Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Emosi Dibuang, Hanya Baja yang Tersisa
Jam dinding di ruangan itu berdentang pelan, menandakan pukul 03.30 pagi. Masih sangat gelap di luar sana, namun di dalam asrama baru itu, kedua belas pemuda itu sudah terbangun. Bukan karena perintah, tapi karena insting bertahan hidup yang kini sudah mendarah daging. Tidur mereka tidak lagi nyenyak, selalu dalam keadaan setengah sadar, telinga menangkap setiap suara sekecil apa pun.
Raka duduk di tepi ranjang, mengikat tali sepatunya dengan kencang dan rapi. Di sampingnya, Bara sudah berdiri tegak, wajahnya tanpa ekspresi, kosong dan dingin. Sejak mendengar penjelasan para atasan kemarin, Bara berubah. Ia tidak banyak bicara, senyumnya hilang, dan tatapannya kini tajam seperti pisau yang baru diasah.
"Kau baik-baik saja, Bara?" tanya Raka pelan.
Bara menoleh sebentar, matanya menatap Raka lekat-lekat. "Aku baik, Raka. Aku cuma sedang membuang sisa-sisa perasaan yang tidak berguna. Di sini, kata Mayor Seno kemarin... emosi adalah kelemahan. Kasihan adalah penyakit. Dan rasa takut adalah jalan menuju kematian. Mulai hari ini, kita bukan lagi manusia yang punya hati. Kita adalah senjata. Dan senjata tidak punya perasaan."
Raka mengangguk pelan. Ia mengerti apa yang dimaksud sahabatnya. Untuk bertahan hidup di tempat ini, mereka harus membangun tembok tinggi di sekeliling hati mereka.
Tepat pukul 04.00 pagi, suara peluit panjang dan nyaring terdengar memecah keheningan, disusul suara teriakan berat yang menggelegar dari lorong luar.
"Bangun! Semua keluar ke lapangan utama! SEKARANG!"
Itu suara Letnan Kolonel Arga. Suaranya saja sudah cukup membuat tulang belakang siapa pun yang mendengarnya meremang.
Mereka berdua belas berlarian keluar, berbaris rapi di lapangan beton yang luas dan dingin. Udara pagi yang lembap menusuk kulit, tapi mereka berdiri tegak, dada membusung, mata lurus ke depan. Di depan mereka, Arga berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, diikuti Mayor Seno yang berdiri diam di pinggir lapangan seperti patung hitam.
Arga berjalan pelan di depan barisan mereka, sepatu bot militernya yang berat menghentak tanah dengan irama yang mengancam. Tubuhnya yang raksasa itu tampak makin besar di bawah cahaya lampu sorot lapangan. Bekas luka di wajahnya tampak lebih gelap, lebih menakutkan.
"Selamat pagi, SAMPAH-SAMPAH!" teriak Arga tiba-tiba, suaranya menggelegar sampai ke sudut-sudut markas. "Kalian pikir kemarin itu sulit? Kalian pikir hutan itu neraka? HAHAHA! Itu cuma taman kanak-kanak! Itu cuma ujian masuk gerbang! Mulai hari ini, saya akan menjadi ayah, ibu, Tuhan, dan algojo kalian! Saya yang akan menentukan apakah kalian pantas hidup atau mati di sini!"
Ia berhenti tepat di depan Raka, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.
"Kau... anak pemberani yang berani tanya soal menolak kemarin. Kau pikir kau hebat karena selamat dari hutan? Kau pikir kau pemimpin karena menolong kawanmu? Di sini, kebaikan itu kelemahan! Di sini, kekuatan mutlak adalah satu-satunya hukum!"
Arga tiba-tiba menendang dada Raka sekuat tenaga. Tanpa persiapan, Raka terhuyung mundur beberapa langkah, napasnya tersengal karena rasa sakit yang mendadak. Ia tidak jatuh, tapi dadanya terasa seperti ditabrak truk.
"Kenapa kau tidak membalas?!" bentak Arga marah. "Kalau kau merasa hebat, lawan aku! Serang aku! Bunuh aku kalau kau berani!"
Raka menahan amarahnya yang meluap-luap. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kuku menusuk daging. Ia ingat pesan Bara: Kita senjata. Senjata tidak marah. Senjata menunggu waktu yang tepat.
Raka mengatur napasnya, lalu kembali berdiri tegak, menatap lurus ke depan tanpa menatap mata Arga.
"Maaf, Pak! Saya adalah alat! Alat tidak menyerang pemiliknya!" jawab Raka lantang dan tegas, meski rasa sakit masih terasa di dadanya.
Arga terdiam sejenak, terkejut mendengar jawaban itu. Ia menatap Raka lebih dalam, lalu perlahan senyum mengerikan kembali terukir di bibirnya.
"Bagus... kau mulai paham. Tapi percayalah, anak muda... ketenanganmu itu akan aku hancurkan perlahan-lahan hari ini."
Arga berbalik menghadap ke seluruh barisan.
"Dengar baik-baik! Mulai detik ini sampai matahari terbenam, kalian tidak akan makan, tidak akan minum, dan tidak akan istirahat! Kalian akan melakukan apa pun yang aku perintahkan, seberat apa pun, semenyakitkan apa pun! Siapa yang pingsan? Diseret ke tempat sampah, dicoret dari daftar, dan dilupakan! Siapa yang menangis atau mengeluh? Dicoret! Siapa yang jatuh dan tidak bangun sendiri? Dicoret! Hanya yang punya nyali baja yang akan bertahan!"
Latihan pun dimulai. Dan seperti peringatan Komandan Hendra, ujian hutan kemarin rasanya seperti liburan dibandingkan hari ini.
Mereka mulai dengan lari keliling kompleks markas yang luasnya beberapa kilometer, sambil memikul karung pasir berat berisi seratus kilogram di punggung mereka. Lari itu bukan lari biasa, tapi lari sambil merangkak, lari sambil berguling di tanah berpasir kasar, lari sambil menahan napas saat melewati parit air kotor.
Satu jam... dua jam... tiga jam berlalu. Keringat membasahi seluruh tubuh mereka, bercampur debu dan pasir hingga kulit mereka terasa kasar dan perih. Napas mereka menjadi berat, kasar, dan memburu. Kaki mereka terasa seperti terbuat dari timah. Tapi tidak ada satu pun yang berhenti. Rasa sakit di hutan kemarin, rasa lapar, rasa takut mati... semuanya terbayang kembali di kepala mereka, menjadi bahan bakar yang mendorong mereka terus bergerak maju.
Rio, yang fisiknya bukan yang terkuat, mulai tertinggal. Napasnya tersengal-sengal hebat, wajahnya pucat, kakinya gemetar hebat seolah akan patah kapan saja. Ia hampir jatuh, tapi Raka yang berjalan di belakangnya dengan cepat menyenggol bahu Rio, memberinya isyarat diam-diam, lalu sedikit memperlambat langkahnya agar Rio bisa berpegangan pada karung pasir milik Raka untuk menopang berat badannya.
Arga yang mengawasi dari atas kendaraan roda empat melihat itu. Ia tidak marah, tidak juga senang. Ia hanya mengamati, mencatat setiap gerak-gerik, setiap sifat, setiap kelemahan dan kekuatan murid-muridnya. Bagi Arga, ini bukan sekadar latihan fisik. Ini adalah penyaringan mental. Ia sedang mencari siapa yang punya jiwa pemimpin, siapa yang punya kesetiaan, siapa yang punya sifat serigala, dan siapa yang sifatnya domba.
Siang berganti sore. Latihan berlanjut ke lapangan rintangan. Tembok tinggi, jaring kawat berduri, parit lumpur, jembatan goyang, dan tiang-tiang licin. Di sini, kekuatan fisik saja tidak cukup. Di sini dibutuhkan kecepatan, kelincahan, ketahanan, dan yang paling penting: kerja sama tim.
Namun, di sinilah letak jebakan Mayor Seno.
Di tengah lapangan rintangan, Seno berdiri dengan senyum dinginnya. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
"Berhenti! Dari tadi saya lihat kalian saling bantu, saling tolong, berjalan beriringan seperti sekawanan domba yang takut tersesat," ucap Seno pelan namun tajam, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan napas mereka yang berat. "Itu sifat yang bagus untuk tentara biasa. Tapi di Garuda Security, kami tidak butuh tentara biasa. Kami butuh Elit. Kami butuh Individu Terkuat."
Ia menunjuk ke arah tiang-tiang tinggi yang menjulang sekitar dua puluh meter di udara, dihubungkan oleh papan kayu sempit yang tidak memiliki pagar pengaman sama sekali. Di bawahnya adalah kolam berisi air yang tampak tenang, tapi sebenarnya penuh dengan pipa-pipa tajam dan beton runcing yang tersembunyi di bawah permukaan.
"Rintangan terakhir hari ini: Lintasan Kematian," ucap Seno dingin. "Aturannya berubah. Mulai sekarang, setiap orang untuk dirinya sendiri. Tidak ada bantu-membantu. Tidak ada menunggu kawan. Kalian harus menyeberang ke sisi seberang satu per satu. Tapi ingat... hanya enam orang tercepat yang sampai ke sana yang akan dianggap lulus hari ini. Enam orang yang tertinggal... akan dianggap gagal, dan malam ini kalian akan tidur di sel isolasi bawah tanah, tanpa makanan, tanpa air, dalam kegelapan total."
Suasana langsung berubah drastis. Napas berat mereka berhenti sejenak. Raka menoleh ke arah Bara, dan mereka saling bertatapan. Di sini, di detik ini, benih-benih persaingan ditanamkan. Di sini, organisasi ini sengaja memecah persahabatan dan kerja sama yang mereka bangun susah payah.
Mereka dipaksa memilih: Kawan atau Kelangsungan Hidup.
"Siap... mulai!" teriak Seno memberi aba-aba.
Seketika, kedua belas orang itu berlarian maju. Awalnya masih teratur, tapi begitu sampai di dasar tiang panjat pertama, kekacauan mulai terjadi. Semua orang berebut memanjat secepat mungkin. Ada yang mendorong bahu kawannya, ada yang menginjak tangan orang lain, ada yang menarik kaki teman seperjuangannya hanya agar dirinya bisa naik lebih dulu.
Sifat asli manusia mulai keluar lagi, sama seperti di hutan dulu.
Raka memanjat dengan cepat, tangannya mencengkeram tali dan paku penahan dengan kuat. Di belakangnya, ia mendengar Rio berteriak kesakitan karena didorong oleh dua orang lain yang berebutan tempat. Raka berhenti sebentar, ingin menolong, tapi ia melihat pandangan tajam Mayor Seno dari bawah. Ia tahu, kalau ia menolong sekarang, ia akan dianggap melanggar aturan dan dianggap lemah.
Bara yang ada di depan sana berhenti sejenak di atas papan penyeberangan, menunggu Raka.
"Jangan berhenti, Raka! Lari!" teriak Bara dari atas. "Kita harus masuk enam besar! Kalau tidak, kita tidak akan bisa bertahan hidup di sel bawah tanah itu! Percayalah, aku tahu tempat itu! Itu bukan tempat tidur, itu tempat orang gila dibuat!"
Raka mengertakkan gigi, menahan rasa bersalah yang luar biasa. Ia melompat naik, mengayunkan tubuhnya, bergerak secepat kilat melewati papan kayu yang bergoyang-goyang di ketinggian dua puluh meter itu. Angin bertiup kencang, membuat papan itu bergoyang makin hebat. Satu langkah salah, satu kali terpeleset... dan nyawanya habis di sana.
Di sampingnya, seorang pemuda bernama Dika—yang dulu satu kelompok baik—terpeleset kakinya. Ia berteriak kaget, tangannya berusaha meraih pinggiran papan tapi gagal. Tubuhnya melayang jatuh ke bawah.
"Raka! TOLONG!" teriak Dika sebelum tubuhnya menghilang ke bawah permukaan air.
Bunyi benturan keras terdengar, diikuti suara rintihan yang menyedihkan. Dika jatuh ke bagian beton tajam yang tersembunyi. Ia selamat, tapi kakinya patah parah.
Mayor Seno hanya menatap datar ke bawah, lalu kembali menatap ke atas.
"Teruskan! Tidak ada henti! Tidak ada ampun!"
Hati Raka terasa seperti diremas-remas. Ia melihat kawannya terluka parah, tapi ia tidak boleh berhenti. Ia harus lari. Ia harus menang. Demi ibunya, demi dirinya, demi Bara, demi Rio yang masih berjuang di belakang.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Raka berlari di atas papan yang sempit itu, menyeimbangkan tubuhnya dengan naluri yang sudah diasah di hutan. Ia sampai di ujung sana sebagai urutan kedua, tepat di belakang Bara yang sampai pertama.
Tak lama kemudian, urutan ketiga, keempat, kelima, dan keenam sampai juga. Rio masuk sebagai urutan keenam dengan napas yang hampir habis, wajahnya pucat pasi tapi matanya menyala penuh tekad. Ia selamat.
Enam orang lainnya tertinggal di seberang sana. Mereka yang kalah. Mereka yang harus menerima hukuman malam ini.
Arga dan Seno berjalan mendekati enam orang yang selamat itu. Wajah mereka berlumuran keringat, debu, dan rasa lelah yang luar biasa, tapi punggung mereka tetap tegak.
"Bagus," ucap Arga singkat. "Kalian bertahan. Kalian menang. Kalian membuktikan bahwa kalian punya keinginan kuat untuk hidup. Tapi ingat... kemenangan hari ini dibayar dengan harga mahal. Kalian melihat kawan kalian jatuh, kalian melihat kawan kalian saling dorong, kalian melihat betapa kejamnya dunia ini saat nyawa dipertaruhkan."
Ia menunjuk ke arah seberang di mana teman-teman mereka yang kalah sedang diturunkan dan dibawa ke arah bangunan bawah tanah yang gelap dan suram.
"Kalian tidak boleh merasa bersalah. Kalian tidak boleh merasa sedih. Karena rasa bersalah dan rasa sedih itu yang akan membuat kalian menjadi yang tertinggal di lain waktu. Di sini, hukumnya sederhana: Menang dan Hidup, atau Kalah dan Menderita."
Mayor Seno maju selangkah, menatap Raka dan Bara secara khusus.
"Kalian berdua... Raka Pratama dan Bara Sanjaya. Kalian punya potensi terbesar di sini. Kalian cerdas, kuat, punya insting tajam, dan anehnya... kalian masih punya rasa kemanusiaan yang tersisa meski sudah kami coba hancurkan berkali-kali."
Seno tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk merinding.
"Rasa kemanusiaan itu... bisa menjadi kelemahan terbesar kalian. Tapi bisa juga menjadi kekuatan terbesar kalian. Kami belum tahu mana yang akan menang. Tapi kami akan terus menguji kalian, sampai kami tahu apa yang tersembunyi di dalam hati kalian berdua."
Matahari sudah terbenam sepenuhnya. Langit berubah menjadi ungu gelap lalu hitam pekat. Lampu-lampu sorot di markas menyala terang, menerangi bayangan panjang mereka di tanah beton.
"Kalian enam orang ini boleh kembali ke asrama. Makan, mandi, tidur. Besok pagi, latihan akan lebih berat lagi. Kita masuk ke tahap berikutnya: Penguasaan Senjata dan Strategi Tempur."
Saat mereka berjalan kembali ke asrama dalam keheningan yang berat, Rio berjalan di tengah-tengah mereka, suaranya bergetar namun penuh rasa syukur.
"Terima kasih... terima kasih sudah menunggu aku diam-diam tadi. Kalian berdua... kalian bukan sekadar kawan. Kalian adalah saudara."
Raka menepuk bahu Rio pelan. "Kita bertahan bersama, Rio. Kita masuk bersama, kita keluar bersama. Meski aturan mereka kejam, meski mereka mau memecah kita... kita tidak boleh membiarkan itu terjadi. Persahabatan kita adalah satu-satunya hal yang tidak bisa mereka ambil dari kita."
Namun, di dalam hati Raka, ada rasa khawatir yang tumbuh. Ia tahu, semakin berat latihan ini, semakin banyak ujian yang memaksa mereka saling melukai, semakin sulit mempertahankan rasa kemanusiaan itu. Dan ia takut... suatu hari nanti, saat ujian yang paling berat datang, ia akan dipaksa memilih antara Nyawa Orang Lain dan Nyawa Ibunya.
Dan saat itu tiba... akankah ia tetap menjadi Raka yang sama?
Di balik jendela lantai atas markas, Komandan Hendra berdiri diam mengamati mereka berjalan menjauh. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki tua berambut perak, berpakaian seragam putih bersih dengan lambang Garuda emas di dada. Wajahnya berkerut, tapi matanya masih tajam dan penuh kekuasaan. Ia adalah pemimpin tertinggi Garuda Security, Jenderal Agus.
"Mereka berdua punya bakat luar biasa, Agus," ucap Jenderal Agus pelan, matanya menatap tajam ke arah Raka dan Bara yang semakin menjauh. "Terutama anak itu... Raka Pratama. Ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Sesuatu yang mengingatkanku pada seseorang dari masa lalu."
Komandan Hendra mengangguk hormat. "Benar, Jenderal. Dia kuat, cerdas, punya jiwa pemimpin alami, dan anehnya dia punya hati yang besar. Di organisasi ini, orang berhati besar biasanya lemah dan cepat mati. Tapi dia... dia mengubah kelemahan itu menjadi kekuatan. Dia membuat orang lain rela mati demi dia."
Jenderal Agus tersenyum samar, senyum yang menyimpan seribu rahasia.
"Awasi dia baik-baik, Hendra. Latih dia sekeras mungkin. Beri dia misi paling berbahaya, uji kesetiaannya sampai ke titik darah penghabisan. Karena aku punya firasat... anak muda itu kelak akan menjadi Penyelamat Garuda Security... atau Pembinasa terbesarnya."
Angin malam bertiup dingin melewati gedung tinggi itu, membawa serta rahasia masa lalu yang perlahan mulai terungkap.
Perjalanan panjang Raka baru saja masuk ke fase yang lebih gelap, lebih berbahaya, dan lebih dekat pada kebenaran besar yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya.