Dikhianati dan ditikam dari belakang oleh kekasih sekaligus rekannya sendiri, Laras—pembunuh bayaran paling ditakuti di dunianya—mati sambil bersumpah membalas. Tapi maut bukan akhir. Sebuah "kesempatan kedua" melemparkan jiwanya menembus waktu, ke dalam tubuh seorang wanita di abad ke-21: Kirana, istri kontrak yang lemah, hamil, dan dihina, menikah dengan taipan sedingin es yang menganggapnya sampah.
Suaminya, Raka Prawira, mengira ia masih perempuan cengeng yang dulu membiusnya demi mengikat pernikahan. Keluarga kandung Kirana memerasnya. Ibu mertuanya menganggapnya pemburu harta. Dan di balik imperium bisnis megah keluarga Prawira, tersembunyi dunia penyelundupan senjata, pengkhianatan, dan persaingan warisan berdarah.
Sayang sekali bagi mereka semua—perempuan yang kini menghuni tubuh itu bukan lagi Kirana yang mereka kenal. Ia seorang ahli racun, strategi, dan pertumpahan darah. Satu per satu, mereka yang pernah menginjaknya akan belajar satu pelajaran mahal: tak ada yang mengkhianati wanita ini lalu hidup untuk menceritakannya.
Dari ruang rapat hingga baku tembak di jalan tol, dari perang dingin pernikahan kontrak hingga gairah yang perlahan membakar—saksikan sang perebut takdir mengubah hidup yang seharusnya menghancurkannya menjadi takhta miliknya sendiri.
Sanggupkah sang taipan yang tak pernah mencintai siapa pun bertahan dari perempuan paling berbahaya yang pernah tidur di ranjangnya... apalagi setelah jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gena Jim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
KIRANA:
Makan siang berakhir dengan tenang, lalu rasa lelah bercampur kantuk yang membakar membuatku menguap.
"Kurasa kamu harus istirahat. Beberapa hari ini kamu terlalu banyak kerja, dan itu tak baik untuk kondisimu. Ingat, kamu sempat nyaris keguguran dan tubuhmu butuh istirahat."
Kata Raka, dan aku menggeleng.
"Masih banyak pekerjaan. Kalau sudah selesai, baru aku ambil istirahat."
Ucapku sambil kembali menguap, lalu memejamkan mata beberapa detik, dilanda keinginan luar biasa untuk tidur.
"Pekerjaannya tak akan ke mana-mana. Lebih baik kamu istirahat beberapa jam di kamarku."
"Baiklah, boleh."
Kataku sambil berdiri, sementara nyeri yang membandel masih terasa di punggung bawahku.
"Tapi kamu harus memijat punggungku..."
Raka melepas tawa pendek dan dalam, tawa yang bergetar di udara dan membuatku tersenyum meski mengantuk.
"Itu sudah pasti."
Katanya sambil melingkari pinggangku untuk menopangku saat kami berjalan menuju ruang pribadi di belakang kantornya.
"Aku bisa terbiasa kamu memberiku perintah semacam ini, Kirana."
Katanya, lalu kami masuk ke kamar. Kulihat ruangan yang bersahaja, beraroma kayu dan parfum mahalnya.
Ia membantuku berbaring telungkup dengan hati-hati, menyelipkan bantal di bawah perutku supaya tak ada tekanan di sana, dan kurasakan kedua tangannya yang besar dan hangat di punggung bawahku.
Kedua ibu jarinya menekan tepat di titik yang paling nyeri, mengurai simpul-simpul tegang dengan keahlian yang membuatku kehabisan napas.
"Kamu pandai sekali dengan tangan."
Bisikku dengan mata terpejam.
"Ya, dan juga dengan hal lain."
Katanya dengan suara serak, membuat tubuhku merinding seluruhnya. Namun perlahan-lahan, suara napasnya dan irama tangannya menenggelamkanku ke dalam sumur gelap yang nikmat.
Tanpa kusadari aku tertidur dengan perasaan bahwa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang menjagaku alih-alih menungguku menjaga semua orang... Ini perasaan yang belum pernah kurasakan.
Suara nyaring, seperti pintu membentur dinding, menyentakku kasar dari istirahatku. Kubuka mata dengan bingung, masih merasakan berat kantuk di kelopak mata.
"Apa-apaan ini?"
"Aku tak peduli kalau lagi sibuk! Aku ini adik iparnya Raka kecil dan aku berhak masuk!"
Raka kecil? Suara melengking dan manja itu cuma bisa milik satu orang: saudariku tersayang.
Aku bangkit dengan susah payah, merasakan nyeri punggung sudah berkurang, tapi kesabaranku tinggal titik terendah.
Aku keluar dari kamar menuju kantor utama, dan pemandangannya adalah kekacauan yang terkendali.
Saudariku tersayang berdiri di tengah ruangan, mengenakan gaun pendek, terlalu pendek, rancangan desainer, dengan tas-tas belanjaan di tangannya, sementara Johan menghadangnya dengan satu lengan terentang dan ekspresi jengah total.
Raka duduk di balik mejanya, memegang pena yang tampaknya nyaris patah karena tekanan.
"Sonia, kantorku dan perusahaanku bukan tempat untuk kelakuan bocahmu yang konyol. Kamu pikir kamu anak kecil?"
Kata Raka, dan suaranya adalah bisikan sedingin es yang biasanya mendahului ledakan.
"Saat ini saudarimu sedang istirahat atas perintah dokter. Jangan bikin keributan, nanti dia terbangun."
"Ah, yang benar saja!"
Ia melihatku keluar dan melemparkan tatapan penuh kebencian murni, dan aku tersenyum padanya.
"Kirana memang selalu berlebihan... Dia cuma memakai kehamilan itu untuk menjadikanmu budaknya, Raka..."
Ia menatapku lalu berjalan ke arahku.
"Papa murka karena kamu mengusirnya seperti anjing dan mereka tak diizinkan masuk ke perusahaan tadi. Papa menyuruhku bilang, sebaiknya kamu pikirkan lagi baik-baik."
Ia melangkah ke arahku, mengabaikan peringatan di mata Raka, lalu berhenti beberapa sentimeter dariku, memindaiku dari atas ke bawah.
"Lihat dirimu... Pucat dan tak terurus... Kerja kantoran bukan untukmu, adik kecil. Kamu sebaiknya pulang ke rumah Mama dan biarkan orang yang benar-benar paham bisnis mengurus ini... Oh iya..."
Ia mendekat ke telingaku supaya hanya aku yang mendengar.
"Rendra bilang dia merindukanmu... Katanya peran 'istri sempurna' ini bakal cepat sekali runtuh darimu."
Kurasakan gelombang panas naik ke leherku, dan itu bukan rasa takut, melainkan haus bertarung milik Larasati yang baru saja terbangun dari tidur siangnya.
"Pertama-tama, Sayang."
Kataku sambil menyingkirkannya dengan satu gerakan tangan yang tegas.
"Di kantor ini aku bukan 'adik kecil'-mu, aku Nyonya Prawira. Dan kedua, kalau Papa punya sesuatu untuk dikatakan, pakai sisa harga dirinya yang masih ada dan datang sendiri, meski kuragukan keamanan akan membiarkannya lewat dari resepsionis kalau tak punya janji temu."
Raka bangkit perlahan, memutari meja untuk berdiri di sampingku.
Kehadirannya begitu berwibawa, dan kulihat Sonia mundur selangkah, kehilangan sedikit keangkuhannya.
"Johan."
Suara Raka menggema di dinding.
"Antar Nona ini ke pintu keluar, dan bilang pada tim keamanan, kalau dia sampai mengganggu lagi tanpa janji temu, mereka akan kehilangan pekerjaan sebelum hari ini berakhir."
"Raka! Kamu tak bisa memperlakukanku begini!"
Sonia memekik, sementara Johan, dengan efisiensi nyaris mekanis, mencengkeram lengannya.
"Tuan Prawira, ingat, kita tidak dekat."
"Pulang dan istirahatlah, kamu tampak sangat kuyu."
Kataku sambil menyilangkan kedua tangan.
"Dan bilang pada temanmu, kalau dia berani menyebut namaku lagi, suamiku dan aku akan memastikan dia tak punya karier yang perlu dia khawatirkan. Paham?"
"Akan kubalas ini, Kirana."
Katanya sebelum menghilang, dan aku cuma melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal padanya.
"Maaf soal keributan tadi. Kamu bisa istirahat dengan baik?"
"Ya, sekarang aku merasa segar bugar. Terima kasih sudah meminjamkan kamarmu."
Raka melingkarkan kedua lengannya di pinggangku dan menarikku ke tubuhnya.
"Kalau kamu benar-benar bersyukur, beri aku ciuman."
"Mmm, ternyata kamu ini tukang peras ya, Tuan Prawira."