Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: BADAI DI BALIK PINTU JATI
Maret datang membawa udara yang lebih hangat, namun atmosfer di dalam rumah keluarga Wijaya justru terasa semakin mencekam. Usia kandunganku kini telah menginjak bulan keempat. Perutku yang semula rata perlahan mulai tampak sedikit membuncah, membuatku harus lebih pintar memilih kebaya atau baju kurung yang agak longgar agar Ibu Retno tidak menyadari perubahan fisik ini. Rasa mual pagi hari sudah mulai berkurang, bergantikan dengan rasa ngilu yang kerap menyerang pinggangku akibat ritme kerja yang sama sekali tidak dikurangi.
"Yuni! Kenapa jam segini jemuran belum diangkat? Itu di luar sudah mulai mendung, kalau sampai baju-baju Mas Rendra-mu basah lagi, kamu Ibu jemur di luar!" Suara Ibu Retno melengking dari arah balkon lantai dua.
Aku yang sedang mencuci piring di dapur belakang langsung menyeka tangan pada celemek kusamku. "Nggih, Bu. Ini saya angkat sekarang," sahutku lirih. Aku berjalan dengan langkah yang disengaja agar tidak tampak terengah-engah, meski napas penderitaanku sudah terasa sampai di tenggorokan.
Rasa cintaku pada Mas Rendra adalah satu-satunya penopang jalinan waras di kepalaku. Setiap kali Mas Rendra pulang malam dan mengelus rambutku dengan tatapan penuh rasa bersalah, semua makian Ibu Retno dan kelakuan semena-mena Ambar serta Bagus menguap begitu saja. Aku bertahan karena aku mencintai suamiku, dan aku tahu dia pun mencintaiku, terlepas dari ketidakberdayaannya di hadapan orang tuanya.
Namun, kedamaian semu itu hancur berantakan pada suatu sore di pertengahan Maret.
Hujan deras kembali mengguyur Semarang, memaksa seluruh penghuni rumah berdiam di dalam. Sore itu, Ibu Retno, Pak Didi, dan Mas Rendra pulang lebih awal dari toko grosir dengan wajah-wajah yang luar biasa tegang. Mereka langsung masuk ke dalam ruang kerja pribadi di lantai satu dan menutup pintu jati berukir itu rapat-rapat.
Aku yang sedang menyetrika pakaian di ruang belakang diminta oleh Ibu Retno untuk mengantarkan secangkir kopi hitam untuk Pak Didi dan teh melati hangat. Dengan nampan di tangan, aku melangkah mendekati pintu ruang kerja. Namun, tepat saat tanganku hendak mengetuk pintu yang sedikit tidak rapat itu, sebuah bentakan keras dari dalam menghentikan gerakan tanganku.
"Kamu tidak bisa mundur lagi, Rendra! Waktumu sudah habis! Empat bulan penundaan yang kita minta dari keluarga Sari sudah jatuh tempo besok pagi!" Itu suara Ibu Retno, melengking tinggi namun penuh ketakutan yang tertahan.
Jantungku seketika berdesir dingin. Nama Sari yang kutemukan di kertas kwitansi bulan lalu kini disebut kembali. Aku menahan napas, mendekatkan telingaku ke celah pintu jati yang renggang.
"Tapi Bu, Rendra tidak mencintai Sari! Dia lima tahun lebih tua dari Rendra, dan wajahnya... Ibu tahu sendiri bagaimana mereka menipu kita saat pertemuan pertama dengan memperlihatkan adiknya yang cantik itu!" Mas Rendra berteriak, suaranya terdengar frustrasi dan penuh keputusasaan yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Rendra malu, Bu! Rendra tidak mau menikahi wanita itu!"
"Cukup, Rendra!" Kali ini suara Pak Didi yang berat dan berwibawa menimpali, memotong protes anaknya. "Ini bukan lagi soal kamu malu atau tidak mencintainya. Ini soal utang kehormatan! Surat perjanjian pertunangan yang kita tandatangani dulu mengikat kita dengan denda 70 gram emas murni karena kamu membatalkan sepihak setelah tahu wajah asli Sari. Kita tidak punya emas sebanyak itu sekarang, Rendra! Toko grosir kita sedang macet!"
Darahku rasanya berhenti mengalir. Napas yang kuhirup terasa menyumbat di dada. Kedua kakiku gemetar hebat di atas lantai marmer yang dingin, hingga nampan di tanganku nyaris saja terlepas.
"Kalau besok pagi kamu tidak berdiri di pelaminan bersama Sari sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan sejak awal, keluarga mereka akan membawa surat perjanjian itu ke jalur hukum dan menyita toko kita! Kamu mau kita semua gelandangan?!" Suara Ibu Retno kembali menyambar, kali ini terdengar terisak. "Ingat, Rendra! Empat bulan lalu kamu mengancam mau bunuh diri di kamar karena menolak Sari, makanya Ibu dan Ayah mengalah dan mencarikan kamu Yuni dari desa sebagai pelarian sementara agar keluarga Sari mengira kamu sudah menikah dan mau memberi kelonggaran waktu! Tapi sekarang, tenggat waktu mereka sudah habis!"
"Lalu bagaimana dengan Yuni, Bu? Rendra mencintai Yuni... Yuni istri sah Rendra!" Suara Mas Rendra terdengar bergetar, menangis.
"Yuni itu cuma anak buruh pabrik miskin! Dia tidak punya apa-apa untuk menolong keluarga kita! Berikan saja dia uang pesangon, suruh dia pulang ke desanya besok setelah pesta pernikahanmu dengan Sari selesai! Dia pasti mau, anak desa seperti dia tidak akan berani melawan kita!" Jawab Ibu Retno dengan nada dingin, tanpa beban, seolah-olah diriku tak lebih dari seonggok barang rongsokan yang bisa dibuang kapan saja.
Di balik pintu, air mataku luruh tanpa suara, mengalir deras membasahi pipiku yang kaku. Seluruh duniaku runtuh menjadi serpihan tajam yang menusuk tepat di jantungku.
Jadi, selama ini pernikahan ini hanya sandiwara? Aku dibawa ke rumah ini, merelakan diriku dihina, dicaci, dan diperas tenaganya bagai budak selama empat bulan, hanya untuk menjadi tameng penunda utang denda 70 gram emas? Dan Mas Rendra... pria yang teramat kucintai, yang setiap malam membisikkan janji manis dan memelukku hangat, ternyata adalah seorang pengecut yang menyetujui rencana busuk ini sejak awal demi menyelamatkan dirinya dari pernikahan dengan wanita yang dianggapnya tidak cantik.
Aku melangkah mundur dengan perlahan, menjauh dari pintu jati itu dengan tubuh yang lemas tak bertulang. Kutangkup perutku yang berusia empat bulan dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Di dalam rahimku ada anak dari pria yang besok pagi akan bersanding di pelaminan bersama wanita lain.
Penderitaan fisik yang kutanggung selama empat bulan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan belati pengkhianatan yang baru saja dihujamkan oleh suami yang teramat kupuja. Besok adalah hari pesta pernikahan mereka, dan malam ini, di tengah dinginnya Maret, aku harus memutuskan bagaimana akhir dari takdirku di rumah yang terkutuk ini.