Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENJATA MAKAN TUAN
Dengan memegang erat troli alat kebersihan, Xiao Luo melangkah keluar dari lift khusus staf di lantai sembilan. Suasana di lantai teratas ini jauh berbeda dari lantai dasar tempatnya biasa bekerja. Tidak ada deru mesin produksi atau hilir mudik buruh yang bising. Di sini, karpet tebal meredam setiap langkah kaki, dan udara dingin beraroma kayu cendana menyelimuti lorong-lorong yang sunyi dan megah.
Xiao Luo menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu betul, satu goresan saja pada perabot di lantai ini bisa mengancam mata pencahariannya.
Dengan telaten, ia mulai menyapu dan mengelap meja-meja di ruang rapat utama. Namun, baru saja ia hendak membersihkan kaca jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota, terdengar suara langkah sepatu kulit yang mantap mendekat.
Seorang pria muda berjas gelap melangkah masuk dengan mengapit sebuah map tebal. Perawakannya tegap, dengan garis rahang yang tegas dan tatapan mata yang tajam namun tenang. Pria itu adalah Huang Jingyu, CEO muda Huang’s Family.
Xiao Luo terkejut dan membungkuk dalam-dalam. "Maafkan saya, Tuan. Saya akan segera menyelesaikannya."
Huang Jingyu menghentikan langkahnya sejenak. Matanya meneliti sosok gadis berparas polos berpakaian seragam OG tersebut. Biasanya, Mey Lin yang bertugas di ruangan ini.
"Kemana OG yang biasa bertugas di sini? "
"Maaf Tuan....hari ini Mey Lin tidak masuk.Jadi Saya yang diminta untuk menggantikannya hari ini,"awab Xiao Luo dengan jujur.
Huang Jingyu menatap Xiao Luo dengan tatapan menyelidik. Ada sesuatu yang tak asing dari raut wajah Xiao Luo, namun Jingyu tidak mengutarakannya.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja," ujar Huang Jingyu pendek namun dingin, lalu berjalan menuju meja kerjanya yang luas di ujung ruangan.
Saat Xiao Luo merapikan sudut meja kopi di dekat sofa, matanya tak sengaja menangkap sebuah foto berpigura perak di atas meja kerja sang CEO. Di dalam foto itu, tampak Huang Jingyu berdiri bersama seorang pria paruh baya tersenyum hangat—pria yang sangat dikenalnya!
Tuan itu... penolongku? batin Xiao Luo dengan napas tertahan.
Dada Xiao Luo bergemuruh hebat. Pria paruh baya di foto itu adalah orang yang membawakan bantuan bahan pangan dan menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Jadi, orang baik itu adalah ayah dari pemimpin tertinggi perusahaan ini?
Sebelum Xiao Luo sempat menetralkan rasa terkejutnya, sebuah suara nyaring memecah kesunyian lorong di luar.
Sementara itu, di lantai ba
wah, Su Jin tidak bisa menerima kenyataan bahwa Xiao Luo mendapat tugas di lantai puncak. Rasa iri dan prasangka buruk menguasai pikirannya.
"Cewek lugu seperti dia pasti berusaha menarik perhatian para petinggi," gumam Su Jin bermulut tajam pada rekannya saat menyapu area koridor.
"Aku tidak boleh membiarkannya tenang. Jika dia membuat masalah besar hari ini, dia pasti langsung dipecat!"
Su Jin menyelinap naik menggunakan tangga darurat membawa sebuah gelas berisi cairan pembersih berbahan kimia keras.
Dengan mengendap-endap di dekat pintu ruang CEO yang sedikit terbuka, ia memanfaatkan momen saat Xiao Luo sedang membelakangi pintu untuk memercikkan cairan itu ke taplak meja berhias sutra impor di dekat pintu entrance, berharap Xiao Luo yang dituduh merusaknya.
Namun, nasib buruk justru menimpa Su Jin. Saat ia hendak mundur, ujung sepatunya tersandung ambang pintu.
PRANG!
Gelas kimia itu jatuh pecah, dan cairan di dalamnya menyiprat mengenai sepatu kulit mahal milik Huang Jingyu yang baru saja melangkah keluar dari ruangannya untuk memeriksa kegaduhan.
Suasana mendadak menjadi sebeku es.
"Apa yang terjadi di sini?" suara Huang Jingyu menggelegar, dingin dan sarat intimidasi.
Su Jin pucat pasi.
Tubuhnya gemetar hebat saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Tanpa berpikir panjang, Su Jin menunjuk Xiao Luo yang berdiri tak jauh darinya.
"Tu... Tuan Muda! Ini salah Xiao Luo! Dia yang menyenggol saya saat saya berniat membantunya!"
Xiao Luo terbelalak. "Bukan, Tuan! Saya bahkan tidak tahu Su Jin ada di atas..."
Huang Jingyu tidak memotong ucapan mereka. Matanya yang tajam menatap pecahan kaca di lantai, lalu beralih melihat rekaman kamera pengawas (CCTV) kecil yang terpasang tepat di atas sudut lorong tersebut.
"Pengawas gedung," panggil Jingyu datar melalui intercom di dinding. "Bawa Su Jin turun dan selesaikan proses pemecatannya hari ini juga. Perusahaan ini tidak membutuhkan pegawai yang membawa masalah dan berbohong."
Su Jin menangis histeris saat petugas keamanan menariknya menjauh. Rencana jahatnya justru menjadi jerat bagi dirinya sendiri.
Setelah koridor kembali tenang, Huang Jingyu menatap Xiao Luo yang masih berdiri kaku. "Kamu tidak apa-apa?"
"Saya... saya tidak apa-apa, Tuan Muda. Terima kasih," jawab Xiao Luo terbata-bata.
Jingyu mengangguk pelan. "Ayahku pernah bercerita tentang seorang gadis gigih yang ia bantu beberapa waktu lalu. Rupanya itu kamu. Bekerjalah dengan baik di sini."
Kata-kata singkat itu seperti embun segar bagi Xiao Luo. Ada rasa lega yang amat sangat di hatinya.
Di saat yang sama, kehidupan di pulau pengasingan berjalan perlahan namun pasti.
Siang harinya, Nyonya Shen sedang duduk di depan gubuk sembari menyuapi Yu Jin susu hangat. Tangisan bayi itu sudah mereda, digantikan oleh cegukan kecil yang menggemaskan. Shen Tingting dan Pelayan Ma baru saja selesai membersihkan sayur-sayur liar yang berhasil mereka petik tadi pagi.
Di kejauhan, tampak Nyonya Xin dan keluarganya sedang memikul cangkul dan patok kayu menuju area perbukitan di belakang pemukiman. Mereka mulai mengukur lahan pertanian yang diizinkan oleh pejabat pulau.
"Ibu," panggil Shen Tingting pelan sembari menatap ke arah lereng bukit. "Apakah kita juga harus mulai membuka lahan besok?"
Nyonya Shen mengelus lembut kepala Yu Jin yang mulai tertidur pulas di pangkuannya.
"Iya, Ting'er. Meski tanah di pulau ini keras dan penuh batu, selama kita mau mengolahnya, pasti ada hasil yang bisa kita petik. Kita tidak mungkin terus berharap pada hasil hutan kan? "
Pelayan Ma tersenyum penuh tekad. "Saya siap membantu, Nyonya. Saya dulu dibesarkan di desa, urusan mencangkul dan menanam jagung bukanlah hal yang sulit untuk saya."
"Terima kasih, Bibi Ma," sahut Nyonya Shen tulus.
Meskipun status pengasingan melingkupi hidup mereka dan penderitaan belum sepenuhnya usai, ada secercah harapan yang mulai tumbuh.
Di satu sisi, Xiao Luo berjuang menegakkan badannya di tengah kejamnya dunia kerja kota; di sisi lain, keluarga Shen berjuang menaklukkan tanah gersang demi bertahan hidup.
Keduanya berjuang di jalan masing-masing, terikat oleh satu benang kasih sayang yang tak terputus.