Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19: Ular Pengganggu
System Glitch
Waktu: 09:00 AM
Sinar matahari pagi London yang pucat menembus lewat jendela besar kantor Direktur Utama.
Stella berdiri di tengah ruangan, tangannya berkacak pinggang sambil menatap tumpukan berkas yang masih menggunung di atas meja mahoninya.
Meskipun staminanya sudah sedikit membaik berkat Wagyu kiriman "Pangeran Es" semalam, badannya tetap terasa kaku dan pegal luar biasa.
"Vix, apa sistem canggih ini tidak punya fitur pijat otomatis atau semacamnya?" gumam Stella sambil menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan sampai terdengar bunyi krek pelan.
"Jangan manja, Host. Kau baru saja memakan daging sapi kualitas premium seharga satu bulan gaji manajer mu semalam," sahut Vix.
Rubah putih itu sedang asyik melayang-layang di dekat langit-langit, mencoba menangkap partikel debu yang menari di bawah sinar matahari dengan cakar kecilnya.
Stella memutar bola matanya. Ia berjalan menuju meja kerja dan mulai memilah dokumen.
Tiba-tiba, layar biru transparan menyala tepat di depan wajahnya, disertai bunyi notifikasi yang sudah sangat ia hafal.
[ Ding! ]
[ Misi Harian Diaktifkan! ]
[ Misi: Rapikan meja kerjamu dan buang satu barang peninggalan Paman Arthur yang menurutmu paling tidak berguna. ]
[ Hadiah: 5 Poin Karma & 1 Gelas Jus Jeruk Segar (Dingin). ]
"Nah, ini baru misi yang sangat manusiawi," Stella bergumam lega.
Ia mulai bergerak gesit. Berkas-berkas disusun berdasarkan tingkat prioritas. Sampah kertas dari memo-memo lama dimasukkan ke mesin penghancur.
Saat sedang asyik membereskan laci paling bawah meja tersebut, tangan Stella menyentuh sebuah benda berat.
Ia menariknya keluar dan mendapati sebuah patung kecil berbentuk anjing bulldog berlapis emas palsu yang terlihat sangat norak dan berlebihan.
"Ini dia. Barang paling tidak berguna dan sangat merusak estetika ruanganku,"
Stella tanpa ragu memegang patung itu tinggi-tinggi, lalu menjatuhkannya ke dalam tempat sampah besi di sudut ruangan dengan bunyi dentang yang keras bergema.
[ Misi Selesai! ]
Bersamaan dengan hilangnya layar biru, sebuah gelas kaca tinggi yang berembun dingin berisi jus jeruk segar muncul entah dari mana, mendarat dengan mulus di atas tatakan gelas di mejanya. Stella langsung meminumnya.
Rasa asam dan manis yang menyegarkan tenggorokan seketika membuatnya merasa jauh lebih hidup.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama.
Pintu kantornya terbuka tanpa diketuk. Stella baru saja akan melontarkan teguran tajam ketika ia melihat siapa yang datang. Chloe melangkah masuk dengan sangat pelan.
Penampilan gadis itu pagi ini dirancang sedemikian rupa untuk membangkitkan rasa iba. Ia memakai gaun rajut warna cream yang memberikan kesan lembut, dengan riasan minimalis yang membuat matanya terlihat sedikit sembab dan memerah.
"Kak Stella..." suara Chloe mengalun pelan sekali, hampir tenggelam dalam dengungan mesin pendingin ruangan.
Stella meletakkan gelas jusnya. Ia duduk di kursinya, menyandarkan punggungnya perlahan dengan gaya bos besar yang sangat dominan.
Tatapan matanya yang tajam menelusuri sosok adik tirinya dari atas sampai bawah.
"Ada apa lagi, Chloe? Bukannya kau seharusnya sedang sibuk mencari pengacara yang mau membela pamanmu?" tanya Stella dengan nada datar yang menusuk.
Chloe melangkah mendekat ke meja. Jemarinya yang lentik berpura-pura mengusap sudut matanya dengan sapu tangan.
Aroma parfum floralnya yang menyengat dan tajam perlahan menguar, membuat Stella harus menahan napas sejenak agar wangi White Tea & Peony-nya tidak terkontaminasi.
"Aku... aku tidak menyangka Paman Arthur bisa sejahat itu," isak Chloe pelan.
"Aku merasa sangat bersalah karena selama ini berada di pihaknya dan salah paham padamu, Kak. Aku datang ke sini karena aku mau membantu. Proyek kerja sama penyiaran dengan Blake Group... aku tahu seluk-beluknya karena aku yang menyusun idenya sebelum kau kembali. Biarkan aku membantumu di tim kreatif, ya? Sebagai penebusan dosaku."
Mata monolid Stella menyipit berbahaya. Ia bisa membaca rencana kotor itu semudah membaca buku bergambar anak-anak.
Chloe mau masuk ke dalam tim inti agar bisa mencuri data atau menyabotase presentasi besar mereka nanti.
"Membantu?" Stella tertawa kecil.
Suara tawanya tidak keras, tapi cukup meremehkan untuk membuat rahang Chloe menegang sesaat.
"Kau? Berada di dalam tim kreatifku? Apa yang mau kau sumbangkan, Chloe? Apa kau mau menggambar diagram tentang cara menangis di depan kamera untuk materi presentasi kita ke Blake Group?"
Wajah Chloe memucat sesaat, topeng kepolosannya nyaris retak, sebelum ia kembali ke mode 'adik yang tersakiti'.
"Kakak... kenapa kau sekarang sangat kasar padaku? Aku hanya tidak mau perusahaan warisan Ayah hancur karena masa transisi ini."
"Perusahaan ini tidak akan hancur selama aku yang memegang kendali," jawab Stella mutlak, mengibaskan tangannya seolah mengusir serangga pengganggu.
"Jadi, lebih baik kau keluar dan cari hobi baru untuk mengisi waktumu. Mungkin mengambil kelas akting profesional? Karena jujur saja, air matamu hari ini terlihat sangat dipaksakan."
Chloe menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tangannya mengepal erat di balik lipatan gaun rajutnya.
Sebelum ia sempat meledak dan membalas hinaan Stella, pintu kantor kembali terbuka lebar.
Kali ini, Liam melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih tegang dari biasanya. Pria berkacamata itu menelan ludah sebelum berbicara.
"Nona Rosewood, mohon maaf mengganggu. Tuan Blake sudah berada di lobi bawah. Beliau memutuskan untuk meninjau draf awal proyek kerja sama secara langsung pagi ini," lapor Liam kaku.
Stella tertegun, alisnya bertaut.
"Sekarang? Bukannya asisten pamanku yang dulu mengatur janji temu di jam sebelas siang?"
"Beliau mengatakan bahwa... beliau sangat benci menunggu waktu yang sudah bisa diprediksi," jawab Liam, merendahkan suaranya seolah takut bosnya mendengarnya dari bawah.
Mendengar nama Neo disebut, postur tubuh Chloe langsung berubah drastis.
Gadis itu buru-buru menyelipkan rambut pirangnya ke belakang telinga, membusungkan dadanya sedikit, dan menegakkan tubuhnya, mencoba terlihat serapuh tapi semenarik mungkin.
Stella hanya bisa mendesah panjang dalam hati melihat kelakuan murahan adik tirinya itu.
Waktu: 09:15 AM
Langkah kaki yang mantap, berat, dan dipenuhi otoritas absolut terdengar di sepanjang koridor lantai 40. Tidak ada yang berani bersuara di luar sana.
Neo Hayes Blake melangkah masuk ke dalam ruangan.
Aura yang dibawa pria itu begitu mendominasi, seolah ia baru saja membeli seluruh gedung Rosewood Media dalam perjalanannya menaiki lift.
Setelan jas charcoal gelapnya memeluk tubuh besarnya tanpa cela.
Begitu ia melangkah melewati ambang pintu, aroma Dark Musk dan Leather miliknya yang pekat dan maskulin langsung menelan seluruh udara di ruangan itu, mengusir bau parfum floral Chloe dan bertabrakan dengan elegan dengan wangi White Tea & Peony milik Stella.
"Tuan Blake!" Chloe langsung mengambil satu langkah maju ke arah Neo, memasang senyum termanis dan mata memuja yang selalu ia gunakan.
"Baru kemarin kita bertemu. Aku kebetulan sedang berada di sini untuk membantu Kak Stella menyiapkan berkas untukmu."
Neo bahkan tidak menoleh atau melirik ke arah Chloe sama sekali.
Pria itu menganggap gadis bergaun cream itu seolah-olah hanyalah sebuah vas bunga jelek yang tidak penting.
Matanya yang gelap dan sedingin obsidian langsung terkunci pada sosok Stella yang masih duduk dengan tenang di balik meja mahoni besarnya.
Tatapan Neo begitu tajam, penuh perhitungan dan selidik, menembus pertahanan Stella seolah ia sedang mencari sisa-sisa 'gadis gila goyang pinggul' semalam pada diri wanita yang kini terlihat luar biasa anggun dan profesional di hadapannya.
"Mana drafnya?" tanya Neo tanpa basa-basi.
Suaranya berat, serak, dan menggetarkan kesunyian ruangan.
Stella tidak langsung berdiri. Ia mempertahankan posisinya, lalu dengan gerakan pelan, mendorong sebuah map biru tebal melintasi meja ke arah Neo.
"Masih sangat mentah. Tapi setidaknya angka-angka di dalamnya jauh lebih masuk akal dan waras daripada rencana bisnis sampah yang dibuat oleh Arthur sebelumnya," jawab Stella berani, menatap lurus ke dalam mata Neo.
Neo melangkah maju dan mengambil map itu. Namun alih-alih duduk di kursi tamu, ia tetap berdiri.
Pria itu mencondongkan tubuh besarnya ke atas meja kerja Stella, mengurung jarak di antara mereka.
Tekanan aura gelap dan dominan yang memancar dari tubuh Neo membuat Chloe yang berdiri agak jauh merasa tercekik dan mati kutu.
Saat Neo membuka halaman pertama map tersebut, sebuah layar biru yang sangat terang mendadak meledak di depan mata Stella, membuat wanita itu nyaris melompat dari kursinya.
[ Ding! ]
[ Misi Harian Diaktifkan! ]
[ Misi: Puji wangi tubuh Neo Blake saat ini juga, tapi kau harus menggunakan perumpamaan yang aneh dan spesifik. ]
[ Dialog yang harus diucapkan: "Tuan Blake, kau wangi sekali hari ini. Kau wangi seperti pria berbahaya yang baru saja membakar gudang senjata tapi tetap sempat mandi air mawar." ]
[ Hadiah: 20 Poin Karma & Penambah Stamina Instan (100%). ]
[ Hukuman Gagal: Host akan mengalami cegukan yang bunyinya persis seperti suara gelembung sabun pecah selama 12 jam nonstop. ]
Vix! Kau benar-benar ingin mempercepat kematianku! jerit Stella di dalam kepalanya, menatap layar biru itu dengan horor.
To be Continued