Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Menjarah Jantung Blambangan dan Logam Meteorit Kuno
Asap sisa ledakan dari terobosan ghaib Satria Pamungkas ke Ranah Senopati Tahap 2 masih melayang tipis di atas Altar Batu Hitam.
Tekanan aura emas murni yang memancar dari tubuhnya perlahan-lahan menyusut, kembali tersembunyi dengan rapi di balik jubah hitam berkat kontrol spiritualnya yang kini jauh lebih presisi.
Namun, setiap makhluk hidup di radius satu kilometer dari istana dalam masih bisa merasakan getaran ghaib yang membuat bulu kuduk meremang.
Satria melangkah turun dari undakan altar, langkahnya terasa begitu ringan namun meninggalkan kesan kokoh yang tak tergoyahkan.
Di sampingnya, Dyah Sekar Ayu berjalan dengan kesetiaan yang kian menebal. Bagi sang putri, Satria bukan lagi sekadar seorang sekutu yang kuat, melainkan sesosok entitas agung yang ditakdirkan untuk menggenggam seluruh Dwipantara di bawah telapak kakinya.
"Satria, ke mana kita akan melangkah sekarang?" tanya Sekar Ayu, sepasang mata indahnya menatap lekat pada wajah tampan di balik caping bambu tersebut. "Jasad Bhre Wirabhumi telah mendingin, dan seluruh sisa pengawal istana telah kuberitahu untuk meletakkan senjata mereka jika tidak ingin dikonversi menjadi pupuk tanah."
Satria menghentikan langkahnya tepat di depan jasad sang Adipati yang lehernya telah patah. Ia tidak menyisakan ruang untuk rasa hormat sedikit pun pada musuh yang telah kalah—ia menunduk, lalu menggunakan ujung kaki kanannya untuk membalikkan tubuh tua Bhre Wirabhumi.
Dari balik sabuk sutra keemasan yang melilit pinggang sang Adipati, sebuah kantong kain beludru hitam berukir benang emas tua tampak menyembul. Satria membungkuk dan merenggut kantong tersebut dengan kasar. Ketika ia membukanya, sebuah kunci perunggu berbentuk kepala naga dengan tiga mata safir berkilauan berada di dalamnya.
"Ini adalah kunci menuju Ruang Pusaka Inti Blambangan," ucap Satria datar. Seulas senyum tipis yang kejam terukir di sudut bibirnya. "Sebuah kadipaten yang menguasai jalur perdagangan timur selama ratusan tahun pasti memiliki simpanan yang cukup menarik untuk menimbun logistik kita."
"Sistem, lacak koordinat pintu masuk ruang penyimpanan pusaka utama yang cocok dengan kunci ini," perintah Satria di dalam kesadarannya.
[Bip! Memindai struktur bawah tanah istana...]
Target Terdeteksi: Ruang Pusaka Inti Kadipaten Blambangan.
Koordinat: 45 meter di bawah fondasi utama bangunan pendopo timur.
Catatan Keamanan: Pintu masuk dilapisi oleh Mantra Pengunci Jiwa tingkat menengah. Kunci kepala naga di tangan Anda adalah bypass utama untuk menonaktifkan jebakan racun di dalamnya.
"Ikut aku," ujar Satria pendek pada Sekar Ayu.
Keduanya melesat cepat melintasi koridor-koridor istana yang kini telah kosong melongpong. Para pelayan dan prajurit rendahan yang masih hidup memilih untuk bersembunyi di sudut-sudut paling gelap, tidak berani bahkan untuk sekadar mengintip bayangan jubah hitam Satria yang melintas.
Hanya dalam beberapa hela napas, mereka berdua telah tiba di dalam bangunan pendopo timur. Di balik sebuah tirai sutra besar yang memisahkan ruang istirahat Adipati, terdapat sebuah lantai batu bata merah yang diatur membentuk pola geometris ghaib. Satria mendekat, lalu memasukkan kunci kepala naga ke dalam sebuah celah tersembunyi di sela-sela lantai batu tersebut.
KLIK! GRRRRR...
Suara gesekan batu besar yang berat bergaung rendah. Lantai pendopo bergeser ke samping, memperlihatkan sebuah tangga batu spiral yang menukik tajam ke kegelapan bawah tanah. Bau kelembapan kuno bercampur aroma logam mulia dan wewangian kayu cendana langsung menguar ke permukaan.
Satria memimpin jalan turun, diikuti oleh Sekar Ayu yang tetap waspada dengan selendang sutra hijaunya yang siap dilepaskan kapan saja. Setelah menuruni lebih dari seratus anak tangga, mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas, berbentuk lingkaran dengan pilar-pilar batu raksasa yang menyangga langit-langitnya.
Di tengah-tengah ruangan tersebut, tumpukan peti kayu jati berukir yang terbuka memperlihatkan ribuan keping koin emas murni, permata berbagai warna, jubah-jubah sutra berenergi, serta puluhan senjata pusaka tingkat biasa hingga tingkat tinggi yang berjejer rapi di rak-rak dinding. Kekayaan yang ditimbun di tempat ini cukup untuk membiayai sebuah pasukan besar selama sepuluh tahun penuh.
Namun, mata tajam Satria sama sekali tidak melirik ke arah tumpukan emas dan permata tersebut. Bagi seorang kultivator sistem seperti dirinya, benda-benda duniawi itu memiliki nilai yang sangat rendah dibandingkan dengan material ghaib yang langka.
Pandangannya langsung mengunci pada sebuah sangkar besi hitam yang terletak di sudut paling dalam ruangan. Di dalam sangkar tersebut, di atas sebuah bantalan kain sutra merah, tergeletak seonggok logam berwarna hitam keperakan dengan tekstur permukaan yang tidak rata, memancarkan denyut energi spiritual yang sangat murni namun terasa asing bagi bumi Dwipantara.
Satria berjalan mendekati sangkar tersebut dan menghancurkan gembok besinya dengan satu remasan tangan kosong berkat kekuatan fisik Tubuh Fisik Sisik Naga-nya yang baru berkembang. Ia mengangkat logam hitam tersebut, merasakan bobotnya yang luar biasa berat meskipun ukurannya tidak lebih besar dari kepala manusia.
"Sistem, identifikasi material ini dan kalkulasikan nilainya di dalam toko sistem jika dikonversi, atau kegunaannya untuk senjataku," tanya Satria.
[Bip! Mengidentifikasi material...]
Nama Item: Logam Meteorit Inti Bintang Purba (Tingkat Ghaib Menengah).
Asal: Serpihan bintang jatuh yang mengandung esensi elemen logam kosmik.
Kegunaan Optimal: Sangat direkomendasikan untuk digunakan sebagai bahan penempaan ulang Pedang Bintang Tujuh Kedewaan. Dapat meningkatkan ketajaman bilah pedang hingga ke Tingkat Ghaib Puncak dan membuka slot permata rasi bintang kedelapan.
Nilai Konversi Toko: 35.000 Poin Sistem (Tidak direkomendasikan untuk dijual karena kelangkaannya di dunia ini).
Satria mengangguk pelan dalam kepuasan. Penempaan ulang senjata adalah salah satu cara terbaik untuk mengimbangi ranah kekuatannya yang kini telah melompat ke Ranah Senopati. Pedang Bintang Tujuh Kedewaan miliknya sudah sangat kuat, namun jika diperkeras dengan logam meteorit inti bintang ini, ia bahkan bisa membelah pelindung ghaib milik seorang pendekar Ranah Senopati puncak seolah-olah itu hanya selembar kertas basah.
"Satria, lihat ini," suara Sekar Ayu memecah fokusnya. Sang putri berdiri di depan sebuah rak buku kuno yang terbuat dari kayu gaharu hitam di sisi kanan ruangan. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan perkamen kulit domba yang tampak sangat tua dan rapuh. "Ini adalah peta rahasia jalur pelayaran logistik Faksi Laut Selatan yang selama ini digunakan oleh Bhre Wirabhumi untuk menyelundupkan barang-barang terlarang ke wilayah pedalaman."
Satria berjalan mendekat dan mengambil perkamen tersebut. Sepasang matanya menyapu rute-rute laut yang digambar dengan tinta merah di atas peta. Peta itu menunjukkan dengan sangat detail titik-titik kumpul armada kapal bajak laut ghaib mereka, termasuk sebuah pulau karang tersembunyi yang diberi nama Pulau Tengkorak Hitam, yang tampaknya menjadi markas barisan depan bagi para Tetua faksi luar tersebut di wilayah perairan Dwipantara.
Satria yang agresif langsung merumuskan sebuah rencana strategis baru. Daripada menunggu para Tetua Faksi Laut Selatan datang ke Blambangan untuk membalas dendam atas kematian Surokolo, lebih baik ia yang mendatangi mereka terlebih dahulu, menghancurkan markas mereka, dan memanen seluruh poin sistem yang tersedia di sana.
"Peta yang sangat bagus," ucap Satria dengan nada dingin yang sarat akan niat membunuh. "Bhre Wirabhumi telah mati, dan Blambangan kini telah kosong dari kepemimpinan. Sekar Ayu, aku akan menunjuk sisa-sisa pejabat kadipaten yang penakut untuk mengurus administrasi tempat ini di bawah pengawasan ketat barisan mata-mata Kadiri milikmu."
"Hamba mengerti. Dalam tiga hari, seluruh jalur perdagangan dan lumbung pangan Blambangan akan sepenuhnya berintegrasi di bawah kendali kita," jawab Sekar Ayu dengan senyum penuh kepatuhan.
"Bagus. Atur semuanya dengan cepat," perintah Satria sembari memasukkan logam meteorit kuno dan peta rahasia tersebut ke dalam ruang penyimpanan sistemnya. "Karena setelah urusan di dalam kota ini selesai, kita akan berlayar menuju selatan. Aku memiliki sebuah janji pembersihan yang harus ditepati dengan para perompak ghaib itu."