayu cedar dan tembakau mahalnya kembali mengepung indra penciuman Hazel.
"Tapi yang ingin kubahas adalah bagaimana kedepannya jika terjadi sesuatu," lanjut Jameson dengan rahang yang mengetat tipis.
"Bisa saja kau sengaja datang ke bar malam itu untuk menjebakku. Wanita seperti dirimu... jenis wanita licik yang penuh dengan ambisi. Kau berpura-pura tidak mengenalku, berpura-pura terganggu, lalu membiarkan semuanya terjadi agar kau punya kartu as untuk menghancurkan namaku atau keluarga Ashford."
Tuduhan yang terlontar dari bibir Jameson begitu tajam dan menyudutkan.
Di mata pria itu, seorang wanita asing yang tiba-tiba hadir di malam kerapuhannya, memberikan kesuciannya tanpa ragu, lalu menghilang meninggalkan uang dan pesan misterius adalah sebuah skenario jebakan yang disusun rapi.
Namun, Hazel adalah definisi murni dari ketenangan.
Sebagai wanita yang dibesarkan dalam ketertiban aristokratik Inggris dan baru saja melewati badai patah hati terhebat dalam hidupnya, tuduhan picik seperti itu sama sekali tidak sanggup meruntuhkan pertahanan dirinya.
Hazel tidak berteriak, tidak membela diri, dan sama sekali tidak membalas tuduhan licik itu dengan amarah.
Wajahnya tetap teduh, tatapan matanya tetap jernih dan dingin bagai telaga es.
Hazel hanya menarik napas pelan, lalu berbisik sangat lirih pada angin yang melintas di antara mereka, "Aku menyesal membiarkanmu terbangun dengan utuh..."
Deg.
Kalimat singkat itu menghentikan udara di sekitar Jameson.
Pria yang biasanya sanggup membaca taktik musuh dalam hitungan detik itu mendadak membeku.
Jameson sejujurnya tidak mengerti maksud dari perkataan tajam yang terlontar begitu dingin dari bibir halus Hazel.
Apakah itu ancaman? Atau bentuk penyesalan murni karena tidak menghabisinya saat ia tertidur lelap semalam?
"Ulangi!"
Perintah Jameson tegas, matanya menyipit menajam, menuntut penjelasan atas kalimat misterius itu.
Namun, Hazel tidak mengulanginya.
Bibirnya yang berpoles warna natural justru terangkat membentuk sebuah senyuman tipis—senyuman anggun yang begitu berjarak dan penuh teka-teki.
"Aku sama sekali tidak butuh tanggung jawab apa pun darimu, Profesor," ujar Hazel santai, mengalihkan pembicaraan dengan artikulasi yang amat tenang.
"Jangan bilang... Anda sendiri yang sebenarnya tertarik padaku?"
Jameson tertawa sinis, sebuah smirk tajam terukir di wajah tampannya yang sempurna. Rasa gengsi dan keangkuhannya sebagai seorang Ashford mendominasi seketika.
"Tertarik?" dengus Jameson meremehkan. Matanya menyusuri wajah Hazel, meluncur turun ke arah leher jenjang wanita itu yang tertutup rapat oleh kain turtleneck.
"Aku bahkan tidak pernah tertarik dengan wanita yang memiliki tato. Terutama tato kupu-kupu yang murahan."
Hazel hanya menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh sindiran menusuk itu.
Baginya, keangkuhan Jameson hanyalah perisai dari seorang pria yang harga dirinya terluka oleh segepok uang tunai semalam.
Namun, sebelum ketegangan di antara mereka berdua berlanjut lebih jauh, ketenangan koridor sepi itu mendadak terpecah oleh suara derap langkah kaki yang terburu-buru.
Dug! Dug! Prak!
Suara sepatu yang beradu keras dengan lantai marmer bergema dari arah tangga utama.
Beberapa staf pengajar dan dosen senior berlarian dengan wajah pucat pasi. Raut ketakutan dan kepanikan terpancar jelas dari ekspresi mereka saat melewati koridor tempat Jameson dan Hazel berdiri.
"Ada apa ini?" gumam Jameson, mengalihkan pandangannya dari Hazel.
Aura dinginnya seketika berubah menjadi mode waspada khas seseorang yang terbiasa dengan bahaya.
"Tolong! Panggil pihak keamanan gedung! Polisi sudah ada di bawah!" teriak salah seorang dosen wanita dengan suara gemetar, hampir terjatuh saat berlari melewati mereka.
Jameson dengan sigap melangkah maju, menghadang seorang dosen pria yang tampak memegang ponselnya dengan tangan gemetar.
"Ada apa, Profesor Miller? Kenapa kepolisian datang ke Universitas?"
Dosen bernama Miller itu menghentikan langkahnya, napasnya tersengal-sengal dan matanya membelalak ketakutan.
"A-ada mayat, Profesor Ashford! Di lorong laboratorium tua di belakang gedung Seni Rupa... seorang mahasiswi ditemukan tewas!"
Hazel yang berdiri di belakang Jameson mendadak menegakkan tubuhnya.
Gedung Seni Rupa? batinnya berdesir dingin. Bukankah itu tempat yang seharusnya ia tuju beberapa menit yang lalu?
"Tewas karena apa?" tanya Jameson dengan suara berat yang menuntut. Insting penjinak bom dan latar belakang keluarganya langsung mengambil alih kendali.
"P-pembunuhan yang sangat mengerikan..." bisik Profesor Miller dengan bibir bergetar pucat. "Mayatnya kehabisan darah! Pelaku mengiris pembuluh darah utamanya dengan sangat presisi, membiarkan darahnya terkuras habis hingga tubuhnya pucat bagai patung lilin. Tidak ada luka perlawanan lain... hanya irisan mematikan itu!"
Deg.
Mata Jameson membelalak pelan.
Penjelasan itu memicu sebuah ingatan berbahaya di dalam kepalanya.
Pola pembunuhan dengan irisan presisi hingga korban tewas karena kehabisan darah secara perlahan... itu adalah modus operandi spesifik dari sebuah jaringan pembunuh berantai atau kelompok kejahatan terorganisir yang sangat terkenal di pantai timur.
Pola eksekusi yang persis seperti kasus-kasus pembunuhan berdarah dingin yang sering terjadi di sudut-sudut gelap kota New York beberapa Bulan Terakhir.
Bagaimana mungkin pola pembunuhan New York yang sangat spesifik dan rapi itu kini muncul di dalam area kampus terpandang di Los Angeles, California?
Jameson melirik tajam ke arah Hazel dari sudut matanya.
Wajah wanita berdarah Inggris itu sama sekali tidak tampak terkejut, pandangan matanya tetap menunjukkan ketenangan yang tidak biasa untuk seorang wanita yang baru saja mendengar kabar penemuan mayat di kampus barunya.
"Bawa seluruh mahasiswa masuk ke dalam ruang kelas masing-masing dan kunci pintunya," perintah Jameson tegas kepada Profesor Miller. "Aku akan turun memeriksa tempat kejadian perkara bersama kepolisian."
"B-baik, Profesor!" Dosen itu langsung berlari kembali melanjutkan tugasnya.
Jameson berbalik sepenuhnya mengahadap Hazel. Ketegangan pribadi di antara mereka seketika menguap, tergantikan oleh atmosfer bahaya yang pekat dan mencekam.
"Kembali ke kelasmu, Miss Brooks," ucap Jameson dengan nada suara yang tidak menerima bantahan sedikit pun.
“Kota ini dan kampus ini tidak seaman yang kau bayangkan.”
Hazel menatap mata hazel milik Jameson yang kini memancarkan aura kegelapan dan kewaspadaan tingkat tinggi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hazel mengangguk pelan, memutar tubuhnya, dan melangkah pergi meninggalkan lorong dosen—membawa teka-teki baru yang menyelimuti awal perjalanannya di kota Los Angeles.
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣