NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi di Tengah Hujan dan Semangat yang Membara

   Pertandingan baru berjalan sekitar 15 menit setelah gol pertama Dika tercipta, namun atmosfer di lapangan terasa berubah total. Jika sebelumnya tim Kelas 2-A terlihat ragu dan sedikit minder, sekarang mereka bergerak dengan percaya diri. Sebaliknya, tim Kelas 2-B yang tadinya terlihat angkuh dan santai, kini mulai menunjukkan tanda-tanda ketegangan, terutama Raka. Pemain pindahan itu terlihat semakin agresif, larinya makin kencang, dan tendangannya makin keras seolah ingin membuktikan bahwa satu gol yang masuk tadi hanyalah kecelakaan semata.

"Wah, panas juga ya suasananya," komentar Rio sambil berlari kecil ke arah Dika saat jeda minum sebentar yang dipimpin wasit. Wajahnya sudah berkeringat deras, kaos seragamnya mulai basah menempel di punggung. Dia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu menatap ke arah Raka yang sedang berteriak-teriak memberi instruksi pada teman-temannya. "Lihat tuh, Raka kayak banteng kena setrum. Kalau dia makin gila begini, nanti aku yang jadi sasarannya, kan aku yang paling sering hadap-hadapan sama dia di belakang."

Dika tersenyum sambil meminum sedikit air dari botol minum plastik berwarna merah tua milik sekolah. Dia menghembuskan napas panjang, merasakan hawa panas siang itu. Di langit, awan putih mulai berubah menjadi kelabu perlahan. Tanda-tanda akan turun hujan. Dika tahu betul apa artinya hujan di lapangan rumput sekolah ini. Rumputnya pendek, tanahnya agak berpasir di beberapa sisi, tapi ada bagian yang tanah liatnya akan menjadi sangat licin dan berat jika terkena air. Ini bisa jadi keuntungan atau kerugian, tergantung siapa yang lebih cepat beradaptasi.

"Tenang saja, Rio," jawab Dika sambil menepuk bahu sahabatnya itu, matanya menatap tajam ke arah pergerakan lawan, "Dia memang kuat dan cepat, tapi dia mainnya lurus banget. Dia cuma bisa ke depan, susah kalau disuruh berputar atau bergerak ke samping. Nanti kalau dia datang ke arahmu, jangan dilawan adu badan. Geser sedikit, biarkan dia lari terus sampai dia kehabisan jalan atau jatuh sendiri karena momentumnya terlalu besar. Ingat, pakai kepala, bukan cuma otot."

Rio mengangguk semangat, matanya berbinar mendengar strategi sederhana namun masuk akal itu. "Oke, oke! Siap, Kapten! Eh, tapi kamu belum jadi kapten lho ya, cuma aku panggil begitu aja karena kamu keren hari ini," kata Rio sambil tertawa cengengesan, membuat suasana tegang sedikit mencair.

Tiba-tiba, rintik-rintik air mulai turun dari langit. Awalnya hanya sedikit, tapi dalam hitungan menit, hujan turun semakin deras. Penonton yang berada di bawah teras gedung sekolah bersorak-sorak, sementara yang duduk di pinggir lapangan mulai berteduh di mana saja. Permukaan lapangan yang tadinya kering dan berdebu, kini perlahan berubah menjadi basah dan gelap. Bola yang menggelinding pun mulai terasa lebih berat dan meluncur lebih cepat karena air.

"HUJAN! AKHIRNYA HUJAN!" teriak Doni dengan gembira di sebelah kiri. Doni memang suka main saat hujan, dia merasa bola jadi lebih lincah. Tapi bagi banyak pemain lain, hujan adalah musuh karena membuat kontrol bola jadi sulit.

Pak Budi yang berdiri di pinggir lapangan berteriak lantang agar para pemain lebih berhati-hati menjaga keseimbangan, tapi tidak ada tanda-tanda pertandingan akan dihentikan. Pertandingan harus terus berjalan.

Peluit kembali berbunyi. Permainan dilanjutkan.

Seperti yang Dika perkirakan, Kelas 2-B mengubah strategi mereka. Karena lapangan mulai licin dan bola sulit dikendalikan dengan operan pendek, mereka mulai mengandalkan umpan jauh langsung ke depan, mengandalkan kekuatan lompatan dan fisik Raka. Strategi ini sangat efektif. Dua kali berturut-turut, bola melayang panjang ke arah pertahanan 2-A, dan Raka menyambutnya dengan lompatan tinggi yang membuat Rio dan dua teman bek lainnya kesulitan menjangkau.

Kali ketiga, umpan panjang itu datang lagi. Raka berlari menyambutnya, tubuhnya melayang tinggi melewati kepala Rio, lalu menanduk bola keras-keras ke arah gawang.

"AWAS!" teriak Dika berlari kembali membantu pertahanan.

Surya, kiper yang tadi hebat menepis bola, kali ini tidak cukup cepat bereaksi karena pandangannya sedikit terhalang cipratan air hujan. Bola menabrak bagian dalam tiang gawang sebelah kiri, lalu masuk bergulir pelan ke dalam jaring.

GOL! Skor menjadi 1-1.

Tim Kelas 2-B bersorak kegirangan. Raka berlari berputar-putar dengan tangan terbuka, seolah memamerkan kekuasaannya di lapangan yang mulai becek itu. Dia melewati samping Dika sambil berbisik dengan nada menantang diiringi senyum miring, "Lapangan sudah jadi milikku sekarang. Lihat saja, sisa pertandingan ini bakal aku isi sama gol-golku."

Dika tidak marah, dia justru tersenyum tipis. Dia tahu Raka merasa diuntungkan oleh hujan, tapi Raka tidak tahu bahwa Dika sudah puluhan kali bermain dalam kondisi lapangan apa pun, dari yang kering keras sampai yang becek parah. Bagi Dika, hujan hanya mengubah cara main sedikit saja, bukan mengubah segalanya.

Rio berlari menghampiri Dika dengan napas terengah-engah, wajahnya belepotan air hujan dan sedikit tanah. Dia terlihat kesal dan kecewa.

"Dik! Maaf ya, tadi aku kalah lompat sama dia. Berat banget sih badan anak itu, kayak menara beton! Gimana nih? Dia makin jadi kalau begini caranya. Terus kalau hujan makin deras, bola makin licin, kita gimana dong?" tanya Rio cemas.

Teman-teman yang lain juga mulai berkumpul, wajah-wajah mereka terlihat khawatir. Semangat yang tadi membara, sedikit meredup karena gol penyama kedudukan itu.

Dika mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua tenang. Dia mengusap wajahnya yang basah kuyup, lalu menatap teman-temannya satu per satu dengan tatapan yang sama tajamnya meski di tengah guyuran air hujan.

"Dengar semuanya! Jangan panik! Ini cuma satu gol. Masih banyak waktu, masih sekitar 20 menit lagi sampai selesai," suara Dika terdengar jelas dan tegas di antara suara hujan yang berderas. "Mereka pikir hujan ini keuntungan mereka? Salah besar! Justru ini keuntungan kita. Lihat cara mereka main: umpan jauh, kejar bola, adu fisik. Itu cara main yang boros tenaga, apalagi tanahnya berat begini. Sepuluh menit lagi, kaki mereka pasti berat, napas mereka pasti habis."

Dika menunjuk ke arah Doni dan satu lagi teman bernama Budi (bukan guru olahraga), yang berposisi di sayap.

"Doni, Budi. Kalian jangan lari-lari mengejar bola terus. Kalian cari ruang kosong di pinggir. Saat aku pegang bola, jangan diam, terus bergerak, potong jalur pengawalan. Jangan lari lurus, lari bersilang. Karena tanah licin, lawan bakal susah berputar nanti kalau kita bergerak gitu."

Lalu dia menoleh ke Rio dan barisan pertahanan.

"Rio, ingat pesanku tadi. Kalau Raka datang bawa bola atau lari menyambut umpan, jangan berhadapan langsung. Tarik dia ke belakang sedikit, biarkan dia lari ke arah gawang kita, tapi potong jalur operannya ke teman-temannya. Biarkan dia bawa bola sendirian. Orang sekuat apa pun, kalau bawa bola sendirian di tanah becek, lama-lama bakal capek dan salah kendali. Aku percaya sama kamu, Rio. Kamu itu bek paling tangguh yang aku tahu. Badanmu besar, kakimu kuat. Manfaatkan itu buat halangi pandangan dia, bukan buat tabrak badan."

Rio mengangguk dengan semangat baru, dadanya membusung. "Siap! Biar aku urus si 'Menara Beton' itu. Aku bakal tempel dia kayak lem, biar dia nggak bisa napas lega!"

Dika tersenyum puas. Lalu dia menatap semua teman-temannya sekali lagi.

"Dan ingat satu hal penting: di lapangan basah begini, bola bakal meluncur cepat. Jadi pas aku oper, kalian jangan tunggu bola datang ke kaki. Kalian harus lari menyambutnya, potong jalur. Kita main pendek, cepat, dan saling tukar posisi. Kita buat mereka bingung. Ayo, tunjukkan kalau kita bukan cuma tim yang beruntung dapat satu gol tadi. Kita tim yang lebih pintar, lebih cerdas, dan lebih mau berjuang! AYO KITA SERANG LAGI!"

"AYO!" teriak mereka serentak, semangat mereka kembali menyala berkobar, mengalahkan dinginnya air hujan yang membasahi kulit.

Permainan kembali dimulai, dan kali ini perbedaannya sangat terasa.

Tim Kelas 2-B berusaha terus melancarkan serangan dengan cara yang sama: umpan jauh ke Raka. Tapi berkat instruksi Dika, Rio menjalankan tugasnya dengan sangat... unik dan lucu. Setiap kali Raka berlari, Rio tidak berusaha merebut bola atau menabraknya. Rio hanya berlari tepat di samping atau di depan Raka, bergerak ke mana pun Raka bergerak, sambil sesekali mengayunkan tangannya seolah keseimbangannya terganggu karena licin, tapi sebenarnya itu semua sengaja dilakukan untuk mengganggu konsentrasi Raka.

Suatu saat, Raka berlari kencang membawa bola melewati tengah lapangan. Rio berlari menyamping, lalu seolah-olah terpeleset, tubuhnya yang besar itu jatuh merosok ke arah kaki Raka. Raka kaget, berusaha menghindar, tapi karena tanahnya licin, dia pun ikut terpeleset dan jatuh terduduk tepat di genangan air keruh.

"HUAAAA HAAAA!" Penonton tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu.

Rio langsung bangkit dengan wajah polosnya yang paling jujur, lalu mengulurkan tangan membantu Raka berdiri. "Waduh, maaf ya Raka! Licin banget nih lho, aku sampai nggak kuat berdiri. Kamu nggak apa-apa kan? Hati-hati lho!"

Raka bangkit dengan wajah merah padam karena marah dan malu, badannya penuh lumpur. Dia tahu Rio sengaja melakukan itu, tapi dia tidak bisa marah karena Rio pura-pura tidak bersalah sama sekali. Rio pun berlari menjauh sambil tersenyum jahil ke arah Dika, memberi kode bahwa rencana pengganguannya berjalan sukses.

Dika menahan tawa melihat kelakuan sahabatnya itu, tapi dia harus fokus. Saat bola berhasil direbut kembali oleh pertahanan mereka, bola itu bergulir ke kaki Dika di tengah lapangan.

Di sinilah momennya.

Dika tidak panik. Dia mengendalikan bola itu dengan telapak kaki kanannya, menahannya agar tidak meluncur jauh karena air. Di sekelilingnya, dua pemain lawan langsung mendekat untuk menjegal dan merebut bola. Tapi bagi Dika, gerakan mereka terlalu lambat dan mudah dibaca.

Salah satu pemain melompat masuk ingin merebut. Dika hanya sedikit menggeser bola ke kiri dengan ujung kaki, membiarkan pemain itu menendang angin dan tergelincir melewatinya. Pemain kedua datang menutup ruang gerak. Dika melakukan gerakan memutar bola 360 derajat yang mulus, membuat lawannya itu bingung dan berdiri diam di tempat.

"HEBAT!" seru Pak Budi dari pinggir lapangan, matanya terbelalak kagum melihat kemampuan teknik bola yang sangat bersih itu, bahkan dalam kondisi basah begini.

Setelah lolos dari penjagaan, pandangan Dika menjelajah ke depan. Dia melihat Doni berlari menyusuri sisi kiri lapangan, kosong tidak ada yang menjaga karena semua pemain lawan berkumpul di tengah mengejar Dika.

Tanpa ragu, Dika melepaskan umpan melengkung yang indah. Bola itu tidak menggelinding di tanah (yang pasti akan terhalang genangan air), tapi melayang rendah, melintasi kepala satu pemain lawan, lalu jatuh tepat di depan lari Doni. Pas sekali, bola menyambut lari Doni, jadi dia tidak perlu menghentikan bola, cukup menyambarnya dan lari terus ke depan.

"Pergii Doni! Lari terus!" teriak Dika memberi semangat.

Doni berlari sekuat tenaga. Di depannya tinggal satu bek lawan dan kiper. Raka yang berada jauh di belakang berusaha mengejar, tapi napasnya sudah terengah-engah, kakinya mulai berat karena terlalu banyak lari dan melompat, sementara tanah semakin berat untuk diinjak.

Kiper Kelas 2-B maju sedikit keluar gawang untuk mengecilkan sudut. Doni sempat bingung, dia tidak yakin mau menembak atau mengoper. Saat itu juga, dia melihat Dika berlari lurus ke tengah, bebas dari penjagaan, tangannya mengisyaratkan minta bola.

Doni percaya sepenuhnya pada Dika hari ini. Dia menyodorkan bola mendatar kencang ke tengah. Bola itu meluncur deras di atas rumput basah, melewati kaki bek yang berusaha menjegal, dan datang tepat ke arah pergerakan Dika.

Dika tidak mengerem larinya. Dia melihat posisi bola, menghitung kecepatannya, dan memprediksi pantulannya. Di dalam kepalanya, ribuan skenario berlalu dalam sepersekian detik. Kipernya sudah terlanjur keluar, posisinya agak jauh dari tiang dekat, ada celah besar.

Saat bola itu datang sejajar dengan kakinya, Dika tidak menendang dengan keras. Dia mengayunkan kaki bagian dalamnya dengan tenang dan halus, menyentuh bola persis di tengah bawahnya.

Sentuhan itu sempurna.

Bola melayang pelan, melengkung indah melewati kepala kiper yang melompat sia-sia, lalu turun perlahan masuk ke sudut gawang yang kosong melompong.

TIANG BERGETAR! JARING BERGOYANG KERAS!

GOL KEDUA UNTUK DIKA! Skor berubah menjadi 2-1 untuk Kelas 2-A!

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!