Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Suara benturan keras dari arah pintu lift pribadi memecah keheningan malam yang mencekam.
Bau asap tipis bercampur mesiu mendadak menyeruak masuk ke ruang tengah mansion. Maya panik luar biasa. Ia refleks berdiri, mencoba menghalangi sofa tempat Reza terbaring lemah dengan tubuhnya sendiri.
"Reza! Ada yang menerobos masuk!" bisik Maya dengan napas memburu, matanya liar menatap ke arah lorong masuk.
Reza mengepalkan tangannya kuat-kuat, meringis menahan rasa sakit di perutnya yang baru saja dijahit seadanya oleh Maya.
Pria itu memaksa tubuhnya untuk duduk bersandar, meski peluh dingin makin deras membasahi dahinya.
"Maya... dengar saya," suara Reza terdengar sangat parau, tapi ada nada ketegasan yang tak membantah. Ia meraih pergelangan tangan Maya dan menariknya mendekat secara perlahan.
"Sembunyi di belakang meja bar dapur. Sekarang."
"Tidak! Aku tidak mau tinggalkan kamu sendiri!" tolak Maya tegas, matanya berkaca-kaca. "Kamu bahkan tidak bisa berdiri, Reza!"
"Maya, jangan keras kepala!" tegur Reza pelan tapi menekan. "Mereka datang bukan untuk mengajak bicara. Cepat!"
Sebelum Maya sempat menjawab, pintu kaca penghubung lorong depan hancur berantakan.
Dua orang pria bersetelan serba hitam dengan penutup wajah merangsek masuk, memegang senjata berperedam suara. Suara tembakan meluncur tanpa ampun.
TUK! TUK! TUK!
Peluru-peluru itu menancap kaku di dinding marmer tepat di atas sofa. Reza dengan sisa tenaga yang ada meraih lengan Maya, memutar tubuh gadis itu, lalu menariknya jatuh ke lantai di balik sofa tebal.
"Argh!" Reza meringis keras saat luka di perutnya kembali tertekan akibat gerakan mendadak itu.
"Reza!" jerit Maya tanpa suara, menahan napasnya saat tubuh kokoh Reza menindih separuh tubuhnya di celah sempit antara sofa dan dinding.
Suara langkah kaki sepatu bot tebal terdengar makin mendekat ke arah sofa. Langkah mereka teratur, dingin, dan mematikan.
Reza mencengkeram pistol di balik lipatan baju mewahnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mendekap erat pinggang Maya untuk menyembunyikan gadis itu sepenuhnya di bawah kungkungan tubuhnya.
Jarak mereka kini tidak ada lagi. Maya bisa merasakan detak jantung Reza yang berpacu kencang di dada bidangnya, serta hembusan napas hangat pria itu yang terasa begitu dekat di lehernya.
Aroma parfum maskulin bercampur bau darah yang menyengat memenuhi seluruh indra penciuman Maya.
"Cari sampai dapat! Tuan Burhan minta Reza dibawa hidup atau mati!" teriak salah satu penyusup dengan suara berat dari balik topengnya.
Maya membeku. Ketakutan yang amat sangat membuat tubuhnya gemetaran hebat. Ia tak sanggup menahan dorongan untuk berteriak atau menangis histeris saat melihat ujung sepatu bot penembak itu berada hanya setengah meter dari kepala mereka.
Napas Maya makin tidak teratur, panik melingkupi pikirannya. Ia hendak membuka mulutnya untuk meluapkan rasa takut yang tertahan.
Melihat Maya yang hampir kehilangan kendali dan bisa membocorkan posisi mereka, Reza menatap mata Maya lekat-lekat di dalam kegelapan remang-remang celah sofa. Tidak ada waktu untuk berpikir atau memberikan peringatan lewat kata-kata.
Tanpa ragu, Reza memajukan wajahnya dan langsung mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Maya.
CUP.
Maya terbelalak sempurna. Jantungnya serasa berhenti berdetak detik itu juga. Sentuhan lembut, hangat, dan mendesak dari bibir Reza seketika membungkam jeritan yang nyaris lolos dari tenggorokan Maya.
Suasana di sekeliling Maya seolah lenyap begitu saja. Rasa takut akan moncong senjata yang mengintai mendadak kalah oleh sensasi sengatan listrik yang menjalar dari bibir Reza ke seluruh tubuhnya. Reza menyatukan bibir mereka dengan erat, tidak hanya untuk membungkam suara Maya, tapi juga menyalurkan rasa protektif dan hangat di tengah situasi antara hidup dan mati.
Maya memejamkan matanya erat-erat, tangannya yang gemetaran tanpa sadar mencengkeram erat bahu Reza yang bersimbah peluh.
Di dalam keheningan yang tercekik itu, mereka berdua berbagi napas yang sama, terjebak dalam ciuman terlarang yang dipicu oleh keputusasaan.
Langkah kaki penyusup di luar sofa berhenti sejenak.
"Di sini kosong! Coba cek ruang kerja rahasianya di sebelah!" seru salah satu penyerang.
Suara langkah kaki bot tebal itu perlahan bergerak menjauh menuju lorong ruang kerja Reza.
Mendengar pergerakan musuh yang makin jauh, Reza perlahan menarik wajahnya kembali. Tatapan mata hitamnya yang dalam terkunci rapat pada wajah Maya yang memerah padam dengan napas terengah-engah di bawahnya. Ibu jari Reza yang ternoda sedikit bekas darah mengusap pelan bibir bawah Maya yang basah.
"Maaf..." bisik Reza sangat pelan di depan wajah Maya, suaranya serak dan sarat akan emosi yang jujur. "Cuma itu cara satu-satunya supaya kamu tidak bersuara."
Maya menatap Reza dengan pikiran yang berantakan total. Bibirnya masih terasa panas dan gemetar. Ia ingin marah, tapi lubuk hatinya yang paling dalam tidak bisa membohongi getaran hebat yang membakar dadanya.
Jarak di antara mereka yang selama ini dipisahkan oleh status, kekuasaan, dan stigma pelakor... runtuh seketika dalam satu ciuman tak terduga di tengah kepungan maut.
"Reza... kamu..." bisik Maya terbata-bata, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Reza tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang memperlihatkan betapa tulusnya perasaan pria itu pada Maya. Namun sebelum Reza sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan perasaannya, erangan kesakitan kembali lolos dari bibirnya. Luka tembak di perutnya kembali merembeskan darah segar yang melimpah, membasahi baju Maya.
"Reza! Darah kamu keluar lagi!" cemas Maya, panik luar biasa saat melihat kesadaran Reza mulai menurun drastis.
"Maya... d-dengar saya..." bisik Reza lirih, matanya mulai tertutup perlahan karena kehabisan banyak darah. "Di dalam saku jas saya... ada kunci..."
Kepala Reza mendadak terkulai lemas di atas pundak Maya, pria itu pingsan tak sadarkan diri di atas tubuh Maya, tepat saat suara tembakan bertubi-tubi kembali meletus dari arah ruang kerja.
Bersambung.....