Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Bersegel Emas
Chester melangkah masuk ke dalam rumah dinas yang sunyi. Pintu tebal itu tertutup rapat di belakangnya, menyisakan derak halus dari pengunci otomatis yang menegaskan kembali isolasi mereka dari dunia luar.
Di ruang tengah, lampu temaram membiaskan pendar redup. Ayyana duduk di kursi bar dekat dapur, menyesap teh hangatnya dengan sangat tenang.
Ia tak lagi mengenakan piyama satin atau pakaian kasual menantang. Gaun rumahan kasual berlengan panjang membungkus tubuhnya dengan sangat tertutup—kembali pada garis aturan batas kaku yang pernah disepakati. Rambut cokelat bergelombang itu terikat longgar di belakang lehernya.
Chester berjalan mendekat, lalu menghentikan langkah tepat di batas ubin dapur.
Jarak dua meter terukur secara presisi—garis batas tak tertulis antara dua orang asing yang terikat oleh satu dokumen hukum negara.
"Sidang peninjauan berkas ditunda," suara bas Chester memecah keheningan, rendah dan tanpa nada kepanikan sedikit pun. "Harris tidak punya bukti autentik untuk menyentuh status kamu di rumah ini."
Ayyana perlahan memutar cangkir teh di tangannya. Ia menengadah, menatap manik mata abu gelap Chester yang berdiri tegap berbalut seragam PDU.
"Dan apa yang suamiku katakan di depan Laksamana?" tanya Ayyana halus, menekankan kata suamiku dengan artikulasi yang sangat jernih.
Chester menahan napas sejenak.
Rahangnya mengeras kaku, namun tatapannya tak lagi goyah seperti tadi siang di dalam mobil.
Badai emosi dan kecemasan soal Haikal telah mengendap, menyisakan realita telanjang di antara mereka.
"Saya katakan bahwa kamu adalah istri sah saya," balas Chester datar dan tegas. "Di mata hukum, pangkalan, dan Tuhan. Dan tidak ada seorang pun di markas ini yang punya hak untuk membawa kamu keluar dari pintu itu."
Ayyana menyunggingkan senyum tipis—senyum tenang tanpa cela. Ia meletakkan cangkirnya kembali ke meja tanpa menimbulkan bunyi denting sedikit pun.
"Terima kasih, Kapten," bisik Ayyana lembut.
Tidak ada bentakan, tidak ada provokasi lanjutan, dan tidak ada lagi desakan untuk meruntuhkan pertahanan sang Kapten.
Ayyana tahu persis kapan harus menekan dan kapan harus memberi ruang bagi pria kaku di hadapannya untuk mencerna perubahan besar di jiwa mereka.
Chester mengangguk singkat, melepaskan topi pet militer dari jemarinya lalu meletakkannya di meja bar.
"Saya mandi dulu," ujar Chester kaku.
"Makan malam sudah siap di meja," balas Ayyana pelan seraya berdiri dan melangkah menuju tangganya sendiri.
Saat Ayyana melintas di sisinya, langkah kaki mereka berpapasan dalam jarak beberapa inci. Tidak ada sentuhan, tidak ada kata-kata manis.
......................
Hari-hari berikutnya berjalan dalam pola simetris yang sangat disiplin.
Chester sengaja membangun rutinitas taktis untuk memelihara jarak: pergi sebelum matahari terbit, dan baru mematikan mesin SUV di halaman rumah dinas saat jarum jam menyentuh angka sebelas malam.
Pukul 05.00 WIB, saat pangkalan masih diselimuti kabut tipis dan Ayyana dipastikan masih terlelap di kamar lantai atas, Chester sudah siap dengan seragam dinas harian lengkap.
Langkah fisiknya dibuat seringan mungkin ketika melintasi ruang tengah yang sunyi, meninggalkan rumah sebelum sosok istrinya sempat menampakkan diri.
Sepanjang hari, sang Kapten menenggelamkan diri total di pangkalan—memimpin evaluasi taktis Team Eclipse, memeriksa logistik senjata di Sektor Bravo, hingga menyelesaikan tumpukan berkas administrasi di kantor komando sampai larut.
Lalu, pukul 23.15 WIB, Chester melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah gelap gulita.
Lampu teras yang menyala otomatis dan pendar redup lampu dapur menjadi satu-satunya penerang.
Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada gesekan baju, dan tidak ada aroma vanilla yang menerobos kesadarannya.
Pintu kamar Ayyana di lantai atas selalu sudah tertutup rapat sejak pukul sembilan malam.
Chester berdiri sejenak di dekat meja bar, menatap cangkir teh Ayyana yang sudah bersih tertata di rak pengering.
Di atas meja makan, selalu ada piring berisi makanan hangat yang ditutupi tudung saji, lengkap dengan catatan kecil bertuliskan tangan rapi: Makan malamnya dihabiskan, Kapten.
Chester menatap tulisan tangan itu tanpa bersuara. Ia meraih piring tersebut, memakannya dalam keheningan pekat ruang tengah, lalu mencuci piringnya sendiri hingga tak menyisakan jejak sedikit pun.
Pria itu tahu bahwa Ayyana tidak tidur seratus persen. Dari celah bawah pintu kamar lantai atas, ia terkadang melihat pendar cahaya tipis yang seketika padam begitu bunyi langkah sepatu larsnya menapak anak tangga pertama.
Ayyana memberikan ruang. Wanita itu tidak lagi mengejar, tidak lagi memancing pertahanan, dan membiarkan Chester menjalankan pola persembunyiannya dengan tenang.
Namun, justru dalam keheningan yang amat teratur itu, batas kaku yang dibangun Chester terasa makin menyiksa. Ia berhasil menghindari tatapan mata dan provokasi Ayyana secara fisik, tapi tulisan tangan halus di atas meja dan aroma samar vanilla yang tertinggal di lorong rumah selalu sukses membuat fokus sang Kapten berantakan setiap kali ia hendak memejamkan mata.
......................
Surat resmi berstempel karet emas dan segel komando tertinggi Markas Besar Militer itu akhirnya mendarat tepat di tengah meja kerja Chester di kantor pangkalan.
Sebuah lembaran tebal bersepuh emas—undangan perjamuan malam resmi dan gala diplomatik yang mengundang seluruh perwira tinggi beserta jajaran komando utama, termasuk perwira dan anggota Team Eclipse.
Di bagian bawah lembaran tersebut, tercetak instruksi protokol militer yang tak bisa ditawar: Para perwira diwajibkan hadir didampingi oleh pendamping sah (istri).
Flyn, yang sedang duduk bersandar di sudut ruangan sambil membaca salinan undangannya, langsung bersiul pelan. Ia menatap Chester yang sedang membisu menatap kertas tebal di tangannya.
"Acara gala diplomatik Markas Besar, Bos," celetuk Flyn dengan seringai tipis. "Seluruh faksi perwira senior bakal hadir. Ny. Harris dan kelompoknya pasti sudah bersiap dengan segala jenis jebakan protokol."
Zack memutar kursinya dari depan monitor, menimpalinya santai. "Dan menurut aturan protokol Komando, seorang Kapten yang baru saja mempertahankan status pernikahannya di sidang etik... wajib membawa istrinya ke atas karpet merah. Kalau Nyonya Sinclair absen, Harris bakal punya amunisi baru buat goreng isu manipulasi rumah tangga."
Rowan dan Ocla hanya mengangguk setuju. Tidak ada celah untuk mengelak. Ini bukan sekadar acara makan malam—ini adalah panggung politik pangkalan di mana setiap gerak-gerik perwira dan istrinya dinilai secara terbuka.
Chester meremas ujung surat undangan itu pelan.
Rutinitas persembunyiannya selama seminggu terakhir—pergi sebelum subuh dan pulang larut malam—mendadak menghantam tembok tebal. Ia tidak bisa lagi menghindari Ayyana di balik bayang-bayang jadwal piket.
Malam itu, pukul 20.00 WIB—jauh lebih cepat dari jadwal kepulangannya yang biasa—deru mesin SUV Chester berhenti di halaman rumah dinas.
Ayyana yang sedang membaca buku di ruang tengah mendongak, sedikit terkejut melihat pintu utama sudah terdorong terbuka di jam yang tak biasa.
Chester melangkah masuk. Pria itu masih mengenakan seragam dinas harian lengkap, membawa map hitam di tangannya.
Langkah kakinya berhenti tepat di batas meja bar, menatap Ayyana yang duduk anggun dengan piyama berlengan panjangnya.
Tanpa banyak bicara, Chester meletakkan lembaran undangan bersepuh emas itu di atas meja bar, mendorongnya pelan ke arah Ayyana.
Ayyana meraih kertas tebal tersebut, membacanya secara sekilas, lalu menengadah menatap wajah kaku sang Kapten dengan sebelah alis terangkat.
"Gala Diplomatik Markas Besar Sabtu malam ini," suara bas Chester menggema rendah, terdengar sangat formal namun menyimpan ketegangan yang tertahan. "Pendamping perwira wajib hadir."
Ayyana menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum tenang yang amat memikat. "Dan Kapten Sinclair membutuhkan istrinya untuk hadir di atas karpet merah?"
Chester mengetatkan rahangnya, menatap lurus ke dalam manik mata Ayyana. "Bukan sekadar hadir, Ayyana. Ini medan perang politik. Harris dan seluruh jajaran perwira senior akan memperhatikan setiap detik pergerakan kita."
"Jadi," bisik Ayyana halus, meletakkan undangan itu kembali ke meja seraya menopang dagunya dengan tangan, "apa instruksimu untuk perang malam Sabtu nanti, Kapten?"