Kania Maharani, harus menerima kenyataan pahit saat sang suami lebih memilih untuk kembali pada sang mantan kekasih setelah satu tahun usia pernikahan mereka.
Dulu mereka di jodoh kan saat Erlan Hadi Wijaya di tinggal kan oleh kekasih nya, demi pria lain.
Setelah sang kekasih berpisah dari laki - laki pilihan nya, dia ingin kembali pada Erlan. Erlan yang masih mencintai Wina, menerima wanita itu kembali tanpa perduli perasaan Kania.
Apakah Kania tetap bertahan dan menerima diri nya di madu, atau memilih mundur karena dia bukan lah istri pilihan suami nya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
"Bapak dan ibu tunggu di sini, biar saya yang panggil kan Kania kemari!" Umi Latifah berkata.
"Baik Umi!" Bu Sarah mengangguk kan kepala nya.
Sebelum memanggil Kani, Umi Latifah terlebih dahulu pergi ke kamar nya. Dia mengambil sebuah kotak yang sudah di simpan nya selama puluhan tahun ini, setelah itu baru lah dia menemui putri nya.
Tok, tok, tok.
"Kania, ini Umi nak, buka pintu nya!" Panggil Umi dari luar.
Ceklek.
Pintu terbuka dan Kania muncul di depan nya.
"Umi, ada apa?" Tanya Kania.
"Ikut Umi nak, ada hal penting yang mau Umi sampaikan pada mu!" Ajak Umi Latifah.
"Baik Umi!" Jawab Kania.
Kania lalu segera mengikuti langkah kaki Umi kembali ke ruang tamu, di sana bu Sarah dan pak Rama masih berada di sana.
"Duduk lah nak, ada yang mau kami sampaikan pada mu!" Abi Muis meminta Kania duduk di samping nya.
Kania menuruti ucapan Abah Muis, tapi ada yang heran menurut Kania. Kania melihat bu Sarah yang sedang menangis di pelukan pak Rama.
"Bu Sarah, pak Rama, ini adalah baju yang du kenakan oleh Kania saat pertama kali kami menemukan nya, di sini juga ada barang lain nya!" Umi Latifa berkata sambil menyodorkan kotak hitam pada mereka.
Bu Sarah menerima kotak itu dengan tangan bergetar, dia membuka nya dengan pelan dan mata nya terbelalak. Dia lalu mengeluarkan sebuah baju anak kecil, lengkap dengan celana dan yang lain nya. Bu Sara menangis karena dia tidak pernah lupa, itu adalah baju yang du kenakan oleh baby Sesil saat dia di culik.
"Ini benar punya anak ku, Kania adalah putri ku!" Bu Sarah menangis sambil melihat Kania.
Kania terpaku dengan apa yang di lihat nya barusan, orang yang di tolong nya adalah ibu kandung nya yang telah melahir kan diri nya ke dunia ini.
"Umi, apa maksud nya ini?" Tanya Kania dengan suara bergetar.
"Kania, kau telah bertemu dengan orang tua kandung mu nak. Mereka adalah orang tua mu!" Imi berkata pada Kania.
Kania melihat bu Sarah dan pak Rama, dia tidak mampu menahan air mata nya. Begitu pun dengan mereka, air mata mengalir deras tanpa bisa mereka tahan.
"Kania, kemari lah nak!" Bu Sarah merentang kan tangan nya.
Kania melihat ke arah Umi Latifah, dan Umi Latifah pun mengangguk kan kepala nya. Kania lalu menghambur ke dalam pelukan Bu Sarah dan pak Rama.
"Putri ku, bertahun - tahun kami mencari mu. Kini kami menemukan mu!" Bu Sarah berkata sambil memeluk erat tubuh Kania.
Umi Latifah dan Abah Muis tidak bisa menahan rasa haru nya, mereka pun ikut menitik kan air mata. Semua orang menangis, tapi bukan tangis kesedihan. Ini adalah air mata bahagia, pertemuan antara anak dan orang tua yang sudah terpisah selama puluhan tahun.
Bu Sarah mengurai pelukan nya, dia membingkai wajah putri nya.
"Perasaan ku sejak pertama kali bertemu dengan mu tidak bisa di bohongi, ternyata benar kau adalah putri ku!" Bu Sarah berkata pada Kania.
"Kau adalah putri kami, dan kini tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi!" Pak Rama berkata sambil mengelus puncak kepala Kania yang tertutup hijab.
"Papa, hati Mama tidak bisa di bohongi. Abah, Umi, terima kasih karena kalian telah menjaga putri kami dengan baik!" Bu Sarah berkata pada kedua nya.
"Bagi kami, Kania adalah putri kandung kami, walaupun aku tidak pernah melahir kan dia ke dunia ini!" Umi Latifah berkata sambil menghapus sisa air mata nya.
"Kania, apakah kau masih menyimpan kalung yang sama nak?" Tanya Bu Sarah sambil menunjuk kalung yang sedang dia pakai saat ini.
"Iya Ma!" Jawab Kania sambil mengangguk kan kepala nya.
Kania lalu mengeluarkan kalung yang sama dari balik jilbab nya, dan dia menyerahkan kalung itu pada bu Sarah.
Bu Sarah menerima nya dengan tangan bergetar, kalung yang sama denhan milik nya. Kalung itu di pesan khusus oleh pak Rama untuk mereka berdua, tidak ada orang lain yang memiliki nya.
"Dulu Papa sengaja memesan secara khusus kalung ini untuk kalian berdua, dan kini kalung ini berhasil mempertemukan kita kembali!" Pak Rama terharu dan sangat bersyukur dengan anugerah ini.
Semua orang sangat bahagia, fikiran buruk untuk orang tua nya yang telah membuang nya kini telah lenyap dari diri Kania. Dia sudah mengetahui kebenaran nya, bahwa diri nya di culik oleh orang yang tak bertanggung jawab, bukan sengaja di buang oleh orang tua nya.
Pak Rama dan bu Sarah merayakan pertemuan kembali dengan putri kandung nya, dengan memberikan dana yang cukup besar untuk membangun panti asuhan ini agar lebih layak di huni. Semua itu mereka lakukan sebagai bentuk terima kasih karena telah merawat putri kandung mereka.
*******
Sementara itu pasangan suami istri lain nya, yaitu Papa Beni dan Mama Indri kini sudah mendekati area pondok dan panti. Mama Indri semakin tegang dan takut, takut jika Kania tidak ada di sini.
"Pa, bagai mana jika Kania tidak ada di sini? Apa yang akan kita katakan pada Abah Muis dan Umi Latifah?" Tanya Mama Indri dengan cemas.
"Apapun konsekuensi nya, kita harus menghadapi nya Ma. Semua ini terjadi karena kesalahan putra kita, Erlan!" Papa Beni berkata sambil menarik nafas berat.
"Anak itu benar - benar membuat kita malu, seharusnya jika dia benar- benar tidak menginginkan Kania lagi, dia bisa mengembalikan nya dengan cara baik - baik!" Mama Indri benar - benar menyesali apa yang sudah di lakukan oleh putra nya.
"Ma, sekarang kita harus memastikan bahwa Kania baik - baik saja. Setelah kita memastikan Kania baik - baik saja, maka Erlan biar menjadi urusan Papa. Papa akan memberi pelajaran pada anak tidak tahu diri itu!" Papa Beni berkata pada istri nya.
"Papa benar Pa, Erlan benar - benar keterlaluan. Dia sudah mempermalukan kita, Mama juga tidak sudi punya menantu wanita seperti Wina!" Mama Indri berkata dengan geram.
"Papa sudah mengambil keputusan Ma, bahwa Papa akan mencabut semua hak Erlan atas perusahaan itu. Akan lebih baik perusahaan Papa berikan pada Kania, dari pada di berikan pada Erlan dan Wina!" Papa Beni berkata dengan tegas.
"Mama setuju Pa, Mama tidal rela melihat Wanita licik dan jalang itu menguasai semua harta kita!" Mama Indri ikut menimpali.
Tidak terasa mobil Papa Beni sudah memasuki halaman pondok pesantren dan panti tempat Kania di besar kan, detak jantung Mama Indri berpacu lebih cepat dari biasa nya. Dia tidak sanggup menghadapi tatapan dari Abah Muis dan Umi Latifah.
mudah2han rujuk lagi sama erlan
tapi erlan hrs berjuang dulu
Jangan lama-lama Up lagiii 😘😍
bikin ancur aja tuh mereka berdua pak Beni 👍😡