NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 MINUM TEH BERSAMA

Teh melati mengepul di atas meja bambu kecil di beranda. Di sampingnya, dua piring persik gunung sudah dikupas rapi oleh Feng Yao. Xiong Yan duduk dengan punggung setegak tombak dan menerima cangkirnya dengan dua tangan.

"Kau tidak perlu setegang itu," kata Feng Yao geli. "Ini cuma teh."

"Aku tidak tegang."

"Cangkirmu bergetar."

Xiong Yan menunduk. Cangkir itu memang bergetar sedikit. Ia meletakkannya dengan hati-hati, lalu mengambil sepotong persik sebagai pengalih perhatian.

Feng Yao memperhatikannya makan. Caranya sopan dan rapi, tanpa suara mengunyah, dan potongan persik dimakannya kecil-kecil. Padahal tangannya cukup besar untuk menggenggam sebuah kepala.

"Xiong Yan."

"Hm?"

"Kau makan seperti bangsawan istana."

Xiong Yan berhenti mengunyah. "...Memangnya kenapa?"

"Aku pernah bertemu beberapa siluman dulu. Kebanyakan makan dengan tangan kotor dan tidak peduli sopan santun." Feng Yao menopang dagu. "Kau berbeda. Cara bicaramu, cara dudukmu, cara menerima cangkir tadi. Semuanya seperti orang terdidik."

Telinga Xiong Yan mulai memerah lagi. Ia berdeham. "Aku memang pernah belajar."

"Belajar? Di mana?"

"Di Akademi Sihir."

Feng Yao mengerjap. "Akademi Sihir? Yang tersembunyi di balik kabut itu?"

"Kau tahu?"

"Aku pernah mendengarnya. Katanya hanya makhluk yang lolos ujian tiga gerbang yang boleh masuk." Mata Feng Yao membulat penuh kagum. "Dan kau, seorang siluman beruang, diterima di sana?"

"Tidak semua orang percaya aku bisa lulus." Xiong Yan menatap cangkirnya. Ada senyum getir di bibirnya. "Aku hampir ditolak di gerbang pertama. Penjaganya bilang beruang hanya cocok untuk berburu dan tidur, bukan mempelajari kitab sihir."

"Lalu?"

"Aku duduk di depan gerbang selama tujuh hari tujuh malam sampai mereka membiarkanku masuk."

Feng Yao terdiam sesaat, lalu tertawa hangat. "Kau keras kepala sekali."

"Beruang memang begitu."

"Bukan. Itu karena kau yang begitu." Ia mencondongkan tubuh, penasaran. "Lalu siapa gurumu di sana?"

Xiong Yan diam sejenak. Sorot matanya berubah, dari malu-malu menjadi penuh hormat.

"Guruku seorang dewa dari klan naga."

Tangan Feng Yao yang sedang mengambil persik berhenti sesaat di udara. Hanya sekejap, hampir tak terlihat, dan Xiong Yan yang sedang mengenang masa lalu tidak menyadarinya.

"Dewa naga?" ulang Feng Yao pelan, dengan nada yang dijaga tetap ringan.

"Ya. Beliau keras dan tidak suka basa-basi. Hari pertama aku masuk kelas, beliau langsung bilang, 'Sihir tanpa martabat hanya membuatmu jadi binatang buas yang lebih berbahaya.'" Xiong Yan tersenyum tipis. "Kalimat itu terus kupegang sampai sekarang."

"Martabat," gumam Feng Yao.

"Beliau mengajariku bahwa seorang pemimpin tidak boleh hanya kuat. Ia harus tahu kapan menahan cakarnya dan kapan menundukkan kepala." Xiong Yan menatap lurus ke depan. "Makanya klanku tidak pernah menyerang wilayah lain tanpa alasan. Aku tidak mau mereka hidup seperti binatang liar yang hanya mengenal rasa lapar dan takut."

Feng Yao memandangi profil wajah pria itu lama sekali. Angin pegunungan menerbangkan helai rambutnya, dan ada sesuatu yang lembut di matanya.

"Pantas saja," ucapnya pelan.

"Pantas apa?"

"Pantas kau menyembuhkan diri di halamanku dengan sabar. Kau tidak mencakar tanamanku atau merusak pagar. Kau bahkan menunggu sampai benar-benar sembuh sebelum pamit." Ia tersenyum. "Aku sempat heran, beruang liar mana yang sesopan itu."

Xiong Yan tersedak persik.

"Pelan-pelan!" Feng Yao buru-buru menyodorkan teh sambil menepuk punggungnya. "Kenapa kau kaget begitu?"

"Tidak... tidak apa-apa." Xiong Yan terbatuk dua kali, wajahnya kembali merah padam. "Hanya... belum pernah ada yang memujiku seperti itu."

"Aku tidak memuji. Aku bicara kenyataan."

*Itu yang paling berbahaya,* batin Xiong Yan pasrah.

Setelah suasana tenang kembali, Xiong Yan memberanikan diri bertanya, "Kalau kau, Beifeng Yao? Kenapa kau tinggal sendirian di pegunungan? Apa kau tidak kesepian?"

Feng Yao memutar cangkirnya perlahan. Senyumnya tidak hilang, tapi matanya menerawang jauh ke arah barisan gunung yang tertutup kabut.

"Kadang-kadang," jawabnya jujur. "Tapi aku sudah terbiasa."

Xiong Yan tidak mendesak. Ia hanya menatap gadis itu, lalu berkata dengan suara rendah yang tulus, "Kalau begitu, mulai sekarang kau punya seorang teman yang wilayahnya mengelilingi pondokmu."

Feng Yao menoleh. Ia berkedip, lalu tertawa lepas, tawa yang tulus dan lebih lepas dari sebelumnya.

"Kau baru saja memakai wilayah kekuasaanmu sebagai bahan rayuan pertemanan?"

"Aku tidak merayu!"

"Iya, iya." Ia mengangkat cangkirnya. "Teman, ya? Baiklah. Untuk teman pertamaku dari Klan Beruang Hitam."

Xiong Yan menatap cangkir itu, lalu perlahan mengangkat cangkirnya sendiri. Dentingan halus dua cangkir keramik terdengar di beranda yang tenang.

*Teman.*

Ia ingin merasa lega karena misinya berhasil. Tapi entah kenapa, kata itu terasa sedikit mengganjal di dadanya.

Sementara itu, di balik pohon pinus terdekat, Xiong Ling menahan diri agar tidak berguling-guling di tanah sambil menangis terharu.

---Xie Lan sudah tiga bulan menyamar sebagai penjaga lorong dalam di gua Klan Beruang Hitam. Tugasnya sederhana: mengamati, mencatat, dan melapor. Klan Ular Se Chang memang bertugas memantau kondisi seluruh wilayah siluman di pegunungan itu.

Selama tiga bulan, laporannya membosankan. *Patroli rutin. Persediaan makanan cukup. Pemimpin klan tegas dan tidak tergoda suap.*

Tapi sejak seminggu terakhir, ada yang aneh.

Pemimpin Xiong Yan pergi setiap pagi dengan keranjang anyaman. Wajahnya sering merah tanpa sebab. Patroli di sisi selatan hutan mendadak diperketat tanpa penjelasan yang masuk akal. Dan wakilnya, Xiong Ling, sering menghilang dengan alasan yang lebih tidak masuk akal lagi.

*Ada sesuatu di selatan.*

Pagi itu Xie Lan berubah menjadi ular hijau sepanjang lengan dan merayap mengikuti jejak Xiong Yan. Ia melata di sela akar dan bersembunyi di balik daun. Ia bahkan melingkar di dahan pinus tepat di atas kepala Xiong Ling, yang sedang mengintip sesuatu dengan mata berkaca-kaca. Wakil pemimpin itu terlalu sibuk menahan haru untuk menyadari ada ular di atas kepalanya.

Lalu Xie Lan melihatnya.

Sebuah pondok bambu di tengah halaman penuh bunga spiritual, dan seorang gadis yang berjongkok menyiram tanaman sambil bersenandung. Xiong Yan berdiri kaku di depannya dengan keranjang di tangan, seperti prajurit yang sedang menunggu hukuman.

Gadis itu mendongak dan tersenyum.

Xie Lan lupa berkedip. Lidah bercabangnya lupa menjulur.

Ia sudah melihat banyak wanita cantik dari berbagai klan, siluman rubah, burung, bahkan peri bunga. Tapi tidak ada yang seperti ini. Kecantikannya tenang dan bersih, namun ada sesuatu yang dalam di baliknya, seperti danau tenang yang dasarnya tidak terlihat. Bunga-bunga spiritual di sekelilingnya pun mekar seolah tunduk padanya.

*Ini bukan manusia biasa. Dan bukan siluman juga.*

Ia bertahan di dahan itu sampai matahari tinggi, menyaksikan Xiong Yan diseret duduk dan pipinya dikompres ramuan. Lalu ia merayap mundur dengan sangat pelan dan langsung berlari ke arah barat begitu jauh dari jangkauan indra tajam para beruang.

---

Wilayah Klan Ular Se Chang terletak di lembah berkabut. Di sana udara lembap dan pilar-pilar batu hitam menjulang seperti taring raksasa. Di ruang utama, Se Chang bersandar di singgasana berukir sisik, sebelah tangannya memainkan cawan anggur giok. Rambut peraknya jatuh tergerai, dan matanya yang sipit tampak selalu setengah mengantuk, seperti ular kenyang yang tetap waspada.

"Laporkan," katanya malas.

Xie Lan bersujud. "Yang Mulia, di wilayah Klan Beruang Hitam, hamba menemukan sesuatu yang tidak biasa."

"Pemimpin beruang itu merencanakan pemberontakan?"

"Bukan, Yang Mulia. Tapi..." Xie Lan ragu sejenak. "Ada seorang wanita di sana."

Cawan giok berhenti berputar. "Wanita?"

"Tinggal sendirian di pondok bambu di selatan hutan. Xiong Yan mengunjunginya setiap hari dan membawakan hadiah. Ia bahkan menambah patroli di sekitar tempat itu."

Se Chang tersenyum tipis. "Beruang itu jatuh cinta?"

"Sepertinya begitu, Yang Mulia. Tapi bukan itu yang ingin hamba laporkan." Xie Lan mengangkat wajah, dan ada sisa ketakjuban di matanya yang tak bisa disembunyikan. "Wanita itu... sangat cantik, Yang Mulia. Hamba belum pernah melihat kecantikan seperti itu."

Ruangan itu hening sesaat.

Se Chang menegakkan tubuhnya perlahan. Mata setengah mengantuknya kini terbuka penuh. "Lebih cantik dari Nyonya Rubah Sembilan Ekor?"

"Jauh, Yang Mulia."

"Dan aura apa yang dimilikinya?"

"Bukan aura siluman. Hamba juga tidak bisa memastikan apakah ia manusia atau makhluk surgawi. Tapi tanaman di halamannya seperti tunduk padanya."

Se Chang meletakkan cawannya. Jemarinya mengetuk lengan singgasana pelan, tiga kali.

"Menarik," gumamnya. "Seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya, tinggal di wilayah beruang, dan dijaga oleh pemimpin klan yang biasanya sedingin batu."

Ia bangkit dan berjalan ke jendela batu, menatap kabut di kejauhan.

"Awasi terus. Catat siapa yang datang dan pergi, dan cari tahu namanya." Senyum di bibirnya melebar perlahan, dingin dan penuh rasa ingin tahu. "Aku ingin melihat sendiri kecantikan yang sanggup membuat si beruang keras kepala itu lupa cara berpikir."

Di kejauhan, tanpa ada yang menyadarinya, angin dingin berembus dari arah lembah menuju pondok bambu itu.

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!