NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlawanan — dan Serangan Balik

Hari Rabu. Sidang sudah berlangsung tiga hari.

Kami sudah lelah. Mata sembab, badan pegal, pikiran kusut. Tapi tidak ada yang berani absen—karena hari ini adalah hari terpenting.

Saksi ahli dari KPK akan memberikan kesaksian.

"Sidang dilanjutkan," ucap hakim. "Silakan saksi ahli memberikan keterangan."

Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal berdiri. Namanya Prof. Handoko—akuntan forensik yang menganalisis USB yang diberikan Kayla.

"Setelah kami teliti selama tiga hari," katanya, "kami menyimpulkan bahwa dokumen, rekaman, dan foto di dalam USB tersebut asli. Tidak ada indikasi rekayasa atau editan."

Ruangan bergemuruh.

"Terdiam!" hakim memukul palu.

"Berdasarkan bukti-bukti ini, kami menemukan aliran dana ilegal sebesar 2,3 triliun rupiah ke rekening pribadi terdakwa dan keluarganya. Juga bukti keterlibatan terdakwa dalam setidaknya 12 kasus penghilangan nyawa."

Jenderal Purnomo pucat pasi.

Pengacaranya berdiri. "Kami keberatan! Saksi ini tidak kredibel—"

"Keberatan ditolak," potong hakim. "Saksi ahli sudah bersumpah."

Jenderal Purnomo berbisik pada pengacaranya. Pengacara itu menghela napas, lalu mengangkat tangan.

"Yang Mulia, klien saya ingin mengajukan plea bargain."

Ruangan semakin bergemuruh.

Plea bargain—tawaran kerja sama dari terdakwa untuk meringankan hukuman.

"Tidak bisa," kata jaksa. "Kejahatan terdakwa terlalu berat. Korupsi, pencucian uang, pembunuhan berencana. Tidak ada keringanan."

Jenderal Purnomo berdiri. "Aku bisa memberi informasi soal kasus lain. Lebih besar dari ini. Yang melibatkan orang-orang yang lebih berkuasa dari aku."

"Tidak bisa," ulang jaksa.

Hakim memukul palu. "Sidang ditunda hingga besok untuk mempertimbangkan permohonan terdakwa."

---

Setelah Sidang

"Plea bargain?" Sasha tidak percaya. "Dia pikir dia bisa beli keringanan?"

"Orang kaya selalu berpikir uang bisa membeli segalanya," ucap Rasya dingin.

"Tapi jaksa bilang tidak bisa."

"Jaksa bilang tidak bisa sekarang. Tapi besok? Lusa?" Rasya menghela napas. "Kita lihat saja."

Kayla mendekati kami. Wajahnya gelisah.

"Aku tahu apa yang dia rencanakan."

"Apa?" tanyaku.

"Dia akan mengancam keluarga jaksa. Atau menyuap hakim. Atau..." Kayla menggigit bibir. "Atau dia akan menghilangkan saksi-saksi."

"Kita?"

"Kita."

Rasya menggenggam tanganku. "Maka kita harus lebih waspada."

---

Malam Itu — Ancaman Pertama

Jam menunjukkan pukul 22.30. Aku baru selesai mandi ketika handphoneku berdering. Nomor tidak dikenal.

"Halo?"

Suara di seberang sana berat, dalam, dan dingin.

"Nayla Kirana."

"Ini siapa?"

"Aku mengenal ayah kandungmu."

Darahku membeku.

"Dia... dia orang baik. Sayangnya, orang baik selalu mati lebih dulu. Seperti yang akan terjadi padamu jika kamu terus ikut campur."

"Siapa ini?"

"Tidak penting. Yang penting: berhenti. Jangan datang ke sidang besok. Jangan bawa saksi. Atau..."

"Atau apa?"

"Atau kamu akan menyusul ayahmu."

Telepon ditutup.

Aku menggigil. Bunda dan Ayah sudah tidur. Aku tidak bisa bangunkan mereka—mereka akan panik.

Aku menekan nomor Rasya.

"Ras."

"Kenapa? Suaramu aneh."

"Aku diancam. Lewat telepon."

"Kata siapa?"

"Aku tidak tahu. Tapi dia tahu soal ayah kandungku."

Keheningan.

"Rasya?"

"Aku ke rumah kamu. Sekarang."

"Jam segini?"

"Iya. Jangan tidur dulu."

---

Pukul 23.15 — Rasya Tiba

Ayahku yang membukakan pintu—dengan wajah mengantuk dan kusut.

"Rasya? Jam segini?"

"Maaf, Pak. Saya harus bicara dengan Nayla. Mendesak."

Ayah menatapku yang berdiri di lorong. Dia mengangguk.

"Jangan lama-lama. Besok sekolah."

Kami duduk di teras depan. Udara malam dingin, tapi aku masih menggigil.

Rasya menggenggam tanganku. "Ceritakan detailnya."

Aku ceritakan semuanya—suara, kata-kata, intonasi.

"Seseorang dari pihak Jenderal," simpul Rasya. "Mereka panik."

"Terus kita harus berhenti?"

"Tidak. Justru kita harus terus."

"Tapi—"

Rasya menatap mataku. "Kalau mereka mengancam, artinya mereka takut. Mereka tahu kita punya kekuatan untuk menjatuhkan mereka."

"Tapi ayah kandungku juga dulu tahu. Tapi dia tetap mati."

"Kita bukan ayahmu. Kita punya lebih banyak bukti. Kita punya saksi. Kita punya... kita punya satu sama lain."

Aku menangis.

Rasya memelukku—pelukan yang hangat, yang membuatku merasa aman meskipun dunia di luar sedang berusaha menghancurkanku.

"Kita hadapi ini bersama," bisiknya.

"Janji?"

"Janji."

---

Hari Kamis, pukul 08.00. Di dalam mobil menuju pengadilan.

Ayah yang menyetir. Bunda di sampingnya. Aku di belakang, ditemani Rasya yang dijemput dari rumahnya.

"Nak, kamu yakin mau lanjut?" tanya Ayah. Matanya cemas.

"Aku yakin, Yah."

"Tapi ada ancaman—"

"Semakin ada ancaman, semakin aku yakin kalau kita di jalur yang benar."

Ayah menarik napas panjang. "Kamu keras kepala."

"Dari Bapak."

Ayah tersenyum pahit. "Iya... mungkin."

Bunda menoleh. Matanya berkaca-kaca. "Bunda bangga sama kamu, Nak."

"Belum menang, Bun."

"Bukan soal menang atau kalah. Tapi soal keberanian. Dan kamu... kamu sangat berani."

Aku tersenyum.

---

Di Pengadilan — Sebelum Sidang

Kami bertemu dengan Pak Bambang di lobi.

"Pak, aku diancam tadi malam," kataku.

Pak Bambang mengerjap. "Apa?"

"Aku diancam lewat telepon. Disuruh berhenti."

Pak Bambang mengepalkan tangan. "Sial. Mereka sudah mulai bergerak."

"Kita harus lapor polisi," kata Rasya.

"Polisi? Kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya."

"Lapor ke jaksa, Pak. Atau ke hakim."

Pak Bambang mengangguk. "Baik. Aku akan urus. Kalian masuk dulu ke ruang sidang. Jangan sendirian di mana pun."

Kami berjalan menuju ruang sidang. Sasha sudah menunggu di depan pintu, wajahnya tegang.

"Nay, kamu tahu belum?"

"Tahu apa?"

"Jenderal Purnomo... dia sakit. Katanya kena serangan jantung malam tadi."

"Serangan jantung?"

"Atau pura-pura serangan jantung."

Aku dan Rasya saling berpandangan.

"Dia mau menunda sidang," kata Rasya.

"Atau menghindari plea bargain yang ditolak," tambahku.

Sasha menghela napas. "Licik."

---

Di Ruang Sidang

Ketua majelis hakim mengumumkan bahwa sidang ditunda karena terdakwa sakit.

"Kami akan menjadwalkan ulang sidang pekan depan."

"Apa?" jaksa protes. "Yang Mulia, ini taktik—"

"Hormati keputusan pengadilan."

Jaksa menghela napas. Kami semua kecewa.

Tapi saat kami hendak keluar, seseorang mendekati kami. Seorang wanita muda dengan jaket kulit hitam dan rambut pendek.

"Nayla Kirana?"

"Ya. Siapa?"

"Aku dari Densus 88. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Densus? Anti-teror?"

Wanita itu tersenyum. "Jenderal Purnomo tidak hanya koruptor. Dia juga terlibat dalam pendanaan terorisme."

Ruangan terasa berputar.

"Ini... lebih besar dari yang kami bayangkan," bisik Rasya.

"Iya." Wanita itu mengeluarkan lencana. "Kami sudah mengawasi Jenderal selama setahun. Tapi bukti kalian yang selama ini kami cari. Kalian... tidak tahu betapa berharganya bukti itu."

Aku terdiam.

"Jadi... kita sekutu?"

"Kita sekutu, Nayla. Dan kita akan menjatuhkan Jenderal Purnomo bersama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!