'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Keluarga Nelson.
...~•Happy Reading•~...
Bu Ridho mengambil gelas dengan kasar, lalu minum sekali teguk. "Kakek, jangan terus manjain Tine. Lihat kelakuannya." Emosi Mama Tine belum surut. Apa lagi melihat sikap Nelson yang sopan, sangat bertentangan dengan anak-anaknya.
"Anak-anak ini cuma bercanda. Biarkan mereka bertumbuh sesuai masanya. Kita mengawasi saja." Kakek Samy berkata serius.
"Tine baik, sopan dan rajin. Kelak dia berprestasi, apa kalian tidak bangga?" Kakek Samy menambahkan lagi.
"Apa Kakek tahu yang dia lakukan di luar? Kakek selalu bela dan memanjakan dia." Bu Ridho berkata demikian, agar suaminya mau mengambil kembali Tine untuk tinggal dengan mereka.
"Tante, maaf. Saya tidak terima yang Tante bilang tadi ke Kakek." Nelson bicara dengan wajah keras dan tegas. Sikapnya berubah serius dan formal. Pak Ridho terkejut, seakan melihat kakaknya Esra dalam diri Nelson. Tetapi kakaknya masih bersikap baik, sangat berbeda dengan Nelson yang kaku.
"Kalau Tante tidak suka Tine tinggal dengan Kakek, jangan cari alasan menuduh Kakek begini, atau Tine begitu. Apa sikap Kakek cuma kepada Tine? Apa tidak kepada Zeth juga?" Nelson bertanya kepada Mama Tine tanpa berkedip.
"Kami sebagai cucu, menerima sikap Kakek sebagai bentuk kasih sayang. Sehingga kami bersikap manja pada Kakek sebagai wujud rasa hormat dan kasih sayang kami." Nelson tidak tahan untuk mengatakan yang dia rasakan.
Kakek Samy menunduk haru, dan membiarkan Nelson mengatakan menurut kata hatinya.
"Maaf, Om. Walau saya jarang ke sini, tapi sikap Tine tidak berubah buruk. Mungkin dia suka bercanda, tapi itu adalah gaya generasi kami berkomunikasi dan mengakrabkan diri."
"Sudah, Ma. Mari kita pergi ambil durian yang masih ditunggu Zeth." Pak Ridho melerai, karena melihat wajah istrinya memerah dan Nelson akan memberi kuliah 1 SKS.
Sontak Nelson melunak. "Durian masih ada lagi, Om?" Nelson kembali bersikap santai.
"Masih. Makanya Zeth belum ikut ke sini." Pak Ridho terpaksa menjawab, sebab dilihat Kakek Samy.
"Aku kira Zeth lagi ke sekolah. Aku ikut bantu, ya, Om?" Nelson turun dari zebo hendak membantu.
Kakak Samy bersyukur, Nelson tidak memasukan ke hati ucapan dan sikap Tantenya. Justru dengan sopan memberikan pengertian dan bijak seperti Papanya.
"Ayo, Kak. Ikut saja. Supaya serangga hutan bisa berpesta dengan orang tampan." Tine yang kembali keluar, balas meledek Nelson.
"Serangga hutan tidak suka sama orang jenius, Kak. Jadi lebih baik tinggal bantu adikmu yang cantik ini." Tine mengabaikan kemarahan Mamanya setelah tahu dibelah Nelson dan Kakeknya.
"Benar yang dibilangnya. Ada banyak serangga hutan. Duduk saja di sini dengan adikmu." Kakek Samy menyuruh Nelson tetap tinggal. Papa Tine mengajak istrinya pergi, sebelum Kakek Samy marah.
Setelah orang tuanya jauh, Tine mendekati Nelson dan duduk di sampingnya. "Jangan bikin emosi pagi-pagi. Mau dibantu apa?" Nelson bertanya sambil makan sedikit nasi goreng yang diambil dari piring Kakeknya.
"Lebih baik kita fokus jual durian ini, Kak..." Tine menunjuk tumpukan durian di atas rumput dan daun kering.
"Ini mau dijual? Kau mau aku antar ke kota?" Nelson berhenti makan.
"Gak perlu ke kota, Kak. Kita jual di situ saja." Tine menunjuk tempat di samping rumah Kakeknya.
"Emang orang kampung ini gak punya pohon durian?" Nelson heran melihat sekitarnya, karena sebelumnya dia datang tinggal sendiri dengan Kakek, tanpa berinteraksi dengan orang kampung.
"Kita jual buat orang kota yang datang..." Tine menceritakan yang sering terjadi. Orang kota datang beli atau makan di tempat.
"Ok. Apa yang harus dibantu?" Nelson jadi semangat mendengar penjelasan Tine. Dia punya pekerjaan baru disamping belah kayu.
"Tine, kakakmu ke sini untuk persiapan ujian. Jangan diganggu dengan itu. Kalau Mamamu tidak mau jual, biarkan saja di situ." Kakek Samy masih kesal dengan sikap menantunya yang tidak berubah.
"Gak pa'pa, Kek." Nelson mencegah Kakeknya yang mau melarang. "Aku mengerti maksudnya. Jualnya gimana, Tine."
"Durian ini kita kelompokan sesuai bodynya, Kak. Body besar, sedang dan kecil...." Tine menjelaskan harga sambil menunjuk buah durian.
"Ok, ok. Aku mengerti." Nelson mengangkat jempol. Dia segera menghabiskan sarapan.
Kakek Samy mengalah. "Kalau begitu, mari Kakek ajarkan cara membela durian, mungkin ada yang mau makan di sini." Kakek Samy jadi bersemangat, melihat Nelson tidak terpengaruh dengan sikap Tantenya.
Kakek Samy mengambil parang lalu tunjukan caranya kepada Nelson. "Membela durian juga butuh konsentrasi, seperti membela kayu yang sering kau lakukan dengan menggaris. Ini sudah ada garis, jadi lebih gampang." Kakek Samy menunjukan caranya kepada Nelson.
"Coba Nel makan ini. Bagaimana rasanya." Nelson ambil durian yang sudah terbuka. "Waaah, waaaah." Nelson tidak bisa berkata-kata merasakan lezatnya buah durian milik Kakeknya.
"Kak Nel, makan sepuasnya. Aku mau siap-siap." Tine masuk ke dalam rumah untuk mandi dan mengganti outfit.
"Sini Kakek. Aku akan buka sendiri." Nelson mengambil parang. "Aku juga mau belajar cara membuka buah durian yang benar." Nelson bersemangat.
"Pelan-pelan saja, Kak. Pembeli masih jauh, di kaki gunung." Tine tersenyum melihat Nelson masih makan durian dengan lahap.
"Kek, biarkan kami yang tangani." Nelson mencegah kakeknya yang mau memindahkan durian.
"Kakek mau sisihkan buatmu dan Tine." Kakek Samy memindahkan durian enak, agar tidak habis dijual.
Nelson mengangguk, lalu mencuci tangan dengan air yang disediakan. "Tine, tunggu, ya. Aku bawah ini ke dalam buat ganti." Nelson mengangkat backpacker dan kotak yang dibawa buat kakeknya ke dalam rumah.
~•~
Sebelum siang, semua buah durian habis dijual. "Lihat Kak Nel, laris manis." Tine menunjuk tempat jualan mereka yang telah kosong.
"Benar, kan. Kerja dengan senang hati dan menyertakan Tuhan, happy." Nelson jadi tersenyum. "Ternyata uangnya sebanyak ini?" Bisik Nelson.
"Sini uangnya, Kak. Jangan sampe dilihat Mama. Kemarin hasil jualan Mama tidak sebanyak ini." Bisik Tine, karena tahu sifat Mamanya, kalau lihat penghasilannya lebih sedikit.
"Kok bisa? Tidak ada pembeli?" Nelson tanya dengan wajah heran.
"Kalau giliran jatah Papa, buah durian jatuh tidak sebanyak ini. Jadiii ..." Bisik Tine lagi. Dia tidak mau Mamanya emosi di depan Nelson, karena melihat uang Kakeknya.
"Oh, ok. Itu suatu bukti, rejeki setiap orang sudah ada yang atur." Nelson menunjuk ke atas dengan wajahnya.
"Kakek, bawah masuk uangnya. Biar kami yang bereskan kulit durian." Bisik Tine. Kakek Samy mengangguk, lalu mengambil kantong plastik berisi uang dari tangan Tine. Nelson hanya diam membantu Tine menumpuk kulit durian.
"Durian tadi sudah habis?" Tanya Mama Tine yang datang inspeksi.
"Sudah, Tante." Jawab Nelson, karena Tine hanya diam.
"Bagus kalian datang." Kakek Samy yang sudah keluar dan melihat Papa Mama Tine datang.
"Untuk hasil durian kali ini, Esra kebagian jatah karna Nelson ada di sini. Jadi besok giliran Ridho, lusa bagian Esra. Begitu seterusnya sampai buah durian habis." Keputusan Kakek Samy membuat Mama Tine oleng. Nelson terdiam melihat Kakeknya yang mengirimkan sinyal, tidak boleh protes.
...~•••~...
...~•○♡○•~...