Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 14 - Kota di Dasar Laut Langit
Lirael memimpin jalan, sayapnya yang bertabur bintang memancarkan cahaya lembut yang membelah samudra cahaya tanpa menyipitkan mata siapa pun. Di bawah mereka, gelombang bercahaya bergerak perlahan, dan di kedalaman yang terlihat samar, bentuk-bentuk aneh berenang — makhluk yang terbuat dari cahaya murni, ikan-ikan yang menyisakan jejak pelangi di belakangnya, dan pulau-pulau yang melayang perlahan seakan bernapas.
"Kita mendekati Dunia Keempat," suara Lirael terdengar lembut namun jelas di telinga semua orang. "Namanya Nirwana Kedalaman. Di sini, langit dan laut bertukar tempat — yang di atas adalah air, yang di bawah adalah langit."
Saat mereka menukik turun perlahan, pemandangan di bawah membuat napas tertahan. Di sana, terbentang kota yang tak dibangun dari batu atau kayu — melainkan dari karang permata, kerang raksasa yang bercahaya, dan menara-menara yang tumbuh dari dasar laut-langit itu sendiri, dihiasi tanaman yang berkilauan seperti berlian. Cahaya di sini bukan datang dari matahari — melainkan dari ribuan bintang laut raksasa yang menempel di dinding-dinding kota, memancarkan cahaya kebiruan yang tenang dan damai.
Namun kedamaian itu tampak rapuh. Saat mereka semakin dekat, terlihat jelas — gerbang kota tertutup rapat, dan di sekelilingnya, lapisan pelindung yang berdenyut lembut namun tampak semakin tipis. Para penjaga di dinding menatap mereka dengan waspada, bukan dengan senjata terhunus, melainkan dengan wajah lelah dan cemas.
Vorath mendarat perlahan di tepian kota, di atas permukaan yang terasa seperti pasir halus namun berkilauan. Sebelum Kai sempat melangkah maju, gerbang terbuka sedikit, dan sesosok wanita berambut seperti rumput laut yang berkilauan muncul. Matanya besar dan jernih, namun penuh kekhawatiran.
"Aku Maris, Penguasa Nirwana Kedalaman," suaranya terdengar seperti suara air yang mengalir lembut. "Kalian datang dari permukaan… membawa cahaya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tapi aku harus memperingatkan kalian — tempat ini sedang sakit."
"Sakit?" tanya Aurelia melangkah maju, tak takut sedikit pun. "Apa yang menyakitinya?"
Maris menatap gadis kecil itu, lalu menatap Kai dan rombongannya. "Ada sesuatu yang memakan cahayanya. Bukan dari luar… dari dalam. Setiap hari, sedikit demi sedikit, bintang-bintang kami meredup. Tanaman yang memberi kehidupan mulai layu. Dan makhluk-makhluk yang tinggal di sini perlahan kehilangan kekuatan untuk berenang."
Ia menunjuk ke arah pusat kota, di mana sebuah menara raksasa berdiri — tempat cahaya paling terang seharusnya bersinar, namun kini justru tampak paling gelap.
"Sumber Kehidupan kami ada di sana. Tapi sejak beberapa bulan lalu, tak ada yang berani mendekatinya. Siapa pun yang masuk… tak pernah kembali."
Kai menatap teman-temannya, lalu mengangguk. "Kami akan memeriksanya."
"Tak boleh sendirian," kata Maris tegas. "Aku ikut. Tempat itu penuh rahasia yang bahkan aku sendiri tak paham sepenuhnya."
Mereka berjalan menuju menara itu. Semakin dekat, semakin berat suasana terasa — cahaya semakin meredup, udara terasa dingin dan sunyi, seakan tempat itu menahan napas. Di sepanjang jalan, warga kota menatap mereka dari balik jendela-jendela kerang, penuh harapan namun juga takut.
Saat tiba di pintu masuk menara, terlihat jelas — di sana tertanam sesuatu yang hitam pekat, menyusup ke dinding seperti akar tanaman yang mematikan. Dari dalam, terdengar suara rintihan samar, seperti seseorang yang kesakitan.
Aurelia mendekat, menempelkan telinganya ke dinding. "Di dalam sana… ada seseorang yang dipenjara. Dia tidak menyakiti mereka karena ingin — dia dipaksa."
Mereka masuk perlahan. Di ruangan paling dalam, di tengah kolam air yang seharusnya bercahaya terang, berdiri sesosok wanita yang tubuhnya setengah terbungkus akar kegelapan. Wajahnya pucat namun cantik, matanya tertutup, dan dari tubuhnya, cahaya yang dulu mungkin sangat indah kini tersedot keluar, digantikan oleh kabut hitam yang menyebar ke seluruh kota.
Maris menutup mulutnya tak percaya. "Ibu…?"
Kata itu terucap pelan namun menggetarkan seluruh ruangan. Wanita itu adalah Ibu Maris — pendiri kota ini, yang diyakini telah meninggal bertahun-tahun lalu.
"Dia tidak mati," kata Aurelia lembut, melangkah mendekat. "Dia diikat. Ada yang menanam benang kegelapan di hatinya."
Tiba-tiba mata wanita itu terbuka — bukan jernih seperti dulu, melainkan hitam pekat dengan kilatan merah. Ia melesat ke arah mereka secepat kilat, kekuatan air yang dahsyat meledak dari tubuhnya.
"Menjauh…" suaranya bukan suaranya sendiri — berat, terdistorsi, seakan ada dua suara berbicara serentak. "Kalian… tak boleh… mengganggu…"
Maris melangkah maju, tidak mundur meski ibunya mengangkat tangan menyerang. "Ibu! Ini aku, Maris! Pulanglah!"
Serangan itu terhenti sesaat, namun mata itu kembali gelap. "Bukan… ibumu… lagi… pergi… sebelum… aku… menyakiti… kalian…"
Kai melangkah ke depan, cahaya keemasan menyala di tangannya namun ia tidak menyerang. "Siapa yang menanam ini di dalamnya?"
"Yang… menguasai… semua… bayangan…" jawab wanita itu tersengal. "Dia… menunggu… di tempat… pertemuan… semua… dunia…"
Lirael melangkah maju, sayapnya menyebarkan cahaya lembut yang menenangkan. "Itu bukan sekadar benang. Itu sumpah — ikatan yang mengikat jiwanya dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Jika kita memaksanya lepas, ia bisa hancur."
"Kalau begitu, jangan dipaksa," ucap Aurelia tegas. Ia berjalan mendekat, tak takut sedikit pun, meski akar kegelapan bergerak mengancam di depannya. Ia berhenti tepat di hadapan wanita itu, lalu mengulurkan tangan kecilnya. "Bukankah kau rindu melihat putrimu tersenyum lagi?"
Wanita itu gemetar hebat. "Aku… ingin… tapi… aku tak bisa… melepaskan…"
"Kau tidak perlu melepaskan sendirian," kata Aurelia lembut namun tegas. "Kami akan menolongmu. Bersama-sama."
Ia mengangkat kedua tangannya. Cahaya putih keemasan keluar, bukan menolak kegelapan, melainkan menyentuhnya dengan lembut, seakan berkata: "Aku tahu kau juga kesepian." Akar-akar hitam itu bergetar, perlahan melemah, dan dari baliknya, cahaya asli wanita itu mulai menembus keluar — lembut, biru keperakan, indah.
Namun di saat yang sama, suara dingin terdengar dari mana-mana:
"Kalian berpikir bisa melepaskan apa yang kuikat? Ini baru permulaan. Di tempat pertemuan semua dunia… aku akan menantang kalian. Dan gadis kecil itu… akan menjadi milikku."
Akar terakhir terlepas sepenuhnya, dan wanita itu jatuh ke pelukan Maris. Ia membuka matanya yang jernih kembali, air mata mengalir di pipinya.
"Maris… anakku…"
"Ibu…" Maris memeluknya erat, tak mampu berkata-kata lagi.
Kai berdiri tegak, menatap ke arah langit-langit menara. "Siapa dia?"
Ibu Maris mengangkat wajahnya perlahan, tatapannya berat dan sedih.
"Aku tak tahu namanya. Tapi aku tahu satu hal — dia bukan dari dunia mana pun yang kita kenal. Dia datang dari celah di antara dunia, tempat yang tak pernah dijamah cahaya. Dan dia menginginkan satu hal — menyatukan semua dunia di bawah kekuasaannya… dengan Aurelia sebagai kuncinya."
Aurelia merangkul tangan ibunya erat. "Ayah… aku tidak takut."
Kai menatap putrinya, lalu ke teman-temannya — Elara, Ren, Dagan, Lyra, Vorath, Lirael, dan kini Maris beserta seluruh rakyatnya yang bersatu di belakang mereka.
"Kita tidak akan membiarkannya," ucap Kai tegas. "Dan kita tidak akan pergi sendirian."
Ibu Maris tersenyum lemah namun tegas. "Kalian telah menyelamatkan kami. Nirwana Kedalaman tidak akan lupa jasa itu. Aku akan mengirimkan pasukan terbaik kami — kami ikut kalian ke tempat pertemuan dunia. Bukan sebagai tamu, tapi sebagai sekutu."
Saat mereka berangkat keesokan harinya, rombongan mereka semakin besar — makhluk-makhluk laut yang bersinar terang mengawal mereka, membentuk jalur cahaya yang membelah samudra langit. Di kejauhan, gerbang kelima mulai terlihat — melayang di antara gelombang cahaya, bercahaya keemasan namun juga penuh teka-teki.
Dan di tempat yang tak terlihat siapa pun, sosok yang telah mengancam mereka berdiri diam, menatap ke arah cahaya yang semakin mendekat. Di tangannya, ia memegang benda yang berdenyut gelap — semakin kuat, semakin cepat, seakan tahu bahwa saat pertemuan itu semakin dekat, waktunya semakin habis.
"Datanglah," bisiknya dingin. "Semakin banyak yang ikut… semakin menyakitkan saat kalian jatuh."