NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gedung Tertinggi yang Selalu Dilihat Xiaoqi

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Xiaoqi selalu berdiri di depan jendela depan rumah mereka, menatap ke arah kejauhan. Di sana, di antara deretan gedung yang lebih rendah, menjulang sebuah bangunan berfasad kaca bening yang berkilau terkena sinar matahari pagi — gedung tertinggi di kota ini, menara pusat Grup Lin. Bagi orang lain, itu hanyalah gedung perkantoran biasa, tempat orang bekerja, tempat orang mencari nafkah. Tapi bagi Xiaoqi, gedung itu bukan sekadar bangunan batu dan kaca — itu adalah rumah ayahnya. Itu adalah tempat di mana pria yang menjadi separuh dari dirinya, menghabiskan hari-harinya.

Xiaoqi berdiri diam, kedua telapak tangannya menempel di kaca jendela, matanya menatap tajam ke arah gedung itu, seakan ia bisa melihat lantai berapa ayahnya berada, seakan ia bisa melihat apa yang sedang dilakukan ayahnya di sana. Saku bagian dalam jaketnya terasa hangat — foto ayahnya masih tersimpan di sana, aman, selalu dibawa ke mana pun ia pergi. Setiap kali ia merasa rindu atau ragu, ia menyentuh saku itu, merasakan kertas foto yang tipis di balik kain, dan hatinya kembali tenang. Ayahnya ada di sana. Di gedung itu. Tidak jauh.

"Xiaoqi, sarapan sudah siap," suara Su Wan terdengar dari arah meja makan, memecah keheningan pagi itu.

Xiaoqi menoleh, tersenyum, lalu melangkah meninggalkan jendela — tapi tidak sebelum ia menatap gedung itu sekali lagi, seakan mengucapkan selamat pagi pada ayahnya yang belum ia temui.

 

Di meja makan, Su Wan sudah menyiapkan bubur ayam hangat, telur dadar yang dipotong bentuk bintang, dan segelas susu cokelat — sarapan favorit Xiaoqi. Ia duduk di hadapan putranya, memperhatikan anak itu makan dengan semangat, namun matanya sering melayang ke arah jendela, ke arah gedung yang sama. Su Wan tahu ke mana pandangan anak itu tertuju. Ia tahu setiap pagi, setiap sore, setiap kali mereka melewati jalan yang menghadap ke pusat kota, mata Xiaoqi selalu mencari gedung itu.

"Pagi ini kamu menatap gedung itu lebih lama dari biasanya," ucap Su Wan pelan, menyodorkan mangkuk berisi potongan buah.

Xiaoqi mengunyah makanannya perlahan, lalu menelan, menatap ibunya dengan mata jernih. "Aku sedang menghitung lantainya, Bu. Kemarin aku menghitung sampai tiga puluh dua, tapi hari ini aku menemukan tiga lantai lagi yang tersembunyi di balik awan. Jadi totalnya ada empat puluh lantai, kan?"

Su Wan tertegun. Ia tidak pernah memberi tahu Xiaoqi berapa lantai gedung itu. Ia sendiri bahkan tidak pernah menghitungnya. Tapi anak ini — anak ini dengan ketajamannya, dengan perhatiannya pada setiap detail kecil, sudah mengetahuinya sendiri.

"Ya, empat puluh lantai," jawab Su Wan lembut, "Bagaimana kamu tahu itu?"

"Aku melihatnya di peta," jawab Xiaoqi santai, seakan itu hal yang biasa. "Dan di situs internet perusahaan itu. Lantai empat puluh adalah kantor Ayah, kan? Di lantai paling atas, dengan jendela terbesar. Karena itu gedungnya terlihat paling tinggi — karena Ayah duduk di puncaknya."

Su Wan menahan napas. Anak ini sudah mencari tahu semuanya sendiri. Ia tidak menyangka Xiaoqi akan sejauh itu, tidak menyangka rasa ingin tahunya begitu besar, begitu kuat, sampai ia berusaha menemukan jawabannya sendiri. Rasa bangga bercampur kecemasan melanda hatinya — bangga melihat kecerdasan anaknya, tapi takut ia akan terluka jika harapannya tidak terwujud secepat yang ia bayangkan.

"Xiaoqi," ucap Su Wan dengan nada lembut namun serius, "Ibu tahu kamu rindu Ayah. Tapi tolong jangan terlalu memikirkan gedung itu, ya? Gedung itu hanya tempat bekerja. Bukan hal terpenting di dunia ini."

"Bu, gedung itu bukan sekadar bangunan," jawab Xiaoqi tulus, matanya menatap lurus ke mata ibunya. "Di sana ada Ayah. Dan kalau Ayah ada di sana, maka gedung itu penting bagiku. Karena itu tempat di mana separuhku berada."

Su Wan terdiam. Kata-kata anak itu begitu sederhana, namun begitu dalam, begitu menyentuh inti masalah yang selama ini ia coba hindari. Separuh dari Xiaoqi memang ada di sana — pada pria yang ia cintai, pada pria yang ia tinggalkan. Selama Yicheng tidak tahu tentang keberadaan anak ini, separuh dari diri Xiaoqi akan selalu terasa hilang, terpisah, terjebak di balik tembok kaca gedung tinggi itu.

"Ibu mengerti," jawab Su Wan pelan, meraih tangan kecil anak itu di atas meja, mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Ibu mengerti, Xiaoqi. Tapi percayalah, Ibu sedang berusaha. Sedikit lagi, ya?"

Xiaoqi tersenyum, menggenggam tangan ibunya erat. "Aku tahu, Bu. Aku sabar. Tapi aku juga sudah siap."

 

Setelah sarapan, Su Wan mengantar Xiaoqi ke sekolah barunya — sebuah sekolah dasar yang tidak terlalu jauh dari rumah, di kawasan yang tenang, dengan halaman luas penuh pohon rindang dan taman bunga. Xiaoqi turun dari mobil, memakai tas punggungnya, lalu berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah tegap, sesekali menoleh ke arah ibunya dan melambaikan tangan. Su Wan berdiri di sana sampai punggung kecil anak itu menghilang di antara kerumunan murid lain, lalu baru kembali ke mobilnya, duduk diam sejenak, membiarkan pikirannya melayang.

Ia tahu ia tidak bisa menunda lebih lama lagi. Xiaoqi sudah siap. Dan mungkin, ia juga harus mulai siap.

 

Sementara itu, di lantai empat puluh gedung Grup Lin, Lin Yicheng berdiri di balik jendela kaca setinggi langit-langit, menatap ke bawah — ke arah jalan-jalan yang terlihat seperti pita berwarna abu-abu, ke arah mobil-mobil yang terlihat seperti semut yang bergerak pelan, ke arah orang-orang yang terlihat seperti titik-titik kecil yang tak berarti. Dari ketinggian ini, semuanya tampak kecil, semuanya tampak bisa dikendalikan, semuanya tampak berada di bawah kendalinya.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia kendalikan — perasaannya sendiri.

Pintu kantor diketuk pelan, dan sekretaris pribadinya masuk, membawa tumpukan dokumen dan jadwal harian. "Tuan Lin, rapat direksi akan dimulai dalam sepuluh menit. Dan di lantai bawah, ada laporan bahwa seseorang… seorang anak kecil, terlihat sering berdiri di seberang gedung, menatap ke atas ke arah kantor ini. Sudah beberapa hari berturut-turut. Keamanan bertanya apakah harus mengusirnya."

Yicheng mengerutkan kening, menoleh perlahan. "Anak kecil? Berapa umurnya?"

"Kira-kira empat atau lima tahun, Tuan. Berjas sekolah biru muda, rambut hitam pendek. Dia hanya berdiri diam, menatap ke atas, tidak mengganggu siapa pun. Tapi keamanan khawatir ada niat tidak baik dari orang yang mengirimnya."

Yicheng terdiam sejenak, pikirannya melayang — anak kecil, berdiri menatap gedung ini setiap hari. Entah mengapa, hatinya terasa berdenyut pelan namun kuat, seakan ada sesuatu yang menarik perhatiannya, sesuatu yang penting.

"Biarkan saja," jawab Yicheng akhirnya, menatap kembali ke jendela, ke arah jalan di seberang gedung. "Jangan mengusirnya. Pastikan dia aman, tapi jangan mengganggunya. Kalau dia ingin melihat gedung ini, biarkan dia melihat."

Sekretaris itu terkejut sedikit — biasanya Tuan Lin tidak pernah peduli pada hal-hal seperti ini, biasanya ia hanya memerintahkan untuk mengusir siapa pun yang mengganggu ketertiban. Tapi hari ini, suaranya lembut, matanya menatap ke bawah dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

"Baik, Tuan Lin. Saya sampaikan keamanan," jawab sekretaris itu, lalu mundur perlahan dan menutup pintu.

Yicheng tetap berdiri di sana, menatap ke bawah, ke arah seberang gedung, berharap melihat sosok kecil itu — meskipun ia tahu dari ketinggian ini ia tidak akan bisa melihat wajahnya. Tapi hatinya berdebar, seakan ada ikatan tak terlihat yang menghubungkannya dengan anak itu. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa — anak itu datang untuknya.

 

Sore itu, sepulang sekolah, Xiaoqi tidak langsung pulang. Ia berjalan ke arah pusat kota, berhenti di trotoar seberang gedung Grup Lin, berdiri di bawah naungan pohon besar, dan menatap ke atas — ke arah lantai empat puluh, ke arah jendela terbesar yang berkilau terkena sinar matahari sore. Di sana, di balik kaca itu, ayahnya berdiri. Xiaoqi tahu itu. Ia merasakannya di dalam hatinya.

Ia berdiri diam, tidak bergerak, tidak bersuara, hanya menatap ke atas dengan mata berbinar penuh harap. Saku jaketnya terasa hangat — foto ayahnya masih ada di sana, seakan memberinya kekuatan untuk berdiri di sini, menunggu, menatap, berharap bahwa suatu hari nanti, ayahnya akan melihat ke bawah, melihatnya, dan menyadari bahwa ia ada di sini, menunggunya.

Beberapa orang lewat, menatap anak kecil yang berdiri sendirian menatap gedung tertinggi itu, merasa aneh, tapi tidak ada yang mengganggunya. Xiaoqi tidak peduli. Ia tidak peduli apa yang orang lain pikirkan. Ia hanya ingin melihat gedung tempat ayahnya bekerja. Ia hanya ingin merasa dekat, setidaknya dari kejauhan.

Dan di lantai empat puluh, tepat di balik jendela terbesar itu, Yicheng berdiri diam, menatap ke bawah — dan di antara kerumunan orang, ia melihatnya. Sosok kecil, berjas sekolah biru muda, berdiri di seberang jalan, menatap tepat ke arahnya. Wajahnya kecil, tapi matanya berbinar tajam, seakan bisa melihat lurus ke dalam dirinya, seakan tahu bahwa ia sedang berdiri di sana, menatapnya kembali.

Jantung Yicheng berpacu cepat. Anak itu — matanya… matanya terlihat begitu akrab.

Xiaoqi seakan merasakan tatapan itu. Ia tersenyum kecil, melambaikan tangan kecilnya ke arah lantai teratas — melambai pada ayahnya, melambai pada pria yang belum ia temui, tapi sudah ia cintai.

Yicheng tertegun. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya berdiri diam, menatap anak itu, merasakan perasaan aneh yang menyeruak di dadanya — kehangatan, kerinduan, rasa ingin tahu, dan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang seharusnya belum ia rasakan.

Matahari mulai terbenam, menyinari kedua orang itu — satu di atas gedung tinggi, satu di bawah jalanan kota — dihubungkan oleh pandangan, dihubungkan oleh darah, dihubungkan oleh takdir yang selama lima tahun terpisah, kini perlahan mulai menyatukan mereka kembali.

Xiaoqi melambaikan tangan sekali lagi, lalu tersenyum lebar, seakan tahu bahwa ayahnya melihatnya. Kemudian ia berbalik, berjalan pulang dengan langkah ringan, hatinya penuh kebahagiaan — karena hari ini, ia merasa ayahnya melihatnya. Ia merasa ayahnya tahu.

Dan di lantai empat puluh, Lin Yicheng tetap berdiri di sana, menatap tempat di mana anak itu berdiri, bahkan setelah sosok kecil itu menghilang di antara kerumunan. Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang belum kembali normal.

"Siapa anak itu?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri. "Mengapa dia terasa begitu dekat?"

Ia tidak tahu jawabannya. Tapi ia tahu satu hal — ia harus menemukan anak itu. Ia harus tahu siapa dia. Dan entah mengapa, ia merasa bahwa anak itu adalah kunci untuk segala hal yang selama ini ia cari namun tidak pernah bisa temukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!