NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - SUMPAH SETIA YANG BARU

Klinik bawah tanah milik Dokter Hendrik berbau tajam antiseptik dan alkohol. Tempat rahasia yang terletak di balik ruang pendingin sebuah rumah potong hewan ini udah jadi langganan klan Valeria bertahun-tahun. Nggak ada pertanyaan, nggak ada laporan polisi, cuma uang tunai dan tutup mulut.

Riko langsung dilarikan ke ruang operasi darurat begitu mereka tiba. Dokter Hendrik, pria tua berkacamata tebal yang seumur hidupnya ngurusin luka tembak para mafia, dengan cekatan menangani bahu Riko.

"Gimana keadaannya, Dok?" tanya Valeria bersedekap di depan pintu ruang operasi. Wajahnya terlihat letih tapi tatapannya tetap tajam.

"Pelurunya bersarang lumayan dalam, tapi nggak kena pembuluh darah utama. Riko anak yang kuat, dia bakal baik-baik aja setelah pelurunya diangkat dan istirahat total seminggu," jawab Dokter Hendrik melepas sarung tangannya yang berdarah. Dokter itu lalu melirik ke arah Kael yang berdiri mematung di sudut ruangan. "Nah, sekarang giliran raksasa batu di belakang Nyonya itu. Bahunya kelihatan kayak habis digigit hiu."

Kael langsung menggeleng pelan.

"Saya masih bisa menahannya. Jahit asalnya saja, Dok. Kami harus segera kembali ke markas," tolak Kael dengan nada datar.

"Duduk di ranjang itu sekarang, Kael, atau aku sendiri yang bakal bius kamu pakai palu," ancam Valeria judes, memelototi bayangannya itu.

Mendengar perintah mutlak dari sang ratu, Kael akhirnya pasrah. Dia duduk di tepi ranjang periksa dan membuka jaket kulit serta kemejanya yang udah hancur lebur. Dokter Hendrik mendecak ngeri melihat jahitan kasar di bahu Kael yang robek total, menampilkan luka tembak yang menganga mengerikan.

"Ini sih kerjaan gila. Siapa yang ngejahit luka tembak tanpa ngebersihin jaringan matinya dulu? Pantas aja robek lagi pas dipakai gerak ekstrem," omel Dokter Hendrik sambil nyiapin alat bius lokal.

"Aku yang jahit," sahut Valeria dingin dari ambang pintu.

Dokter Hendrik langsung kicep, buru-buru mendeham canggung. "Ehem... yah, untuk ukuran jahitan darurat, ini... sangat rapi, Nyonya. Hebat sekali."

Kael nyaris tersenyum tipis mendengar dokter tua itu ketakutan. Proses pembersihan luka dan penjahitan ulang berlangsung cepat berkat bius lokal. Setelah bahunya dibalut perban yang proper dan rapi, Kael diberi kemeja hitam bersih pinjaman dari klinik.

Satu jam kemudian, mereka kembali ke markas utama di lantai 50 menggunakan mobil pinjaman dari Hendrik.

Fajar mulai menyingsing, membiaskan cahaya keabu-abuan dari balik jendela kaca raksasa di ruang kerja Valeria. Badai semalaman menyisakan udara kota yang berkabut tebal. Hening menyelimuti ruangan itu. Bastian dan para penjaga elit udah disiagakan di luar pintu ganda, menunggu perintah selanjutnya untuk menyerbu kediaman Tetua Haris.

Valeria berdiri di depan jendela, menatap pemandangan kota yang basah. Jaket anti pelurunya udah dia lepas, menyisakan kemeja kargo hitamnya. Dia menghela napas panjang, membiarkan rasa lelah meresap sejenak sebelum dia harus kembali memakai topeng kekejamannya.

Suara langkah kaki pelan mendekat dari arah belakang. Valeria nggak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

"Rombongan Bastian udah siap?" tanya Valeria pelan.

"Sudah, Val. Tiga peleton pasukan elit klan menunggu instruksi Anda di *basement*. Kita bisa mengepung *mansion* Haris dalam waktu dua puluh menit," lapor Kael berhenti beberapa langkah di belakang Valeria.

Valeria memutar tubuhnya. Dia menatap Kael dari atas sampai bawah. Kemeja hitam bersih yang dipakai Kael membuatnya terlihat lebih rapi, tapi aura membunuh yang menguar dari pria itu belum juga padam sejak pembantaian di pabrik tua tadi malam.

"Kamu sendiri gimana? Biusnya udah mulai hilang?" selidik Valeria, matanya tertuju pada bahu kanan Kael.

"Sedikit kebas, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya siap memimpin penyerbuan ini, Val," jawab Kael mantap.

Valeria diam sejenak. Otaknya memutar kembali kejadian di jalan tol dan percakapan emosional mereka di dalam SUV curian. Kata-kata Kael tentang menjadi monster yang menjijikkan masih terngiang jelas. Valeria tahu, meskipun Kael berusaha terlihat tegar dan profesional, ada rasa *insecure* yang luar biasa besar di dalam hati pria mematikan ini. Kael takut masa lalunya yang gelap akan membuat Valeria membuangnya.

Valeria melangkah pelan mendekati Kael. Jarak mereka kini hanya terpaut setengah meter.

"Kael, lihat aku," perintah Valeria lembut.

Kael mendongak, mempertemukan mata elangnya dengan sepasang manik mata Valeria yang menatapnya tanpa setitik pun keraguan.

"Semalam, kamu mempertaruhkan nyawamu lagi. Kamu nerobos hujan peluru, ngambil alih kemudi, dan ngebantai satu regu Viper dengan tangan kosong dalam kondisi terluka parah. Dan kamu masih berani mikir kalau aku bakal jijik ngeliat kamu?" bisik Valeria, suaranya mengalun seperti melodi yang menenangkan di telinga Kael.

Kael menelan ludah. "Saya hanya... mesin pembunuh, Val. Masa lalu saya dipenuhi dosa yang bahkan tidak bisa dimaafkan oleh neraka. Kemampuan yang saya tunjukkan semalam... itu adalah hasil dari hal-hal yang tidak pantas Anda ketahui."

"Lalu kenapa?" potong Valeria cepat. Tangannya terangkat, menempel ringan di dada kiri Kael. "Tangan ini juga kotor, Kael. Aku ratu mafia. Kita hidup di dunia di mana belas kasihan cuma bikin kita mati lebih cepat."

Napas Kael sedikit tertahan merasakan kehangatan telapak tangan Valeria di dadanya.

"Anda berbeda, Val. Anda melakukan ini untuk melindungi klan, melindungi warisan ayah Anda. Sedangkan saya... di masa lalu, saya membunuh hanya karena saya tidak tahu cara lain untuk hidup," bantah Kael pelan, suaranya serak dipenuhi penyesalan.

Valeria menatap pria raksasa di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada campuran antara rasa posesif, kasih sayang, dan dominasi murni.

Tanpa mengatakan apa-apa, Valeria melangkah mundur satu langkah. Dia berdiri tegak, memancarkan aura sang Ratu Klan yang absolut.

Kael mengerti perubahan bahasa tubuh itu. Perasaan di dalam dadanya bergemuruh. Pria itu menyadari bahwa kata-kata saja tidak akan cukup untuk membuktikan pengabdiannya. Kael melangkah maju, lalu secara perlahan, dia menekuk satu lututnya hingga menyentuh lantai karpet.

Pria jangkung dan mematikan itu kini berlutut di hadapan Valeria, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangan kirinya diletakkan di atas dada, tepat di atas jantungnya, sementara tangan kanannya ditaruh di lantai. Ini adalah gestur penyerahan diri yang paling sakral di dunia bawah. Gestur yang hanya diberikan oleh seorang ksatria kepada ratu sejatinya.

"Kael..." bisik Valeria sedikit terkejut, tapi dia tidak menyuruh pria itu berdiri.

"Anda benar, Val. Saya memang menyembunyikan sisi paling gelap dari diri saya," ucap Kael dari posisinya yang berlutut, suaranya bergetar membawa beban bertahun-tahun. "Tapi satu hal yang tidak pernah berubah sejak hari pertama Anda menyelamatkan saya dari ring kotor itu: hidup saya adalah milik Anda."

Kael perlahan mendongak, menatap mata Valeria dari bawah dengan tatapan pemujaan yang gila.

"Mulai detik ini, saya tidak akan menyembunyikan apa pun lagi. Tidak ada lagi Kael si pengawal yang kaku. Jika Anda membutuhkan monster, maka saya akan menjadi monster paling mengerikan untuk musuh-musuh Anda. Kemampuan ini, teknik ini, masa lalu yang kelam ini... semuanya akan saya jadikan senjata untuk Anda."

Kael menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah mengikat sumpah darah di udara.

"Pedang ini hanya akan menebas untuk Anda. Dan tubuh ini hanya akan berdarah untuk Anda, Val. Saya mengikatkan sisa nyawa saya pada Anda. Hukum saya jika saya gagal, buang saya jika saya tidak berguna, tapi tolong... jangan pernah menyuruh saya pergi dari sisi Anda."

Hening yang luar biasa syahdu menyelimuti ruang kerja itu. Kata-kata Kael barusan lebih dari sekadar sumpah setia seorang bawahan. Itu adalah pengakuan cinta yang dibalut dalam darah dan obsesi. Sebuah pengabdian yang melampaui batas kewarasan.

Dada Valeria berdesir sangat hebat. Rasa hangat menjalar dari ujung perut hingga ke dadanya. Sang ratu mafia yang terkenal tak punya hati itu kini merasa dinding es di hatinya meleleh tak bersisa.

Valeria melangkah maju, ujung sepatu bot kargonya menyentuh lutut Kael. Wanita itu menunduk, mengulurkan kedua tangannya dan menangkup wajah tampan Kael yang tegang. Ibu jarinya mengusap lembut rahang pria itu.

"Aku menerima sumpahmu, Kael," bisik Valeria dengan senyum menawan yang hanya pernah dia tunjukkan pada pria ini. "Kamu bukan sekadar bayangan lagi. Mulai sekarang, kamu adalah pedangku yang paling mematikan. Dan sebagai ratumu, aku berjanji nggak akan pernah ngebiarin pedang ini patah."

Kael menutup matanya, merasakan sensasi luar biasa dari sentuhan Valeria di wajahnya. Beban berat yang bertahun-tahun menindih pundaknya seolah menguap begitu saja. Dia akhirnya diterima seutuhnya. Baik sebagai pengawal, maupun sebagai monster.

Valeria perlahan menarik wajah Kael agar pria itu berdiri.

Saat Kael kembali menjulang di hadapannya, jarak mereka sangat dekat. Kael bisa mencium aroma *Baccarat* yang bercampur bau hujan dari tubuh Valeria. Keinginan untuk merengkuh pinggang ramping wanita itu dan mencium bibir merah gelapnya meronta-ronta di dalam kepala Kael.

Tapi Valeria tahu cara bermain tarik-ulur yang sempurna. Wanita itu menepuk pelan dada Kael dua kali, lalu berbalik menuju mejanya.

"Sekarang setelah acara drama sumpahnya selesai," kekeh Valeria mengubah nadanya menjadi santai dan berbahaya. Dia membuka laci mejanya, mengambil dua magasin penuh peluru, dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. "Waktunya kita potong kepala ular yang sebenarnya."

"Tetua Haris," geram Kael, insting membunuhnya kembali menyala terang. "Saya akan menyeretnya ke hadapan Anda dan memastikan dia memohon ampun sebelum mati."

"Bagus," seringai Valeria menatap tajam ke arah Kael. "Kalau gitu, ayo kita berburu, Pedangku. Jangan biarkan si tua bangka itu kabur."

Kael mengangguk tegas. Pria itu membukakan pintu ruang kerja untuk Valeria. Sang ratu mafia melangkah keluar dengan kepala tegak, disusul oleh Kael di belakangnya—yang kini bukan lagi sekadar bayangan penurut, melainkan monster utuh yang siap menghancurkan dunia demi senyum wanita di depannya.

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!