Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Matahari sore bersinar hangat menyinari halaman belakang rumah sederhana milik Yang Zhen. Angin sepoi-sepoi bertiup pelan membawa aroma daun teh yang sedang diseduh di atas meja kayu.
Yang Zhen berbaring dengan sangat nyaman di atas kursi goyang kesayangannya. Matanya terpejam santai menikmati kedamaian yang akhirnya kembali ke Kota Awan Merah.
Di sudut halaman, Wang Hao sedang sibuk menghitung setumpuk gulungan perkamen dengan wajah berkerut serius. Pemuda gemuk itu menggunakan sempoa kayu tua yang terus berbunyi nyaring.
Trak trak trak.
"Bos, berita penyitaan aset Keluarga Zhao benar-benar membuat seluruh kota gempar hari ini." lapor Wang Hao tanpa menoleh dari sempoanya.
"Mereka kehilangan tiga puluh toko obat, lima pasar budak, dan dua area pertambangan besar." lanjut Wang Hao dengan nada penuh semangat.
Yang Zhen hanya menggumam pelan tanpa membuka matanya.
"Itu adalah hasil yang wajar untuk orang bodoh yang berani menantangku di siang bolong." jawab Yang Zhen santai.
"Tapi yang membuatku bingung, kenapa kau menolak tawaran Kepala Akademi untuk tinggal di asrama khusus VVIP?" tanya Wang Hao keheranan.
"Tinggal di akademi hanya akan membuatku diawasi oleh banyak mata yang tidak berguna." jelas Yang Zhen sambil menguap lebar. "Rumah gubuk ini jauh lebih nyaman dan bebas."
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu depan rumah menghentikan obrolan santai kedua remaja tersebut. Wang Hao meletakkan sempoanya dan berlari kecil untuk membukakan pintu.
Cklek.
Pintu kayu itu terbuka menampakkan sosok seorang gadis yang membuat rahang Wang Hao nyaris jatuh ke tanah. Su Lin berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya.
Gadis jenius itu tidak mengenakan pakaian tempur kulit ataupun seragam akademi yang kaku. Ia mengenakan gaun sutra panjang berwarna biru muda yang sangat anggun dan pas di tubuh rampingnya.
Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai indah dengan hiasan jepit rambut perak berbentuk bunga teratai.
"Apakah Yang Zhen ada di dalam?" tanya Su Lin dengan nada suara yang berusaha ditegarkan.
Wajah gadis itu terlihat sedikit merona merah karena ia tidak terbiasa memakai gaun feminin seperti ini.
"A-ada, dia sedang bersantai di halaman belakang." gagap Wang Hao sambil mempersilakan Su Lin masuk.
Su Lin melangkah masuk dan berjalan lurus menuju halaman belakang. Ia menemukan Yang Zhen yang masih menutup matanya sambil mengayunkan kursi goyang secara perlahan.
"Bangunlah, pemalas." tegur Su Lin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Yang Zhen membuka sebelah matanya dan tatapannya langsung terpaku pada penampilan memukau gadis tersebut. Senyum rubah yang sangat menyebalkan seketika terbentuk di wajahnya.
"Wah, wah, lihat siapa yang datang berkunjung." goda Yang Zhen sambil bangkit dari kursi goyangnya.
"Berpakaian secantik ini dan datang ke rumahku di sore hari, apakah kau bersiap untuk melamarku, Nona Su?" lanjut Yang Zhen dengan tatapan menggoda.
Wajah Su Lin yang tadinya hanya merona kini berubah menjadi semerah tomat matang.
"Tutup mulut usilmu itu atau aku akan membekukan lidahmu sekarang juga!" ancam Su Lin sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Hahaha, kau selalu terlihat paling manis saat sedang marah." tawa Yang Zhen meledak ringan.
"Ayahku mengundangmu untuk hadir di jamuan makan malam rahasia di Paviliun Su malam ini." ucap Su Lin cepat untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kepala Akademi dan Tuan Muda Chen Fei juga akan hadir di sana." tambah gadis itu menjelaskan siapa saja tamu yang datang.
Yang Zhen mengelus dagunya pelan, otaknya langsung memproses maksud dari undangan mendadak ini.
"Jamuan makan malam untuk membagi kue harta rampasan perang rupanya." gumam Yang Zhen dengan mata berbinar licik.
"Ayahku menyuruhku untuk menjemputmu secara pribadi agar tidak ada mata-mata yang curiga." ucap Su Lin lagi.
"Pelayanan yang sangat memuaskan." Yang Zhen menepuk pundak Wang Hao yang masih berdiri mematung.
"Hao, jaga rumah baik-baik, aku akan pergi mencari tambang emas baru untuk kita malam ini." perintah Yang Zhen.
Tanpa mengganti pakaian sederhananya, Yang Zhen langsung berjalan mengikuti Su Lin keluar dari rumah. Mereka berdua menaiki sebuah kereta kuda mewah berlogo Keluarga Su yang sudah menunggu di ujung jalan.
Sepanjang perjalanan, Su Lin lebih banyak diam sambil menatap ke luar jendela kereta. Ia masih merasa canggung duduk berdua dengan pemuda yang telah mengubah seluruh hidupnya ini.
"Kau tidak perlu gugup begitu, aku tidak akan memakanmu di dalam kereta." goda Yang Zhen memecah keheningan.
"Aku tidak gugup, aku hanya sedang memikirkan nasib Keluarga Zhao." bantah Su Lin dengan cepat.
"Zhao Tian sudah dipenjara di ruang bawah tanah militer dengan Dantian yang hancur." lanjut Su Lin memberikan informasi.
"Dia akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai orang cacat yang terus menyesali kebodohannya." jawab Yang Zhen tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Kereta kuda itu akhirnya berhenti di depan sebuah paviliun mewah yang terletak di tengah danau pribadi Keluarga Su. Tempat ini dijaga ketat oleh puluhan pengawal elit yang berdiri tanpa ekspresi.
Yang Zhen dan Su Lin turun dari kereta dan berjalan melintasi jembatan kayu menuju paviliun tersebut. Di dalam ruangan bundar yang sangat luas itu, tiga tokoh besar Kota Awan Merah sudah duduk mengelilingi meja bundar.
Su Tian, Master Feng, dan Chen Fei serentak berdiri saat melihat Yang Zhen melangkah masuk.
"Pahlawan utama kita akhirnya tiba." sapa Su Tian dengan tawa ramah yang menggema.
"Silakan duduk di kursi utama, Tuan Muda Yang." sambut Master Feng sambil menunjuk kursi kosong yang paling mewah di tengah.
Yang Zhen tidak berbasa-basi menolak tawaran itu. Ia langsung duduk di kursi utama tersebut dengan gaya santai layaknya seorang kaisar yang sedang mengunjungi menterinya.
Su Lin mengambil tempat duduk di sebelah ayahnya, diam-diam mengamati dinamika kekuasaan yang sangat aneh ini. Tiga orang paling berkuasa di kota justru tunduk pada seorang anak berusia lima belas tahun.
Pelayan segera menyajikan berbagai macam hidangan mewah. Daging monster panggang kelas satu dan arak berusia ratusan tahun tersaji rapi di atas meja.
"Mari kita bersulang untuk merayakan jatuhnya tirani Keluarga Zhao." ajak Chen Fei sambil mengangkat cawan araknya.
Tring.
Keempat cawan beradu dengan bunyi nyaring yang menandakan peresmian aliansi bayangan ini. Yang Zhen meminum araknya dalam satu tegukan dan langsung meletakkan cawannya dengan keras.
"Arak ini lumayan, tapi mari kita singkirkan basa-basi ini." ucap Yang Zhen memotong suasana santai.
"Aku tahu kalian tidak mengundangku ke sini hanya untuk makan daging dan minum arak." lanjut Yang Zhen menatap ketiga pria dewasa itu secara bergantian.