Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Roh Jahat
Bau kemenyan murahan menguar di depan pagar kandang saat seorang pria bersorban hitam meracau.
Saskia berdiri di depan pintu kandang, lengannya terlipat di dada, stetoskop menggantung di leher. Di depannya, di seberang pagar bambu yang sudah diperbaiki setelah insiden kemarin, seorang pria tua berkulit gelap duduk bersila di atas tikar pandan.
Sorban hitamnya sudah lusuh. Jubah putihnya sudah kusam. Tangannya menggenggam segenggam bunga kenanga yang sudah layu. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit membaca mantra dalam bahasa Jawa kuno.
Di belakangnya, Paman Harto berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Wajahnya puas. Di sampingnya, Bibi Laras tersenyum tipis, matanya berbinar penuh harap.
"Dia dukun terkenal dari Gunung Kawi," seru Paman Harto ke arah kerumunan kecil yang mulai berkumpul. Warga desa yang sama yang kemarin lari terbirit-birit karena ancaman pengacara Daniel, sekarang kembali lagi. "Mbah Joyo! Beliau yang bakal bersihin kandang ini dari roh-roh jahat!"
"Roh jahat?" suara Saskia terdengar jernih di antara mantra Mbah Joyo yang semakin keras. "Roh jahat yang mana, Paman? Yang bikin sapi-sapi saya sehat dan gemuk?"
"Roh jahat yang bikin kamu gila! Beli sapi impor, pasang CCTV, ngaku dokter hewan padahal nggak pernah kuliah!"
Mbah Joyo tiba-tiba berdiri. Matanya terbuka lebar, menatap ke langit. "AKU MELIHATNYA! Sesosok roh hitam! Di dalam kandang! Di belakang sapi-sapi itu! Dia lapar! Dia minta tumbal!"
Beberapa warga mundur selangkah. Seorang ibu membawa anaknya menjauh. Pak RT, yang entah kenapa masih muncul di setiap keributan, mengangguk-angguk dengan wajah serius.
Saskia menghela nafas. Ia berjalan mendekati pagar, mengeluarkan stetoskop dari lehernya, dan menyodorkannya ke arah Mbah Joyo.
"Ini stetoskop, Mbah. Alat buat denger detak jantung. Bukan alat buat ngusir setan. Tapi Mbah bisa pura-pura, kalau mau."
Mbah Joyo menatap stetoskop itu seperti menatap benda dari planet lain.
"Sapi-sapi itu mahal, Mbah. Satu ekor seratus lima puluh juta. Mbah mau tanggung jawab kalau Mbah masuk kandang terus sapinya stres dan mati? Pengacara saya dua belas orang. Mbah siap?"
Kata "pengacara" dan "dua belas" langsung berefek. Mbah Joyo menoleh ke arah Paman Harto. "Kowe nggak bilang ada pengacara..."
"Itu cuma gertakan, Mbah! Dia nggak punya pengacara!"
"Punya." Saskia tersenyum tipis. "Kemarin mereka baru saja bikin surat peringatan untuk Bibi Laras. Hari ini giliran Mbah Joyo?"
Mbah Joyo membereskan tikarnya dengan gerakan panik. Bunga kenanga berhamburan. Kemenyannya masih mengepul, tapi dukunnya sudah setengah berlari menjauh dari pagar.
"Mbah! Mbah Joyo! Kembali! Ini belum selesai!" teriak Paman Harto. Tapi Mbah Joyo sudah menghilang di tikungan jalan. Sorban hitamnya sempat tersangkut di ranting pohon, tapi ia terus berlari.
Warga yang menonton mulai bersorak. Beberapa tertawa. Beberapa bertepuk tangan. Kerumunan yang tadinya siap mengusir dukun pesugihan, sekarang berubah jadi penonton sirkus yang menghibur.
Paman Harto menatap Saskia dengan mata penuh kebencian. "Kau... kau belum menang, Saskia."
"Aku tidak sedang berperang, Paman. Aku cuma sedang beternak."
Saskia berbalik dan masuk ke kandang. Stetoskop kembali menggantung di lehernya.
Malam itu, di rumah Bibi Laras, Paman Harto membanting gelas kopinya ke lantai.
"Sialan! Dipermalukan di depan seluruh desa! Oleh keponakannya sendiri!"
Bibi Laras duduk di kursi kayu, wajahnya muram. "Dukun terakhir di gunung itu sudah kita panggil. Semuanya kabur. Ada yang takut pengacara, ada yang takut sama Saskia sendiri. Katanya gadis itu beda. Matanya kayak orang yang sudah mati."
"Itu omong kosong! Dia cuma gadis desa! Lemah! Sakit-sakitan! Kenapa kita nggak bisa ngalahin dia?!"
"Karena dia dilindungi sama CEO itu. Daniel Hardjono." Bibi Laras mengepalkan tangannya. "Selama CEO itu masih ada, kita nggak akan bisa menyentuh Saskia."
Paman Harto berhenti. Matanya menyipit. "Kalau begitu..."
"Apa?"
"Kita nggak nyentuh Saskia. Kita nyentuh yang lain."
Bibi Laras menatap suaminya. "Sapinya?"
"Sapinya." Paman Harto tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya. Lebih dingin. Lebih berbahaya. "Tanpa sapi, kontraknya batal. Tanpa kontrak, CEO itu nggak akan peduli lagi. Tanpa CEO, Saskia cuma gadis desa yang lemah."
"Tapi kandangnya dijaga satpam. Ada CCTV. Gimana caranya?"
Paman Harto tidak menjawab. Ia berjalan ke pintu belakang, membukanya, dan memanggil seseorang. "Paijo! Masuk!"
Seorang laki-laki pendek dengan kulit legam dan rambut kribo melangkah masuk. Wajahnya tidak asing. Salah satu preman pasar yang dulu mengejar Saskia di jalan setapak. Tapi kali ini ia tidak membawa pentungan. Ia membawa sesuatu yang lebih kecil. Sebuah botol kaca bening berisi cairan transparan.
"Apa itu?" tanya Bibi Laras.
"Potasium sianida. Dosis kecil. Nggak perlu banyak. Cukup beberapa tetes di sumber airnya. Besok pagi, semua sapi itu mati keracunan."
Bibi Laras menatap botol itu dengan mata melebar. "Racun? Itu... itu pembunuhan. Itu bisa bikin kita masuk penjara."
"Enggak kalau kita nggak ketahuan." Paman Harto mengambil botol itu, memutarnya di bawah cahaya lampu minyak. "Paijo yang bakal ngelakuin. Dia udah biasa. Malam ini, pas satpamnya lengah. Air minum sapi-sapi itu sumbernya dari sumur belakang. Gampang."
"Aku... aku nggak tahu, Harto."
Paman Harto menatap istrinya dengan tajam. "Mau apa nggak? Tanah itu, sapi-sapi itu, kontrak sama Hardjono itu nilainya miliaran, Laras. Miliaran. Kita nggak akan dapat kesempatan kayak gini lagi. Ingat, waktu kita biarin adikmu mati dulu, kita juga nggak ragu-ragu."
Bibi Laras terdiam. Matanya menatap botol racun di tangan suaminya. Lalu, pelan-pelan, ia mengangguk.
"Lakukan. Tapi jangan sampai ketahuan."
"Pintar."
Di tempat lain, di sebuah bilik gelap yang tidak jauh dari desa, Reza Maulana duduk di depan laptop. Cahaya layar menerangi wajahnya yang tegang. Jemarinya mengetik cepat.
"Laporan: Subjek menunjukkan ketahanan tinggi terhadap tekanan sosial. Intervensi dukun gagal. Target tetap bertahan. Rekomendasi: pindah ke fase dua."
Ia menekan tombol kirim. Pesan itu meluncur ke alamat email yang tidak dikenal. Tidak ada nama. Hanya deretan angka dan huruf acak.
Lalu ia menutup laptopnya. Di luar, suara jangkrik mengisi malam. Ia menyalakan ponselnya, mengetik satu pesan singkat lagi.
"Subjek tidak curiga. Siap eksekusi."
Di bilik gelap, pesan singkat terkirim cepat: "Subjek tidak curiga. Siap eksekusi."