NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Konfrontasi Di Mobil

​Pintu kaca tebal itu memantul keras setelah didorong secara paksa, menciptakan bunyi benturan yang memekakkan telinga.

​Langkah kaki Sakti bergema berat dan berirama cepat di atas lantai balkon. Pria itu mengabaikan keberadaanku sejenak dan melangkah lurus menuju posisi Hamdan.

​Sakti berhenti tepat pada jarak kurang dari setengah meter di hadapan CEO Apex Dynamics tersebut.

​Tinggi tubuh Sakti dan posturnya yang lebih tegap mendominasi ruang gerak Hamdan sepenuhnya. Kacamata perak Sakti memantulkan kilat lampu jalanan kota, menyembunyikan sorot mata pembunuhnya.

​[Memindai Interaksi Subjek Utama dan Subjek Hamdan.]

​[Peringatan: Probabilitas Konfrontasi Fisik Meningkat Hingga 85%.]

​[Tingkat Adrenalin Subjek Sakti: Kritis.]

​Sakti menundukkan pandangannya. Matanya mengunci selembar kartu akses perak yang tergeletak di atas pagar kaca pembatas balkon.

​Tangan Sakti yang terbalut jas tuksedo mahal bergerak kilat. Ia menyambar kartu akses tersebut dengan kasar.

​Sakti tidak mematahkannya. Ia menatap kartu itu selama sedetik, lalu melemparkannya tepat ke dada Hamdan. Kartu perak itu memantul di jas Hamdan dan jatuh berdenting ke lantai balkon.

​"Kau berani menyentuh apa yang menjadi milikku di dalam wilayahku sendiri, Hamdan?" Suara Sakti mengalun sangat rendah. Nada ancaman yang keluar dari bibirnya terdengar jauh lebih mematikan daripada sebuah teriakan.

​Hamdan tidak melawan secara fisik. Pria berjas abu-abu itu mundur selangkah, mempertahankan senyum karismatiknya yang kini terlihat sedikit menegang.

​"Saya hanya menawarkan sebuah posisi yang lebih layak untuk sebuah bakat yang luar biasa, Sakti," balas Hamdan tenang. "Anda menyia-nyiakan otak jenius Tera di balik meja asisten."

​"Vanguard Corp tidak membutuhkan saran manajemen dari kompetitor kelas dua," desis Sakti kejam.

​Sakti mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan Hamdan dengan aura kekuasaan absolut.

​"Menjauh dari asistenku, Hamdan. Ini adalah peringatan pertama dan terakhirmu."

​Hamdan mengangkat kedua tangannya sebatas dada, memberikan gestur menyerah secara diplomatis. Ia menatapku sekilas dari balik bahu Sakti.

​"Pilihan selalu ada di tangan Nona Tera. Selamat malam, Sakti," ucap Hamdan.

​Pria itu berbalik arah dan melangkah pergi meninggalkan area balkon, menghilang ke dalam keramaian ballroom melalui pintu kaca yang lain.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Sakti segera memutar tubuhnya menghadapku.

​Napas pria itu memburu pelan. Rahangnya mengatup sangat rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sakti meraih pergelangan tanganku. Genggamannya sangat kuat, nyaris menyisakan rasa sakit di kulitku, namun ia memastikan cengkeramannya tidak meremukkan tulangku.

​"Kita pulang. Sekarang," perintah Sakti mutlak.

​Ia menarikku melangkah setengah menyeret. Aku terpaksa memanjangkan langkah kakiku untuk mengimbangi pergerakannya.

​Sistem A.U.R.A langsung mengambil alih keseimbangan kinetikku, mengunci otot betisku agar aku tidak terjatuh saat ditarik berlari kecil menggunakan sepatu hak tinggi setinggi dua belas sentimeter.

​Kami menerobos masuk kembali ke dalam ballroom.

​Sakti sama sekali tidak memedulikan tatapan kebingungan dari para menteri dan miliarder yang melihat kami. Ia mengabaikan panggilan dari anggota dewan komisaris. Tujuan pria itu hanya satu: membawaku keluar dari gedung ini secepat mungkin.

​Kami tiba di koridor area lobi utama. Luis dan Khan sudah menunggu di dekat pintu putar.

​Melihat raut wajah Sakti yang menyerupai dewa pencabut nyawa, Luis segera menelan ludah dan menyingkir dari jalur.

​"Mobilnya sudah siap di depan, Bos," lapor Luis cepat.

​Kami melangkah keluar menuju area penjemputan VIP. Sebuah sedan mewah berwarna hitam legam sudah menyala di sana.

​Khan berjalan mendahului kami, berniat membukakan pintu penumpang bagian belakang. Namun, Sakti mengangkat tangannya yang bebas, menghentikan pergerakan kepala keamanannya itu.

​"Berikan kunci mobilnya padaku, Khan," titah Sakti dingin.

​Khan tertegun sejenak. "Pak Sakti? Protokol keamanan menyatakan—"

​"Berikan kuncinya!" potong Sakti dengan bentakan keras yang membuat beberapa petugas valet terlonjak kaget.

​Khan segera merogoh saku jasnya dan menyerahkan kunci pintar mobil tersebut ke telapak tangan Sakti. Pria bertubuh baja itu menunduk hormat dan mundur teratur.

​Sakti membuka pintu penumpang depan secara kasar. Ia menatapku dengan sorot mata yang menolak segala bentuk bantahan.

​"Masuk," perintahnya.

​Aku menuruti perintahnya. Aku melipat tubuhku dan duduk di kursi berlapis kulit premium itu.

​Sakti membanting pintu penumpang hingga tertutup rapat. Ia berjalan memutari kap mobil dengan langkah cepat, lalu membuka pintu kemudi dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Dentum pintu mobil yang tertutup rapat memutus seketika seluruh riuk keramaian pesta di luar sana.

​Ruang kabin mobil ini memiliki kedap suara tingkat maksimal. Keheningan yang terjadi terasa sangat menekan, seolah oksigen di sekelilingku disedot habis oleh ketegangan pria di sebelahku.

​Sakti menekan pedal gas dalam-dalam.

​Mesin mobil menderu buas. Sedan hitam itu melesat meninggalkan pelataran hotel dengan kecepatan yang membuat punggungku terhempas ke sandaran kursi.

​Sakti mengemudikan mobil membelah jalanan protokol kota secara agresif. Ia menyalip beberapa kendaraan dengan manuver tajam yang mengabaikan keselamatan.

​[Peringatan Sistem: Kecepatan Kendaraan Melebihi Batas Aman.]

​[Status Emosi Subjek Sakti: Tidak Stabil. Terdeteksi Lonjakan Kecemburuan dan Frustrasi.]

​Aku mencengkeram sabuk pengaman di dadaku erat-erat. Mataku menatap profil samping wajah Sakti yang mengeras bak pahatan batu.

​"Bisa Anda pelankan laju mobil ini, Pak Sakti?" suaraku akhirnya memecah keheningan kabin. "Anda membahayakan nyawa kita berdua."

​Sakti sama sekali tidak mengurangi tekanan kakinya pada pedal gas. Ia memutar kemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya mencengkeram tuas transmisi kuat-kuat.

​"Berapa harga yang ditawarkan Hamdan untuk membelimu?" tanya Sakti. Suaranya terdengar sangat tajam, penuh dengan intonasi sarkasme yang menyakitkan.

​Aku menoleh menatapnya dengan dahi berkerut. Emosiku yang sejak tadi kutahan perlahan mulai tersulut.

​"Pak Hamdan tidak berusaha membeli saya," jawabku tegas. "Beliau menawarkan posisi Wakil Presiden Direktur. Posisi eksekutif yang menilai kapasitas otak saya, bukan sekadar menilai kelayakan saya membawakan map dokumen."

​Suara decit ban terdengar nyaring saat Sakti membanting setir menghindari sebuah persimpangan.

​"Posisi eksekutif," ulang Sakti meremehkan. Pria itu tertawa hambar. "Kau pikir Hamdan memberimu tawaran itu murni karena logikamu? Pria itu menatapmu seolah ingin menelanjangi tubuhmu di tengah lantai dansa tadi!"

​Aku melebarkan mataku. Perkataannya melampaui batas profesionalisme.

​"Jaga ucapan Anda, Pak Sakti!" bentakku, menolak untuk direndahkan. "Pak Hamdan bersikap sangat profesional. Ia memberikan solusi atas posisi saya di perusahaan Anda yang selalu menjadi bulan-bulanan hinaan para komisaris."

​Sakti memukul roda kemudi dengan telapak tangannya. Bunyi hantaman itu menggema keras di dalam kabin.

​"Kau adalah asistenku!" seru Sakti penuh dominasi. "Tidak ada satu pun dewan komisaris yang berani menyentuhmu selama kau berdiri di belakangku!"

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Perdebatan sengit pecah di antara aku dan Sakti sepanjang perjalanan pulang.

​Kata-katanya yang arogan membuat kesabaranku habis. Logikaku menuntut penjelasan atas sikapnya yang sepenuhnya irasional ini.

​"Berdiri di belakang Anda sebagai apa?!" tantangku balik. Suaraku naik satu oktaf, memenuhi kabin mobil yang terasa semakin sempit.

​Aku memutar tubuhku menghadapnya.

​"Sebagai asisten? Sebagai karyawan yang harus terus-menerus menelan penghinaan dari wanita seperti Caremel? Anda marah besar hanya karena saya menerima tawaran masa depan yang lebih baik!"

​Sakti menatap lurus ke jalanan. Urat-urat di punggung tangannya menonjol putih.

​[Memindai Fluktuasi Emosi Subjek Utama.]

​[Status Emosi: Ketakutan Kehilangan Mengambil Alih Kemarahan. Indikasi Rasa Sakit Psikologis Terdeteksi.]

​Teks hijau dari sistem A.U.R.A bermunculan tepat di depan wajah Sakti, membongkar seluruh pertahanan mental pria arogan itu. Ia tidak sekadar marah. Pria ini diliputi ketakutan luar biasa akan kehilanganku.

​Namun, aku menolak berhenti. Ia harus mendengarkan realita yang selalu ia hindari.

​"Apa hak Anda melarang saya, Pak Sakti?" cecarku tanpa ampun. "Anda mengendalikan seluruh jadwal saya. Anda menuntut saya selalu ada untuk Anda. Anda mengurung saya dengan keposesifan yang tidak masuk akal!"

​Aku menarik napas panjang, menembakkan argumen terakhir yang paling tajam.

​"Anda melarang saya menerima tawaran pria lain, tetapi Anda sendiri tidak pernah memberikan kepastian apa pun tentang status hubungan kita! Saya bukan barang milik Vanguard Corp yang bisa Anda klaim sesuka hati!"

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Kata-kataku menghantam ruang kabin bagai sebuah ledakan bom.

​Sakti membeku di balik kemudi. Pergerakan tubuhnya terhenti seketika.

​[Peringatan: Penurunan Kecepatan Mendadak.]

​Sakti menginjak pedal rem dengan sangat kuat.

​Ban mobil berdecit nyaring bergesekan dengan aspal jalan raya. Tubuhku terlempar ke depan dan tertahan keras oleh sabuk pengaman.

​Sakti mendadak menepi dan menghentikan laju mobil di jalanan sepi, menatapku penuh gelora kerinduan yang mendalam.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!