NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Ruang OSIS SMA Bina Bangsa selalu terasa seperti ruang direktur eksekutif di sebuah perusahaan elit. AC menyala dingin di suhu dua puluh derajat, papan tulis penuh dengan jadwal yang ditulis rapi menggunakan spidol warna-warni, dan deretan komputer yang terus menyala.

Di kursi kebesarannya, Akram duduk dengan wajah datar. Jari telunjuk tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja secara ritmis, sementara mata hitamnya menatap kosong ke arah layar laptop yang menampilkan tabel anggaran pensi sekolah.

Pikirannya sama sekali tidak ada di sana.

Otak Akram terus memutar ulang kejadian di koridor tadi pagi. Sensasi hangat kulit leher Almeera saat jarinya tanpa sengaja bersentuhan dengan cewek itu masih tertinggal di ujung jarinya. Ia ingat bagaimana mata cokelat terang itu membelalak kaget, dan bagaimana napas Almeera tertahan.

Sial. Akram mengusap wajahnya kasar. Ia berniat jahil, tapi entah kenapa justru dirinya sendiri yang merasa seperti tersengat listrik.

"Kram? Lo dengerin gue nggak sih?"

Suara lembut namun menuntut itu menarik Akram kembali ke alam sadar. Heera berdiri di sebelah mejanya, meletakkan segelas es kopi susu kekinian yang mengembun dingin. Senyum cewek itu mengembang manis, menampilkan lesung pipi yang dulu pernah membuat Akram tertarik saat kelas sepuluh. Dulu.

"Denger," jawab Akram singkat, memundurkan punggungnya bersandar di kursi, tanpa sadar memberi jarak antara dirinya dan Heera. "Soal vendor sound system, kan? Kasih aja kontaknya ke Bastian, nanti dia yang urus harganya."

Heera sedikit cemberut, tangannya terulur merapikan kerah kemeja Akram yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Lo kenapa sih hari ini? Kayak kurang fokus gitu. Mikirin apa? Atau... mikirin siapa?" godanya dengan nada manja.

Tubuh Akram menegang. Secara refleks—dan sangat halus—ia memutar kursinya sedikit sehingga tangan Heera terlepas dari kerahnya. Ia tidak pernah peduli sebelumnya jika Heera atau siswi lain mencari perhatian padanya. Itu bagian dari citranya. Tapi hari ini, sentuhan perempuan lain entah kenapa terasa salah.

"Mikirin proposal yang belum beres, Ra. Bentar lagi deadline," kilah Akram, mengambil es kopi susu itu dan menyesapnya sekilas. Terlalu manis. Ia lebih suka kopi hitam buatan...

Akram menggelengkan kepalanya pelan, mengusir bayangan kopi hitam buatan Almeera yang disuguhkan dengan wajah cemberut saat malam pertama mereka di rumah. Stop. Lo gila, Kram.

Bastian yang duduk di meja seberang memutar bola matanya melihat interaksi itu. Sebelum ia sempat berkomentar, pintu ruang OSIS terbuka dengan kasar tanpa ketukan.

BRAK!

Semua kepala di ruangan itu menoleh. Di ambang pintu, berdirilah Almeera. Rambutnya diikat cepol tinggi, seragamnya sedikit berantakan karena angin, dan di tangannya tergenggam sebuah map hijau yang sudah sedikit lecek.

Mata Almeera langsung menangkap pemandangan di depannya: Heera yang berdiri sangat dekat dengan kursi Akram, dan segelas es kopi susu di atas meja cowok itu. Rahang Almeera mengeras. Ada sengatan panas yang tiba-tiba menyambar dadanya.

"Masuk itu ketuk pintu, Almeera. Ini bukan studio band lo yang bisa lo dobrak seenaknya," tegur Akram dengan nada dingin seorang Ketua OSIS yang berwibawa, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum geli melihat wajah garang istrinya itu.

Almeera melangkah masuk dengan hentakan kaki mantap, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan belasan anggota OSIS lainnya. Ia melempar map hijau itu ke atas meja Akram, tepat di sebelah es kopi susu milik Heera.

"Tanda tangan. Sekarang," tuntut Almeera tanpa basa-basi.

Heera mengernyitkan dahi, merasa terganggu. "Al, lo nggak bisa sopan sedikit ya sama Ketua OSIS? Lagian ini proposal apa? OSIS lagi sibuk ngurusin pensi secara keseluruhan, bukan cuma urusan band lo aja."

Almeera menatap Heera dari atas ke bawah. "Gue nggak ngomong sama lo, Mbak Mantan. Gue ngomong sama tiang listrik yang lagi duduk ini. Dan asal lo tahu, proposal ini buat pencairan dana sewa drum set tambahan. Kalau alatnya nggak ada, band gue nggak main. Kalau band gue nggak main, pensi kalian bakal segaring kerupuk melempem."

Bastian menahan tawanya dengan berpura-pura batuk keras.

Akram mengangkat sebelah alisnya. Ia mengambil map hijau itu, membukanya dengan gerakan pelan yang sangat menyebalkan bagi Almeera, lalu membacanya sejenak.

"Biayanya membengkak dari draf awal," komentar Akram kritis. Ia menatap Almeera. Matanya mengunci pandangan cewek itu dengan intensitas yang membuat Almeera mendadak salah tingkah. "Gue nggak bisa sembarangan tanda tangan kalau anggarannya nggak masuk akal."

"Harganya emang naik! Lo kira nyewa drum set spesifikasi kayak gitu bayarnya pakai daun?!" balas Almeera sengit, bertumpu pada meja Akram, memajukan wajahnya menantang cowok itu.

Jarak mereka terpangkas. Aroma mint maskulin kembali menyapa penciuman Almeera, kali ini bercampur samar dengan aroma manis kopi susu. Almeera menelan ludah, menahan gejolak di perutnya saat mata hitam Akram menatapnya dengan jarak sedekat ini.

"Kalau gitu, revisi," kata Akram tenang. Ia menyodorkan kembali map itu. "Bikin rinciannya lebih detail. Gue nggak mau tanda tangan barang setengah jadi."

Almeera membelalak. "Revisi?! Lo gila?! Acara pensi tinggal dua minggu lagi, Kram! Kalau gue harus ngurus revisi ke kepsek lagi, alatnya keburu di-booking sekolah lain!"

"Bukan urusan gue." Akram tersenyum tipis. Sangat tipis, namun penuh kemenangan. "Aturan adalah aturan, Almeera Azzahra."

Heera tersenyum puas melihat Almeera ditolak mentah-mentah. "Denger kan, Al? Udah sana, revisi dulu. Jangan ganggu Akram, dia lagi banyak pikiran."

Kalimat Heera sukses membuat batas kesabaran Almeera jebol. Matanya berkilat marah. "Oke," desis Almeera. Ia menyambar map hijau itu dengan kasar dari meja. Namun saking kasarnya, sikunya tanpa sengaja menyenggol gelas es kopi susu milik Heera.

PRANG!

Gelas plastik itu jatuh, isinya tumpah membasahi lantai dan... separuh celana seragam Akram.

Keheningan seketika menyelimuti ruang OSIS. Bastian menepuk jidatnya. Heera memekik kaget. Sementara Akram memejamkan matanya, menarik napas sangat, sangat panjang.

"Astaga, Kram! Celana lo!" Heera buru-buru menarik kotak tisu dari meja dan dengan panik mencoba mengelap celana Akram.

Namun sebelum tangan Heera menyentuh paha Akram, Almeera bereaksi lebih dulu. Entah dorongan dari mana, Almeera merebut kotak tisu itu dari tangan Heera dengan kasar.

"Nggak usah caper lo!" semprot Almeera pada Heera, suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan. "Gue yang numpahin, gue yang bersihin!"

Heera terkesiap, melangkah mundur karena kaget melihat reaksi agresif Almeera. Seluruh anggota OSIS di ruangan itu mematung, seolah sedang menonton drama Korea secara live.

Almeera segera berjongkok, menarik beberapa lembar tisu, lalu mulai mengelap celana Akram. Pikirannya kalut. Ia marah karena proposalnya ditolak, marah karena Heera terus menempel, dan yang paling membuatnya marah... ia benci menyadari bahwa dirinya tidak suka melihat perempuan lain menyentuh Akram.

Di atasnya, Akram menunduk menatap Almeera yang sedang sibuk mengelap noda kopi di kakinya. Ekspresi cowok itu yang tadinya kesal, perlahan berubah. Ada kilatan geli di matanya saat melihat telinga Almeera memerah sempurna.

Dia cemburu, batin Akram, dan pemikiran itu entah kenapa membuat perutnya dipenuhi ribuan kupu-kupu yang beterbangan.

"Pelan-pelan ngelapnya, Al," tegur Akram dengan suara baritonnya yang rendah dan berat, sengaja digantung. "Tangan lo basah."

Gerakan tangan Almeera terhenti seketika. Jantungnya seakan anjlok ke lantai. Ia baru menyadari betapa intim posisinya saat ini. Ia sedang berjongkok di depan kaki Akram, dan tangannya menempel di paha cowok itu.

Wajah Almeera memanas seperti kepiting rebus. Ia langsung berdiri tegak seperti per tersentak, melempar gumpalan tisu basah itu ke dada Akram.

"Bersihin sendiri, manja lo!" seru Almeera panik, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur.

Akram menangkap tisu itu dengan santai, senyum miringnya akhirnya mengembang penuh. "Gitu dong, tanggung jawab. Padahal gue udah nyaman lo bersihin."

"Sialan lo!" umpat Almeera tertahan. Ia memutar tubuhnya, setengah berlari menuju pintu keluar dengan map hijau yang dipeluk erat di dada, meninggalkan keheningan canggung di ruang OSIS.

Begitu Almeera menghilang di balik pintu, Bastian berdeham keras memecah keheningan. "Jadi... Ketua OSIS kita barusan di-KDRT secara visual nih?"

Akram tidak menanggapi ledekan sahabatnya. Ia menatap ke arah pintu dengan senyum yang belum pudar dari wajahnya. Kopi dingin di kakinya terasa lengket dan mengganggu, tapi entah kenapa, suasana hatinya siang ini jauh lebih baik dari sebelumnya.

Namun, senyum Akram perlahan luntur saat ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk dari mamanya.

Mama Jihan:

Kram, sepulang sekolah langsung bawa Almeera ke apartemen baru kalian. Papa udah bayar lunas. Kunci ada di resepsionis. Malam ini kalian harus mulai pindahan pelan-pelan dari rumah orang tua.

Akram membaca pesan itu dua kali. Napasnya tercekat. Pindah ke apartemen? Tinggal berdua saja di bawah satu atap? Mulai hari ini?!

Jika insiden kopi tadi adalah pemanasan kecil, maka tinggal berdua di apartemen dengan Almeera Azzahra jelas akan menjadi medan perang sesungguhnya. Dan untuk pertama kalinya, sang Ketua OSIS yang selalu punya rencana cadangan itu... merasa sangat tidak siap.

1
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Reyhan gangguin aja 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
maaf tor Almeera sama Akram kelas berapa y
Aidil Kenzie Zie: oalah kirain kls 12 jadi kan nggak perlu lama backstreet nya 🤣🤣🥰🥰
total 2 replies
Aidil Kenzie Zie
ngaku nggak ya🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
akhirnya semua kupu-kupu 🦋🦋 terbang dari jantung 💓💓 mereka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
dig dig dig dig apa Akram akhirnya keceplosan bilang kalau Almeera istrinya 🤔🤔🤔🤔🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
si mbak mantan sok berkuasa 😏😏
Aidil Kenzie Zie
si Mama gimana sih 😡😡 pengen hub anaknya terbongkar apa nggak sadar kalo Akram udah nikah dan tinggal disana sama istrinya 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si Shopia udah dibilangin nyokap Al ganti parfum loundry masih aja kepo🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
si mama kok ember sich 🤭🤭🤭
Dara Sari
blm menarik banget alur cerita nya masih sedikit kaku dan kurang greget...maaf yaa Thor sedikit keritik semoga BS lbh baik kedepannya...
Moora: Makasiih tapi loh ya koreksiny... "gue suka gaya lo". Hehe jdi pelajaran kedepanny buat aku... 😊 makasiih
total 1 replies
Khusnul Khotimah
💪💪baru baca lihat bab terakhir dulu KLO menarik lanjut
Aidil Kenzie Zie
udah ngaku aja lagi PDKT 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
jantung mereka langsung dig dug dig dig🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
siap -siap makin panas dingin Akram
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!