Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkelahian
Di dekat jalan belakang, suasana mendadak pecah oleh suara hantaman keras dan makian yang saling bersahutan. Suara ribut-ribut itu bahkan terdengar jelas sampai ke trotoar utama.
Kebetulan Ana lewat jalan itu, seorang pria mendadak tersungkur di depan kakinya dengan kondisi babak belur,
Ana spontan menghentikan langkahnya. Begitu memperhatikan wajah pria yang tiarap itu, matanya langsung membelalak.
“Fadil? Ngapain kamu di sini?”
Fadil mendongak dengan susah payah. Sudut bibirnya yang robek kembali mengucurkan darah. Anehnya dalam kondisi mengenaskan seperti itu, dia masih sempat-sempatnya meringis lebar ke arah Ana.
“Eh Ana… Tenang, aku nggak apa-apa kok.”
Melihat kejadian itu Yudi langsung berlari menghampiri mereka dengan napas memburu.
“Ana ngapain malah bengong di sini? Buruan pergi! Bahaya kalau kamu sampai ikut keseret!”
“Kenapa aku harus pergi?” tanya Ana, nadanya sedikit santai.
Yudi nggak sempat menjawab karena terburu-buru pasang badan, menatap gerombolan preman di depannya dengan tatapan menghunus.
“Ini urusanku dengan mereka. Kalau mau ribut hadapi aku aja!”
Dari balik kerumunan preman itu, seorang pria berjas rapi melangkah maju. Berbeda dengan anak buahnya yang tampang sangar, pria ini kelihatan tenang dan justru hal itu yang membuat dia terasa makin menonjjol.
“Tuan Muda Yudi,” sapa pria berjas itu tersenyum sinis. “Kamu sendiri yang cari gara-gara duluan. Jadi jangan salahin kami kalau sekarang kami gak bakal main bersih pakai aturan arena.”
Yudi mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. “Wira yang nantang duluan dan dia sendiri yang tanda tangan surat perjanjian hidup dan mati! Aku cuma kelepasan waktu bertanding. Terus sekarang kalian mau balas dendam keroyokan begini? Murahan banget.”
“Bos kami gak peduli alasanmu. Intinya karena ulahmu kakaknya harus kehilangan satu lengan. Jadi lenganmu juga harus dipotong sebagai gantinya.”
Pria berjas itu menunjuk Yudi dengan dagunya, lalu melirik Fadil dan Ana. “Buat teman-temanmu… yah anggap aja mereka lagi sial karena ada di tempat yang salah.”
Yudi melirik Fadil dari sudut matanya berbisik lirih. “Dil kakimu masih aman buat jalan kan?”
“Aman. Selama belum mati aku masih bisa bergerak,” bisik Fadil sambil menahan ringisan di kakinya yang memar.
“Kalau begitu, bawa Ana pergi dari sini sekarang. Biar aku yang tahan mereka.”
Ana yang mendengar itu cuma menatap Yudi datar nyaris tanpa ekspresi. “Aku gak punya kebiasaan ninggalin teman di medan perang. Meskipun kalian belum sah jadi temanku.”
Yudi sempat tertegun, lalu tertawa renyah di tengah ketegangan. “Hahaha, gaya bicaramu boleh juga aku suka. Tapi coba kamu lihat apa yang ada di tangan mereka sekarang.”
Ana baru sadar kalau gerombolan preman itu ternyata sudah mengeluarkan tongkat besi dan pisau pendek dari balik baju mereka. Tapi dia tidak takut, Ana malah menyunggingkan senyum miring yang kelihatan meremehkan.
“Cuma segini? Jumlah banyak juga gak ada gunanya kalau isinya cuma pajangan pajangan doang yang kebetulan bisa berdiri.”
Mendengar hinaan itu urat di pelipis si pria berjas langsung menegang. “Bocah bau kencur, mulutmu lancang banget ya! Serang jalang kecil itu duluan! Habisi!”
Detik itu juga, gerombolan itu langsung merangsek maju.
Ana sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Begitu tongkat besi pertama mengayun ke arah wajahnya, dengan gerakan cepat ia menggeser tubuh ke samping, lalu menghantam siku si penyerang dengan telapak tangannya.
Krak! Tongkat besi itu terlepas ke udara.
Tanpa membuang waktu, Ana memanfaatkan momentum itu untuk memutar tubuhnya, lalu menyapu kaki preman kedua hingga pria itu jatuh terjungkal dan menimpa temannya sendiri.
Tiba-tiba, tiga orang merangsek maju bersamaan dari arah depan. Ana menunduk cepat membiarkan dua pukulan meleset di atas kepalanya, lalu dengan kekuatan penuh menghantamkan tinjunya tepat ke ulu hati preman ketiga. Pria itu langsung tumbang sambil memegangi perutnya yang sakit.
Sambil bangkit, Ana menangkap tongkat besi yang tadi sempat melayang kemudian, menggunakannya untuk menangkis pisau dan menjatuhkan sisa penyerang satu per satu tanpa ampun.
Fadil yang menyaksikan pemandangan itu dari lantai trotoar hanya bisa melongo dengan mulut terbuka lebar. “Gila… itu cewek beneran manusia kan? Gak normal banget!”
Yudi ikut menyeringai puas meski sudut bibirnya terasa perih. “Kan sudah kubilang dari awal. Dia itu tipe yang bisa diandalkan.”
Tidak butuh waktu lama sampai semua anak buah si pria berjas terjatuh di tanah sambil mengerang kesakitan. Ana berdiri tegak di tengah-tengah kekacauan itu, dengan santai merapikan lipatan lengan baju seragamnya.
Pandangan Ana beralih ke pria berjas yang masih berdiri tegak. “Sekarang… giliranmu.”
Wajah pria berjas itu mendadak pucat pasi. Sadar kalau dia salah cari lawan, ia langsung memutar tubuhnya dan lari terbirit-birit.
Ana tidak berniat mengejar dengan melangkah. Ia justru memungut salah satu tongkat besi di dekat kakinya, mengambil ancang-ancang lalu melemparkannya seperti tombak.
Jleb!
Tongkat besi itu melesat cepat, terbang di udara dan menancap kuat-kuat di batang pohon besar hanya berjarak beberapa sentimeter dari daun telinga si pria berjas.
Pria itu langsung menghentikan langkahnya, membeku di tempat seperti patung dengan keringat dingin yang mengucur deras.
“Kalau aku mau,” ucap Ana, suaranya terdengar dingin dan menusuk hingga ke tulang, “tongkat itu gak bakal meleset ke pohon.”