NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 - Operasi: Menarik Leon Keluar Rumah

Pukul sepuluh pagi.

Leon masih berada di depan laptopnya.

Layar monitor dipenuhi rekaman CCTV, laporan keamanan, dan berbagai data yang berkaitan dengan keluarga Moretti.

Tangannya bergerak cepat di atas keyboard.

Tatapannya fokus.

Dunia luar seolah tidak ada.

Sampai—

Brak.

Pintu kamar terbuka lagi.

Leon bahkan tidak perlu menoleh.

"Keluar."

"Tidak." Suara Axel terdengar sangat ceria.

Yang berarti sesuatu yang buruk akan terjadi.

Leon memijat pelipisnya.

"Apa lagi?"

Axel berjalan masuk. Lalu menjatuhkan diri ke sofa.

Dengan ekspresi penuh kemenangan.

"Gua punya kabar."

"Gua nggak tertarik."

"Tapi ini tentang Rachael."

Jari Leon yang sedang mengetik berhenti.

Hanya sesaat.

Namun Axel melihatnya. Dan itu cukup.

"Kena deh, lu langsung peduli" Axel menahan senyum.

Leon tetap menatap layar.

"Tentang apa?"

"Nah." Axel menyilangkan tangan. "Penasaran juga ternyata."

"Gua cuma bertanya."

"Tentu."

Leon menatapnya datar.

Axel akhirnya tertawa kecil.

"Oke, oke."

Ia berdeham. Lalu berkata dengan wajah serius yang dibuat-buat.

"Rachael mengajak keluar."

Ruangan langsung hening.

Leon akhirnya menoleh.

"Kemana?"

Axel hampir ingin tertawa.

Karena biasanya Leon bahkan tidak akan menanyakan detail.

"Taman hiburan."

"..."

"Terus setelah itu bioskop."

Leon berkedip sekali.

Axel melanjutkan kebohongannya dengan percaya diri.

"Katanya hari libur sayang kalau dihabiskan di rumah."

Leon bersandar di kursinya.

Masih diam. Namun jelas sedang berpikir.

Axel semakin semangat.

"Menurut gua itu ide yang bagus."

"Tidak terdengar seperti sesuatu yang akan dia katakan."

Senyum Axel langsung membeku sepersekian detik.

Namun hanya sepersekian detik. Lalu kembali normal.

"Yah... Dia berkembang."

"Itu bukan penjelasan."

"Itu penjelasan terbaik yang kupunya."

Leon memperhatikan Axel.

Cukup lama sampai Axel mulai gugup. Untungnya Leon akhirnya mengalihkan pandangan.

Dan itu membuat Axel diam-diam menghela napas lega.

Leon kembali melihat layar laptop.

Dokumen Moretti masih terbuka. Bukti-bukti yang dikumpulkannya masih belum lengkap.

Masih banyak yang harus dilakukan.

Masih banyak yang harus dicari.

Namun...

Pikirannya tanpa sadar teringat pada apartemen kecil itu.

Es campur.

Mie pedas.

Tawa Rachael. Dan wajah kesal gadis itu saat Axel membuat keributan.

Untuk pertama kalinya sejak pagi.

Fokusnya sedikit goyah.

Axel yang melihat perubahan kecil itu langsung menyerang.

"Lu sudah bekerja sejak kemarin malam."

"..."

"Satu hari keluar tidak akan membuat dunia kiamat."

"..."

"Moretti juga tidak akan hilang kalau lu keluar empat jam."

"..."

"Lu butuh istirahat."

Leon menghela napas.

Pelan.

Lalu menutup laptopnya.

Klik.

Mata Axel langsung membesar.

"ASTAGA. BERHASIL."

Ia bahkan hampir berdiri untuk merayakan. Namun berhasil menahan diri dengan susah payah.

"Kapan?" tanya Leon.

Axel langsung menjawab secepat kilat.

"Jam satu siang."

"Kenapa cepat sekali?"

"Karena..." Axel hampir kelepasan. "...karena Rachael sudah siap."

Untung saja otaknya masih bekerja.

Leon tampak berpikir. Lalu mengangguk pelan.

"Baik."

Axel benar-benar ingin melompat dari sofa.

Setelah keluar dari kamar Leon.

Axel langsung berjalan cepat menyusuri koridor.

Kemudian setelah memastikan tidak ada orang... Ia mengangkat kedua tangan ke udara.

"YES!"

Berhasil.

Benar-benar berhasil.

Leon yang biasanya lebih sulit diajak keluar daripada memindahkan gunung...

Baru saja setuju.

Karena satu nama.

Rachael.

Axel terkekeh sendiri.

Dalam pikirannya hanya ada satu kesimpulan.

"Kena telak."

Tidak jauh dari sana.

Di taman belakang mansion.

Seorang wanita tua sedang duduk menikmati teh.

Rambut peraknya tertata rapi. Tatapannya lembut namun berwibawa.

Evelyn de Arther.

Nenek Leon.

Beliau memperhatikan Axel yang berjalan sambil tersenyum aneh dari kejauhan.

"Hm."

Seorang pelayan berdiri di sampingnya.

"Nyonya?"

Evelyn tersenyum tipis.

"Anak itu pasti sedang melakukan sesuatu."

"Axel, Nyonya?"

"Iya."

Beliau menyeruput tehnya. Tatapannya mengarah ke mansion.

"Aku penasaran seberapa jauh dia akan ikut campur."

Pelayan itu tersenyum kecil.

Karena seluruh keluarga tahu satu fakta.

Axel sangat menyukai membuat kekacauan. Terutama jika kekacauan itu melibatkan Leon.

Dan terlebih lagi... melibatkan Rachael.

Evelyn masih ingat jelas gadis yang pernah ditemuinya itu.

Tenang.

Cerdas.

Tulus.

Tidak silau oleh kekayaan keluarga De Arther.

Sifat yang sangat jarang ditemui.

Karena itulah...

Diam-diam Evelyn memang tidak keberatan jika Leon semakin dekat dengannya.

Bahkan sebaliknya.

Sudut bibir wanita tua itu terangkat tipis.

"Mungkin sesekali Leon memang perlu keluar dari dunia gelapnya."

Lalu beliau kembali memandang bunga-bunga di taman.

Sementara di tempat lain... Axel sedang sibuk menghubungi Rachael.

Karena ada satu masalah kecil.

Sangat kecil.

Sangat berbahaya.

Yaitu...

Rachael sama sekali belum tahu kalau sekarang dia sudah berhasil mengajak Leon untuk ke taman hiburan dan bioskop bukan jalan-jalan biasa.

...----------------...

Mansion keluarga De Arther yang biasanya tenang di hari libur pagi itu sedikit berbeda.

Matahari bersinar cerah di luar.

Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan taman yang luas.

Di kamar miliknya, Leon masih duduk di depan laptop.

Beberapa dokumen terbuka.

Foto-foto.

Laporan pengawasan.

Daftar nama.

Sejak menemukan alat penyadap beberapa, Leon hampir tidak pernah benar-benar beristirahat.

Ia mengumpulkan bukti.

Menganalisis pola.

Mencari siapa yang berani membantu musuh dari dalam mansion.

Di sisi lain ruangan...

Axel sedang berbaring di sofa.

Bosan.

Sangat bosan.

Ia sudah mencoba mengajak Leon mengobrol.

Gagal.

Mengajak bermain game.

Gagal.

Mengajak keluar.

Gagal.

Sampai akhirnya ia menggunakan jurus terakhir.

Rachael.

Dan entah bagaimana... Itu berhasil.

Setidaknya sedikit.

Karena setelah Axel berbohong bahwa Rachael ingin pergi ke taman hiburan dan bioskop bersama mereka...

Leon benar-benar berhenti bekerja selama beberapa detik.

Meski kemudian kembali memasang ekspresi datarnya.

Namun Axel tahu.

Ia melihatnya.

Ada reaksi. Ada ketertarikan. Dan itu sudah cukup membuatnya merasa menang.

"Aku jenius."

"Kau pembuat onar."

"Itu detail kecil."

Leon mengabaikannya.

Namun sebelum Axel sempat melanjutkan rencananya—

Tok.

Tok.

Suara ketukan terdengar dari pintu.

Seorang pelayan masuk.

"Nona Rachael datang berkunjung."

Ruangan langsung hening.

Axel membeku.

Leon mengangkat kepala dari layar laptop.

"...Apa?"

Pelayan membungkuk sopan.

"Nona Rachael berada di ruang tamu bersama Nyonya Evelyn."

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Lalu Axel melompat berdiri.

"TUNGGU."

Pelayan berkedip.

"Ada masalah, Tuan Axel?"

"Tidak! Tidak ada masalah!"

Justru masalahnya terlalu sempurna.

Axel langsung menoleh ke Leon.

Leon juga sedang menatapnya.

"..."

"..."

Mereka berdua memikirkan hal yang sama.

Rachael benar-benar datang.

Dan datang lebih cepat daripada rencana apa pun yang sempat Axel susun.

||

Sementara itu...

Di ruang tamu utama mansion.

Rachael duduk dengan tenang di sofa mewah berwarna hitam.

Tangannya memegang secangkir teh hangat yang diberikan pelayan.

Ia mengenakan pakaian santai.

Celana kulot hitam. Kaos putih sederhana. Jaket coach hitam yang sedikit longgar.

Rambut cokelatnya tergerai lembut hingga punggungnya.

Penampilannya jauh lebih santai dibanding saat berada di sekolah.

Di sampingnya terdapat kantong belanja kertas berwarna cokelat.

Isinya beberapa toples kue kering buatannya sendiri.

Sementara itu...

Di hadapannya duduk seorang wanita tua yang tampak sangat bahagia.

Nenek Leon.

"Aduh..." Evelyn memegang tangan Rachael.

"Nenek senang sekali kau datang."

Rachael berkedip.

"Terima kasih?"

"Kau manis sekali."

"..."

"Dan cantik."

"..."

"Dan juga sopan."

"..."

Rachael mulai tidak tahu harus menjawab apa.

Karena sejak datang lima menit lalu...

Evelyn sudah memujinya berkali-kali.

Dan setiap kali Rachael hendak membalas... Wanita itu kembali memujinya.

Untungnya Rachael cukup tenang menghadapi situasi aneh.

Jika orang lain mungkin sudah kabur.

"Kau membuat kue sendiri?" tanya Evelyn sambil melihat kantong belanja.

"Iya."

"Membuat sendiri?"

"Iya."

"Untuk kami?"

"Iya, tentu."

Mata Evelyn langsung berbinar.

"Ya ampun."

Ia tampak tersentuh.

Benar-benar tersentuh.

Bahkan pelayan yang berdiri di dekat sana mulai curiga kalau Nyonya Evelyn sebentar lagi akan mengangkat Rachael sebagai cucu sendiri.

"Aku hanya membuat sedikit."

"Tidak ada yang namanya sedikit kalau dibuat dengan niat."

Rachael terdiam.

Logika itu terdengar aneh. Tapi juga masuk akal.

Evelyn lalu tersenyum hangat.

"Kau datang sendirian?"

"Iya."

"Naik taksi?"

"Bus."

Evelyn tampak terkejut.

"Bus?"

"Iya."

"Kau tidak kesasar?"

"Tidak kok."

"Bagus lah."

Rachael mulai merasa percakapan ini seperti wawancara.

Untungnya saat itu...

Suara langkah kaki terdengar dari tangga utama.

Evelyn langsung menoleh. Dan senyumnya semakin lebar.

"Nah. Cucuku datang."

Rachael ikut menoleh.

Di ujung tangga...

Leon muncul mengenakan pakaian santai.

Kemeja hitam tipis dengan lengan sedikit digulung.

Rambut pirangnya masih sedikit berantakan karena sebelumnya fokus bekerja.

Tatapan dinginnya langsung berhenti pada satu orang.

Rachael.

Untuk sesaat...

Leon benar-benar terdiam.

Karena ia melihat Rachael datang ke mansion dalam pakaian santai.

Tanpa seragam sekolah.

Tanpa suasana kelas.

Tanpa buku.

Hanya dirinya.

Sederhana.

Namun entah kenapa... Sulit untuk mengalihkan pandangan.

Sementara itu Axel muncul dari belakang. Begitu melihat situasi di ruang tamu... Ia langsung tersenyum lebar.

"Oh. Ini menarik."

Rachael mengangkat tangan kecil.

"Oh, halo."

"Halo." jawab Axel cepat.

Leon berjalan mendekat.

"Halo."

"Hm."

Jawaban singkat seperti biasa.

Namun kali ini Rachael memperhatikan sesuatu.

"Kau kelihatan capek."

Leon berhenti.

Axel langsung menoleh.

Evelyn juga menoleh.

Leon sendiri tampak sedikit terkejut.

Karena tidak ada orang lain yang langsung menyadarinya.

"Aku baik-baik saja."

"Kau bohong."

"..."

"Kau terlihat kurang tidur."

Axel langsung menunjuk Rachael.

"NAH. Itu dia."

"Apa?"

"Kau satu-satunya orang yang berani ngomong begitu langsung ke mukanya."

Rachael terlihat bingung.

"Aku cuma mengatakan fakta."

Leon memijat pelipisnya.

Entah kenapa.

Di antara semua orang yang ia kenal...

Hanya Rachael yang bisa mengatakan sesuatu seperti itu dengan wajah polos.

Dan justru karena itulah... Sulit merasa kesal padanya.

Sementara Evelyn yang melihat interaksi itu hanya tersenyum semakin lebar.

Dalam hati ia berpikir satu hal.

"Ya. Ini bagus sekali. Benar-benar bagus sekali."

...****************...

Bersambung...

1
Ruby
menarik, semangat ya💪😊
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!