Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat di Tengah Badai
Malam berikutnya, hujan yang mengguyur perbatasan utara semakin menjadi-jadi. Angin kencang menderu dari arah lereng bukit, menghantam atap seng rumah dinas hingga menimbulkan suara gaduh yang memekakkan telinga.
Di dalam ruang kerja Eshar, suasana terasa jauh lebih dingin. Dua buah lampu petromak bergoyang pelan, sehingga melemparkan bayangan tak menentu di atas peta topografi sektor barat yang penuh dengan coretan perencanaan.
Erica Fiorenza berdiri di dekat meja, melipat kedua tangannya di depan dada untuk menghalau hawa dingin yang menusuk. Gaun terusan wol rajut berwarna abu-abu yang dikenakannya memberikan sedikit rasa hangat.
Isi kepalanya sepenuhnya terfokus pada siasat yang sedang berjalan. Dirinya yang sedang waspada, mengabaikan rasa lelah yang sebenarnya mulai menjalar di tubuhnya.
Di hadapannya, Jenderal Eshar Megantara sedang memeriksa magasin senapan serbu miliknya dengan gerakan yang teratur dan cekatan. Paras tampannya yang misterius tampak mengeras di bawah temaram cahaya lampu petromak.
Hari ini dia mengenakan seragam dinas lapangan lengkap dengan rompi lapangan, siap untuk memimpin operasi penyergapan secara langsung.
"Pasukan intelijen Axelo sudah bergerak ke Pos Pemeriksaan Utama sejak satu jam lalu," ujar Eshar, suaranya yang berat tenggelam di antara deru angin malam.
"Surat balasan yang sudah kita ubah koordinatnya telah sampai ke tangan kurir Daniel atas nama Nyonya Ratna tadi sore. Sesuai perkiraanmu, Daniel langsung menginstruksikan kapal logistiknya untuk merapat ke titik yang dia kira aman."
Erica pun melangkah langsung menghadapi meja, matanya menatap tajam ke arah titik merah di peta yang menandai Pos Pemeriksaan Utama Batalyon Infanteri.
"Sekarang, dia pasti menjadi percaya diri karena mengira telah berhasil menyuap jalur perbatasan lewat Mayor Bambang. Kesombongannya itu akan menjadi senjata makan tuan untuk dirinya sendiri."
Eshar meletakkan senjatanya, lalu mendongak menatap Erica yang berdiri di hadapannya. Pasangan mata coklatnya yang dingin menatap lekat-lekat ke dalam manik mata sang istri. Hening, suasana intens yang mendadak tercipta di antara mereka, mengabaikan riuh rendah badai di luar.
"Jika operasi ini berhasil, Daniel tidak akan hanya kehilangan seluruh investasinya, Erica," kata Eshar, suaranya merendah.
"Bukti penyelundupan tekstil ilegal berskala besar di wilayah militer aktif adalah pelanggaran hukum berat. Mas Benny tidak akan punya pilihan selain mendepak Daniel dari posisi apapun di Megantara Corp demi menyelamatkan nama baik keluarga. Ini adalah taruhan terakhir kita."
Mendengar itu, Erica menyunggingkan senunyuman dingin.
"Itulah yang kuinginkan, Eshar. Di kehidupan... maksudku, selama ini dia selalu merasa berada di atas angin karena berlindung di balik ketiak orang tuanya. Malam ini, kita akan merenggut itu darinya."
Tiba-tiba, pintu ruang kerja diketuk dengan tergesa-gesa. Axelo melangkah masuk dengan radio panggil militer yang berkerisik keras di tangannya. Mantel hujannya tampak basah kuyup, membawa tetesan air hujan ke dalam ruangan.
"Lapor, Jenderal!" Axelo menegakkan tubuhnya, memberikan hormat dengan gerakan disiplin penuh, tidak ada raut humoris untuk malam ini.
"Radar pantai di sektor barat baru saja menangkap sinyal dari dua kapal tanpa lampu yang bergerak mendekati perairan dangkal tepat di bawah Pos Pemeriksaan Utama. Kapal itu adalah armada penyelundup milik jaringan Daniel!" jelas Axelo dengan terburu-buru.
Kilat berbahaya seketika memancar dari mata coklat Eshar. Dia menyambar senjatanya dan mengenakan topi pet militernya dengan gerakan tegap.
"Axelo, perintahkan Kompi Senapan B untuk memblokir seluruh jalur pelarian darat di sekitar pos," perintah Eshar tegas, suaranya bergaung penuh otoritas seorang komandan tertinggi.
"Jangan lepaskan satu pun dari mereka. Aku sendiri yang akan memimpin interogasi di lapangan."
"Siap, laksanakan, Jenderal!" Axelo segera berbalik dan melangkah cepat keluar untuk mengoordinasikan pasukan lewat telegraf rahasia.
Eshar berbalik menatap Erica untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke medan perang kecil. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Erica bisa merasakan aura maskulin suaminya yang begitu kuat dan mendominasi.
Tangan Eshar yang besar dan dingin bergerak perlahan, menggenggam jemari Erica dengan erat. Sentuhan tangan itu seketika mengirimkan getaran yang membuat jantung Erica berdebar kencang.
"Tetaplah di dalam rumah, Erica," bisik Eshar, matanya mengunci tatapan sang istri dengan rasa protektif yang tak lagi disembunyikan di balik dinding kontrak mereka.
"Kunci semua pintu, jangan dibuka jika itu bukan aku atau Axelo yang datang. Badai di luar sangat berbahaya, dan aku tidak ingin memikirkan keselamatanmu saat aku sedang berada di tengah baku tembak."
Erica mendongak, menatap paras tampan suaminya dengan binar mata yang khawatir. Tapi dia tidak ingin Eshar tahu, maka ia pun menahannya hingga terlihat tidak gentar sedikit pun.
"Kembalilah dengan selamat, Eshar. Aku akan menunggumu. Ingatlah bahwa kau masih memiliki sisa kontrak yang harus diselesaikan bersamaku."
Eshar pun menatap bibir Erica yang tersenyum, ingin sekali mencium bibir ranum itu, tapi tuntutan kontrak dan suasana yang mencekam tidak mendukungnya untuk melakukan perbuatan itu.
"Aku selalu menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, Istriku."
Dengan satu anggukan tegas, Eshar melepaskan genggaman tangannya, berbalik, dan melangkah tegap menembus kegelapan malam serta lebatnya hujan perbatasan.
Erica berjalan perlahan menuju jendela, menatap lampu-lampu truk militer yang mulai bergerak menjauhi pangkalan menuju sektor barat.
Di tengah deru badai yang mengamuk di luar, Erica tahu bahwa malam ini adalah awal dari runtuhnya kejayaan Daniel Megantara di Jakarta. Jaring jebakan yang mereka rajut dari dinginnya perbatasan utara kini telah resmi ditutup, dan strategi yang mereka susun sedang berjalan menuju sasarannya.
😁😁😁😁
kalian udh punya harta masing2 , keluarga masing2 Dan kebahagiaan masing2 ( tu pun kalo bnran punya) ,,,,
Masih aj ganggu hidup org lain ,, Masih aj ngurusin yg bukan hak ny ,,
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
😒😒😒😒😒😒
km slah justru dy pergi krn sedang menyiapkan serangan balasan yg lebih dr kejam ,, 😏😏😏😏😏😏
semangat 💪💪💪
liat kuat imronmun saja pak eshra 🤭🤭
begitulah kalau berhadapan dengan seorang yg berpangkat jendral, apa lagi plis tampan nya ga ketolongan 🤣🤣🤣
awas jangan pingsan 🤭🤭🤭