Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!
---
Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlawanan
Hari Rabu
Sidang sudah berlangsung selama tiga hari. Kami semua merasa lelah—mata terasa berat, badan pegal, pikiran kacau. Namun tidak ada satu pun yang berani absen, karena hari ini adalah hari yang paling penting. Saksi ahli dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memberikan keterangan resmi.
“Sidang dilanjutkan,” ucap hakim sambil memukul palu. “Silakan saksi ahli memberikan keterangan.”
Seorang pria paruh baya berkacamata tegas berdiri. Namanya Profesor Handoko, seorang akuntan forensik yang ditugaskan untuk meneliti isi flashdisk yang diserahkan oleh Kayla.
“Setelah kami teliti selama tiga hari penuh,” jelasnya, “kami menyimpulkan bahwa seluruh dokumen, rekaman suara, dan foto yang ada di dalam perangkat tersebut adalah asli. Tidak ditemukan tanda-tanda rekayasa, penyuntingan, atau pemalsuan.”
Ruangan sidang langsung riuh.
“Tertib!” tegur hakim sambil memukul palu keras.
“Berdasarkan bukti-bukti ini,” lanjut Profesor Handoko, “kami menemukan adanya aliran dana ilegal sebesar dua koma tiga triliun rupiah yang masuk ke rekening pribadi terdakwa dan anggota keluarganya. Terdapat juga bukti kuat yang mengaitkan terdakwa dengan sedikitnya dua belas kasus penghilangan nyawa.”
Wajah Jenderal Purnomo seketika berubah menjadi pucat pasi.
Pengacaranya segera berdiri. “Kami mengajukan keberatan! Kesaksian saksi ini tidak dapat dipercaya—”
“Keberatan ditolak,” potong hakim tegas. “Saksi ahli telah bersumpah untuk mengatakan kebenaran.”
Jenderal Purnomo membisikkan sesuatu pada pengacaranya. Pengacara itu menghela napas panjang, lalu mengangkat tangan.
“Yang Mulia, klien saya ingin mengajukan permohonan kerja sama hukum (plea bargain).”
Suasana ruangan semakin riuh. Plea bargain adalah kesepakatan di mana terdakwa mengakui kesalahannya dengan imbalan pengurangan hukuman.
“Tidak dapat diterima,” tegas jaksa penuntut umum. “Kejahatan yang dilakukan terdakwa terlalu berat: korupsi besar-besaran, pencucian uang, hingga pembunuhan berencana. Tidak ada alasan untuk memberikan keringanan.”
Jenderal Purnomo berdiri tegak. “Saya dapat memberikan informasi tentang kasus-kasus lain yang jauh lebih besar dari ini. Kasus yang melibatkan orang-orang yang jauh lebih berkuasa daripada saya.”
“Tetap tidak dapat diterima,” ulang jaksa.
Hakim memukul palu sekali lagi. “Sidang ditunda hingga besok untuk mempertimbangkan permohonan terdakwa.”
---
“Plea bargain?” tanya Sasha tidak percaya. “Dia benar-benar mengira bisa membeli keringanan hukuman?”
“Orang yang punya kekuasaan dan uang seringkali berpikir segala sesuatu bisa dibeli,” ucap Rasya dengan nada dingin.
“Tapi jaksa sudah menolaknya, kan?”
“Jaksa menolaknya untuk saat ini. Tapi bagaimana dengan besok? Atau lusa?” Rasya menghela napas. “Kita lihat saja nanti.”
Kayla mendekati kami dengan wajah cemas.
“Aku tahu apa yang sedang dia rencanakan.”
“Apa?” tanyaku.
“Dia akan mengancam keluarga jaksa. Atau mencoba menyuap hakim. Atau…” Kayla menggigit bibirnya rapat. “Atau dia akan berusaha menyingkirkan para saksi.”
“Kita?”
“Kita.”
Rasya menggenggam tanganku erat. “Maka kita harus lebih waspada dari sebelumnya.”
---
Pukul 22.30 malam. Aku baru saja selesai mandi ketika ponselku berdering. Nomornya tidak dikenal.
“Halo?”
Suara di seberang sana terdengar berat, dalam, dan sangat dingin.
“Nayla Kirana.”
“Apa ini? Siapa ini?”
“Aku mengenal baik ayah kandungmu.”
Darahku terasa berhenti mengalir.
“Dia… dia orang yang sangat baik. Sayangnya, orang baik selalu mati lebih dulu. Seperti yang akan terjadi padamu jika kamu terus ikut campur urusan ini.”
“Siapa sebenarnya kamu?”
“Itu tidak penting. Yang penting: hentikan semuanya. Jangan datang ke sidang besok. Jangan bawa saksi-saksi lagi. Atau…”
“Atau apa?”
“Atau kamu akan menyusul ayahmu di alam sana.”
Telepon langsung diputus.
Aku menggigil hebat. Orang tuaku sudah tidur, dan aku tidak ingin membangunkan mereka—mereka pasti akan panik. Aku segera menekan nomor Rasya.
“Ras.”
“Apa? Suaramu terdengar aneh.”
“Aku baru saja diancam. Lewat telepon.”
“Siapa yang menelepon?”
“Aku tidak tahu. Tapi dia tahu tentang ayah kandungku.”
Terdengar hening sejenak.
“Tetap di rumah. Aku datang sekarang.”
“Jam segini?”
“Iya. Jangan tidur dulu.”
---
Ayah membukakan pintu dengan wajah mengantuk dan bingung.
“Rasya? Kenapa datang jam segini?”
“Maaf, Pak. Saya harus bicara dengan Nayla. Ini sangat mendesak.”
Ayah menatapku yang berdiri di lorong, lalu mengangguk mempersilakan.
Kami duduk di teras depan. Udara malam terasa dingin, tapi tubuhku masih terus menggigil.
“Ceritakan semuanya. Suaranya, kata-katanya, semuanya.”
Aku menceritakan secara rinci apa yang baru saja terjadi.
“Orang itu pasti dari pihak Jenderal,” simpul Rasya. “Mereka mulai panik karena bukti yang kita miliki terlalu kuat.”
“Jadi… kita harus berhenti?”
“Tidak. Justru kita harus terus maju.”
“Tapi—”
Rasya menatap mataku dalam-dalam. “Jika mereka sampai mengancam, itu artinya mereka takut. Mereka sadar kita memiliki kekuatan untuk menjatuhkan mereka.”
“Tapi ayah kandungku juga dulu tahu banyak hal. Namun dia tetap terbunuh.”
“Kita tidak sendirian seperti ayahmu dulu. Kita memiliki bukti yang lengkap. Kita memiliki saksi. Dan yang paling penting… kita saling melindungi satu sama lain.”
Air mataku akhirnya jatuh. Rasya memelukku erat—pelukan yang hangat, yang membuatku merasa aman meskipun ancaman terus mengintai.
“Kita hadapi ini bersama-sama,” bisiknya.
“Janji?”
“Janji.”
---
Hari Kamis, Pukul 08.00
Di dalam mobil menuju pengadilan. Ayah yang menyetir, Bunda duduk di sebelahnya. Aku duduk di belakang bersama Rasya yang sudah dijemput dari rumahnya.
“Nak, kamu yakin ingin tetap melanjutkan?” tanya Ayah dengan nada cemas.
“Aku yakin, Yah.”
“Semakin banyak ancaman yang datang, semakin aku yakin kita berada di jalur yang benar.”
Ayah menghela napas panjang. “Kamu keras kepala sekali.”
“Seperti Ayah.”
Ayah tersenyum pahit. “Iya… mungkin begitu.”
Bunda menoleh ke arahku, matanya berkaca-kaca. “Bunda bangga padamu, Nak.”
“Kita belum menang, Bun.”
“Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal keberanian. Dan kamu… kamu sangat berani.”
Aku tersenyum kecil.
---
Sesampainya di lobi pengadilan, kami bertemu dengan Pak Bambang.
“Pak, aku diancam tadi malam,” kataku langsung.
Pak Bambang mengerjapkan matanya. “Apa?”
“Aku diancam lewat telepon. Disuruh menghentikan semuanya.”
Pak Bambang mengepalkan tangannya erat. “Sial. Mereka sudah mulai bergerak.”
“Kita harus melaporkan ini ke polisi,” kata Rasya.
“Polisi? Kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya di lingkungan mereka.”
“Laporkan saja ke jaksa, Pak. Atau langsung ke hakim.”
Pak Bambang mengangguk setuju. “Baik. Aku yang akan mengurusnya. Kalian masuk dulu ke ruang sidang. Jangan berjalan sendirian ke mana pun.”
Kami berjalan menuju ruang sidang. Sasha sudah menunggu di depan pintu dengan wajah tegang.
“Nay, kamu sudah dengar beritanya?”
“Berita apa?”
“Jenderal Purnomo… dia sakit. Katanya terkena serangan jantung tadi malam.”
“Atau pura-pura kena serangan jantung,” tambah Rasya cepat.
Aku dan Rasya saling berpandangan.
“Dia ingin menunda jalannya sidang,” kata Rasya.
“Atau menghindari kesepakatan kerja sama hukum yang sudah ditolak jaksa,” tambahku.
Sasha menghela napas panjang. “Licik sekali.”
---
Ketua majelis hakim kemudian berdiri dan mengumumkan: “Sidang ditunda sementara waktu karena terdakwa dalam keadaan sakit.”
“Kami akan menjadwalkan ulang sidang untuk minggu depan.”
“Apa?” protes jaksa. “Yang Mulia, ini jelas-jelas hanya taktik—”
“Mohon hormati keputusan pengadilan,” potong hakim tegas.
Jaksa menghela napas panjang dan mengangguk pasrah. Kami semua merasa kecewa.
Namun saat kami hendak keluar dari ruangan, seseorang menghampiri kami. Seorang wanita muda berjaket kulit hitam dengan rambut pendek.
“Nayla Kirana?” tanyanya.
“Iya. Siapa Anda?”
“Aku dari Densus 88. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Densus? Satuan anti-teror?” tanyaku terkejut.
Wanita itu tersenyum tipis. “Jenderal Purnomo bukan hanya koruptor biasa. Dia juga terlibat dalam pendanaan jaringan teroris.”
Dunia di sekitarku terasa berputar sejenak.
“Ini… jauh lebih besar dari yang kita bayangkan,” bisik Rasya di sampingku.
“Benar sekali,” lanjut wanita itu sambil menunjukkan lencana resminya. “Kami sudah mengawasi pergerakan Jenderal selama lebih dari setahun. Namun bukti yang lengkap dan kuat selalu kami cari. Dan ternyata… bukti yang kalian miliki selama ini adalah yang kami butuhkan.”
Aku terdiam sesaat, lalu bertanya: “Jadi… kita sekutu sekarang?”
“Kita sekutu, Nayla. Dan bersama-sama, kita akan menjatuhkan Jenderal Purnomo untuk selamanya.”