Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23 Ceraikan Istrimu!
"Mas, apa kamu lihat berkas lamaran aku?" tanya Kania dengan nada panik bercampur curiga. Matanya menatap tajam Firman yang sedang santai memasang jam tangan di depan cermin. "Semalam aku taruh di atas meja rias ini, sekarang sudah tidak ada."
Firman melirik istrinya dari pantulan cermin dengan wajah datar.
"Nggak tahu. Makanya kalau menaruh barang itu yang rapi. Jangan tanya aku."
"Serius, Mas! Berkas itu sangat penting! Isinya portofolio desainku selama bertahun-tahun. Nggak mungkin bisa hilang sendiri kalau nggak ada yang membuangnya!" cecar Kania, langkahnya mendekat ke arah suaminya.
Firman mendengus kasar, memutar bola matanya malas.
"Mana aku peduli? Aku ini suamimu, bukan satpam yang menjaga kertas-kertas tidak bergunamu itu!"
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Firman menyambar tas kerjanya dan melangkah keluar kamar. Ia memilih pergi ketimbang meladeni Kania yang terus mendesaknya. Kania mematung di tempat, menghela napas panjang untuk meredakan gemuruh di dadanya.
Namun, bukannya menangis, sebuah senyum sinis justru terukir di bibir Kania.
"Untung saja aku sudah menduganya," gumam Kania sambil berjalan menuju laci terbawah lemarinya yang terkunci rapat. Ia mengeluarkan sebuah map bening lain yang masih tersegel.
Ya, itu adalah berkas cadangannya.
Kania sangat hafal tabiat suaminya. Dulu, saat mereka masih berpacaran dan Kania mendapat tawaran kerja di butik ternama, Firman juga diam-diam merusak laptopnya dengan dalih tidak sengaja tersiram kopi. Firman memiliki rencana licik yang sama persis untuk menggagalkan langkahnya hari ini.
"Dasar pria egois," desis Kania menatap pantulan dirinya di cermin yang kini sudah rapi dengan setelan blazer elegan.
"Kamu pikir aku masih sama seperti Kania yang dulu, yang bisa kau bodohi dan kau injak-injak, Mas? Kamu salah besar."
Merasa waktunya sudah mepet, Kania beranjak keluar kamar. Ia sengaja tidak mampir ke dapur. Tak ada sarapan yang tersaji di meja makan, dan rumah masih sedikit berantakan. Ia sudah muak menjadi pembantu tak dibayar di rumah ini.
Baru saja Kania hendak meraih gagang pintu utama, suara melengking mertuanya terdengar dari arah tangga.
"Kania! Kamu mau ke mana rapi-rapi begitu?! Ini meja makan kenapa kosong melompong? Mama belum sarapan! Lantai juga belum disapu!" omel Tuti dengan wajah bertekuk lutut.
Kania menoleh pelan. Tatapannya sedingin es, membuat Tuti sempat terkesiap sesaat.
"Mama lapar? Pesan makanan saja atau Mama cari saja pembantu baru," jawab Kania ketus, tanpa nada sungkan sedikit pun.
"Mama punya banyak uang dan anak kesayangan yang kaya raya, kan? Kenapa harus menyuruhku?"
Mata Tuti melotot lebar hingga nyaris keluar dari sarangnya. Entah setan apa yang merasuki menantunya ini. Sejak kapan Kania yang biasanya penurut dan penakut berani menjawab kata-katanya dengan seberani ini?!
"Dasar menantu kurang ajar! Berani kamu melawan Mama sekarang?!" tunjuk Tuti dengan jari gemetar. "Mama adukan kamu sama Firman biar kamu diceraikan sekalian!"
Bukannya takut, Kania justru tertawa hambar. "Silakan, Ma. Adukan saja. Dengan senang hati aku menunggu surat cerai itu. Permisi."
Malas berdebat panjang lebar dengan ibu mertuanya, Kania membuka pintu dan melangkah pergi begitu saja. Hari ini adalah hari penentuannya. Ia harus segera bertemu dengan Abimanyu, calon bos barunya. Masa depannya jauh lebih penting daripada meladeni drama murahan di rumah itu.
*
*
Suasana di dalam ruangan CEO itu terasa panas, namun bukan karena suhu pendingin ruangan yang rusak. Mawar, sang investor utama sekaligus duri dalam rumah tangga Firman, tengah duduk menyilang di atas pangkuan pria itu. Tangannya yang lentik membelai rahang Firman dengan sensual.
"Mas, kamu mikirin apa sih dari tadi? Mukamu kusut banget," goda Mawar dengan suara manja.
Firman memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. "Istriku, Mawar. Kania bersikeras mau kerja hari ini. Aku sudah membuang berkasnya, tapi entah bagaimana dia tetap nekat pergi."
Mendengar nama Kania disebut, raut wajah Mawar seketika berubah masam. Tangannya berhenti membelai wajah Firman.
"Ya sudah, biarkan saja kenapa sih? Kenapa kamu yang pusing, Mas?" dengus Mawar kesal. "Toh, pekerjaan apa yang akan dia terima dengan kondisi pincang begitu? Tukang jahit pinggir jalan? Gajinya tidak akan pernah menyamai gajiku! Biarkan saja dia tahu betapa kerasnya dunia luar."
"Tapi Mawar, bukan itu masalahnya! Aku nggak rela dia—"
"Nikahi aku, Mas."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Mawar, tajam dan tanpa keraguan. Firman seketika membeku di tempat. Napasnya tertahan. Matanya menatap Mawar tak percaya.
"Maksudmu?" tanya Firman terbata.
Mawar turun dari pangkuan Firman. Sorot matanya kini berubah serius dan penuh tuntutan.
"Ceraiakan Kania, lalu nikahi aku. Aku mau kamu menjadikan aku istrimu satu-satunya, Mas. Kalau kau bersamaku, kau tidak perlu pusing memikirkan uang. Apa pun akan aku lakukan untukmu, aku akan buat perusahaanmu merajai pasar."
Firman menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. Ego dan keserakahannya berperang hebat.
"Aku... aku nggak bisa, Mawar," jawab Firman akhirnya, suaranya terdengar pengecut.
"Kenapa?!" bentak Mawar, kesabarannya habis.
"Aku memang masih mencintaimu, aku butuh kamu. Tapi, aku juga mencintai Kania. Dia istriku. Aku tidak bisa menceraikannya begitu saja." Firman mencoba meraih tangan Mawar, namun wanita itu menepisnya dengan kasar.
Wajah Mawar memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Ia tertawa sumbang, menatap Firman dengan pandangan merendahkan.
"Oh, jadi kamu mau bermain aman? Kamu mau hartaku, tapi kamu juga tidak mau melepaskan babu gratisanmu di rumah?!" geram Mawar, suaranya bergetar karena emosi. Ia menggebrak meja kerja Firman dengan keras.
"Dengar baik-baik, Mas. Aku bukan wanita bodoh yang mau dijadikan yang kedua! Ceraikan Kania sekarang juga, atau aku akan menarik seluruh investasiku dari perusahaanmu detik ini juga! Kita lihat, seberapa lama kamu bisa bertahan hidup dari cinta Kania saat kamu jatuh miskin dan hancur lebur!"
Firman terpaku, wajahnya pucat pasi. Ancaman Mawar bukanlah gertakan sambal. Wanita itu memegang kendali penuh atas napas perusahaannya. Firman kini benar-benar terjebak dalam jurang kehancuran yang ia gali sendiri.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...