Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 pertemuan dengan pengacara tampan
Hujan masih turun dengan deras saat aku duduk sendirian di warung kosong itu. Koperku basah, bajuku basah, hatiku jauh lebih basah oleh air mata.
Aku tidak tahu harus kemana. Pulang ke rumah orang tuaku di Mamuju aku malu. Aku menikah dengan janji akan bahagia, tapi sekarang aku pulang sebagai janda yang diusir.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan warung. Seorang laki-laki tinggi dengan jas hitam keluar membawa payung.
"Maaf, kamu tidak apa-apa? Dari tadi saya lihat kamu menangis di sini," katanya dengan suara lembut.
Aku mengangkat wajahku. Laki-laki itu sangat tampan. Kulitnya bersih, wajahnya tegas, dan matanya teduh. Dia terlihat seperti orang kaya dari kota.
Aku menggeleng lemah, "Saya tidak apa-apa kak."
"Bohong. Matamu bengkak sekali. Baju kamu basah semua. Ayo ikut saya, saya antar pulang. Hujan masih lama," dia memaksa dengan sopan.
Aku takut. Aku tidak kenal dia. "Tidak usah kak, terima kasih."
Laki-laki itu tersenyum, lalu duduk di sebelahku, menjaga jarak. "Perkenalkan, nama saya Arya. Saya pengacara. Kantor saya di kota. Saya baru selesai urusan di desa sebelah. Kamu siapa?"
"Aku Una," jawabku pelan.
Arya melihat koper di sampingku. "Kamu diusir?"
Pertanyaan itu membuat tangisku pecah lagi. Aku tidak bisa menahannya. Aku menceritakan semuanya. Tentang Rizal, tentang Bu Ratna janda kaya itu, tentang chat mesra mereka, tentang aku diusir dari rumahku sendiri.
Arya mendengarkan dengan serius tanpa memotong ceritaku. Wajahnya terlihat marah saat aku cerita tentang Rizal yang memilih janda kaya karena uang.
"Suamimu bodoh sekali. Istri secantik dan sebaik kamu disia-siakan hanya karena harta. Dia tidak tahu apa itu cinta," kata Arya.
Kata-kata Arya membuat hatiku sedikit hangat. Sudah lama tidak ada yang memujiku.
"Lalu apa rencanamu sekarang Una?" tanya Arya.
Aku menggeleng, "Aku tidak tahu kak. Aku tidak punya uang, tidak punya rumah."
Arya berpikir sebentar, lalu mengambil kartu namanya. "Begini saja, saya punya rumah kontrakan kosong di kota. Tidak ada yang pakai. Kamu tinggal di sana saja dulu sementara, gratis. Anggap saja saya menolong sesama. Kamu tidak perlu bayar."
Aku kaget, "Gratis kak? Tapi kenapa kakak baik sekali sama saya? Kita baru kenal."
Arya tersenyum tulus, "Karena saya juga pernah dihianati Una. Saya tahu rasanya sakit diusir dan tidak dianggap. Saya tulus mau membantu kamu. Dan kebetulan saya pengacara, saya bisa bantu urus perceraianmu nanti kalau kamu mau. Biar suamimu itu tidak semena-mena."
Aku menatap kartu nama itu. Arya Mahendra, S.H. Pengacara.
Apakah ini pertolongan dari Allah untukku? Di saat aku berada di titik terendah, datang seorang laki-laki tampan dan baik hati yang mau menolongku tanpa minta apa-apa.
Hujan mulai reda. Arya membantu mengangkat koperku yang berat ke mobilnya.
"Ayo Una, kita pergi dari tempat ini. Kamu pantas dapat hidup yang lebih baik daripada menangis di warung kosong ini. Biar saya bantu kamu bangkit dan buat mantan suamimu itu menyesal."
Aku masuk ke mobil mewah Arya. Untuk pertama kalinya setelah dua hari menangis, aku merasa ada harapan baru.
Mobil itu melaju meninggalkan desa yang telah menghancurkan hatiku. Menuju kota, menuju hidup baru.
Aku tidak tahu siapa Arya sebenarnya. Aku tidak tahu kenapa dia begitu baik padaku. Tapi satu yang aku tahu, pertemuan ini akan mengubah seluruh hidupku.
Apakah Arya benar-benar tulus? Atau dia punya niat lain padaku?