Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Incident
Tubuh Aera terkulai tak bergerak. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan itu, begitu kontras dengan keributan sebelumnya. Napasnya begitu lemah, hampir tak terdengar. Reno berdiri mematung. Amarah yang tadi menguasainya perlahan mereda, digantikan rasa asing yang menjalar di dadanya. Pandangannya jatuh pada tubuh putrinya yang terbaring tak berdaya.
"Aera..." gumamnya lirih, untuk pertama kalinya menyebut nama itu tanpa amarah.
Tak ada jawaban.
Ada sesuatu yang bergetar di hatinya. Tangannya yang tadi mengepal perlahan terbuka. Ia melangkah mendekat, berlutut di samping Aera. Wajah gadis itu pucat, bulu matanya basah oleh air mata yang belum sempat kering.
"Bangun..." ucapnya pelan, kali ini nada suaranya berubah. "Jangan pura-pura lagi."
Namun Aera tetap diam.
Untuk sesaat, Reno panik. Napasnya tak lagi teratur. Ia mengguncang bahu Aera perlahan, lalu semakin panik ketika gadis itu tak bereaksi sama sekali.
"Kenapa kamu begini..." suaranya bergetar, nyaris seperti bisikan penuh penyesalan—meski ia sendiri belum siap mengakuinya.
Di sudut ruangan, sosok yang sejak tadi mengamati kejadian itu menyeringai puas. Matanya berbinar melihat keadaan Aera. Ia berbalik pergi dengan langkah ringan, seolah tak terjadi apa-apa.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa terdengar. Salah satu pelayan rumah masuk dengan wajah pucat.
"T-tuan... nona Aera—"
Reno menoleh cepat. "Panggil dokter. Sekarang."
Nada perintah itu tegas, tapi ada kepanikan yang tak bisa ia sembunyikan.
Beberapa saat kemudian, Aera dibawa ke dalam kamar. Tubuh kecil itu tampak rapuh, jauh berbeda dari Aera yang dulu selalu tersenyum ceria di pelukan ayahnya.
Reno berdiri sendiri di ruangan yang kini terasa dingin dan kosong. Pandangannya jatuh pada foto-foto yang masih berserakan di lantai. Perlahan ia memungut satu lembar.
Tangannya bergetar.
"Kalau ini salah..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, "lalu apa yang sudah aku lakukan pada anakku sendiri?"
Namun pertanyaan itu tenggelam dalam diam. Di saat yang sama, jauh di dalam hatinya, benih penyesalan mulai tumbuh—terlambat, dan menyakitkan.
Sementara itu, Aera terbaring tak sadarkan diri, tanpa tahu bahwa malam ini akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
...----------------...
"Aaaaahhhhh.... " Teriak Aera.
Aera mengalami mimpi buruk itu lagi, mimpi buruk yang selalu menganggu ketenangan nya.
Mendengar Aera yang berteriak dengan penuh bercucuran dan wajahnya yang memucat membuat Reno dan Belva segera memasuki kamarnya.
"Akhirnya kamu sadar juga." ucap Belva sinis.
Aera hanya melirik Reno dan Belva sekilas, "Ngapain kalian kesini?" tanya Aera sambil menetralkan nafasnya.
Aera menarik napas panjang dan—" KELUAR..." usirnya.
"Heleh, yang seharusnya keluar itu kamu jalang kecil bukan saya." ucap Belva sambil tersenyum licik.
"Ikut saya!" ucap Reno sambil menarik tangan Aera dengan kasar. Ia baru tersadar dari pingsannya harus di perlakukan kasar lagi oleh Reno ayah kandungnya.
"Apa lagi ini tuhan." keluh Aera di dalam hatinya.
"Ayah..." bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh malam. "Kenapa sejauh ini ayah membenciku..."
Tak ada jawaban. Hanya sunyi.
Di dalam rumah, Reno berdiri mematung. Dadanya naik turun tak beraturan. Tatapannya kosong, menatap pintu yang baru saja dilewati putrinya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya, perasaan asing yang ia paksa untuk ia abaikan.
Belva mendekat, menyentuh lengannya dengan senyum tipis.
"Sudahlah, Mas. Anak seperti itu memang tidak pantas ada di rumah ini."
Reno mengangguk pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya... ini yang terbaik. Mulai sekarang kamu pergi dari sini!" usir Reno kepada Aera anak kandungnya, Aera yang mendengar ucapan Reno seketika langsung membulatkan matanya kaget.
"Apaan ini kenapa aku yang diusir dari rumah?" Gumamnya dalam hati.
"A-ayah, ayah mengusir Aera? " tanya Aera memastikan bahwa ucapan ayahnya itu hanya omong kosong.
"Saya tidak mau banyak drama, mending sekarang kamu pergi." ucap Reno.
"Jangan sampai kesabaran saya menurun Aera!" ucapnya lagi tanpa rasa kasian.
Aera tidak mendengar kan ucapan ayahnya dia hanya diam di tempat sambil menangis tersedu-sedu bagaimana mungkin dirinya di usir dari rumah, kalau dia di usir mau lari kemana? Sedangkan rumah nya hanya rumah ini satu-satunya. Aera tidak punya tempat untuk dia singgahi.
Aera hanya menggelengkan kepalanya. "GAK... enggak mau ayah, Aera enggak mau pergi dari rumah ini." ucap Aera sambil menangis tersedu-sedu memohon kepada sang Ayah agar tidak mengusir nya.
"Ayah... hiks... hiks..." suara Aera gemetar hebat. Ia berlutut, menunduk dalam-dalam di bawah kaki ayahnya.
"Dengerin penjelasan Aera sekali aja, Yah... Aera mohon..."
Namun Reno sama sekali tidak tersentuh. Tatapannya dingin, penuh amarah yang membutakan. Ia menepis tangan Aera dengan kasar.
"Lepas!" tekan Reno keras. "Saya bilang kamu pergi dari rumah ini!"
"A-ayah... Aera—" Aera mencoba bangkit, mencoba meraih secuil harapan.
"PERGI!" bentak Reno tanpa memberi kesempatan sedikitpun.
Ia menyeret Aera ke arah pintu. Tangisan Aera pecah, memanggil-manggil ayahnya dengan suara penuh keputusasaan.
"AYAH... hiks... hiks... Aera anak ayah..."
Tubuh Aera terhempas jatuh. Rasa perih menyebar, tapi luka di hatinya jauh lebih sakit.
"Bawa baju-baju kamu," ucap Reno dingin, tanpa menoleh. "Dan sekarang pergi."
Aera terdiam. Dunia seakan berhenti berputar. Dengan tubuh gemetar, ia perlahan bangkit. Air matanya terus mengalir, jatuh satu per satu ke lantai rumah yang dulu begitu hangat baginya.
Ia menatap Reno untuk terakhir kalinya—ayah yang dulu memeluknya setiap kali ia menangis, kini berdiri seperti orang asing.
"Kalau hari ini ayah memilih percaya pada fitnah," ucap Aera lirih namun tegas, "suatu hari nanti ayah akan tahu kebenaran itu... dan saat itu, Aera tidak akan ada lagi di sini."
Aera lalu berbalik. Setiap langkahnya terasa berat, tapi ia tetap melangkah. Pintu itu tertutup perlahan di belakangnya, menandai satu hal yang tak bisa diulang lagi.
Malam itu, Aera kehilangan rumahnya. Dan Reno—tanpa ia sadari—kehilangan anaknya sendiri.
Belva yang melihat perdebatan antara anak dan ayah kandung hanya tersenyum senang, Senang akhirnya rencana nya kali ini berhasil.
"Akhirnya anak sialan itu pergi dari rumah. " ucap Belva sambil tersenyum licik.
...----------------...
LEO...LEO...LEO...!
Di balik helm full face yang gelap, tersimpan senyuman sinis seseorang pemuda tampan yang bernama Leo. Ia mendonasikan jok motor sportnya yang hitam mengilap, dengan sikap yang penuh keangkuhan. Sepasang mata tajamnya menembus kehampaan di depan, tidak sedikitpun terganggu oleh sorakan penuh semangat dari kerumunan yang meneriakkan namanya.
Ia, dia adalah Leonar Andromedra Sky, Pemimpin geng motor Alaxtar. Dan Alfino Jenar Jirawavega, Pemimpin geng motor Black Tigger. Yang notabene nya adalah musuh geng Alaxtar.
Ketika bendera balapan hitam putih dikibarkan, tangannya yang kuat meremas gas dengan kejam. Motor tersebut melesat membobol keheningan malam dengan raungan kerasnya.
"Are you ready..."
"READY..."
"Three...Two...One...!"
Dalam hitungan mundur mereka telah mengendarai motornya masing-masing, menyelusuri jalan ibu kota yang sepi, tentunya mereka saling salip menyalip, motor Leo berada di urutan pertama sedangkan motor Alfino berada di belakangnya.
Tak selang beberapa waktu Alfino pun menyusul ke depan menyalip motor Leo, Leo yang sedang fokus ke jalan seketika terkejut, perasaan dia sudah memacu motornya dengan kecepatan penuh, tidak mau mengalah akhirnya Leo pun menancapkan gas nya lagi.
Di saat Leo Sedang memacu gas nya tiba-tiba ada sosok orang yang sedang berdiri di depannya dan tanpa ia sadar Leo pun menabrak seseorang tersebut pas di depan motor sport hitam miliknya.
Alhasil Leo pun terkejut, dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya itu. Dengan kesadaran penuh Leo baru tersadar kalau dia sudah menabrak seseorang tanpa di tau siapa seseorang tersebut.
Citttt!!!
Leo berhenti mendadak dan membuka helm full face miliknya.
Leo memutarkan kembali sepeda motornya itu dan berhenti berhadapan dengan seseorang yang telah ia tabrak. Kaget, ia pun kaget karena yang ia tabrak adalah sosok gadis yang sangat acak-acakan Mata sembab, pipi merah dan jangan lupa juga ada bekas memar di setiap wajah dan tubuhnya itu.
Miris!!! Itu lah yang ada di pikiran Leo saat ini.
"AKHHH... KAKI GUE! " Aera merasakan sakit pada lututnya. "KAKI GUE SAKIT, WOY! LO HARUS TANGGUNG JAWAB!"
Leo yang mendengar teriakan gadis tersebut langsung buru-buru membantu mengulurkan tangannya.
"Lo nggak kenapa-kenapa?" Tanya leo kepada gadis itu. Dengan hati-hati ia pun membantu gadis tersebut untuk berdiri.
Deggg...
Aera tersentak saat menyadari siapa yang menabraknya. Seorang laki-laki berdiri di hadapannya—tinggi, rapi, dan... sangat tampan. Hidungnya mancung, alisnya tebal, rahangnya tegas. Bahkan senyum tipisnya terlihat menyebalkan tapi entah kenapa bikin jantung Aera berdetak lebih cepat.
Tanpa sadar, Aera melamun. "Ini orang kok bisa ganteng banget, sih... Posturnya juga kelihatan atletis..."
Aera langsung menggeleng cepat, pipinya memanas.
"Astaga, Aera! Lagi kenapa sih otak gue. Fokus! Ini bukan waktunya mikir aneh-aneh!"
Ia bahkan lupa kalau tangannya masih berada dalam genggaman Leo.
"K-hemmm," Leo berdeham kecil sambil menaikkan satu alis. "Tangan gue mau dianggurin sampai kapan?"
Aera tersadar seketika. "Hah?!" Ia refleks menarik tangannya.
"TUH KAN KAKI GUE BERDARAH! GIMANA KALAU KAKI GUE PATAH, TERUS DIAMPUTASI?" Saut Aera, lagi tanpa hentinya terus saja memarahi laki-laki yang ada di depannya itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Leo tegas.
Ia langsung membantu Aera berdiri. Tangannya cekatan menopang bahu Aera sampai gadis itu bisa berdiri dengan cukup seimbang. Namun setelah itu—tanpa banyak pikir—Leo justru langsung melangkah ke sepeda motor sport hitamnya dan menaikinya begitu saja.
Aera terpaku.
Matanya membelalak sempurna. "Loh?"
Leo sudah duduk manis di atas motor, helm terpasang rapi, mesin menyala halus. Ia menoleh ke belakang.
"Ayo, buruan naik," katanya santai.
Aera menatap Leo, lalu menatap motornya, lalu kembali menatap kakinya sendiri yang masih terasa nyeri.
"Oh, shit! Ini orang kenapa sih? Kaki gue lagi nggak beres, bukannya dibantu malah disuruh naik sendiri?"
Aera mendengus pelan sambil menggerutu dalam hati. "Ganteng-ganteng, tapi nggak peka."
Ia mencoba melangkah satu kali—langsung meringis kecil. Leo yang akhirnya menyadari ekspresi Aera menoleh lagi.
"Kenapa?"
Aera menatapnya datar. "Kamu kira aku ninja, bisa lompat naik motor tanpa kaki?"
Leo terdiam sepersekian detik. "Oh."
Hanya satu kata itu. Lalu ia turun lagi dari motor dengan cepat. "Maaf. Refleks."
Aera mendengus. "Kelihatan."
Leo menahan senyum, lalu berdiri di samping Aera. Dengan hati-hati, ia memegang lengannya.
"Pegangan. Pelan-pelan aja."
Untuk pertama kalinya sejak malam itu, Aera merasa diperlakukan seperti manusia lagi, bukan beban.
Saat akhirnya Aera berhasil duduk di jok belakang, Leo menyerahkan helm cadangan padanya.
"Pakai ini," ucapnya. "Pegangan yang kuat, tapi jangan maksa kalau sakit."
Aera menerima helm itu. "Thanks..." ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.
Leo menoleh sedikit. "Sama-sama. Dan... sorry ya, tadi agak bego."
Aera terkejut, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. Di bawah lampu jalan yang redup, motor itu melaju pelan menuju rumah sakit—membawa seorang gadis yang sedang hancur, dan seorang laki-laki yang tanpa sadar mulai menjadi tempat aman.