.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REBAHAN
Tidur siang bagi Ji Huang adalah sebuah seni tingkat tinggi. Di masa lalunya sebagai dewa, dia bisa mendengkur selama tiga ribu tahun tanpa membalikkan badan. Namun, di dunia fana ini, seni tertinggi itu terpaksa dinodai oleh suara ketukan pintu yang tergesa-gesa, diikuti oleh langkah kaki yang berat dan penuh kecemasan.
"Huang'er! Kamu sudah sadar, Nak?"
Pintu kamar terbuka dengan sentakan pelan. Seorang pria paruh baya dengan pakaian jubah abu-abu sederhana melangkah masuk. Wajahnya dipenuhi garis-garis keriput akibat stres, dan sepasang matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam. Dia adalah Ji Zhen, Kepala Keluarga Ji sekaligus ayah dari pemilik tubuh ini.
Ji Huang menghela napas berat di dalam hati. Dengan sangat ogah-ogahan, dia menegakkan punggungnya, duduk di tepi ranjang dengan rambut yang mencuat ke segala arah. Tatapan matanya yang sayu menatap pria yang sekarang berstatus sebagai ayahnya itu.
"Ayah," jawab Ji Huang singkat, suaranya terdengar sangat datar hingga membuat Ji Zhen sedikit tertegun. Biasanya, jika Tuan Muda Ji yang asli bangun setelah kalah bertarung, dia akan mengamuk, membanting barang, dan memaki semua orang karena malu.
Ji Zhen segera mendekat, memeriksa bahu dan kepala anaknya dengan panik. "Syukurlah... Tabib bilang semalam nadimu sempat berhenti. Ayah mengira... Ayah mengira akan kehilanganmu karena masalah Nona Lin itu." Ji Zhen menghela napas lega, namun sedetik kemudian wajahnya kembali mendung, dipenuhi rasa frustrasi.
"Huang'er, dengarkan Ayah," kata Ji Zhen dengan nada memohon yang sangat rendah. "Keluarga Ji kita... hanyalah pelayan logistik di Kekaisaran Nan Gong. Kita tidak punya kultivator tingkat tinggi, tidak punya pengaruh di pengadilan. Sementara Keluarga Wang... mereka adalah klan militer kaya. Tuan Muda Wang bahkan disokong oleh tetua dari Sekte Harimau Barat!"
Ji Zhen memegang pundak Ji Huang, matanya berkaca-kaca. "Perjodohan dengan Nona Lin... lupakan saja. Jika Tuan Muda Wang menginginkannya, biarkan dia mengambilnya. Ayah tahu kamu menyukai Nona Lin, tapi harga diri tidak ada gunanya jika kamu harus mati, Nak. Menyerahlah. Mari kita hidup tenang sebagai pembantu kekaisaran."
Ji Zhen bersiap menerima ledakan amarah dari anaknya. Dia sudah menguatkan hati jika Ji Huang akan berteriak egois atau menuduhnya sebagai ayah yang penakut.
Namun, Ji Huang justru menunjukkan ekspresi wajah yang sangat polos, cenderung watados (wajah tanpa dosa). Dia berkedip dua kali, lalu menguap lebar-lebar tanpa memedulikan sopan santun.
"Oh. Ambil saja wanitanya," kata Ji Huang santai sambil menggaruk lehernya yang gatal.
Ji Zhen membatu. "Eh?"
"Kalau Tuan Muda Wang itu mau Nona Lin, kasih saja sekalian sama bungkusnya," lanjut Ji Huang dengan nada super cuek. "Menikah itu melelahkan, Ayah. Harus buat pesta, menyapa tamu, lalu kalau punya anak harus mendidik mereka. Belum lagi kalau istrinya hobi belanja atau marah-marah. Memikirkannya saja sudah membuatku ingin tidur lagi. Mending rebahan di kamar, gratis dan tidak bikin capek."
Mulut Ji Zhen terbuka lebar. Dia menatap anaknya dari atas sampai bawah, mencoba mencari tahu apakah pria di depannya ini benar-benar Ji Huang atau iblis yang sedang menyamar. Sikap arogan dan keras kepala anaknya mendadak lenyap, digantikan oleh aura kemalasan tingkat dewa yang begitu pekat.
"H-Huang'er... otakmu tidak bergeser setelah dipukul kemarin, kan?" tanya Ji Zhen dengan suara gemetar, benar-benar khawatir kalau anaknya mendadak jadi agak gila akibat gegar otak.
"Otakku aman, Ayah. Justru sekarang aku baru mendapatkan pencerahan hidup," jawab Ji Huang asal-asalan sambil menepuk pundak ayahnya. "Sudahlah, Ayah jangan cemas. Pergi minum teh atau urus logistik kekaisaran sana. Jangan biarkan masalah wanita merusak waktu istirahat kita."
Ji Zhen keluar dari kamar dengan langkah limbung dan pikiran yang benar-benar linglung. Dia datang untuk membujuk anaknya agar tidak nekat, tapi dia malah pulang setelah diceramahi tentang filosofi hidup santai oleh seorang remaja malas.
Setelah ayahnya pergi, Xiao Cui masuk dengan gemetaran membawa nampan berisi semangkuk besar daging semur berminyak, beberapa roti kukus, dan sepoci teh hangat.
Mata Ji Huang langsung berbinar kecil. Dia tidak mencuci muka, tidak merapikan baju, dan langsung duduk bersila di lantai, menyantap makanan fana itu dengan sangat lahap. Rasanya luar biasa! Selama jutaan tahun di Lembah Pedang, dia hanya memakan angin kosmis dan Sword Qi yang rasanya pahit dan menusuk tenggorokan. Daging berlemak di dunia fana ini ternyata seribu kali lebih nikmat daripada keabadian.
Xiao Cui yang berdiri di pojokan hanya bisa melongo melihat Tuan Mudanya makan seperti orang yang tidak makan selama tiga kehidupan.
"Pelayan kecil, kamu boleh keluar. Aku mau bermeditasi... maksudku, tidur siang lagi," usir Ji Huang setelah menyeka mulutnya dengan lengan baju jubah tidurnya.
Setelah Xiao Cui pergi dan mengunci pintu, atmosfer di dalam kamar mendadak berubah. Ji Huang yang tadinya bertingkah konyol dan malas, kini duduk bersila di atas kasurnya. Sepasang matanya yang sayu perlahan menajam, memancarkan kilatan perak yang dingin dan agung—tatapan milik Dewa Pedang Primordial.
Dia memejamkan mata dan memeriksa kondisi bagian dalam tubuh barunya.
"Ck, Dantiannya benar-benar hancur total. Jalur Meridiannya juga sekecil sedotan dan mampet di mana-mana," gumam Ji Huang setelah memeriksa sistem energi konvensional tubuh itu. Jika kultivator biasa melihat kondisi ini, mereka akan langsung memvonis tubuh ini sebagai sampah yang tidak akan pernah bisa melangkah ke ranah Qi Condensation seumur hidupnya.
Ji Huang mencoba menarik sedikit energi spiritual (Qi) dari udara di sekitarnya. Namun, begitu energi itu masuk ke dalam tubuhnya, energi tersebut langsung hancur dan menguap menjadi hampa. Tubuh ini menolak energi spiritual dunia fana.
Ji Huang tidak panik. Sebaliknya, sebuah senyuman misterius muncul di sudut bibirnya yang tampan.
"Menarik. Jiwa Dewaku terlalu kuat. Begitu menyatu dengan tubuh fana ini, wujud fisiknya langsung bertransformasi," batin Ji Huang.
Tubuh ini memang tidak bisa menampung Qi, karena formatnya sudah diubah oleh sisa jiwa dewanya. Tubuh ini bukan lagi tubuh manusia, melainkan Wadah Pedang Mutlak. Ji Huang tidak membutuhkan kultivasi, tidak butuh tingkatan ranah, dan tidak butuh energi spiritual langit dan bumi. Mengapa? Karena dia adalah perwujudan dari Dao Pedang itu sendiri.
Di dunia kultivasi ini, para master hebat harus bertaruh nyawa menembus berbagai ranah hanya untuk bisa memahami satu persen dari Dao (Hukum Alam). Sementara Ji Huang? Dia sudah memegang seratus persen dari Hukum Pedang sejak awal mula penciptaan.
Ji Huang membuka matanya. Dia menatap sebutir debu yang melayang di depan wajahnya karena pantulan sinar matahari dari jendela.
Tanpa menggerakkan tangan, tanpa mengeluarkan energi apa pun, Ji Huang hanya memberikan satu jentikan niat (Intent) dari pikirannya. Dia memerintahkan debu kecil itu untuk menjadi sebilah pedang yang memotong.
SUT!
Sebuthir debu yang tidak terlihat itu mendadak melesat ke depan. Tidak ada suara ledakan, tidak ada cahaya yang menggelegar. Namun, tiang kayu ranjang sutranya yang tebal di seberang ruangan tiba-tiba terpotong menjadi dua bagian dengan permukaan yang sangat halus dan rapi, membuat bagian atas ranjangnya agak miring.
Ji Huang melihat tiang ranjangnya yang rusak, lalu menepuk jidatnya sendiri.
"Ah... sial. Kekuatannya sulit dikendalikan kalau badannya selemah ini," keluh Ji Huang dengan wajah merengut kesal. Dia melihat ranjangnya yang sekarang posisinya jadi agak miring dan tidak seimbang.
"Ah, sudahlah. Miring sedikit tidak apa-apa, yang penting masih bisa dipakai buat rebahan," gumamnya malas.
Ji Huang kembali merebahkan tubuhnya di kasur yang miring itu, menarik selimut sampai ke dada, dan menutup matanya dengan damai. Dia tidak peduli dengan kehancuran ranjangnya, tidak peduli dengan ancaman Keluarga Wang, dan sama sekali tidak peduli bahwa di luar sana, beberapa garis takdir baru sedang bergerak memaksanya untuk segera bangun dari tidur siangnya yang berharga.