Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 (KASUS 2) PEMERIKSAAN AWAL PADA JASAD TIGA KORBAN
Pukul 02.15 WIB.
Hawa dingin yang menusuk tulang merayap di sepanjang koridor bawah tanah Gedung Forensik Dokpol Rumah Sakit Bhayangkara.
Bunyi berdengung halus dari mesin pendingin udara berkapasitas besar berpadu seirama dengan tumpakan langkah kaki steril.
Bau menyengat cairan antiseptik, zat pembersih kresolin, serta uap formalin yang khas memenuhi udara di dalam ruangan berlapis dinding keramik putih tersebut.
Di dalam Ruang Bedah Otopsi Utama, lampu-lampu operasi tanpa bayangan (shadowless surgical lamps) yang menggantung di langit-langit menyala terang benderang, memancarkan sinar putih keperakan yang amat sangat menyilaukan.
Tiga buah meja otopsi berbahan baja tahan karat (stainless steel) berdiri sejajar di tengah ruangan.
Di atas ketiga meja dingin tersebut, tiga jenazah pria eksekutif Pabrik Tekstil 'Tirta Busana'—Hendra Wijaya, Bambang Santoso, dan Ir. H. Gunawan Soetjipto—terbaring membujur di bawah tutupan kain mori putih steril.
dr. Haruma berdiri tegap di tepi meja otopsi nomor satu.
Dokter forensik anggun itu telah mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap: gaun otopsi kedap air berwarna hijau tua, sarung tangan steril berlapis ganda, penutup kepala, penutup sepatu pelindung, serta masker respirator transparan yang menutupi paras cantiknya.
Di sampingnya, Asisten Forensik bernama Suster Nita sedang menyiap tatanan peralatan bedah di atas troli instrumen: pisau skalpel berbagai ukuran, gunting pemotong tulang (bone cutter), pinset anatomi, meteran pengukur, serta mangkuk-mangkuk kaca tempat sampel organ.
dr. Haruma menarik napas panjang di balik maskernya, menetralkan denyut jantungnya seraya menatap tiga kain penutup jenazah di hadapannya.
Pendaran aura keemasan milik Sekar Arum memancar sangat redup dari dalam dadanya, memberikan ketenangan jiwa dan ketajaman mata batin dalam menjalankan tugas medis otopsi.
"Suster Nita..." panggil dr. Haruma dengan suara lembutnya yang begitu jernih dan berbobot. "Nyalakan alat perekam suara diktafon dan persiapkan lembar formulir Visum et Repertum Sementara."
"Siap, Dokter Haruma. Perekam suara sudah menyala," sahut Suster Nita menekan tombol merah pada alat perekam digital.
dr. Haruma menganggukkan kepalanya tegar, melangkah mendekati meja otopsi nomor satu tempat terbaringnya jenazah Hendra Wijaya (42 tahun)—Kepala Teknisi Pabrik.
Sret...
Jemari dr. Haruma menjangkau ujung kain mori putih, menyingkapnya perlahan dari arah kepala hingga ke dada korban.
Sinar terang lampu operasi seketika menyoroti bagian wajah dan leher jenazah Hendra Wijaya.
Dan begitu kain putih itu terbuka sempurna...
Sebuah pemandangan fisik yang teramat sangat mengerikan terpampang nyata di bawah pendaran sinar lampu!
"Pemeriksaan luar jenazah pertama, nama korban Hendra Wijaya..." dikte dr. Haruma dengan intonasi suara ilmiah yang sangat tenang dan teratur. "Kondisi raga mengalami kerutan kaku di seluruh permukaan epidermis, kehilangan cairan intraseluler secara ekstrem, warna kulit keabu-abuan mirip pembusukan mumi tua..."
dr. Haruma membungkuk, mendekatkan jarak pandangnya hingga berjarak sepuluh sentimeter dari wajah korban pertama.
Sepasang mata jenazah Hendra Wijaya TERBELALAK MEMBELALAK WIDE-OPEN (MELOTOT) DENGAN BOLA MATA HITAM YANG MENOLAK KE ATAS!
Urat-urat merah di sekeliling kornea matanya pecah membeku, memancarkan raut ekspresi ketakutan yang teramat sangat dahsyat dan tak tertahankan pada detik-detik terakhir sebelum jiwanya tercabut!
"Catat, Suster Nita..." pangkas dr. Haruma jernih. "Kedua kelopak mata terbelalak maksimal (dilatasi pupil total), mengindikasikan adanya sindrom syok neurogenik akibat histeria ketakutan tingkat tinggi mendadak sebelum kematian."
"Siap, Dokter. Sudah dicatat," sahut Suster Nita dengan jemari bergerak lincah di atas papan ketik.
dr. Haruma menjangkau sebuah instrumen pembuka rongga mulut (oral retractor) dan pinset anatomi steril dari troli besi.
"Selanjutnya, pemeriksaan spesifik pada area rongga mulut dan saluran pernapasan atas jenazah pertama..." ujar dr. Haruma.
Dengan ketelitian dan kelembutan seorang spesialis forensik kasta tertinggi, dr. Haruma menyisipkan bilah pembuka mulut ke celah bibir Hendra Wijaya yang mengering kaku. Ia menekan rahang bawah korban yang kaku (rigor mortis) secara perlahan hingga rongga mulut korban terbuka lebar di bawah sorotan lampu bedah.
Namun...
Begitu kedalaman rongga mulut dan pangkal tenggorokan korban pertama terlihat terang benderang di bawah sinar lampu...
DEG!
Mata jernih dr. Haruma seketika memicing tajam!
Jemari tangannya yang memegang pinset anatomi terhenti kaku di udara!
"Astagfirullahal'adzim..." gumam Suster Nita yang berdiri di sebelah kiri meja otopsi, wajahnya mendadak pucat pasi menahan mual dan rasa terkejut. "Dokter... itu... kenapa lidahnya?!"
Di dalam rongga mulut jenazah Hendra Wijaya... LIDAH KORBAN TELAH TERPOTONG RAPI HINGGA KE PANGKAL TENGGOROKAN!
Potongan pada organ lidah itu teramat sangat presisi, seolah-olah dipotong menggunakan silet pembedahan mikroskopis atau dibakar putus oleh pendaran energi suhu tinggi!
Dan yang paling tidak masuk akal secara medis biasa...
Sama sekali tidak ditemukan adanya bekas gumpalan darah (bekas pendarahan) atau sisa serapan cairan di sekeliling jaringan otot pangkal lidah tersebut!
dr. Haruma menggunakan pinsetnya untuk memeriksa tepian sayatan pangkal lidah korban pertama dengan cermat.
"Pola pembantaian yang sangat spesifik..." analisa dr. Haruma dengan suara rendah bernada tegar. "Lidah terpotong rapi tepat di area radix linguae (pangkal lidah). Tepi sayatan mengalami Nekrosis seluler seketika dengan efek kauterisasi ghaib... Tidak ada reaksi pendarahan intravital (reaksi jaringan hidup). Ini membuktikan bahwa pembungkaman lidah terjadi pada milidetik yang sama saat jantung korban dihentikan!"
dr. Haruma berpaling melangkah cepat menuju meja otopsi nomor dua—tempat terbaringnya jenazah Bambang Santoso (48 tahun)—Manajer Keuangan Pabrik.
Sret...
dr. Haruma menyingkap kain putih penutup jenazah kedua, lalu memasang alat pembuka mulut pada bibir Bambang Santoso.
Sinar lampu bedah menembus rongga mulut korban kedua...
Dan hasilnya SERATUS PERSEN IDENTIK!
Sepasang mata Bambang Santoso terbelalak melotot ketakutan, dan di dalam rongga mulutnya...
Lidahnya telah terpotong rapi hingga ke pangkal tanpa menyisakan gumpalan darah!
"Jenazah kedua, Bambang Santoso..." dikte dr. Haruma dengan nada suara yang semakin berbobot. "Ditemukan pola luka yang sama persis. Pupil mata terbelalak maksimal, dan lidah terpotong rapi di pangkal tenggorokan."
Tanpa membuang waktu, dr. Haruma melangkah menuju meja otopsi nomor tiga—jenazah Ir. H. Gunawan Soetjipto (56 tahun)—Direktur Utama Pabrik.
Sret...
Kain putih disingkap.
Dan untuk ketiga kalinya...
Jenazah sang Direktur Utama menampilkan gambaran fisik yang persis sama: sepasang mata melotot membeku memancarkan trauma ketakutan raksasa, serta organ lidah yang terpotong rapi hingga ke akar tenggorokan!
dr. Haruma meletakkan pinset anatominya ke atas baki porselen, membuang sarung tangan latex pertamanya ke wadah limbah medis, lalu menatap tiga jenazah yang berjejer kaku di atas meja baja tersebut.
Insting sains forensik dan wawasan spiritual dr. Haruma seketika menyatu utuh.
"Tiga korban tewas pada detik dan menit yang sama..." pangkas dr. Haruma tegar di depan mikrofondiktafon. "Penyebab kematian utama (Cause of Death) adalah kegagalan organ sistemik mendadak akibat Atrofi seluler ekstrem yang dipicu oleh trauma energi frekuensi tinggi. Dan ditemukannya pola eksekusi pembungkaman berupa Pemutusan Lidah Secara Presisi (Glossektomi Spesifik) pada ketiga korban!"
dr. Haruma mematikan sakelar perekam diktafon, menoleh menatap Suster Nita.
"Suster Nita..." panggil Haruma lembut. "Tolong cetak formulir Laporan Pemeriksaan Awal Forensik ini sekarang juga. Saya akan menyerahkan laporan resmi ini langsung kepada Kanit Jatanras di ruang kerja."
"Siap, Dokter Haruma! Laporan segera saya cetak!" sahut Suster Nita sigap.
.....
.....
Pukul 03.30 WIB.
Di ruang kerja khusus Dokpol Bhayangkara yang terletak di lantai dua gedung forensik, Ipda Harumi sedang duduk tegap di balik meja kayu.
Polwan Jatanras itu masih mengenakan kemeja dinas cokelat taktisnya. Di atas meja di hadapannya, terhampar belasan lembar foto bukti olah TKP Pabrik Tekstil 'Tirta Busana' serta secangkir kopi hitam panas yang uapnya membumbung tipis.
Klek...
Pintu ruangan terdorong terbuka.
dr. Haruma melangkah masuk.
Dokter forensik cantik itu telah melepaskan APD otopsinya, kini kembali mengenakan pakaian rumah berbahan kaos lembut dan jas laboratorium putih yang rapi.
Tangan kanannya memegang sebuah stopmap kain berwarna biru bertuliskan LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN AWAL FORENSIK - KASUS 02.
Harumi seketika mendongak, berdiri dari kursinya seraya menyunggingkan senyuman bahagianya melihat kedatangan sang kakak.
"Kak Haruma..." sapa Harumi renyah khas obrolan berdua. "Gimana hasil pemeriksaan awal otopsi tiga jenazah eksekutif pabrik itu, Kak?"
dr. Haruma melangkah mendekat, duduk di kursi berbusa di hadapan adiknya. Ia meletakkan stopmap biru tersebut di atas meja kayu.
"Rumi..." tutur dr. Haruma dengan suara lembutnya yang jernih namun sarat akan ketegasan ilmiah. "Ini laporan pemeriksaan awal tiga jenazah dari TKP Pabrik Tekstil. Hasil penemuannya sangat mengerikan dan mengonfirmasi ramalan Mata Ghaib Ibu kemarin siang."
Harumi menarik stopmap biru itu, membukanya seraya membaca baris demi baris poin pemeriksaan forensik yang dituliskan Kakak sulungnya dengan sangat teliti.
Sepasang mata tajam Ipda Harumi seketika membelalak lebar saat membaca poin ketiga dan keempat laporan tersebut!
"Astagfirullahal'adzim...!" gumam Harumi menahan napas, menengadah menatap kakaknya. "Kak Haruma... ini serius?! Ketiga mayat tewas dengan mata melotot dan lidah terpotong rapi hingga ke pangkal?!"
dr. Haruma menganggukkan kepalanya tegar, menatap adiknya lurus-lurus.
"Seratus persen serius, Rumi," tegas dr. Haruma. "Kakak sudah memeriksa rongga mulut ketiga jenazah itu satu per satu menggunakan lampu bedah dan mikroskop pembedahan. Potongan pada pangkal lidah mereka bertiga sangat presisi, rapi, dan terjadi pada milidetik yang sama saat jantung mereka dihentikan secara sihir!"
Harumi mengepalkan tangan kanannya di atas meja, dadanya naik turun oleh gejolak rasa gusar dan keprihatinan yang amat mendalam.
"Sihir Pembungkam Jiwa..." bisik Harumi dengan suara rendah yang dingin dan mengintimidasi. "Ini adalah eksekusi pembungkaman kasta hitam milik Sekte THE ONE!"
dr. Haruma menyandarkan punggungnya di kursi, memiringkan kepalanya cermat. "Analisis taktis kepolisianmu gimana soal pemutusan lidah ini, Dek?"
Harumi memajukan posisinya, menunjuk lembaran foto TKP di meja.
"Sangat jelas, Kak!" pangkas Harumi mantap dengan intonasi Kanit Jatanras. "Sekte THE ONE memotong lidah ketiga korban ini bukan sekadar untuk menyiksa fisik! Mereka tahu... di dunia kepolisian dan kedokteran forensik, ada teknik pemanggilan arwah atau medium ship spiritual yang bisa mengekstrak kesaksian dari arwah korban! Dengan memotong lidah korban hingga ke pangkal lewat sihir pembungkam... sekte keji itu memastikan bahwa bahkan setelah tewas pun, arwah ketiga eksekutif ini NGGAK BISA BICARA ATAU MEMBONGKAR SIAPA MASTERMIND DI BALIK SEKTE MEREKA!"
DEG!
Penjelasan taktis Ipda Harumi yang amat sangat tajam dan rasional itu seketika dibenarkan oleh rasa peka batin dr. Haruma!
"Pola pembungkaman yang teramat sangat rapi dan kejam..." puji dr. Haruma tegar. "Sama seperti Ki Suroto di sel pemeriksaan kemarin yang mati mendadak saat hendak membocorkan nama 'Pelindung Agung'."
Harumi berdiri dari kursinya, mengambil cangkir kopi hitamnya lalu meminumnya hingga kandas.
Pendaran keberanian dan ketegasan hukum menyala-nyala di dalam sepasang mata Mata Batin Murni milik sang polwan.
"Tapi sekte keji itu salah besar kalau mikir mereka bisa menghentikan penyelidikan kita cuma dengan memotong lidah korban!" tegas Harumi dengan suara berbobot yang menggetarkan ruangan. "Mereka boleh membungkam mulut para mayat itu... tapi mereka NGGAK BISA MENUTUP BUKTI TRANSAKSI KEUANGAN DAN DOKUMEN KEJAHATAN MEREKA DI PABRIKS!"
Harumi merogoh ponsel pintarnya, melihat jam digital yang menunjukkan pukul 03.45 WIB.
"Kak Haruma..." panggil Harumi. "Laporan awal forensik dari Kakak ini sudah lebih dari cukup buat jadi dasar hukum penerbitan Surat Panggilan Pimpinan Holding dan Pemilik Saham Utama! Kita bergerak ke markas Polres sekarang!"
"Siap, Dek! Kakak dampingi kamu ke Polres!" sahut dr. Haruma mantap.
.....
.....
Pukul 04.15 WIB - Menjelang Subuh.
Sinar temaram fajar belum menyingsing di ufuk timur kota.
Namun, suasana di dalam Ruang Rapat Satreskrim Polres Metro tampak begitu terang, riuk pikuk, dan dipenuhi oleh ketegangan kerja tim penegak keadilan.
Di atas meja rapat kayu yang panjang, terhampar peta kawasan industri Jakarta Timur, struktur organisasi PT. Tirta Busana, serta puluhan lembar dokumen penyitaan awal dari lantai dua pabrik.
Bripka Dedi, Aiptu Teguh, serta delapan orang anggota Tim Opsnal Jatanras duduk tegap mengelilingi meja rapat.
Wajah-wajah para perwira lapangan itu tampak agak lelah usai semalaman mengawal olah TKP, namun sepasang mata mereka tetap memancarkan kesiapsiagaan tinggi.
Klek!
Ipda Harumi dan dr. Haruma melangkah tegap memasuki ruang rapat.
Harumi membawa berkas laporan forensik biru di tangannya, sementara dr. Haruma berdiri di sebelah kirinya.
Seluruh anggota Tim Opsnal seketika berdiri tegap dari kursi mereka.
"Selamat pagi, Bu Kanit Harumi! Dokter Haruma!" seru Bripka Dedi dan Aiptu Teguh memberi hormat tegap.
"Selamat pagi. Silakan duduk kembali semuanya," balas Harumi tegas seraya membalas hormat.
Harumi melangkah ke depan papan tulis putih (whiteboard) raksasa.
Ia mengambil spidol hitam, lalu menuliskan tiga nama korban di papan tulis dengan tulisan yang tebal dan jelas:
.....
HENDRA WIJAYA (Kepala Teknisi)
BAMBANG SANTOSO (Manajer Keuangan)
Ir. H. GUNAWAN SOETJIPTO (Direktur Utama)
.....
Harumi memutar tubuhnya menghadap seluruh anggota timnya.
Suara jernih dan berbobot sang Kanit Jatanras menggelegar membelah keheningan ruang rapat menjelang subuh tersebut.
"Rekan-rekan Tim Opsnal Jatanras sekalian..." pangkas Harumi dengan wibawa komando kepolisian yang amat disegani. "Baru saja... dr. Haruma dari Tim Dokpol Forensik telah menuntaskan pemeriksaan awal otopsi terhadap tiga jenazah korban TKP Pabrik Tekstil 'Tirta Busana'."
Harumi menunjuk laporan forensik biru di meja.
"Hasil pemeriksaan forensik membuktikan secara mutlak..." beber Harumi tajam, "...bahwa ketiga korban tewas secara bersamaan pada pukul 19.15 WIB akibat kegagalan organ sistemik ekstrem, dengan kondisi mata melotot trauma dan LIDAH TERPOTONG RAPI HINGGA KE PANGKAL TENGGOROKAN!"
Seluruh anggota tim rapat di dalam ruangan seketika terperanjat kaget!
Bripka Dedi dan Aiptu Teguh saling bertukar pandangan dengan raut wajah kaget luar biasa.
"Lidah terpotong rapi hingga ke pangkal, Bu Kanit?!" seru Bripka Dedi tak percaya. "Berarti ini tindak pembunuhan berencana yang sangat sadis dan terorganisir!"
"Tepat sekali, Dedi!" pangkas Harumi tegar. "Ini adalah tindakan pembungkaman saksi kunci oleh jaringan kejahatan tingkat tinggi!"
Harumi melangkah mendekati papan tulis, menarik garis panah dari nama Ir. H. Gunawan Soetjipto menuju sebuah kotak kosong di atasnya.
"Perhatikan analisis struktur korporasi ini baik-baik!" instruksi Harumi dengan pandangan mata berkilat-kilat. "Ir. H. Gunawan Soetjipto memang merupakan Direktur Utama sekaligus Pemilik Saham Mayoritas lima puluh satu persen di PT. Tirta Busana. Tapi dari hasil penggeledahan brankas lantai dua pabrik tadi malam... Tim Inafis berhasil menemukan dokumen Akta Pendirian Holding dan Laporan Keuangan Tahunan!"
Harumi mengetukkan spidolnya di papan tulis.
"Ternyata... Pabrik Tekstil 'Tirta Busana' ini hanyalah sebuah Anak Perusahaan Cangkang (Subsidiary Shell Company) yang berada di bawah naungan sebuah Konsorsium Korporasi Raksasa bernama 'Nusantara Megah Tirta Holding'!"
Aiptu Teguh memajukan posisi duduknya, menyimak cermat. "Nusantara Megah Tirta Holding, Bu Kanit?!"
"Benar, Teguh!" sahut Harumi mantap. "Dan pemilik saham utama sekaligus Komisaris Utama dari Nusantara Megah Tirta Holding itu adalah keluarga Taipan papan atas yang memiliki hubungan bisnis gelap dengan almarhum Jonathan Nasution di Kasus Pertama!"
dr. Haruma melangkah maju satu langkah di sebelah adiknya, menambahkan keterangan medis-forensik dengan suara lembutnya yang berbobot.
"Rekan-rekan sekalian..." tutur dr. Haruma ramah namun tegas. "Kematian tiga eksekutif di dalam tangki pencampur warna ini bukanlah peristiwa kebetulan. Penyedotan organ dalam dan pemutusan lidah ini dilakukan untuk memutuskan rantai bukti transaksi keuangan haram senilai puluhan miliar rupiah sebelum tim kita sempat menyita dokumen aslinya."
Harumi memukul pelan papan tulis dengan telapak tangannya, memancarkan aura ketegangan komando yang tak tergoyahkan.
"Oleh karena itu..." pangkas Ipda Harumi dengan intonasi perintah resmi yang teramat sangat tegas, "...kita NGGAK BOLEH memberi jeda waktu sedikit pun bagi para Taipan dan pengurus holding itu untuk melarikan diri atau memusnahkan sisa barang bukti!"
Harumi menunjuk Bripka Dedi dan Aiptu Teguh secara khusus.
"Dedi! Teguh!" panggil Harumi lantang.
"Siap, Bu Kanit!" sahut kedua perwira lapangan itu berdiri tegap.
Harumi merogoh map merah di mejanya, mengeluarkan tiga lembar Surat Panggilan Resmi Saksi Kunci dan Pemilik Perusahaan (Official Police Summons) yang telah ditandatanganinya secara resmi berstempel Polres.
Harumi menyerahkan lembaran surat panggilan tersebut kepada Bripka Dedi.
"Hari ini... jam empat pagi ini juga..." instruksi Harumi dengan wibawa Kanit Jatanras yang luar biasa, "...kalian bersama dua regu Tim Opsnal bergerak meluncur ke kediaman mewah dan kantor pusat Nusantara Megah Tirta Holding!"
Harumi menatap mata anak buahnya lurus-lurus.
"Layangkan Surat Panggilan Resmi ini secara langsung ke tangan Komisaris Utama dan Seluruh Jajaran Direksi Holding Perusahaan!" perintah Harumi tanpa keraguan sedikit pun. "Panggil dan perintahkan Pemilik Pabrik dan jajaran pimpinan Holding itu untuk WAJIB HADIR DI MARKAS SATRESKRIM POLRES METRO TEPAT PUKUL 08.00 WIB PAGI INI JUGA untuk menjalani pemeriksaan BAP maraton secara intensif!"
Harumi mengepalkan tangannya di udara.
"Jika ada di antara mereka yang menolak, mengulur waktu, atau mencoba mangkir dengan alasan sakit..." pangkas Harumi dingin dan tegap, "...gunakan kewenangan pasal KUHAP! JEMPUT PAKSA MEREKA DENGAN PENGAWALAN SENJATA LENGKAP DAN SERET KE MARKAS POLRES! Apakah perintah saya cukup jelas?!"
Seketika itu juga...
Seluruh anggota Tim Opsnal Jatanras di dalam ruang rapat berdiri tegap, menghentakkan kaki mereka seraya memberikan hormat resmi yang paling mantap!
"SIAP! PERINTAH DITERIMA DAN DILAKSANAKAN, BU KANIT HARUMI!" teriak Bripka Dedi, Aiptu Teguh, dan seluruh anggota Opsnal serempak dengan semangat membara.
"Bagus! Bergerak sekarang juga!" pangkas Harumi membalas hormat.
"Siap, Bu Kanit!"
Bripka Dedi dan Aiptu Teguh bergegas melangkah keluar dari ruang rapat membawa Surat Panggilan Resmi, memimpin dua regu taktis Jatanras bergerak meluncur menembus kepekatannya fajar kota.
.....
.....
Pukul 05.00 WIB - Fajar Menyingsing.
Semburat merah keemasan di ufuk timur Jakarta perlahan-lahan mulai menyinari gedung-gedung bertingkat dan markas Polres Metro.
Suara adzan Subuh berkumandang merdu dari menara masjid markas, membawa keheningan dan keagungan fajar.
dr. Haruma dan Ipda Harumi berdiri berdampingan di balkon lantai dua Gedung Satreskrim, menatap iring-iringan mobil taktis Opsnal Jatanras yang melaju cepat keluar dari gerbang markas menuju kediaman pimpinan Holding Perusahaan.
Haruma mengusap bahu adiknya dengan kelembutan seorang kakak sulung seraya menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling tegar.
"Instruksi kepolisian yang sangat cepat dan tegas, Rumi..." puji dr. Haruma lembut. "Kamu benar-benar perwira Jatanras yang hebat."
Harumi tersenyum manis, menyandarkan kepalanya pelan di bahu kakaknya seraya menghela napas panjang yang lega.
"Ini semua berkat laporan pemeriksaan forensik awal dari Kak Haruma yang sangat presisi..." balas Harumi. "Tanpa bukti otentik pemutusan lidah dan waktu kematian dari Kakak, kita nggak punya dasar hukum sekuat ini buat memanggil pimpinan Holding itu."
Haruma menatap pendaran fajar di langit kota, memegang pergelangan tangan adiknya dengan penuh kedalaman kasih sayang.
"Pagi ini jam delapan nanti..." tutur dr. Haruma tegar, "...pemilik holding dan para Taipan itu bakal melangkah masuk ke markas kepolisian ini. Pertempuran hukum dan pembongkaran Kasus Kedua bakal dimulai."
Harumi menegakkan tubuhnya, sepasang mata Mata Batin Murni miliknya berkilat-kilat oleh api keadilan dan perlindungan doa Ibu Nisa dari Parung.
"Biarkan mereka datang, Kak..." pangkas Ipda Harumi dengan senyuman tegar yang tak tergoyahkan. "Mau seberapa kaya mereka, mau seberapa kuat sihir hitam sekte mereka... hari ini kita bakal bongkar seluruh kejahatan mereka sampai terang benderang!"
Di bawah naungan fajar keadilan yang bersinar di atas Kota Jakarta pagi itu, dr. Haruma dan Ipda Harumi berdiri tegap menyongsong datangnya pertempuran BAP maraton.
Bersama kekuatan ilmu kedokteran forensik, ketegasan hukum negara, serta restu suci keluarga di Parung, dua srikandi penegak keadilan itu siap meruntuhkan cengkeraman Sekte THE ONE dan membawa fajar kebenaran bagi seluruh Tanah Jawa!
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu