NovelToon NovelToon
Resep Terakhir Dari Ibu

Resep Terakhir Dari Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Kruyukkk.

Suara perut Aldo berbunyi sangat keras dan mengalahkan deru mesin motor di jalanan luar warkop.

Pemuda berusia sembilan belas tahun itu hanya bisa memegang perutnya yang terasa melilit dan kram.

Dia belum memakan apapun sejak kemarin sore selain meminum air putih keran dari pangkalan ojek.

"Kopinya, Mas Aldo," sapa Bang Jali sang pemilik warkop sambil meletakkan gelas kaca di atas meja kayu.

"Makasih ya, Bang Jali," jawab Aldo dengan suara parau dan lemas.

Dia menatap uap panas yang mengepul dari kopi hitam berharga tiga ribu perak tersebut.

Wanginya sedikit menenangkan pikiran Aldo yang sedang kalut sejak pagi tadi.

Ting.

Layar ponsel bututnya yang retak di bagian ujung tiba-tiba menyala menampilkan sebuah notifikasi email masuk.

"Mohon maaf, Saudara Aldo Raditya, Anda tidak lolos kualifikasi untuk posisi asisten dapur di restoran kami."

Aldo membaca pesan singkat itu dalam hati lalu menghela napas panjang yang terasa sangat berat.

Dia meletakkan ponselnya dengan kasar hingga berbunyi krak kecil di atas meja kayu warkop.

"Ditolak lagi lamaran kerjanya, Do?" tanya Bang Jali dari balik gerobak mi ayam miliknya.

"Iya, Bang. Ini sudah lamaran kerja yang kelima belas yang menolakku dalam minggu ini."

"Sabar saja, namanya juga cari kerja di kota besar memang kejam dan susah."

"Uang sewa kosanku tinggal cukup untuk membayar bulan ini saja, Bang."

"Kamu sih terlalu baik dan bodoh jadi orang, Do."

"Maksud Bang Jali bilang aku bodoh itu bagaimana?"

"Kenapa kamu berikan semua sisa tabungan ibumu untuk pamanmu yang serakah itu bulan lalu?"

Aldo langsung mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat saat mengingat kejadian pahit bulan lalu.

Hari itu adalah hari pemakaman ibunya yang meninggal dunia karena sakit komplikasi parah.

Tanpa rasa iba sedikitpun, pamannya tiba-tiba datang dengan membawa selembar kertas hutang fiktif atas nama ibunya.

Pria tua bangka itu mengancam akan menyita dan membakar semua barang peninggalan ibunya.

Termasuk sebuah buku resep kuno bersampul kulit yang sangat dijaga oleh mendiang ibunya.

"Kalau aku tidak membayar hutang palsu itu, paman benar-benar akan membakar buku resep ibu."

"Buku kusam itu lebih berharga dari uang puluhan juta peninggalan ibumu?"

"Buku itu adalah nyawa ibu dan jantung dari keluarga kami, Bang."

"Tapi kenyataannya kamu sekarang jadi yatim piatu yang tidak punya uang sepeserpun."

"Satu-satunya alasan aku mengambil jurusan SMK Tata Boga adalah untuk meneruskan resep di buku itu."

Srenggg.

Suara Bang Jali yang sedang menumis bumbu nasi goreng memotong pembicaraan mereka yang mulai memanas.

Aroma bawang putih dan terasi yang hangus tiba-tiba menyengat hidung Aldo dengan sangat kuat.

Penciuman Aldo yang sangat tajam langsung mengenali ada yang salah dengan teknik memasak Bang Jali.

"Bang, apinya kebesaran itu. Bawangnya bisa jadi pahit kalau sampai hangus begitu."

"Eh, masa sih, Do? Perasaanku biasa saja."

"Coba sini aku yang pegang spatulanya sebentar, Bang."

Aldo langsung berdiri dari kursinya dan berjalan cepat ke balik gerobak untuk mengambil alih wajan.

Tangan kanannya bergerak sangat lincah menumis bumbu sementara tangan kirinya menambahkan sedikit air matang.

Dia mengambil sejumput gula merah dan sedikit kaldu bubuk lalu memasukkannya ke dalam wajan panas.

Srenggg.

Aroma masakan yang tadinya berbau hangus menyengat kini berubah menjadi sangat harum dan menggugah selera.

Bahkan beberapa pelanggan warkop yang sedang merokok ikut menoleh ke arah dapur gerobak.

"Wah, wanginya langsung berubah total jadi sedap begini, Do."

"Ini cuma trik dasar untuk menetralkan rasa pahit dari bawang yang kelewat matang, Bang."

"Kamu memang punya bakat memasak tingkat tinggi keturunan dari ibumu."

Aldo hanya bisa tersenyum getir mendengar pujian tulus dari Bang Jali.

Hatinya terasa ngilu setiap kali ada orang yang menyinggung tentang mendiang ibunya.

Dia mematikan kompor gas lalu bermaksud kembali duduk ke kursinya untuk meminum kopinya yang mulai dingin.

Namun pandangannya tiba-tiba terpaku pada sebuah kertas poster yang tertempel sedikit miring di dinding bata.

Kertas itu sudah sedikit kusam dan terkena beberapa bercak cipratan minyak goreng.

"Audisi Master Chef Nusantara Season 5," ucap Aldo mengeja tulisan paling besar di poster tersebut.

"Oh, poster itu baru ditempel kemarin sore oleh orang televisi, Do."

"Siapa yang repot-repot menempelnya di warkop kecil seperti ini, Bang?"

"Ada kru televisi yang mampir makan mi ayam saat hujan dan minta izin menempel poster itu sekalian."

"Audisi ditutup hari ini jam lima sore," gumam Aldo sambil membaca persyaratan berhuruf kecil di bagian bawah.

Dia langsung melirik panik ke arah jam dinding warkop yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.

"Total hadiah untuk juara pertama adalah uang tunai satu miliar rupiah," ucap Aldo dengan suara bergetar hebat.

Matanya terbelalak menatap angka nol yang berjajar panjang di poster itu.

"Kenapa kamu tidak coba daftar saja hari ini, Do?"

"Audisinya diadakan di gedung convention center pusat kota yang jaraknya lumayan jauh dari sini."

"Lalu apa masalahnya kalau jauh?"

"Pendaftarannya tinggal setengah jam lagi dan aku sama sekali tidak punya kendaraan."

"Kamu mau menyerah pada nasib sebelum mencoba bertarung di medan perang?"

"Aku bahkan tidak punya uang sepeserpun untuk sekadar membayar ongkos naik ojek atau angkot, Bang."

Bang Jali terdiam sejenak mendengar keputusasaan dalam nada suara anak muda di depannya.

Pria paruh baya itu lalu membuka laci kayu tempat dia biasa menyimpan uang kembalian pelanggan.

Dia mengambil selembar uang lima puluh ribu rupiah yang sedikit lecek lalu menyodorkannya ke dada Aldo.

"Pakai uang ini untuk bayar ongkos ojekmu ke gedung itu sekarang."

"Bang Jali, ini serius buat aku?"

"Anggap saja ini bayaran karena kamu sudah menyelamatkan pesanan nasi gorengku barusan dari kegagalan."

"Tapi ini nilainya terlalu besar untukku, Bang."

"Cepat pergi sekarang sebelum pintu audisinya benar-benar dikunci, anak muda bodoh!"

Aldo menelan ludah dengan susah payah dan matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa haru.

Dia menyambar uang kertas itu dan langsung mencium punggung tangan Bang Jali dengan cepat.

"Terima kasih banyak, Bang. Aku janji akan mengembalikan uang ini berlipat ganda nanti."

"Tidak usah banyak bicara, cepat lari sana cari ojek di perempatan jalan besar!"

Aldo mengangguk sangat tegas dan memutar tubuhnya berlari sekencang mungkin keluar dari warkop.

Jeda...

Gerimis sore mulai turun rintik-rintik dan membasahi jalanan aspal ibu kota yang sedang padat merayap.

Aldo sama sekali tidak peduli dengan pakaian kasualnya yang mulai basah terkena tetesan air hujan.

Dia mendekap tas ransel bututnya erat-erat di depan dada karena di dalamnya terdapat buku resep sang ibu.

"Ibu, tolong doakan perjuangan anakmu hari ini dari atas sana."

"Aku tidak akan membiarkan warisan resep masakanmu hilang atau diremehkan oleh siapapun."

Tin tin.

Suara klakson mobil bersahutan dengan keras saat Aldo nekat menyeberang jalan raya demi menuju pangkalan ojek.

Nafasnya terengah-engah hebat dan kakinya terasa lemas karena perutnya kosong belum diisi makanan.

Namun api semangat di dalam dadanya menyala jauh lebih liar dan lebih besar dari rasa laparnya.

"Bang ojek, tolong antar aku ke gedung convention center pusat sekarang juga!"

"Waduh, jalannya macet parah ini, Dek. Ongkosnya empat puluh ribu ya kalau mau."

"Ini uangnya, Bang. Tolong ngebut lewat jalan tikus karena waktuku tinggal dua puluh menit lagi."

Tukang ojek itu menerima uang lecek dari Aldo dan langsung melemparkan helm standar yang sedikit basah.

Brummm.

Motor matic itu melesat kencang membelah kemacetan sore hari yang menjengkelkan bagi warga kota.

Aldo memejamkan matanya rapat-rapat sambil memeluk tas ranselnya di tengah guyuran hujan yang makin deras.

Dia kembali mengingat wajah pamannya yang tersenyum sangat licik saat merampas sertifikat rumah.

"Lihat saja nanti, Paman. Aku akan membuktikan kalau aku bisa jauh lebih sukses darimu."

Setelah lima belas menit membelah jalanan sempit, motor ojek itu akhirnya berhenti.

Mereka tiba tepat di depan gerbang gedung convention center yang berdiri sangat megah dan mewah.

"Sudah sampai, Dek. Hati-hati turunnya karena aspalnya licin."

"Terima kasih banyak, Bang!"

Aldo berlari kencang melewati penjaga keamanan bertubuh besar yang sempat menegurnya.

Penjaga itu meneriakinya karena pakaian Aldo basah kuyup dan meneteskan air ke lantai marmer yang mengkilap.

Aldo mengabaikan teguran itu dan terus berlari menuju lobi utama yang sangat luas.

Dia melihat sebuah meja registrasi panjang yang sudah mulai dibongkar oleh beberapa panitia berseragam.

"Permisi, Kak. Apakah pendaftaran audisinya masih buka?"

Seorang wanita panitia berkacamata tebal menatap Aldo dari atas sampai bawah dengan raut wajah sangat heran.

"Maaf sekali, pendaftaran audisi sudah kami tutup lima menit yang lalu."

Bamm.

Kata-kata dari wanita itu terasa seperti palu godam raksasa yang menghantam dada Aldo dengan sangat keras.

Tubuh Aldo membeku dan nafasnya seolah berhenti berhembus sesaat.

"Tolonglah, Kak. Beri aku satu kesempatan terakhir saja untuk ikut masuk ke audisi ini."

"Tidak bisa, Dek. Sistem input data pesertanya sudah dikunci otomatis dari server pusat."

"Aku mohon dengan sangat, Kak. Ini adalah masalah hidup dan mati untuk masa depanku."

Aldo menundukkan kepalanya dalam-dalam dan nyaris bersujud di depan meja registrasi tersebut.

Tiba-tiba seorang pria paruh baya mengenakan kemeja koki berwarna hitam berjalan mendekati meja panitia.

"Ada masalah keributan apa ini, Siska?" tanya pria itu dengan nada suara bariton yang berat dan berwibawa.

"Ini Pak, ada anak remaja yang memaksa mendaftar padahal waktu registrasinya sudah habis."

Pria berkemeja hitam itu menatap Aldo dengan tatapan tajam yang sangat mengintimidasi mental.

"Siapa namamu dan kenapa kamu berpenampilan berantakan seperti gembel begini?"

"Nama saya Aldo Raditya, Pak. Saya datang kemari untuk ikut audisi master chef."

"Kamu pikir kompetisi profesional ini adalah tempat bermain anak kecil yang kesorean pulang ke rumah?"

"Saya mungkin miskin, Pak. Tapi saya punya bakat memasak masakan Nusantara peninggalan almarhum ibu saya."

Pria itu menghentikan langkah kakinya dan menaikkan sebelah alisnya karena merasa tertarik.

"Masakan Nusantara katamu?"

"Benar, Pak. Saya siap membuktikannya di dapur jika Bapak memberikan saya kesempatan masuk ke ruang audisi."

Pria itu melirik jam tangan mewahnya sejenak lalu mengangguk pelan kepada panitia wanita bernama Siska.

"Siska, buka kembali sistem daruratnya dan berikan anak ini formulir pendaftaran yang terakhir."

"Tapi, Chef Arya. Aturannya kan tidak boleh ada peserta yang masuk kalau sudah lewat tenggat waktu."

Aldo membelalakkan matanya lebar-lebar saat mendengar nama yang baru saja disebut oleh panitia wanita itu.

Ternyata pria paruh baya berwajah galak di depannya adalah Chef Arya.

Dia adalah juri utama Master Chef yang sangat terkenal sebagai sosok paling kejam dan perfeksionis.

"Aku yang membuat semua aturan di gedung ini, Siska. Berikan saja formulirnya sekarang."

"B-baik, Chef Arya. Akan saya cetak formulirnya."

Chef Arya menatap Aldo tepat di kornea matanya dan menunjuk wajah Aldo dengan jari telunjuknya.

"Aku berikan kamu satu kesempatan masuk, tapi pastikan masakan pinggiranmu itu tidak membuang waktuku yang berharga."

"Saya jamin saya tidak akan mengecewakan lidah Anda, Chef Arya."

"Kita buktikan saja nanti omongan besarmu itu di dalam ruang audisi, anak muda."

Chef Arya membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan lobi utama dengan gaya arogan yang khas.

Aldo mengambil formulir pendaftaran dari meja panitia dengan kedua tangan yang masih gemetar.

Namun bibirnya perlahan tersenyum menyeringai penuh kemenangan.

Langkah pertamanya untuk membalas dendam pada takdir dan meraih mimpinya kini telah terbuka sangat lebar.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
makasi crazy up nya
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Was pray
Rina mentalnya tempe ketakutan mesti perut mules. kok gak pusing atau yg lain.. masak hobi kok perut mules. 🤭
Was pray
Aldi sering kalah duluan bangun paginya sama Kelvin
Was pray: si Aldo thooor...
total 2 replies
sitanggang
terlalu monoton, hanya seputaran galery memasak saja. gak ada konteks diluar gallery , sprti org yg pinjamkan uang 50k atw kluarganya yg me onton di tv semisalnya🙄
kiyoe: kan Aldo yatim piatu kak
total 2 replies
ceuceu
di tunggu up nya thor
Was pray
nah benar kan? sejelek apapun hasil masakan Kevin tetap lolos, lama lama jadi kurang greget baca novel ini
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
ceuceu
aneh kok bisa jojo bertahan pdhl ga bisa masak ceroboh,knp ga tereleiminasi dari awal thor,masak apa si jojo selama tanding?
ceuceu
baru tau tehnik membuka kluwek
kiyoe: wkwk berarti belum pernah masak pakai kluwek yaa kak 🤭
total 1 replies
ceuceu
danang sotoy arogan
ceuceu
serakah bgt kevin
ceuceu
perjuangan seorang anak demi masa depan
Was pray
beberapa kali Kevin melakukan kesalahan dalam memasak tapi tetap juga lolos... ini ntar memasak bebek betutu yg amburadul juga lolos lagi kah?
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
kiyoe: Terimakasih kak selalu mensupport saya 🙏
total 1 replies
Was pray
Danang and Jojo selevel Danang sok pintar tapi o'on Jojo berpikir lemot tapi mau belajar walau pelan, kalau Dua koki ini digabungkan satu tim bisa mengundang tim damkar.... 🤣🤣🤣
Was pray
kok bisa lolos audisi si Jojo k as lau masak dop aja keasinan? ntar kalau Jojo bukan warung makan bisa bisa pembelinya bisa pada darah tinggi tuh..... 😄😄😄
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
Was pray
ya salah tim biru sendiri yg memilih Danang jadi kapten tim, kalau udah kacau baru menyesal
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!