NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35. Kaisar yang Belajar Berdebar

Di tahun kedua puluh tiga kehidupannya, ketika Kaisar Tang Ming sudah terbiasa membaca tumpukan laporan setinggi lutut sebelum matahari terbit dan sudah terbiasa menandatangani dekrit tentang pajak garam, perbaikan bendungan, dan pengiriman obat ke perbatasan tanpa tangannya gemetar, dia tidak pernah menyangka bahwa satu masalah yang akan membuat jantungnya berdebar lebih kencang daripada perang, lebih kacau daripada sidang dewan yang ribut, dan lebih sulit daripada menghafal seratus nama marga di Chang'an, ternyata hanyalah seorang gadis cantik yang datang ke istana dengan keranjang jamu di punggung dan dengan rambut yang diikat sembarangan, gadis yang sama sekali tidak tahu bahwa di depannya berdiri seorang Kaisar, dan yang sama sekali tidak peduli.

Gadis itu bernama Su Lan, berusia sembilan belas tahun, bukan dari keluarga bangsawan, bukan dari Klan Tang, bukan dari keluarga pejabat, melainkan anak dari seorang tabib desa yang dulu pernah ditolong oleh "Proyek Tangan Kiri" dan yang sekarang dikirim ke Chang'an oleh ayahnya untuk belajar di Akademi Bunga Plum di bawah bimbingan Permaisuri Xinyue, karena dia punya bakat langka, yaitu bisa mencium bau racun hanya dari jarak tiga langkah, sebuah kemampuan yang bahkan membuat Tang Hyun mengangkat alis dan berkata, "Anak ini punya hidung lebih tajam dari anjing pemburu Klan."

Pertemuan pertama terjadi bukan di taman indah atau di aula istana, melainkan di dapur istana yang berantakan pada jam lima pagi, ketika Tang Ming yang tidak bisa tidur karena mimpi buruk tentang bendungan jebol, turun diam-diam ke dapur untuk mencari air jahe, dan di sana dia melihat seorang gadis dengan baju lusuh sedang berjongkok di depan tungku, menumbuk jahe dengan alu yang terlalu besar untuk tangannya, dengan dahi berkeringat, dengan pipi merah karena panas api, dan dengan mulut yang menggerutu, "Jahe keras sekali, ayahku bohong bilang jadi tabib itu mudah, padahal ini lebih sulit dari memikul beras."

Tang Ming yang biasanya selalu disambut dengan "Yang Mulia Kaisar, semoga sehat selalu" selama dua puluh tiga tahun, hanya berdiri di ambang pintu dan menatap, karena gadis itu bahkan tidak menoleh, dan ketika akhirnya dia menoleh dan melihat seorang pemuda tinggi dengan jubah tidur yang berantakan, dia hanya berkata, "Eh, kau siapa? Kau juga tidak bisa tidur ya? Sini bantu aku tumbuk, tanganku pegal."

Tanpa tahu siapa dia, Tang Ming yang selama ini hanya memerintah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya menumbuk jahe, dan dia menumbuk terlalu keras sampai jahe itu muncrat ke wajahnya sendiri, membuat Su Lan tertawa terbahak-bahak, tawa yang tidak ditahan, tawa yang jujur, tawa yang tidak pernah dia dengar di istana karena semua orang di istana tertawa dengan sopan.

"Kau lemah sekali," kata Su Lan sambil mengelap wajah Tang Ming dengan sapu tangannya sendiri, "sini, aku ajari. Pegang begini."

Dan begitu, pada jam lima pagi, Kaisar dari seluruh negeri belajar cara menumbuk jahe dari seorang gadis desa.

Pertemuan kedua terjadi di Akademi Bunga Plum, ketika Tang Ming datang untuk memeriksa "Kelas Luka yang Tidak Terlihat" milik ibunya, dan dia melihat Su Lan lagi, kali ini sedang duduk di "Ruangan Karpet" bersama seorang anak kecil yang menangis karena takut disuntik, dan Su Lan tidak membujuk dengan kata-kata manis, dia hanya mengeluarkan satu boneka jerami kecil dari sakunya, "Lihat, boneka ini juga takut disuntik. Tapi dia berani karena setelah disuntik dia boleh makan permen. Kau mau jadi seperti boneka pemberani?"

Anak itu mengangguk, dan Tang Ming yang melihat dari balik pintu tiba-tiba merasa dadanya sesak, bukan karena sakit, melainkan karena dia belum pernah melihat seseorang menenangkan orang lain dengan cara sebodoh dan seindah itu.

Setelah kelas, Tang Ming mencoba mendekati Su Lan, dengan membawa gulungan obat, "Kau... kau butuh bantuan?"

Su Lan menatap gulungan itu, lalu menatap wajah Tang Ming, "Oh, kau pemuda penumbuk jahe kemarin! Kau kerja di istana ya? Kau pasti pelayan dapur!"

Tang Ming yang ingin berkata "Aku adalah Kaisar Tang Ming, penguasa Chang'an, pemimpin Klan Tang" tiba-tiba tidak bisa berkata, karena ada sesuatu di mata gadis itu yang membuatnya takut jika dia berkata jujur, maka tawa itu akan hilang dan digantikan dengan tunduk, dan dia tidak mau itu, jadi dia hanya mengangguk, "Ya, aku... aku pelayan dapur."

"Wah, pelayan dapur yang rajin ikut kelas Permaisuri, bagus," kata Su Lan sambil menepuk bahu Tang Ming, "aku Su Lan, tabib magang, salam kenal, Pelayan Dapur."

Sejak hari itu, setiap hari jam lima pagi, Tang Ming turun ke dapur, bukan untuk air jahe, melainkan untuk menunggu Su Lan yang selalu datang lebih awal untuk membuat ramuan pagi, dan mereka menumbuk jahe bersama, dan Su Lan bercerita tentang desanya, tentang ayahnya yang kehilangan dua jari tetapi sekarang bisa bekerja lagi karena "Alat Tangan Kiri", tentang mimpinya ingin membuat kebun herbal di atap istana agar rakyat miskin bisa ambil gratis, dan Tang Ming mendengarkan, dengan cara yang tidak pernah dia lakukan di sidang dewan, yaitu mendengarkan dengan seluruh hati.

Tang Hyun dan Xinyue yang melihat perubahan pada putra sulung mereka, yaitu bahwa dia sekarang bangun lebih pagi, tersenyum lebih sering, dan kadang melamun di tengah sidang sambil memegang cangkir teh terlalu erat, langsung tahu ada sesuatu, dan Xinyue yang pernah menjadi korban "Gerbang Asmara" hanya berkata pada suaminya, "Itu bukan ilmu iblis, Hyun. Itu jatuh cinta."

"Bagaimana kau tahu?" tanya Tang Hyun.

"Karena dia bodoh seperti kau dulu waktu mengejarku," jawab Xinyue sambil tersenyum.

Pada minggu ketiga, masalah datang, karena seorang menteri tua bernama Menteri Wei yang ingin menjodohkan putrinya dengan Tang Ming, melihat Kaisar sering di dapur dengan gadis desa dan langsung melapor ke dewan, "Yang Mulia Kaisar bergaul dengan gadis tidak jelas, ini merusak wibawa Klan Tang, Kaisar harus menikah dengan keluarga bangsawan, bukan dengan penumbuk jamu!"

Tang Ming yang biasanya sabar di sidang, hari itu berdiri dan berkata dengan suara yang dingin seperti es, "Klan Tang pernah hampir punah karena kami hanya menikah dengan yang dianggap sederajat, dan kami selamat karena kami membuka pintu untuk orang biasa, seperti ibuku yang mengajarkan 'Kelas Luka yang Tidak Terlihat', seperti ayahku yang membuat 'Alat Tangan Kiri', dan jika kalian menolak gadis yang bisa mencium racun dari tiga langkah hanya karena dia miskin, maka kalian menolak masa depan."

Dewan terdiam, dan Tang Hyun yang duduk di kursi kehormatan hanya mengangguk kecil, sebuah anggukan yang berarti "aku bangga".

Tetapi Tang Ming tetap tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Su Lan, sampai suatu malam hujan deras, ketika Su Lan sedang menjaga seorang pasien demam di klinik istana dan tertidur di kursi karena lelah, dan Tang Ming datang membawakan selimut, dan Su Lan terbangun dan melihatnya, "Pelayan Dapur? Kau belum pulang?"

Tang Ming menarik napas panjang, "Su Lan, aku harus jujur, aku bukan pelayan dapur."

Su Lan mengernyit, "Lalu kau tukang kebun?"

"Bukan, aku... aku adalah Kaisar."

Keheningan panjang, dan Su Lan menatapnya, lalu tertawa, "Kau ini mimpi ya? Kaisar mana yang mau menumbuk jahe denganku jam lima pagi dan tangannya belepotan?"

"Aku serius," kata Tang Ming, dan dia mengeluarkan stempel giok kecil yang selalu dia bawa, stempel yang hanya dimiliki Kaisar.

Su Lan terdiam, wajahnya pucat, lalu dia langsung berlutut, "Yang Mulia, maaf, saya tidak tahu, saya lancang..."

Tang Ming langsung menariknya berdiri, "Jangan, jangan berlutut, aku tidak suka itu, aku lebih suka kau tertawa seperti waktu aku muncratkan jahe ke wajahku sendiri."

Su Lan masih gemetar, "Tapi... tapi saya hanya anak tabib desa."

"Dan aku hanya anak tabib yang tangannya rusak dan perempuan yang pernah tersesat di kabut," jawab Tang Ming, "orang tuaku mengajarkan bahwa cinta tidak melihat marga, hanya melihat hati, dan hatiku berdebar setiap kali kau bilang 'kau lemah sekali' sambil mengelap wajahku."

Su Lan menatapnya, dan untuk pertama kalinya dia melihat bukan Kaisar, melainkan pemuda penumbuk jahe, "Tapi rakyat akan bicara."

"Biar mereka bicara," kata Tang Ming, "aku adalah Kaisar yang membuat dekrit 'Pojok Pita' untuk desa miskin, masa aku tidak boleh jatuh cinta pada gadis yang membuat pojok itu hidup?"

Malam itu, Tang Ming tidak pulang ke kamarnya, dia duduk di klinik bersama Su Lan menjaga pasien, dan ketika pasien itu sembuh dan mengigau, Su Lan tertidur lagi, dan Tang Ming menjaga keduanya, dengan selimut yang sama.

Keesokan paginya, Xinyue datang ke klinik dan melihat putranya tertidur di lantai dengan punggung bersandar di dinding, dan Su Lan tertidur di kursi dengan selimut yang sama, dan dia hanya tersenyum dan berkata pada pelayan, "Jangan bangunkan, biarkan, akhirnya ada yang bisa membuat Kaisar tidur nyenyak tanpa laporan."

Tang Hyun datang menyusul, melihat pemandangan itu, dan hanya berkata, "Sama seperti kita dulu."

Seminggu kemudian, Tang Ming mengajak Su Lan ke atap istana, tempat yang dulu dia janjikan untuk kebun herbal, dan di sana sudah ada pot-pot kecil berisi jahe, kunyit, dan melati, dan Tang Ming berkata, "Aku tidak punya cincin giok, tapi aku punya ini, kebun yang kau impikan, dan aku punya janji, bahwa selama aku jadi Kaisar, maka tidak ada gadis desa yang akan dianggap tidak pantas hanya karena dia miskin."

Su Lan menatap kebun itu, lalu menatap Tang Ming, dan matanya berkaca-kaca, "Kau bodoh, Pelayan Dapur Kaisar."

"Aku tahu," jawab Tang Ming, "tapi bolehkah si bodoh ini memintamu tetap menumbuk jahe dengannya setiap pagi?"

Su Lan tertawa, tawa yang sama seperti hari pertama, "Boleh, asal jangan muncrat lagi."

Di bawah atap istana, di atas kota Chang'an yang mulai bangun, Kaisar yang paling ditakuti karena kebijaksanaannya, belajar satu hal yang tidak pernah ada di buku pelajaran Kaisar, yaitu bahwa jatuh cinta bukan tentang dekrit, bukan tentang stempel giok, melainkan tentang seseorang yang mau mengelap wajahmu ketika kau belepotan jahe.

Dan malam itu, Tang Hyun menulis di jurnalnya, "Hari ini putraku jatuh cinta. Bukan pada putri bangsawan. Pada gadis penumbuk jamu. Dan aku bangga, karena dia memilih dengan hati, seperti yang aku lakukan pada ibunya."

Xinyue menambahkan, "Dan besok pagi, aku akan bangun jam lima, untuk melihat apakah mereka masih menumbuk jahe bersama."

Dan mereka memang masih menumbuk jahe bersama, setiap pagi, sampai hari-hari berikutnya.

1
Oppojaya
😍😍
Oppojaya
mantappppp....👍👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!