NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah yang Ajaib dan Sepupu yang Jutek

​Kamar tidur pemilik tubuh asli ternyata jauh dari kata mewah. Ketika Ji Huang akhirnya mendorong pintu kayu yang sudah agak rapuk dan melangkah masuk, dia langsung menghela napas kecewa.

​Di atas dipan kayu sederhana, tergelar sebuah kasur kapuk yang tipis dan bantal yang terasa sekeras batu bata saat ditekan. Bagi seorang mantan Dewa Pedang yang mendambakan kenyamanan tidur siang setelah seribu tahun bermeditasi di atas batu gunung yang dingin, ini adalah sebuah penghinaan.

​"Ah, ingatan bocah ini ternyata menipuku. Ini sama sekali tidak empuk," gumam Ji Huang blak-blakan, menatap kasur itu dengan pandangan polos sekaligus nelangsa.

​Namun, karena rasa lelah pada tubuh fananya sudah mencapai batas, Ji Huang memutuskan untuk tidak memprotes lebih jauh. Dia baru saja mendudukkan pantatnya di tepi ranjang dan berniat memejamkan mata, ketika sebuah hantaman keras tiba-tiba melanda kamarnya.

​BAMMMM!

​Pintu kayu kamar Ji Huang hancur berkeping-keping, terlempar ke dalam ruangan hingga menyisakan debu yang mengepul. Di ambang pintu, berdirilah seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan jubah yang acak-acakan. Wajah pria itu dipenuhi air mata yang mengalir deras bagai air terjun, dan ingusnya kembang kempis secara dramatis.

​Dialah Ji Tian, ayah kandung dari pemilik tubuh ini. Seorang pria yang terkenal di seluruh Cabang Keluarga Huang karena dua hal: hatinya yang terlalu murni alias bodoh, dan emosinya yang kelewat hiperaktif.

​"HUAANNGGGGG ERRRRRR! ANAKKU YANG MALANGGG!"

​Ji Tian meraung bombay, suaranya menggelegar hingga membuat debu di langit-langit kamar berjatuhan. Tanpa memedulikan kondisi Ji Huang yang dipenuhi darah kering, pria paruh baya itu melesat maju bak peluru kendali dan langsung menerkam Ji Huang ke dalam pelukan yang sangat, sangat kencang.

​"Ayah kira kamu sudah mati dimakan monster! Ayah sudah menyiapkan kain kafan terbaik berwarna kuning langsat kesukaanmu! Kenapa kamu pergi ke hutan itu tanpa membawa ayah, Nak?! Huuuu... Leluhur Ji, terima kasih telah mengembalikan anak hamba yang bodoh ini!" Ji Tian menangis sesenggukan, memeluk Ji Huang begitu erat hingga tulang-tulang rusuk pemuda itu berbunyi gemertak.

​Ji Huang yang disergap secara mendadak hanya bisa mengerjapkan matanya dengan polos. Sensasi dipeluk oleh seorang ayah adalah hal yang benar-benar asing baginya. Di kehidupan pertamanya, dia adalah anak yatim piatu yang dibesarkan oleh pedang. Namun, rasa hangat ini langsung buyar ketika paru-parunya mulai kehabisan oksigen akibat pelukan maut sang ayah.

​Dengan wajah tetap datar tanpa filter, Ji Huang berkata pelan, "Ayah, kalau ayah tidak melepaskan pelukan ini dalam tiga detik, aku akan beneran mati karena kehabisan napas di kamar sendiri, bukan karena diterkam serigala di hutan."

​"Eh?" Ji Tian tersentak, buru-buru melepaskan pelukannya sambil mengusap air matanya dengan lengan baju. "Ah! Maafkan Ayah, Huang-er! Ayah hanya terlalu bahagia!"

​Tepat pada saat itu, sesosok bayangan lain melangkah masuk melewati reruntuhan pintu kamar.

​Seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun berdiri di sana dengan kedua tangan melipat di dada. Dia mengenakan gaun kultivator berwarna hijau muda yang rapi, dengan rambut hitam panjang yang diikat tinggi. Wajahnya sangat cantik, dengan alis tipis dan mata yang jernih. Namun, ekspresi di wajah cantiknya itu sangat dingin, dan bibirnya cemberut jutek.

​Dia adalah Ji Lan, sepupu dekat Ji Huang dari garis keturunan yang sama. Di lingkungan keluarga yang kejam, Ji Lan adalah satu-satunya orang selain ayahnya yang sering memperhatikan Ji Huang, meskipun dia selalu menyampaikannya dengan kata-kata yang tajam.

​"Dasar idiot," Ji Lan mendengus ketus, menatap Ji Huang dari atas sampai bawah dengan pandangan menghina yang tidak sungguhan. "Sudah tahu tubuhmu itu selemah ampas tahu, kenapa mau saja dibohongi oleh Huang Jian untuk pergi ke Hutan Kabut Hitam? Menghilang setengah hari cuma buat bikin Paman Tian menangis meraung-raung seperti orang gila di sepanjang koridor! Benar-benar merepotkan!"

​Ji Huang tidak marah mendengar omelan pedas itu. Dia justru memiringkan kepalanya, menatap wajah Ji Lan dengan saksama, lalu bergumam dengan sangat jujur, "Kamu cantik sekali kalau sedang diam, Sepupu. Sayang sekali bicaramu pedas seperti cabai di pasar Kota Amerta."

​Blush!

​Wajah dingin Ji Lan seketika berubah menjadi merah padam mendengar kalimat blak-blakan yang keluar dari mulut Ji Huang. Dia tidak menyangka sepupunya yang biasanya penakut dan selalu menundukkan kepala ini berani mengomentari wajahnya dengan begitu santai di depan umum.

​"K-kamu...! Berani-beraninya bicara lancang padaku!" Ji Lan menghentakkan kakinya dengan kesal, memalingkan wajahnya yang merona untuk menutupi rasa malunya. "Otakmu pasti sudah geser karena ketakutan di hutan tadi!"

​Sementara itu, Ji Tian yang mendengarkan percakapan itu langsung panik lagi. Dia memegang kedua bahu Ji Huang, matanya meneliti baju anaknya yang robek dan berlumuran darah. Namun, saat dia menyibak robekan kain di dada Ji Huang, Ji Tian tertegun. Kulit di dada anaknya tampak mulus, hanya menyisakan bekas garis merah tipis yang hampir hilang—efek dari penyerapan Inti Monster tingkat rendah yang dilakukan Ji Huang sebelumnya.

​"Lho? Huang-er, bajumu penuh darah, tapi kenapa tidak ada luka luar yang parah? Bagaimana bisa kamu selamat dari Serigala Belati Bermata Tiga yang diceritakan orang-orang?" tanya Ji Tian dengan raut wajah bodohnya yang khas.

​Ji Huang menguap kecil, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menjawab dengan malas. "Oh, itu. Serigalanya melompat mau menggigitku. Karena dia berisik, aku ambil saja ranting pohon kering di tanah, lalu aku tusuk matanya sampai tembus ke otak. Setelah dia mati, aku ambil batu merah di dadanya, lalu aku remas sampai hancur untuk mengobati lukaku. Makanya lukanya sudah hilang."

​Keheningan sesaat melanda kamar itu.

​Ji Tian berkedip tiga kali, lalu tiba-tiba melompat berdiri dengan wajah penuh haru dan binar-binar kekaguman yang salah kaprah.

​"Luar biasa! Keajaiban leluhur keluarga Ji telah turun!" seru Ji Tian sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, bersujud ke arah langit. "Serigala itu pasti binatang yang sangat bodoh! Dia pasti terpeleset saat melompat, lalu dengan tidak sengaja menabrakkan matanya sendiri ke ranting pohon yang kebetulan sedang dipegang oleh anakku! Oh, leluhur, terima kasih atas keberuntungan yang tiada tara ini!"

​Ji Huang menatap ayahnya yang sedang bersujud dengan pandangan heran. “Ayahku ini... bagaimana bisa dia menyimpulkan hal sekonyol itu?” pikirnya dalam hati.

​Ji Lan yang berdiri di dekat pintu hanya bisa memutar matanya dengan sangat jutek. Dia berjalan mendekat, lalu melemparkan sebuah botol kecil berwarna giok hijau ke atas pangkuan Ji Huang.

​"Ambil ini. Ini salep penyembuh luka dari Aula Pengobatan," kata Ji Lan ketus, meskipun matanya melirik cemas ke arah dada Ji Huang. "Dan hentikan bualan gila-mu tentang menusuk serigala dengan ranting pohon atau memakan inti monster mentah-mentah. Kalau kamu melakukan itu, energi liarnya sudah pasti akan meledakkan dantian-mu yang rapuh itu sampai hancur!"

​Ji Huang menangkap botol obat itu, lalu menaruhnya di samping bantal dengan acuh tak acuh. "Terima kasih, Sepupu."

​Ji Lan mendengus lagi, melipat tangannya di dada dengan ekspresi serius. "Besok pagi adalah Turnamen Pemilihan Murid Dalam. Huang Jian sudah mengumumkan ke semua orang bahwa dia mencapai Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-3, dan dia berniat menantangmu di atas panggung untuk melumpuhkanmu secara legal. Besok, kamu tidak boleh datang. Tetaplah mengunci diri di kamar ini, mengerti?"

​Ji Tian yang baru selesai bersujud langsung pucat mendengar ucapan Ji Lan. "Apa?! Huang Jian yang kejam itu mau melumpuhkan anakku?! Tidak bisa! Huang-er, besok kita pergi memancing saja ke desa sebelah! Jangan ikut turnamen bodoh itu!"

​Mendengar kekhawatiran dari kedua orang di depannya, Ji Huang hanya merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur kapuk yang keras. Dia menarik selimut tipisnya yang agak bau apek, lalu memejamkan mata dengan posisi yang sangat santai. Peringatan tentang turnamen dan ancaman kelumpuhan dari Huang Jian sama sekali tidak masuk ke dalam hatinya.

​"Turnamen besok sangat mengganggu tidur siangku," gumam Ji Huang dari balik selimut, suaranya terdengar mengantuk. "Tapi kalau aku bisa mematahkan kaki Huang Jian dengan cepat, aku rasa aku masih punya waktu untuk kembali ke kamar ini dan tidur lagi sebelum jam makan siang tiba."

​Ji Lan yang mendengar kalimat santai bernada sadis itu hanya bisa menghela napas panjang, mengira sepupunya ini benar-benar sudah kehilangan kewarasannya akibat trauma di hutan.

​"Terserah kamu saja, dasar bodoh. Kalau besok kamu beneran datang dan dihajar sampai jadi cacat, jangan menangis padaku," ucap Ji Lan jutek, meskipun ada sedikit kilat kecemasan di matanya saat dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan.

​Sementara itu, Ji Tian masih sibuk mengoceh di depan pintu sambil mencoba merapikan puing-puing kayu yang dia hancurkan sendiri tadi. "Huang-er, tenang saja! Kalau besok si bajingan Huang Jian itu macam-macam, Ayah akan melemparkan telur busuk ke wajahnya dari bawah panggung!"

​Di bawah selimut tipisnya, Ji Huang tersenyum kecil mendengarkan celotehan ayahnya yang aneh. Sambil membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam alam mimpi, sang mantan Dewa Pedang membatin dengan malas: “Huang Jian... besok pagi, sebaiknya kamu menyiapkan kaki cadangan, karena aku tidak suka waktu tidurku diganggu.”

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!