Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam harinya, suasana hangat meliputi ruang makan kediaman Anton. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang lembut di atas meja makan kayu jati. Aroma harum hidangan malam memenuhi ruangan, diselingi denting alat makan dan obrolan santai antara Papa dan Mama Anton.
Namun di ujung meja, Anton tampak sama sekali tidak fokus. Makanan di piringnya hampir tak tersentuh. Jemari tangannya hanya sibuk memutar-mutar sendok di atas piring, menciptakan bunyi berdenting halus yang berulang-ulang. Tatapannya kosong, melamun menatap butiran nasi.
Sang Papa yang menyadari keanehan putra sulungnya itu menghentikan kunyahannya, menatap Anton dengan dahi berkerut bingung.
"Anton?" sapa Papanya memecah keheningan.
Anton tidak merespons, masih asyik memutar sendoknya dengan raut wajah melamun.
"Anton Bramantara!" panggil Papanya lebih keras.
Anton tersentak kaget, sendok di tangannya terlepas dan berdenting nyaring menghantam tepi piring. "E-eh... Iya, Pa? Ada apa?"
Maminya yang duduk di seberang ikut mengamati raut wajah pucat dan lesu putranya.
"Kamu kenapa sih dari tadi melamun terus? Makanan cuma diputar-putar begitu. Ada masalah di kantor?"
"Gak ada apa-apa kok, Ma, Pa," sahut Anton canggung seraya membetulkan posisi duduknya. "Cuma... agak lelah aja karena kerjaan di kantor belakangan ini lumayan menumpuk."
"Serius cuma lelah kerjaan?" goda Tania yang duduk tepat di sebelah Anton. Gadis itu menopang dagu dengan senyum jahil yang mengembang sempurna di bibirnya. "Bukan karena lelah memikirkan seseorang?"
Anton seketika menoleh, memberikan tatapan tajam pada adiknya. "Tania, diam ya."
"Ada yang lagi galau berat lho, Pa, Ma!" celetuk Tania heboh tanpa memedulikan tatapan maut kakaknya.
"Tania! Jangan asal ngomong!" sergah Anton cepat, wajahnya mendadak merona merah akibat menahan malu dan kesal.
Papanya terkekeh pelan, menatap Anton dengan penuh penasaran. "Wah, masa sih? Anak Papa yang biasa hanya fokus kerja ini bisa galau juga? Jangan-jangan... kamu lagi berantem sama seseorang, Anton?"
Anton makin salah tingkah, memegang tengkuknya yang mendadak terasa hangat. "Nggak ada, Pa! Nggak usah dengarkan Tania. Dia cuma ngarang."
Maminya menyipitkan mata penuh selidik, menyunggingkan senyum tebak-tebakan. "Atau... kamu baru saja ditolak, Nak?"
"Gimana mau ditolak coba, Ma?!" potong Tania heboh seraya tertawa geli. "Menyatakan perasaan saja belum pernah! Boro-boro menyatakan perasaan, ngajak jalan empat mata saja sudah tremor duluan!"
"Tania, stop!" semprot Anton dengan suara menahan geram. Tangan kanannya mengepal gemas di bawah meja, benar-benar gemas pada kelakuan adiknya yang sama sekali tidak bisa menjaga rahasia.
"Lho, kan Tania cuma menyampaikan fakta!" balas Tania santai sambil menjulurkan lidahnya. "Lagian kasihan Papa sama Mama khawatir dari tadi melihat muka Kakak yang sembraut kayak kemeja belum disetrika."
Papanya menatap Anton dengan raut wajah serius tapi penuh rasa ingin tahu. "Kenapa, Anton? Kalau memang ada perempuan yang kamu sukai, cerita sama Papa dan Mama. Kenapa harus dipendam sendiri?"
"Tidak ada apa-apa, Pa. Beneran," elak Anton. Ia buru-buru meneguk air putih di samping piringnya hingga habis, lalu mendorong kursinya ke belakang dan berdiri tegak. "Aku sudah selesai makan. Mau langsung istirahat ke kamar dulu. Permisi, Pa, Ma."
Tanpa menunggu balasan dari orang tuanya, Anton melangkah cepat meninggalkan meja makan dengan langkah lebar, melesat naik menuju kamarnya di lantai dua.
Suasana meja makan seketika hening sejenak usai pintu kamar Anton di lantai atas terdengar tertutup cukup keras.
Papanya menghela napas panjang, lalu memutar pandangannya menatap Tania lekat-lekat. "Tania... coba jelaskan ke Papa. Ada apa sebenarnya sama kakakmu itu?"
Maminya ikut memajukan tubuhnya, menatap putri bungsunya penuh rasa ingin tahu. "Iya, Tan. Cerita sama Mama. Siapa perempuan yang bikin kakakmu sampai melamun dan tidak nafsu makan begitu?"
Tania menyunggingkan senyum misterius, meminum jus jeruknya perlahan sebelum akhirnya angkat bicara. "Jadi gini, Pa, Ma... Di divisi tempat aku dan Kak Anton kerja, ada staf baru dari Indonesia. Namanya Aisha."
"Aisha?" ulang Mamanya, mengeja nama itu pelan. "Perempuan seperti apa dia?"
"Dia cantik banget, Ma. Pintar, rajin, pekerja keras, dan sikapnya manis sekali," terang Tania dengan mata berbinar jujur. "Pokoknya aura positifnya itu kerasa banget kalau lagi di dekat dia."
Papanya tersenyum bangga. "Lalu? Bagus dong kalau begitu! Kenapa kakakmu malah galau dan tidak berani mendekati dia?"
Tania menghentikan senyumnya, raut wajahnya mendadak berubah sedikit ragu dan serba salah. "Tapi... dia beda sama kita, Pa, Ma."
Maminya mengerutkan dahi bingung. "Beda? Beda apa maksudmu, Tania? Beda kewarganegaraan? Beda status sosial?"
"Bukan, Ma," sahut Tania pelan. "Dia... seorang muslimah yang sangat taat. Dia pakai hijab dan menjaga batas banget sama laki-laki."
Papanya tertegun sejenak, sementara Maminya saling berpandangan dengan raut wajah yang mendadak serius mendengarkan penjelasan Tania.
"Kayaknya Kak Anton tidak berani melangkah lebih jauh ya gara-gara perbedaan besar itu," lanjut Tania seraya menghela napas pelan.
"Padahal Tania lihat sendiri... sejak perempuan itu mulai kerja di kantor kita, Kak Anton sudah mulai tertarik dan punya perasaan beda ke dia. Cuma ya gitu... Kakak cuma bisa memandang dari jauh karena sadar tembok di antara mereka tinggi banget."
Tania kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, memelankan suaranya seolah sedang membocorkan rahasia besar.
"Dan...mungkin gara-gara kejadian tadi siang juga sih, Pa, Ma!" celetuk Tania lagi. "Tadi siang Kak Anton mau ngajak Aisha makan siang berdua. Kakak ngajak aku juga sih, tapi aku langsung menolak biar Kakak punya waktu berdua sama Aisha! Awalnya Aisha menolak ajakan karena hanya berdua, tapi aku yang mendesak dan bilang tidak boleh menolak, makanya Aisha akhirnya mau ikut."
"Lalu? Mereka jadi makan siang berdua?"
"Nah, di situ masalahnya, Ma!" seru Tania sambil mengibaskan tangannya gemas. "Belum selesai makan siang, Kak Anton malah harus balik ke kantor gara-gara ada rapat mendadak! Jadi Aisha ditinggal sendirian di restoran. Eh, gilanya lagi... setelah ditinggal, Aisha malah tidak balik-balik lagi ke kantor sampai jam kerja selesai! Alasannya aku nggak tau, kenapa dia nggak balik kekantor"
"Maybe...dia punya urusan mendadak juga?" tebak Papanya.
"Bisa jadi, Pa. Tapi Tania nggak sempat tanya sama temannya yang lain."
Mendengar cerita panjang lebar dari Tania, Papanya menghela napas panjang lalu mengukir senyum bijak. Beliau menepuk punggung tangan Tania pelan.
"Ya sudah... kamu jangan godain kakakmu terus-terusan," ujar Papanya lembut.
"Biarkan dia menenangkan pikirannya dan mengambil keputusannya sendiri. Kakakmu itu sudah dewasa, dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya."
Tania menyengir pasrah lalu mengangguk nurut. "Iya deh, Pa... Tania nurut. Biar Kak Anton sendiri yang selesaikan urusan hatinya."