Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
Bau mesiu, darah, dan besi tua biasanya adalah tiga hal yang paling akrab dengan hidung Vanya Adhisti. Sebagai agen rahasia tingkat atas yang sering disewa untuk menangani krisis di dunia bawah tanah, Vanya terbiasa hidup dengan garis batas antara hidup dan mati. Otaknya bekerja secepat prosesor komputer paling canggih, refleks tubuhnya secepat kilat, dan bicaranya selalu lugas tanpa berbelit-belit. Di kalangan sindikat mafia dan politisi korup, nama kodenya adalah mimpi buruk yang terbungkus dalam sosok wanita berparas jelita.
Namun malam ini, tidak ada senjata, tidak ada musuh bersenjata api, dan tidak ada misi penyusupan bernilai jutaan dolar.
Vanya sedang berada di tempat paling aman di bumi menurut standar keamanannya: lantai teratas apartemen mewahnya. Tubuhnya yang biasanya dibalut setelan serba hitam kini terbungkus baju tidur beruang longgar yang sangat konyol. Rambutnya dikuncir asal-asalan, dan kedua kakinya diangkat ke atas meja kopi. Setelah menyelesaikan tugas berat selama tiga bulan nonstop melacak aliran dana mafia internasional, malam ini adalah malam pertamanya untuk bersantai secara total.
"Ah, nikmatnya hidup bebas!" gumam Vanya girang sambil menatap layar televisi yang menayangkan adegan romantis drama favoritnya.
Di tangan kanannya, ada segelas air putih dingin. Karena otaknya sedang berada dalam mode istirahat penuh, koordinasi tubuh Vanya yang biasanya sempurna mendadak menjadi sangat buruk. Saat adegan lucu di layar kaca membuatnya tertawa lebar, pada detik yang sama ia menenggak air putih itu terlalu cepat.
*Gluk!*
Air itu tidak masuk ke saluran pencernaan, melainkan meluncur deras menghantam saluran pernapasan Vanya.
"Uhukk! *Guk... Uhuk!*"
Mata Vanya langsung melotot lebar. Rasa sakit yang tajam menembus dadanya saat paru-parunya menolak cairan tersebut secara paksa. Ia mencoba bernapas, tetapi udara terkunci rapat. Rasa panik menghantam otaknya. Agen rahasia yang mampu meloloskan diri dari ledakan bom dan kepungan sepuluh pembunuh berdarah dingin itu kini panik setengah mati di atas karpet berbulu tebal miliknya sendiri.
Ia mencoba menjangkau ponsel di meja, tetapi tangannya justru menyenggol gelas hingga pecah berantakan. Vanya membanting tubuhnya ke lantai, mencoba melakukan teknik pertolongan pertama pada diri sendiri, tetapi kesadarannya terkikis jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan. Pandangannya mulai memburuk, berganti dari warna gorden apartemennya menjadi kegelapan yang pekat.
*Tunggu... jangan bilang aku mati cuma gara-gara tersedak air putih?! Ini tidak lucu! Mana harga diri gue sebagai agen elit?!*
Itu adalah jeritan batin terakhir Vanya sebelum semuanya menjadi gelap total.
"Raba dadanya! Pompa lagi! Cepat call ambulans!"
"Nona Aura! Nona, bangun!"
Suara jeritan hysteris dan bisingnya benturan air memecah kegelapan dalam pikiran Vanya. Sensasi terbakar di paru-parunya kembali terasa, tetapi kali ini rasanya jauh lebih dingin dan berbau kaporit.
"Uhukk! *Hakh!*"
Vanya memuntahkan setumpuk air secara mendadak, tubuhnya terlonjak bangun dengan refleks pertahanan diri yang sangat ekstrem. Tanpa membuka mata penuh, tangannya secara otomatis bergerak mencengkeram tenggorokan orang terdekat yang berada di atasnya, lalu memutarnya ke samping hingga orang itu menjerit kesakitan.
"AARRGH! Leherku! Nona Aura, ini saya, Bi Sumi!"
Vanya membuka matanya dengan cepat. Pupil matanya membesar, menganalisis lingkungan sekitarnya dalam waktu kurang dari dua detik. Tidak ada TV datar, tidak ada baju tidur beruang, dan tidak ada karpet bulu. Ia berada di pinggir kolam renang raksasa di sebuah mansion megah bergaya klasik. Di sekelilingnya, ada beberapa pelayan berseragam yang menatapnya dengan wajah pucat pasi dan ketakutan setengah mati.
"Siapa kalian? Ini di mana?" tanya Vanya. Bicaranya sangat cepat, tegas, dan penuh intimidasi.
Namun, saat suara itu keluar dari tenggorokannya, Vanya sendiri tertegun. Suara itu bukan suaranya yang berat dan mantap, melainkan suara seorang wanita yang lembut, agak tinggi, dan terkesan rapuh.
Ia menunduk melihat tangannya. Jemari yang biasanya memiliki kapalan halus akibat gesekan pemicu senjata api kini terlihat mulus, bersih, pucat, dan sangat rapuh. Baju yang melekat di tubuhnya adalah gaun malam mewah yang basah kuyup dan berat.
Seketika itu juga, gelombang ingatan asing menghantam otaknya seperti pukulan godam.
*Aura Valeria. 22 tahun. Putri bungsu keluarga Valeria.*
*Sifat: Pendiam, penakut, berbicara sangat pelan, selalu menunduk, dan menjadi sarana perundungan verbal oleh ibu serta saudara tirinya.*
*Status: Baru saja menikah satu bulan yang lalu karena perjodohan bisnis keluarga.*
*Penyebab tenggelam: Didorong secara sengaja ke dalam kolam renang oleh saudara tirinya saat pesta keluarga kecil berlangsung, lalu dibiarkan begitu saja karena dianggap hanya sekadar 'mencari perhatian'.*
Vanya memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Memori Aura Valeria menyatu dengan memori agen rahasianya.
"Aku... bertransmigrasi?" bisik Vanya pada dirinya sendiri, masih tidak percaya. "Dari agen elit yang mati konyol karena air putih, masuk ke tubuh cewek lemah yang mati ditenggelamkan?"
Vanya memejamkan mata sejenak, lalu mendengus kasar. Kehidupan macam apa ini? Tapi setidaknya, dia diberikan kesempatan kedua untuk hidup. Dan satu hal yang pasti: Vanya Adhisti tidak akan pernah sudi hidup sebagai wanita lemah yang pasrah diinjak-injak orang lain.
"Nona... Nona Aura?" Bi Sumi, pelayan paruh baya yang tadi lehernya sempat dipiting oleh Vanya, bertanya dengan suara gemetar dari jarak aman. "Nona tidak apa-apa? Wajah Nona kok... beda?"
Tentu saja beda. Pandangan mata Aura yang tadinya redup dan selalu ketakutan kini menyala tajam bak sebilah pisau yang baru diasah.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berhak tinggi yang terdengar ketus mendekat dari arah pintu kaca kolam renang. Seorang wanita muda dengan gaun merah ketat dan riasan tebal berjalan menghampiri dengan wajah berpura-pura cemas, meski matanya memancarkan rasa jijik yang jelas.
Itu adalah Clara Setya, saudara tiri Aura yang mendorongnya tadi.
"Ya ampun, Aura! Kamu masih hidup?" ucap Clara dengan nada melengking yang dibuat-buat, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Lagian kamu itu gimana sih? Cuma disuruh ambilkan minum di tepi kolam saja malah jatuh sendiri. Kamu kan tahu kamu gak bisa renang, kenapa ceroboh banget? Bikin malu keluarga saja di depan para tamu!"
Biasanya, Aura yang asli akan langsung menundukkan kepala, meminta maaf sambil menahan tangis, dan menerima semua tuduhan palsu itu begitu saja.
Clara sudah bersiap untuk menikmati pemandangan menyedihkan dari adik tirinya seperti biasa. Ia menyilangkan dada, menunggu Aura mulai terisak.
Namun, wanita yang terduduk di tepi kolam itu justru perlahan berdiri. Gerakannya tidak lagi lambat dan ragu-ragu. Aura—atau lebih tepatnya Vanya dalam tubuh Aura—menatap Clara lurus pada matanya. Ada aura keberadaan yang sangat berat dan menekan menguar dari tubuhnya yang basah kuyup.
Vanya melangkah maju satu langkah. Bicaranya mengalir secepat senapan mesin, tanpa jeda, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Jatuh sendiri? Kamu dorong bahu kiri saya pakai tangan kanan kamu jam 20.15 WIB tepat di area *blindspot* CCTV taman, lalu kamu pura-pura teriak minta tolong dua menit kemudian supaya paru-paru saya keburu kemasukan air. Kamu pikir saya buta, bingung, atau bodoh?"
Clara melangkah mundur satu langkah secara refleks, matanya membelalak kaget. "A-apa yang kamu omongin?! Kamu ngelindur ya karena kebanyakan minum air kolam?!"
"Dengar ya," Vanya memotong ucapan Clara dalam hitungan detik, mendekatkan wajahnya hingga Clara bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari mata Aura. "Mulai detik ini, kalau kamu coba-coba main fisik atau main trik sampah lagi sama saya, saya pastikan tangan yang kamu pakai buat dorong saya tadi malam bakalan patah jadi tiga bagian. Mengerti?"
Clara ternganga. Lidahnya mendadak kelu. Ke mana perginya Aura yang pendiam dan penakut? Wanita di depannya ini memancarkan aura membunuh yang sangat nyata hingga bulu kuduk Clara berdiri tegak.
Belum sempat Clara membalas omongan secepat kilat itu, deru mesin mobil mewah berbunyi dari arah halaman depan mansion. Sinar lampu mobil memantul di kaca kolam renang.
Para pelayan langsung berdiri tegak dan menunduk dalam-dalam. Wajah mereka menunjukkan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat melihat Aura mengamuk.
"Tuan Besar... Tuan Adrian sudah pulang," bisik salah satu pelayan dengan suara sangat pelan.
Vanya memutar tubuhnya perlahan, menatap ke arah pintu utama mansion. Adrian Vane—suami sah dari pemilik tubuh ini, seorang CEO berdingin hati yang rumornya memegang kendali atas jaringan mafia paling berdarah di kota ini.
"Menarik," gumam Vanya pelan. "Mari kita lihat seberapa menakutkannya si Raja Mafia ini."
visual Vanya saat bertugas x dirumah
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘