NovelToon NovelToon
PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:58
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

DENDAM BERSELIMUT TAWA

Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?

Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.

Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.

Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.

Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.

Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.

Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20-KEMUNCULAN RAJA LEMBAH HANTU

"sial, sepertinya mereka tak membiarkan kita pergi" ucap Kirana setelah menyadari kalau wilayah lembah hantu telah di kelilingi dinding energi.

"memang siapa orang di balik para jendral itu, kenapa kita harus pergi..?"

Kirana menggeleng.

"aku juga tak tau."

"jika tak tau, lalu kenapa kita harus lari...?"

plak....

Raka meringis, setelah kepalanya di pukul Kirana.

"cobalah sesekali berpikir ke depan, justru karena kita tak tau musuh dan seberapa kuat mereka itu akan merugikan kita. Di pihak mereka malah sebaliknya, mereka sudah tau sebagian kekuatan kita"

raka menunduk.

"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang."

"karena sudah begini, kita tak memiliki pilihan lain. Hanya bisa memilih melawan dan berharap kita bisa menang dan tak mati, atau menunggu berharap tak di temukan dan suatu saat tempat ini akan di buka kembali"

Raka memegang lukanya yang sudah sembuh sepenuhnya. lalu ia berdiri, tangannya mengepal sempurna.

"Mbah tak pernah mengajari kita untuk bersembunyi, dia selalu menegaskan jika tak dapat menghadapi musuh maka lari, kalau tak bisa lari maka melawan sampai titik darah penghabisan"

mendengar ini, Kirana ikut berdiri.

"kalau hanya itu pilihannya, maka aku juga akan berjuang."

keduanya kini sudah membulatkan tekat, tak ada raut ragu lagi di mata keduanya.

Tak ada kata bersembunyi, mereka menerobos tempat persembunyian dan kembali di gerbang sebelumnya.

"akhirnya kalian tak terus menjadi tikus yang bersembunyi"

mendengar suara ini, keduanya mendongak ke atas tembok gerbang.

Satu sosok anak lelaki duduk santai dengan dua jendral sebelumnya berdiri di belakangnya.

"manusia" gumam mereka berdua.

Keduanya kini mendongak sempurna, mata mereka saling bertatapan dengan sosok yang memiliki fisik benar benar mirip dengan manusia.

Berbeda dengan para jendral di belakangnya yang memiliki tanduk dan wajah menyeramkan, hanya bentuk tubuhnya yang menyerupai manusia.

Anak itu berbeda, tubuhnya tak ada tanduk dan wajahnya juga tak menyeramkan.

Bahkan tak ada aura iblis sama sekali di tubuhnya.

Saat menatap wajah Kirana, sosok itu tertegun sejenak.

sesaat kemudian dia mengerutkan kening saat melihat kalung yang di pakai Raka.

"kalung neraka...! Milik ratu dunia bawah" gumamnya.

tatapannya kembali ke arah Kirana.

"wajah wanita ini kenapa sangat mirip dengan ratu dunia" lanjutnya membatin .

Namun buru buru dia menggelengkan kepala.

"tak mungkin, jika dia memang ratu dunia bawah. tempatku ini mungkin sudah rata dengan tanah"

keheningan menyelimuti tempat itu untuk beberapa detik.

Kedua belah pihak sedang asik dengan pikiran masing masing.

Saat ini, Raka dan Kirana saling menatap karena tak ada pergerakan dari pihak musuh.

Keduanya saling mengangguk.

Namun saat mereka hendak menyerang, tiba tiba sosok anak kecil sudah muncul di hadapan mereka.

Reflek keduanya yang hendak menyerang, langsung melompat mundur.

"Raka, hati hati. aku merasa tingkat kekuatannya memang tak bisa kita bayangkan" ucap Kirana lewat transmisi suara.

Raka mengangguk, ia juga menyadari dari seberapa cepat pergerakan sosok itu.

Detik berikutnya, Raka maju.

Sedangkan sosok itu masih berdiri diam.

Tatapannya masih terpaku ke arah Kirana dan kalung yang di kenakan Raka.

Wus wus wus....

Saat hanya tinggal beberapa meter saja akan sampai ke sosok itu.

2 jendral bersama ribuan hantu menyerbu ke arahnya.

"fokus dengannya, untuk hantu dan jendral itu biar aku yang menghadapi mereka"

bersama dengan ucapan ini, Kirana melewati tubuh Raka.

Raka sedikit mengangguk.

Ia mengeluarkan pedang, dan beberapa belati.

Tatapannya kini tertuju langsung ke arah anak itu.

"matilah..."

Raka mengayunkan pedang langsung ke arah anak itu, dan ini di ikuti oleh beberapa belati.

jleb....

Sebuah Golem tanah berselimut api tiba tiba muncul menahan semua serangan Raka.

Beberapa belatinya menancap tertahan, begitu juga dengan pedangnya.

Belum sempat bereaksi, anak tadi sudah muncul lagi di depannya.

Anak itu langsung menjulurkan tangan.

Raka langsung mengayunkan kakinya.

Namun lagi lagi, Golem itu menahan.

Sedangkan anak lelaki itu tetap tenang tanpa ekspresi, seakan semuanya sudah ada dalam genggamannya.

Gerakan tangan anak itu tak cepat, atau mengeluarkan energi yang besar.

Namun Raka merasa tangan polos itu mampu membunuhnya saat mengenai tubuh.

Dengan cepat Raka kembali mundur, bulir bulir keringat mulai membasahi keningnya.

"sial, apa tadi itu" batinnya.

kali ini, ia tak di beri kesempatan lagi.

Saat baru saja menenangkan diri, Golem api sudah melesat ke arahnya dengan cepat.

Raka pun tak tinggal diam, ia mulai melangkah dengan langkah tenangnya yang tak membuat riak apapun.

Langkahnya sunyi, berpindah melewati Golem itu dengan mudah.

Bahkan saat ini posisinya sudah ada di belakang anak tadi.

"sekarang" batinnya.

Ia kembali menyerang dari belakang.

Bug...

Ark....

belum sempat mencapai anak itu, Raka sudah terlebih dahulu terpental mundur.

Sebuah Golem lain muncul tiba tiba dan menerjangnya sangat keras.

Ia beberapa kali berguling sebelum dapat menyetabilkan dirinya.

Kini Raka berdiri dengan setengah membungkuk, lengannya memegang dada yang di pukul oleh Golem.

Raka merasa beberapa tulang rusuknya patah terkena pukulan Golem.

"Raka kau tak apa" tanya Kirana lewat transmisi suara.

Raka mendongak, menatap Kirana yang tengah bertarung.

Lalu pandangannya mengarah ke arah Golem yang menyerangnya, lalu berbalik ke anak kecil yang bahkan tak berbalik ke arahnya.

"aku tak apa, hanya luka kecil" balas Raka lewat transmisi suara juga.

"baiklah, kau bertahanlah. Setelah membereskan ini aku akan membantumu"

Raka mengangguk kecil, walau kini Kirana tak melihatnya.

ia menegakkan tubuh walau dadanya terasa sangat nyeri.

Pedang yang tadi tampak polos, tanpa apapun kini mulai bergetar.

Energi tipis mulai mengalir sebelum menjadi pedang api hitam.

Raka kembali maju, tapi kini ia tak langsung menyerang anak itu.

Ia lebih fokus menyerang Golem di hadapannya dulu.

Ia kembali menggunakan langkah anginnya, pergerakannya kembali cepat dan sulit di tebak.

Raka tak menyerang langsung, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain sebelum akhirnya menyerang.

Walau Golem itu akhirnya menyadari posisinya, tapi itu tak secepat sebelumnya.

satu lengan Golem terangkat menahan pedang api milik Raka.

Api merah menyala dan api hitam dari pedangnya mulai beradu.

Sedangkan tubuh Golem yang terbuat dari tanah dan pedang Raka menggantung di udara, seakan. Kedua api itu menahan agar keduanya tak dapat saling menyentuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!