NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Rumah Cedric

'Jangan bilang... bocah ingusan itu yang sudah merenggut kesucianmu di kamar ini?'

Ada satu hal lain yang membuat Cedric terhenyak dalam diam saat menatap gadis di dekapannya. Gadis ini bukanlah manusia biasa, bukan pula kaum mermaid seperti yang biasa ia temui di daratan.

Cedric tahu betul ciri khas bangsa mermaid perempuan; mereka memiliki rambut bergelombang berwarna merah muda pastel yang lembut dan sepasang mata biru safir yang magis. Namun, gadis ini berbeda. Rambutnya berwarna merah pekat, ikal, panjang, dengan sepasang netra biru jernih layaknya samudra terdalam.

Berdasarkan literatur kuno tentang kaum lautan luas yang pernah dibacanya, ciri fisik tersebut hanya merujuk pada satu ras mitologi yang legendaris: bangsa Siren.

Cedric belum pernah melihat ras itu secara langsung di daratan. Tidak seperti kaum mermaid yang bebas berinteraksi dengan dunia luar, ras Siren sangat menjunjung tinggi hukum ketat pemimpin mereka yang melarang keras kaumnya menginjakkan kaki di tanah kering. Kenyataan ini tak pelak menerbitkan rasa resah di benak Cedric. Ia mengkhawatirkan kemungkinan buruk jika penguasa Siren yang terkenal kejam melacak keberadaan gadis ini dan melimpahkan amarah atas tragedi malam ini kepada dirinya.

Langkah kaki Cedric akhirnya membawa mereka sampai di area parkir. Ia membuka pintu mobil mewahnya dengan satu tangan, lalu mendudukkan Elara dengan sangat hati-hati di kursi penumpang depan agar tidak memperparah rasa sakit gadis itu.

Setelah memastikan Elara aman, Cedric segera memutari mobil, masuk ke kursi kemudi, dan langsung melajukan kendaraannya membelah jalanan padat Kota Luminara menuju kediamannya yang terletak jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.

Suasana di dalam mobil sempat diselimuti keheningan yang canggung sebelum akhirnya Cedric memecah kesunyian tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.

"Siapa namamu?"

"Elara. Nama saya Elara Nereida, Tuan," jawab Elara dengan suara yang masih parau.

"Aku Cedric Valerius. Aku adalah keturunan ras elf hutan dan manusia. Ayahku adalah wali kota Luminara, mantan panglima elf di Alfheim."

Cedric sengaja berterus terang sejak awal karena ia tahu gadis di sampingnya adalah makhluk magis yang peka terhadap energi sekitar.

Elara tertegun mendengarnya. Pengakuan itu seketika menjawab rasa penasarannya. Pantas saja paras pria itu begitu rupawan dengan rahang tegas yang simetris, serta menguar aura menyejukkan yang sangat menenangkan.

"Kukira Anda hanya manusia biasa. Pantas saja aura Anda begitu berbeda dengan orang-orang di tempat tadi."

Cedric melirik Elara sekilas melalui sudut matanya. "Dan kau... apa kau seorang Siren?"

Pertanyaan itu membuat Elara tersentak di kursinya. "Bagaimana... bagaimana Anda bisa tahu?"

"Jujur saja, awalnya aku terkejut melihat seorang Siren berkeliaran di daratan," ujar Cedric, suaranya kembali mendingin. "Apa kau tidak takut jika pemimpin rasmu mencarimu dan menjatuhkan hukuman mati? Kuharap kehadiranmu di sini tidak menyeretku ke dalam masalah besar kaum laut."

Elara menarik napas gemetar, lalu tersenyum miris menatap keluar jendela mobil yang basah oleh sisa embun malam. "Justru aku berada di daratan ini karena diusir olehnya... oleh pemimpin ras Siren yang tak lain adalah pamanku sendiri. Di lautan luas, aku sudah tidak memiliki tempat untuk pulang."

Setetes air mata kembali luruh melewati pipi pucat Elara saat ingatan tentang pengusirannya kembali membayangi. "Aku terpaksa naik ke daratan karena mengira tempat asing ini akan menjadi satu-satunya tempat yang aman bagiku. Namun, aku salah. Aku begitu bodoh dan buta tentang dunia manusia karena seumur hidupku dihabiskan di bawah samudra. Aku mengira kebaikan dan pekerjaan yang ditawarkan wanita pemilik kasino itu tulus untuk membantuku bertahan hidup. Aku tidak tahu jika dunia atas ternyata sekejam ini. Aku tertipu oleh kepolosan sendiri, dan berakhir menyedihkan seperti sekarang."

Tentu saja, Cedric tidak mengetahui kebenaran kelam lain yang disembunyikan rapat-rapat oleh gadis di sampingnya.

Elara bukan sekadar diusir dari kaumnya. Lebih dari itu, dia adalah sebuah aib besar bagi ras Siren karena dosa masa lalunya: Elara telah jatuh cinta pada seorang pria dari ras Mermen yang sudah beristri. Sialnya, pria itu bukanlah rakyat jelata, melainkan seorang pangeran mahkota dari Kerajaan Mermaid.

Elara yang telanjur buta oleh cinta telah ditipu mentah-mentah. Pangeran itu memanfaatkannya, dan ketika Elara dengan nekat menembus batas teritori suci klan Mermaid demi menemui sang pujaan hati, takdir berbalik kejam.

Pria yang sangat dicintainya itu justru berkhianat. Karena didera ketakutan luar biasa jika perselingkuhan mereka terendus oleh sang istri, sang pangeran menjebloskan Elara ke dalam penjara bawah tanah paling terisolasi di Abyssal Trench.

Belasan tahun lamanya Elara membusuk di dalam sel yang dingin dan gelap, menelan pil pahit akibat pengkhianatan cinta pertamanya. Namun, karena pertahanan sang Siren tidak pernah padam. Beberapa waktu lalu, ia berhasil melakukan aksi nekat dengan meloloskan diri dari penjara bawah laut paling ketat di kerajaan Abyssal Trench tersebut.

Kini, Elara adalah seorang buronan nomor satu yang paling dicari oleh seluruh armada Kerajaan Mermaid. Sial bagi Cedric, pengusaha Elf itu sama sekali tidak menyadari bahwa gadis rapuh berselimut mantelnya saat ini adalah pemantik bom waktu yang bisa menyulut perang besar antar ras jika keberadaannya sampai terendus ke daratan.

****

Satu jam berlalu, menyisakan keheningan panjang di antara mereka berdua. Cedric sengaja tidak melayangkan pertanyaan apa pun lagi tentang masa lalu Elara. Ia hanya tidak ingin membuat beban pikiran gadis itu menjadi semakin rumit dan menumpuk.

"Inilah rumahku. Kita sudah sampai," ucap Cedric lembut, memecah kesunyian.

Mobil mewah itu berhenti di pekarangan rumah yang cukup luas. Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah rumah dua lantai yang sederhana namun memancarkan kesan elegan yang kuat. Suasana di sekitar sana amat sepi, dikelilingi oleh pepohonan rindang yang menguar hawa menyejukkan. Jarak antar rumah tetangga di kawasan ini terbilang agak berjauhan.

Tampaknya, ini adalah salah satu kawasan semi-pedesaan yang tersembunyi di pinggiran Kota Luminara.

Cedric keluar dari mobil, lalu bergerak memutari kap mesin untuk membopong Elara kembali ke dalam dekapannya. Setelah menutup pintu mobil dengan siku secara perlahan, ia melangkah dengan hati-hati menuju beranda rumah.

"Tuan... apakah tidak akan menjadi masalah jika saya masuk ke rumah Anda?" tanya Elara ragu, mengeratkan pegangannya pada mantel Cedric.8 "Dan apakah orang tua Anda tidak keberatan?"

"Jangan khawatir. Aku tinggal sendiri di sini. Kedua orang tuaku—maksudku, ayahku tinggal di pusat kota, sangat jauh dari sini," jawab Cedric menenangkan.

Alasan itulah yang membuat Cedric berani membawa Elara ke tempat ini. Semenjak duduk di bangku sekolah menengah, ia memang sudah berkomitmen untuk hidup mandiri. Ia menabung dari hasil keringatnya sendiri hingga akhirnya, setelah lulus, ia berhasil mendirikan restoran impiannya tanpa sepeser pun bantuan dari nama besar ayahnya. Rumah ini sendiri merupakan warisan dari mendiang kakek dan nenek dari pihak ibunya yang merupakan seorang manusia biasa.

"Lalu, bagaimana dengan para tetangga jika mereka melihat Anda membawa gadis asing yang mencurigakan masuk ke rumah Anda?"

Elara kembali bertanya, didera rasa bersalah.

"Kau terlalu banyak bicara dan mengkhawatirkan hal yang tidak penting," sahut Cedric datar, namun tidak terdengar membentak.

"Orang-orang di sekitar sini sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mereka tidak punya waktu untuk mempermasalahkan, apalagi mengurusi hidup orang lain. Lagipula, ini adalah rumahku. Di sini, akulah yang berhak menentukan siapa yang boleh masuk."

Elara terdiam. Di balik dinding dadanya, ada sesuatu yang hangat perlahan menjalar. Ia merasa sedikit tersentuh oleh ketegasan pria Elf di hadapannya ini.

'Kurasa dia benar-benar pria yang baik...' batin Elara perih. 'Andai saja aku bertemu dengannya lebih awal, nasibku pasti tidak akan berakhir sehina ini.'

Saat kepalanya bersandar di dada tegap itu, indra penciuman Elara yang sensitif kembali menangkap sesuatu. Mengapa aroma tubuh pria ini begitu memabukkan? Aroma pinus yang menenangkan, namun terasa sangat pekat dan mendalam secara bersamaan.

Jantung Elara berdegup kencang saat sebuah realitas magis menghantam benaknya. 'Apakah aroma ini... aroma yang di sebut sebagai belahan jiwa?'

Elara mendongak, menatap lekat-lekat pahatan rahang dan wajah rupawan Cedric dari bawah. 'Apa dia... mate-ku?'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!