Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.
Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.
Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Kedatangan Ning Ziyi
"Berani sekali kau membunuh salah satu orangku?" Mata Ji Hong menyala penuh amarah saat menatap Jing Yan. "Pilih sekarang! Berlutut dan terima nasibmu, atau biar aku sendiri yang mengirimmu ke alam baka!"
Bahkan sebelum kalimat itu selesai diucapkannya, sesosok bayangan putih sudah melesat melewatinya.
"Apa?!" Ji Hong segera menoleh dan melihat Jing Yan sudah menerjang ke arah Ji Tian dan Ji Chenxing.
"Cukup bicara. Kakak Han!" perintah Jing Yan, matanya setajam bilah pedang.
"Mengerti! Ayo kita lakukan!" Han Xin mengaum, memanggil Jiwa Pedangnya sendiri dan memanfaatkan kesempatan itu untuk melawan.
"Kalian berdua mencari mati!" Ji Tian dan Ji Chenxing sama-sama berada di Alam Mata Air Naga Tingkat Akhir, satu tingkat lebih tinggi daripada Jing Yan. Jiwa Pedang mereka memancarkan tiga lapisan Cahaya Pedang. Terutama Jiwa Pedang milik Ji Tian yang sangat besar, menyerupai pedang raksasa.
Clang!
Jiwa Pedang Ji Tian semula menekan leher Han Xin. Namun, karena serangan Jing Yan yang begitu cepat dan mematikan, ia tidak punya pilihan selain bertahan.
Jing Yan kembali mengayunkan pedangnya. Gerakannya cepat, tepat, dan tanpa belas kasihan.
"Jiwa Pedang tingkat Meteor Rendah?" Ji Tian mencibir.
Jiwa Pedangnya sendiri berada di tingkat Meteor Atas dan diperkuat oleh tiga lapisan Cahaya Pedang.
Dengan penuh keyakinan, ia menyambut serangan itu secara langsung.
Clang!
Kilatan cahaya biru bertabrakan dengan Jiwa Pedangnya. Lalu terdengar suara gesekan logam yang memekakkan telinga, sementara percikan api beterbangan ke segala arah.
"Berani-beraninya kau mencoba menandingi Jiwa Pedangku? Kau tid—?" ejekan Ji Tian terhenti seketika. Wajahnya membeku karena terkejut.
Krek... Boom!
Jiwa Pedangnya hancur seketika. Pecahan-pecahan Jiwa Pedang itu meledak dan menerangi halaman. Ledakan dahsyat itu membuat tubuh besarnya terpental hingga menghantam dinding.
Saat Jiwa Pedangnya hancur, jiwanya ikut musnah. Mata Ji Tian memutih, tubuhnya kejang-kejang, dan busa keluar dari mulutnya. Bagi seorang Kultivator Pedang, nasib seperti ini bahkan lebih buruk daripada kematian.
"Ji Tian!"
Para pengikut Ji Hong berseru serempak.
Ji Tian adalah petarung terkuat di bawah Ji Hong. Jiwa Pedang macam apa yang bisa menghancurkan Jiwa Pedang lawan dalam sekejap saat bertarung?
"Anak ini bukan orang sembarangan!"
Baru saat itu Ji Hong benar-benar menyadari betapa seriusnya situasi. Namun semuanya sudah terlambat.
Jing Yan bergerak secepat badai. Begitu ia memutuskan untuk membunuh, ia tidak akan menunjukkan sedikit pun keraguan.
Setelah menghancurkan Jiwa Pedang Ji Tian, Jing Yan langsung mengalihkan pandangannya kepada Ji Chenxing yang masih bertarung melawan Han Xin.
"Hah?"
Ji Chenxing lengah. Dari sudut matanya ia melihat Ji Tian terpental. Saat ia menoleh, Jing Yan telah memutar tubuhnya dan mengubah Pedang Genggam di tangannya menjadi Pedang Terbang.
Dengan satu gerakan cepat, pemuda berjubah putih itu melemparkan pedangnya.
Kilatan cahaya biru melesat.
"Kakak Hong! Selamatkan aku!"
Teriakan putus asa Ji Chenxing baru saja keluar dari mulutnya ketika Han Xin dengan ganas menahan Jiwa Pedangnya. Ia terkunci di tempat dan tidak mampu menghindar.
"Tidak!" Mata Ji Chenxing membelalak karena ketakutan.
Namun sebelum sempat bereaksi lebih jauh, cahaya biru yang menyilaukan telah melintas di hadapannya.
Buk!
Cahaya biru itu menembus dadanya secara langsung, meninggalkan lubang berdarah selebar tiga inci tepat di bagian jantungnya.
Tubuh Ji Chenxing terhuyung mundur. Matanya menatap Jing Yan dengan penuh ketidakpercayaan dan ketakutan yang luar biasa. Lalu tubuhnya roboh ke belakang, sementara darah mengalir deras, mewarnai tanah dengan merah pekat.
"Ji Chenxing!" Mata Ji Hong langsung memerah.
Satu orang lagi mati begitu saja.
Ia sama sekali tidak menyangka Jing Yan mampu menumbangkan orang-orangnya dalam waktu sesingkat itu. Ketika akhirnya ia sadar dan berusaha mencegat Jing Yan, Pedang Terbang yang mematikan itu sudah lebih dulu merenggut nyawa sasarannya.
Ji Chenxing telah tewas.
Sementara itu, serangan Ji Hong hanya berhasil meninggalkan sebuah luka gores di lengan Jing Yan.
"Hah!" Jing Yan bahkan tidak melirik luka barunya.
Ia mengubah kembali Jiwa Pedangnya menjadi Pedang Genggam, lalu menoleh dengan tenang menghadap Ji Hong.
Enam murid lain yang mengikuti Ji Hong buru-buru bersembunyi di belakangnya. Mata mereka gemetar saat memandang Jing Yan, bahkan bernapas pun hampir tidak berani.
"Adik Junior Jing..." gumam Han Xin sambil berjalan menghampiri Jing Yan. Saat menatap pemuda yang tampak tidak berbahaya di hadapannya itu, pikirannya dipenuhi berbagai macam bayangan hingga ia tak tahu harus berkata apa.
"Ji Hong adalah murid kedua belas Yang Mulia Pedang. Dia baru bergabung dengan Sekte Pedang Roh Biru dua bulan yang lalu. Namun sejak saat itu, dia sudah naik dua tingkat dan mencapai Alam Mata Air Naga Sempurna, yang berarti naga di Mata Air Naganya memiliki empat cakar," jelas Han Xin sambil menggertakkan gigi.
Jing Yan memperhatikan bahwa Ji Hong juga memiliki lima lapis Aura Pedang. Selain itu, Jiwa Pedangnya juga berada pada tingkat Bintang Rendah! Karena itulah ia diterima sebagai murid Yang Mulia Pedang.
Di dalam Sekte Pedang Roh Biru, status murid Yang Mulia Pedang setara dengan seorang tetua.
"Mungkin kita sebaiknya..." Jantung Han Xin berdegup kencang, sempat terpikir untuk melarikan diri bersama Jing Yan. Namun tangan mereka sudah berlumuran darah. Ke mana lagi mereka bisa melarikan diri?
Sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, Ji Hong berbicara dengan suara dingin. "Jing Yan, kau telah membunuh tiga murid inti Puncak Pedang Pertama... Nyawamu yang tidak berharga itu bahkan tidak cukup untuk menebus hutang darah itu!"
"Oh, begitu ya? Aku cuma membunuh tiga orang. Kalau dibulatkan, anggap saja aku belum membunuh siapapun," kata Jing Yan sambil tersenyum tipis.
"Masih sempat bercanda dalam keadaan seperti ini. Kau benar-benar luar biasa! Apa pun yang kau katakan, tiga orang tetap mati di tanganmu malam ini!" bentak Ji Hong dengan marah.
Jing Yan terkekeh. "Kalau begitu, akan kubunuh beberapa orang lagi supaya angkanya menjadi bulat."
"Tunggu, jangan—" Han Xin berseru sambil mengulurkan tangan. Namun ia hanya sempat meraih lengan baju Jing Yan sesaat sebelum terlepas. Ia sama sekali tidak mampu menghentikannya.
"Dasar katak... Apa kau benar-benar tidak mengerti apa artinya menjadi murid Yang Mulia Pedang?" tanya Ji Hong dengan wajah dipenuhi amarah.
Saat ia mengayunkan Jiwa Pedang Pasir Gurun miliknya yang berada pada tingkat Bintang Rendah, halaman itu langsung dipenuhi badai pasir yang berputar. Kekuatan Jiwa Pedangnya ternyata mampu mengendalikan pasir untuk bertarung!
Keduanya bersiap bertarung sampai mati.
Namun pada saat itu juga… Sebuah suara yang dingin terdengar dari belakang Jing Yan.
"Sepertinya aku telah menemukan pembunuh adik Raja Pedang Tang."
"Siapa?" Han Xin merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Saat menoleh, ia melihat seorang wanita cantik berbaju merah sedang memeriksa mayat Dan Xiong. Luka menganga di dahinya mulai membusuk dan berubah menjadi asap hitam yang menyeramkan.
"Luka Tang Chen juga memiliki bekas pembusukan Jiwa Pedang yang sama!"
Dengan bunyi keras, wanita berbaju merah itu menjatuhkan mayat Dan Xiong.
Boom!
Tekanan kekuatan yang luar biasa, khas seorang ahli Alam Laut Ilahi, langsung menyelimuti Jing Yan. Niat membunuhnya begitu nyata. Sepasang matanya yang sedingin hamparan salju membeku menatap lurus ke arah Jing Yan.
"Hari ini di Platform Warisan Pedang, ketika kau berkata bahwa kau bahkan belum pernah membunuh seekor anjing... Justru kalimat yang terlalu spesifik itu membuatku mulai mencurigaimu."
Dia adalah Ning Ziyi, Tetua Ning!
Ji Hong mengetahui keberadaan Jing Yan darinya.
Dan dialah yang diam-diam mengikuti mereka. Hanya saja, ia sama sekali tidak menyangka akan menyaksikan pemandangan seperti ini. Kini ia menyipitkan matanya dan sedikit mengangkat dagunya, menatap pemuda berjubah putih itu dengan tatapan dingin.
"Tahukah kau, Jing Yan? Orang-orang yang suka menyimpan rahasia dan merasa dirinya pintar di Jalan Keabadian, mengira bisa memperdaya semua orang... pada akhirnya selalu berakhir dengan kematian yang sangat mengenaskan.”