Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pergi
**
Sebenarnya, dua minggu terakhir setelah insiden di tempat karaoke, Rafa dan Felisa kembali saling menghindar. Kondisinya bahkan lebih buruk dari sebelumnya—jika dulu mereka hanya tidak bersapa tapi masih bertemu muka, kini mereka benar-benar tak pernah bersua karena selalu punya cara untuk saling menghindari.
Rafa seperti biasa pulang pukul 9 malam, saat dipastikan Elvan sudah tidur dan Felisa berada di dalam kamarnya. Meski saling menghindar, keduanya tetap menjalankan kewajiban sesuai kesepakatan. Rafa juga memiliki kebiasaan mengecek Elvan, baik mengintip ke kamar anak itu maupun kamar Felisa lewat celah pintu.
Namun malam ini berbeda. Begitu Rafa membuka pintu, ia disambut tangisan Elvan yang berlari kencang menghampirinya. Dengan air mata bercucuran, Elvan berteriak memanggil "Papa".
Rafa yang panik dan khawatir langsung berlutut menyejajarkan diri, menanyakan apakah Elvan sakit atau dimarahi Felisa. Dalam hati, Rafa berniat menegur Felisa jika ia sampai membuat anaknya menangis sehebat itu.
Elvan menggeleng dan menangis makin kencang. Dengan terbata-bata, ia memberitahu bahwa mama-nya sakit dan tertidur sejak siang tanpa bangun-bangun. Rafa yang terkejut mencoba menenangkan Elvan agar tidak menangis lagi, berjanji akan mengobati Felisa. Elvan segera mengusap air mata dan ingusnya ke baju Rafa, meminta agar mama-nya segera disembuhkan.
Rafa kemudian menggendong Elvan menyusuri ruang tamu, menyalakan lampu, lalu masuk ke kamar Felisa yang gelap. Di sana, Felisa terbaring lemas dibalut selimut dengan kening yang sangat panas dan berkeringat. Setelah menaruh plaster kompres instan yang pernah dibeli Alexa ke kening Felisa, Rafa membawa Elvan ke dapur. Ia memasak nasi goreng untuk Elvan—karena bocah itu belum makan sejak siang—serta membuatkan bubur untuk Felisa.
Setelah memberi makan Elvan dan menyuruhnya tidur di kamarnya agar tidak tertular, Rafa kembali ke kamar Felisa. Ia mengecek suhu tubuh Felisa yang masih menyentuh 38°. Sembari memperhatikan Felisa yang terbaring, muncul pergolakan batin dalam diri Rafa. Ia teringat betapa keras kepalanya Felisa yang dulu menolak pertanggungjawabannya, serta rahasia-rahasia yang disimpan wanita itu.
Rafa sempat mempertanyakan masa depan mereka, namun segera menepis pikiran tersebut dan bergeming bahwa ia melakukan ini semata-mata karena tidak ingin ada yang sakit atau meninggal di apartemennya.
Rafa lalu berusaha membangunkan Felisa untuk makan dan minum obat. Saat terbangun dengan mata sayu, hal pertama yang dipikirkan Felisa adalah kondisi Elvan dan rasa bersalahnya karena belum memasak. Rafa langsung menahannya dan menjelaskan bahwa Elvan sudah makan nasi goreng serta sudah tidur nyenyak. Mendengar kabar itu, Felisa merasa lega dan menyuruh Rafa beristirahat.
Ketika Rafa berjalan keluar, Felisa sempat merasa kecewa karena mengira pria itu benar-benar meninggalkannya. Namun, tak lama kemudian Rafa kembali membawa semangkuk bubur, segelas air, dan obat. Melihat Felisa yang begitu lemas hingga sendoknya terus terjatuh, Rafa tanpa banyak bicara mengambil alih sendok tersebut untuk menyuapi Felisa secara langsung agar prosesnya lebih cepat.
"Saya suapin, biar cepat. Kamu terlalu lama, keburu subuh baru selesai makan," ujar Rafa santai, masih setia mengangkat sendok di depan mulut Felisa yang tak kunjung diterima. "Pegel, nih!"
"Oh, iya." Felisa mengangguk bingung, buru-buru memakan suapan Rafa.
Akhirnya, makan malam ini berakhir dengan seluruhnya disuapi Rafa dalam diam. Entah, apa yang masing-masing dari mereka pikirkan?
Felisa tengah berbaring, barusan dia sudah meminum obat. Anehnya, Rafa masih setia duduk di pinggir kasurnya, ini lelaki tidak mau pergi, yah?
"Anu ... itu ... saya mau tidur," ujar Felisa canggung. Tidak tahu diri tidak yah, kalau Felisa mengusir Rafa padahal lelaki itu yang sudah merawatnya.
"Ya udah, tidur," jawab Rafa santai, tapi sama sekali tidak beranjak.
Felisa bingung harus bagaimana mengatakannya. "Kamu ... tidak mau pergi tidur?"
"Saya tunggu kamu tidur, mau pastikan demam kamu turun apa enggak."
"Ti--tidak perlu, kamu pergi tidur saja. Nanti pagi saat bangun udah sembuh, kok."
"Tidur sana. Kalau kamu khawatir saya akan macam-macam tenang aja, saya di sini cuman mau pastikan demam kamu turun aja."
"Kamu pasti capek, butuh istirahat."
"Saya akan lebih capek, kalau kamu gak sembuh dan harus urus Elvan sendiri. Makanya, sana tidur."
"Oh, ok." Felisa menurut untuk menutup mata, percuma mereka debat malam-malam. Felisa sangat senang, karena Rafa seperhatian ini.
Ingat, semua perhatian Rafa karena Elvan tentunya, apa yang tadi dia pikirkan? Tapi terlepas itu, Felisa tidak terbiasa mendapatkan perhatian seperti itu. Dalam hidupnya, hanya ada segelintir orang yang peduli padanya. Dari kecil, Felisa terbiasa mandiri. Lingkungan, mendidiknya untuk bisa melewati semua hal sendiri. Ah tidak, saat beranjak dewasa di lingkungan baru ada Meri yang selalu merawatnya saat sakit. Sekarang, ada lelaki ini.
"Terimakasih," ujar Felisa membuka mata, tersenyum tipis ke arah Rafa. "Apapun alasannya, terimakasih sudah merawat saya."
Rafa balik tersenyum. "Iya, Elvan sedih sekali tadi lihat kamu sakit. Makanya cepat sembuh." Saya juga sedih, lihat kamu sakit begini.
Felisa kembali memejamkan mata, bingung juga harus membalas seperti apa perkataan Rafa. Saat ini dia merasa sangat canggung, apalagi mereka berada di ruangan ini hanya berdua.
Waktu terasa lambat berlalu. Rafa sekarang tengah membaringkan tubuhnya di sofa, sesekali melirik ke arah kasur. Dia jadi bingung pada dirinya sendiri, kenapa bertahan di kamar ini? Kenapa ia merasa tidak tenang meninggalkan Felisa sendiri?
Felisa yang berbaring ke arah lain membelakangi Rafa, sebenarnya juga belum bisa tidur. Karena merasa pegal, Felisa bergerak-gerak tak sabaran.
"Belum tidur?" Felisa melirik Rafa, yang melihat ke arahnya. Tadi Rafa bertanya karena tak sengaja melihat gerakan tak tenang Felisa.
"Belum."
Kembali, terjadi keheningan di antara mereka. Sama sekali tidak ada yang membuka suara, padahal sama-sama tahu mereka belum ada yang tertidur.
"Mau temani saya ngobrol sampai kamu ngantuk, ada banyak hal yang mau saya tanyakan sama kamu?"
Felisa melirik sesaat. "Iya, boleh."
"Tapi, kamu udah baikan. Kalau pusing, berusaha tidur aja."
"Udah mulai enakan, udah makan kan tadi." Felisa penasaran juga apa yang mau Rafa tanyakan.
"Kamu waktu itu, saat tahu hamil usia kandungan berapa bulan?" Rafa agak berhati-hati menanyakan perihal itu, tapi dia sungguh penasaran.
"Waktu itu saya gak sadar hamil. Lucunya udah tiga bulan baru tahu, itu juga diberitahukan asisten saya. Aneh, padahal orang hamil bakal ngerasain mual dan semacamnya. Tapi, saya baik-baik aja malah masih bekerja." Felisa tersenyum jika mengingat momen itu, Elvan dalam kandungan seolah mengerti hubungan orangtuanya.
"Apa kamu pernah berpikir buat ... aborsi?" Sekali lagi Rafa berhati-hati dalam bertanya. Tentu saja, dia sangat penasaran. Wanita itu tidak meminta pertanggungjawaban kepadanya.
Felisa tersenyum kecil, melirik sesaat Rafa. "Sempat terpikir, tapi cuman beberapa saat karena setelahnya tiba-tiba saya langsung jatuh cinta dengan Elvan. Bahkan anak itu dalam kandungan saja, sudah membuat saya jatuh cinta."
Rafa ikut tersenyum, membayangkan momen Elvan dalam kandungan. Sayangnya, tidak ada dirinya pada momen itu. Rafa tersenyum kecut, banyak momen Elvan yang tumbuh tanpa dirinya, tapi itu bukan maunya.
"Kenapa gak minta pertanggungjawaban saya?" Rafa makin tersenyum kecut.
Felisa melirik Rafa yang terlihat murung. "Saya takut," cicitnya pelan.
"Maksudnya?" Rafa sudah duduk, menatap Felisa di sofa yang tak jauh dari kasur.
"Lingkungan pengalaman saya banyak memberi contoh, jika pernikahan tidak pernah membuat bahagia anak. Banyak anak terluka karena banyaknya pernikahan yang gagal." Felisa tahu rasa sakitnya anak menjadi korban pernikahan yang gagal.
"Kamu hanya terlalu takut atas sesuatu hal yang belum kita coba dan belum terjadi." Rafa tertawa mengejek. "Menyerah sebelum berjuang itu, bodo!"
"Apa hubungan kita waktu itu saat kita tidak sama sekali mengenal, jika mencoba dan berjuang kata kamu akan berhasil?" Felisa berusaha bangun menyandarkan tubuhnya. "Bagaimana kita bisa menikah dengan orang asing? Karena nyatanya orang yang katanya menikah saling mencintai saja bisa berpisah."
"Dan kamu bakal biarin anak dan ayah ini tidak akan bertemu karena alasan tidak logis kamu ini!" Tanpa sadar Rafa membentak Felisa.
"Sekarang, kalian udah ketemu."
"Yah, kata kamu ada sesuatu masalah yang buat kamu datang. Jika, saat ini hidup kamu tidak ada masalah itu, apa kamu masih akan datang?" Rafa tersenyum mengejek. "Enggak, kan! Sampai saya matipun, mungkin saya tidak akan tahu jika punya anak."
Felisa kembali melirik Rafa, lelaki terlihat emosi dan putus asa saat ini. "Saya tidak sejahat itu memisahkan kalian. Tapi, saya butuh waktu yang tepat saja. Akh ...sakit!"
Tiba-tiba, Felisa memegang kepala yang sakit. Dia lupa masih sakit, tapi sudah berdebat yang menggunakan tenaga. Salahkan, lelaki itu yang mengajak orang sakit ingin berdebat.
"Kamu gak papa?" tanya Rafa khawatir yang tiba-tiba sudah duduk di samping Felisa, membantu wanita itu kembali berbaring. "Sebaiknya kamu tidur."
"Ya," jawab Felisa pelan. Kembali membaringkan tubuhnya ke samping membelakangi Rafa.
"Maaf," ujar Rafa pelan. Setelah itu Rafa beranjak dari sana. Kali ini bukan sofa, tapi tujuannya adalah pintu keluar untuk menuju kamarnya.
Setelah suara pintu tertutup, hanya keheningan yang mengisi kamar Felisa. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa lelaki itu menanyakan sesuatu hal yang seperti ini?
Di dalam kamar satunya, Rafa tengah berbaring menyamping memandangi Elvan yang terlelap. Rafa tersenyum melihat bibir Elvan yang mengerucut. Rafa tahu, jika Elvan juga sudah membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Senyum bocah itu seolah pelangi, yang wajib Rafa lihat setiap hari.
Rafa akhir-akhir ini berpikir egois, tidak mau Elvan pergi dari hidupnya. Dia tidak mau melewatkan satu hari tanpa melihat Elvan. Jadi, bukankah Elvan satu paket dengan Ibunya? Jika Rafa meminta Elvan tinggal, otomatis meminta Felisa juga untuk tetap tinggal.
Kenapa mereka tidak mencoba untuk menikah? Itulah pikiran yang Rafa pikirkan beberapa hari ini. Tapi, mendengar jawaban pernikahan dari mulut Felisa, rupanya akan susah memintanya untuk menikah seperti waktu itu. Pada akhirnya, Elvan dan dia akan pergi.
"Jangan pergi," bisik Rafa pelan di wajah Elvan. Jari-jarinya mengelus kulit pipi Elvan yang halus.
"Aku mau kamu, tetap tinggal bareng Papa dan mama kamu."
##