NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Ugh.

"Tahan rasa sakitnya, itu reaksi normal dari penyesuaian dimensi di dalam tubuhmu," ucap Clara memperhatikan dengan saksama.

Layar sistem kembali memunculkan deretan kalimat baru yang sangat ditunggu-tunggu oleh Bayu.

[Sinkronisasi selesai.]

[Kapasitas Energi Waktu Maksimal meningkat dari 10 menjadi 25 Poin.]

[Energi Waktu Saat Ini terisi penuh: 25/25]

Bayu mengatur napasnya yang memburu dan menatap kedua tangannya yang kini terasa jauh lebih ringan dan bertenaga.

"Energiku melonjak lebih dari dua kali lipat, dan semuanya terisi penuh sekarang," gumam Bayu tersenyum sangat puas.

Anya yang sedari tadi hanya diam menonton akhirnya ikut menghela napas lega melihat keadaan Bayu.

"Baguslah, setidaknya sekarang kamu punya kesempatan untuk kabur jika kita bertemu dengan pembunuh itu lagi," kata Anya menenangkan diri.

"Bukan cuma kabur, Nona Kacamata, aku bahkan yakin bisa mematahkan kedua kakinya sekarang," balas Bayu sangat percaya diri.

Clara melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Bayu dengan tatapan meremehkan.

"Jangan sombong dulu, peningkatan energi itu cuma memperpanjang napasmu, bukan jaminan kamu bisa mengalahkan relik spasial," peringat Clara mendinginkan suasana.

"Ayo kita keluar dari tempat kotor ini sebelum geng Cobra menyadari buku mereka beredar di pasar gelap."

Mereka bertiga berbalik arah dan berjalan cepat menuju tangga keluar stasiun bawah tanah tersebut.

Suasana pasar gelap masih sama bisingnya seperti saat mereka baru datang beberapa menit yang lalu.

Tap tap tap.

Langkah kaki mereka bergema menaiki tangga beton yang lembab dan gelap menuju ke arah permukaan.

Bayu mendorong pintu besi pembatas gang dan membiarkan udara malam kota kembali menerpa wajahnya.

"Hah, akhirnya bisa bernapas lega lagi tanpa mencium bau bangkai," ucap Bayu melangkah keluar ke jalanan sepi.

Dor.

Sebuah suara tembakan nyaring tiba-tiba memecah kesunyian malam dari arah atap bangunan di seberang gang.

Prang.

Tembakan itu menghancurkan lampu jalan satu-satunya yang menerangi gang sempit tersebut.

Keadaan langsung berubah menjadi gelap gulita hanya diterangi oleh pantulan cahaya bulan yang remang-remang.

"Tiarap semuanya." teriak Bayu menarik tubuh Anya dan Clara untuk berlindung di balik bak sampah besi.

Trang.

Trang.

Berbagai macam proyektil senjata tajam mulai menghujani posisi mereka dari berbagai arah di atas tembok gang.

"Sialan, kita dijebak." umpat Clara sambil mencabut sebuah pistol kecil dari balik jaket kulitnya.

"Orang tua bangka di pasar tadi pasti telah diam-diam menyalakan sinyal pelacak saat menerima buku geng Cobra."

Bayu melongokkan kepalanya sedikit dan melihat belasan bayangan hitam mulai melompat turun dari atas tembok mengepung mereka.

"Serahkan kepala pemuda itu dan kalian berdua boleh pergi hidup-hidup dari sini," teriak salah satu pria berbadan besar dengan suara berat.

Bayu mengenali suara itu dengan sangat baik, itu adalah suara Leo, bos preman yang pernah ia hajar sebelumnya.

"Ternyata anjing peliharaan Kobra Mandiri masih punya nyali untuk mengejarku sampai ke sini," balas Bayu berteriak menantang dari balik tempat sampah.

Leo meludah ke tanah dan mencabut sebilah golok panjang yang berkilat tertimpa cahaya bulan.

"Malam ini tidak akan ada trik lari cepat yang bisa menolongmu, bocah," ancam Leo memberi isyarat maju pada anak buahnya.

Belasan preman bersenjata tajam mulai berjalan perlahan mempersempit ruang gerak bayu dan kedua gadis di belakangnya.

"Energi waktuku ada dua puluh lima poin sekarang, ini saatnya mencoba batasan maksimal kekuatanku," batin Bayu tersenyum tipis.

Bayu berdiri tegap dari tempat persembunyiannya dan menatap lurus ke arah gerombolan preman yang siap menerkam.

"Anya, Clara, tutup telinga dan mata kalian sekarang juga," perintah Bayu dengan nada sangat dingin.

Clara menatap punggung Bayu dengan pandangan tidak mengerti namun refleks tangannya tetap menutupi telinga.

"Batu Waktu, berikan aku Jeda Waktu sepuluh detik penuh." perintah Bayu memanggil sistemnya.

Wusss.

Dunia kembali berubah menjadi monokrom kelabu yang sunyi senyap, menghentikan laju belasan preman yang sedang berlari di udara.

[Jeda Waktu diaktifkan.]

[Konsumsi energi: 1 poin per detik. Sisa Energi: 24/25]

Bayu melangkah maju tanpa merasakan beban entropi yang biasanya langsung mencekik paru-parunya.

"Peningkatan kapasitas wadah energi ternyata juga mengurangi efek samping tekanan ruang dan waktu," analisis Bayu merasa takjub.

Ia berjalan santai mendekati Leo yang wajahnya membeku dengan ekspresi marah yang sangat konyol.

Buk. Buk. Buk.

Bayu melayangkan pukulan bertubi-tubi tepat ke rahang, perut, dan ulu hati bos preman tersebut dengan kekuatan penuh.

Ia kemudian bergerak menyamping dan melucuti golok dari tangan Leo, lalu menggunakannya untuk memukul tengkuk tiga preman lain di dekatnya.

[Sisa Waktu Jeda: 5 detik.]

[Sisa Energi: 20/25]

Bayu terus bergerak cepat layaknya hantu di antara patung-patung manusia yang membeku tak berdaya.

Setiap ayunan tangannya diarahkan pada titik kelemahan fatal musuh agar mereka langsung pingsan dalam satu kali serangan.

Brak.

Krak.

Suara tulang retak tidak terdengar di dimensi waktu yang terhenti, namun Bayu bisa merasakan efek kerusakannya di tangannya.

[Sisa Waktu Jeda: 1 detik.]

[Sisa Energi: 16/25]

Bayu melompat mundur kembali ke posisinya semula di depan tong sampah, tepat di saat waktu jedanya habis.

"Lanjutkan."

Wusss.

Warna dunia dan suara hiruk pikuk malam kembali menyala seketika itu juga.

Gubrak.

Bruk.

Akh.

Belasan preman berbadan besar itu langsung bergelimpangan jatuh ke tanah secara bersamaan tanpa mengerti apa yang baru saja terjadi.

Leo muntah darah dan langsung tersungkur pingsan dengan rahang yang bengkak parah.

Hanya tersisa erangan kesakitan yang menggema memecah kesunyian gang sempit tersebut.

Clara menurunkan tangannya dari telinga dan menatap pemandangan mengerikan di depannya dengan mulut menganga lebar.

"Apa yang... kapan kamu bergerak?" tanya Clara terbata-bata kehilangan kata-kata sarkasnya.

Anya membetulkan letak kacamatanya dengan gaya santai seolah sudah terbiasa melihat keajaiban tidak masuk akal ini.

"Sudah kubilang, jangan pernah meremehkan cowok udik ini," balas Anya tersenyum bangga pada Clara.

Bayu menepuk-nepuk debu dari telapak tangannya dan berbalik menatap kedua gadis tersebut.

"Sekarang, mari kita cari tempat tidur yang layak sebelum bos besar mereka mengirim monster ruang itu lagi kemari," ajak Bayu santai melangkah pergi.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!