Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 - Pasar Malam
Siang berganti malam, berhubung hari ini malam Minggu Ayumi dan Vale mengajak Alea dan Azka jalan-jalan untuk menghilangkan rasa sedihnya.
"Yuhuuuu, Alea, Azka, i'm coming." Pekik Ayumi semangat turun dari mobilnya berdiri di depan pintu rumah Gavin.
"Woi, ini rumah bukan hutan, seenaknya aja teriak di depan rumah orang," tegur Vale heran sama kebiasaan Ayumi.
"Hehe, sorry say, abisnya gue gak sabar ngajak merasa main ke pasar malam. Gue mau ajak keponakan gue main," balas Ayumi cengengesan. Meski sering iseng sama Azka tapi dia tetap menyayangi bocah menggemaskan itu.
Ceklek
Pintu di buka dari dalam, berdiri sosok tampan nan gagah di hadapan kedua gadis dewasa. Semerbak wangi dari farfume nya menyegarkan hidung dan ketampanannya menyegarkan mata memandang.
"Eh, Om. Ganteng banget sih Om, mau ngapel ya?" ujar Ayumi cengengesan lagi.
Vale menyenggol lengan Ayumi. "Om Gavin mau ngapel gak punya pacar Ay, lo lupa?"
Ayumi nyengir kuda.
"Malam Om, maafin temen baru kita ya. Alea ada? Kita mau ..."
Sebelum Vale lanjut berucap sudah di potong ucapannya sama Gavin.
"Ada, dia sedang bersiap-siap sama Azka. Kalian mau ke pasar malam kan?"
"Iya Om," jawab keduanya kompak
"Ya sudah, saya titip Alea dan Azka. Buat mereka bahagia, saya percaya sama kalian berdua."
"Tapi Om gak keberatan kan kita datang lagi ke rumah ini?" tanya Ayumi masih agak sungkan sama pria di depannya.
"Justru saya senang Alea punya teman kayak kalian, jangan sungkan buat datang kesini. Rumah ini terbuka buat kalian berdua asalkan jangan macam-macam saja," balas Gavin serius.
"Siap Om," balas Vale dan Ayumi tegas.
*********
Kediaman Fathan.
"Malam-malam gini kamu mau kemana, Fat? Udah rapi banget?" tanya Bu Rima heran melihat anaknya mengambil helm dan berpenampilan rapi.
"Mau cari angin Bu, mau menenangkan diri."
Bu Rima menghela nafas, "ibu harap kamu jangan berbuat aneh-aneh ya, jangan sampai berbuat aneh-aneh hanya karena masalah cinta. Kalau kalian berjodoh gak akan kemana kok, jangan terlalu galau berlebihan dan jangan pula terlalu membenci, karena terkadang apa yang kita dengar dan apa yang kita lihat tidak sesuai kenyatannya," ujar Bu Rima memberi nasehat untuk putranya.
"Iya Bu, Fathan paham."
"Tapi kamu gak pernah melakukan hubungan sama mantan pacar kamu itu kan? Yang di bilang Gavin sampai ..."
Fathan segera memotong ucapan ibunya, membantah hal itu. "Enggak Bu, sumpah demi Allah sama dia Fathan gak ngelakuin apapun. Cuman sama Alea saja Bu itu pun karena pengaruh minuman yang Fathan minum. Soal dia yang hamil Fathan gak tahu, Fathan gak pernah nyentuh dia selain pegangan tangan saja."
Dia jujur soal itu, mengenai mantan pacarnya hubungan mereka tidak sampai ke hal-hal lain, masih punya batasan makanya dia bingung kenapa bisa hamil dan anak siapa yang dikandungnya?
Bu Rima menghela nafas lega, setidaknya ada sedikit harapan bisa memperbaiki hubungannya dengan Alea.
"Syukurlah, ibu senang dengarnya."
"Kalau gitu aku pergi dulu, Bu." Fathan berpamitan pada ibunya, menyalami tangan sang ibu baru pergi.
Namun belum juga menaiki motor kendaraan lain berhenti di depan rumahnya, dia tahu siapa yang datang.
Gadis itu turun tergesa menghampiri. "Sayang, kamu mau kemana malam-malam gini udah rapi? Pasti mau ngajak aku malam mingguan ya?"
"Ada urusan yang harus saya kerjakan." Fathan pun memakai helmnya.
"Aku ikut ya."
"Gak usah, lebih baik kamu pulang aja."
"Tapi aku udah terlanjur datang kesini, aku udah bilang sama orangtuaku mau ngajak kamu ke pasar malam." Silvi memasang wajah sedihnya.
"Silvi ayolah, saya tidak bisa."
"Kalau kamu menolak aku akan bilang sama orangtuaku dan meminta kalian membayar seluruh biaya yang pernah kita berikan padamu dan ibumu yang akan ..."
Fathan terdiam mengepal kuat, selalu saja begini jika dia menolaknya.
"Ok, kita jalan."
'Tidak akan mudah lepas dari dia, sekarang aku harus bagaimana? Semoga ada cara supaya aku bisa memutuskan hubunganku dengan Silvi.'
"Tapi wajah kamu ..." Silvi hendak mengusap pipi Fathan, menyadari wajah pria itu lebam.
Sebelum tangan Silvi menyentuh pipinya lebih dulu Fathan menepis tangan itu. "Gak apa-apa, mau jajan atau tidak?"
"Mau, ayo. Tapi wajah kamu di obati dulu."
"Hmmm."
*********
Pasar Malam
"Itu, atu mau main itu." Dalam gendongan Alea, Azka semangat menunjuk permainan kereta api. Banyak anak seusianya menaikinya dan hanya untuk anak-anak di bawah 7 tahun saja.
"Ok jagoan, kita ke sana," balas Alea.
Ayumi dan Vale mengikuti di belakang.
"Dari tadi gue lihat mulut lo gak berhenti ngunyah Val? Tapi anehnya meski banyak makan lo gak gendut," kata Ayumi sambil menikmati perpen kapas.
"Gak tahu, dari dulu juga gitu. Sebanyak apapun makanan yang gue makan gak ngaruh ke tubuh gue, tetep aja segini."
"Rahasianya apa dong? Gue juga mau, lihat nih perut gue udah bengkak kayak yang hamil 4 bulan. Mudah banget gendut gue," kelihatan Ayumi.
"Hidup sehat Ay, Vale sering pilates lah elo? Makan banyak olahraga kagak, ya pasti gendutlah," sahut Ayumi menoleh sekilas ke arah dua sahabatnya.
"Tuh itu rahasianya," balas Vale.
"Mama." Azka berteriak melambaikan tangannya tersenyum bahagia menaiki salah satu permainan yang ada di pasar malam.
Alea membalas lambaian tangan putranya. "Mama disini sayang."
Satu persatu permainan di coba sama mereka, tawa ceria terpancar dari wajah mereka terutama Azka si bocah menggemaskan.
"Ihh Tante cana jauh-jauh." Azka mendorong pelan bahu Ayumi ketika hendak menciumnya.
"Gak mau, maunya deket kamu."
"Atu dak mau."
"Ka, Tante Ayumi cantik loh masa gak mau sama Tante ayu?" kata Vale.
"Tante Ay ngecelin." Anak itu lari duluan menghindari keisengan Ayumi.
"Kamu gemesin," balas Ayumi.
"Jangan lari Azka," kata Alea khawatir anaknya hilang diantara banyak orang.
Alea berlari mengejar putranya.
"Lo sih, nih anak itu malah lari," seru Vale.
"Ya abisnya ganteng sama gemesin tahu, eh gue mau ke toilet dulu, kebelet pipis nih."
"Ok, gue tunggu di ..." Vale mencari tempat duduk. "Sana!" tunjuknya ke arah bangku dekat penjual bakso
"Ok." Ayumi berlari ke toilet sedangkan Vale menunggu dekat tukang bakso sambil membeli. "Le, gue tunggu di tukang bakso."
Alea menoleh ke belakang. "Ok." Lalu kembali mengejar Azka.
"Azka berhenti dulu sayang." Alea lumayan kewalahan mengejar Azka.
Dia tidak memperhatikan sekitarnya terus berlari sampai tidak sengaja kakinya tersandung. Kaget akan tersungkur, Alea pasrah memejamkan mata.
Bruk.
Dug.
Tapi, loh, kok dia tidak mencium tanah? Malah merasa terjatuh dalam dekapan seseorang. Perutnya dipegang seseorang, wangi parfumnya nya ... dia menoleh ingin memastikan.
Deg.