Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 31: akan Pulang
*Ep 31 : PAGI SETELAH TUNANGAN*
Kampung Bisomu tenang setelah semalam riuh
Hari ini pada bangun kesiangan.
Semalam tidur jam 3 pagi, wajar kalau matahari udah tinggi baru pada melek.
Keluarga Indry udah mulai beresin bekas pesta semalam. Perabot dapur udah pada bersih, tikar digulung,ruangan sudah bersih. Kompak benar keluarga besar ini.
sisa kue guni dibagi-bagi ke anak kecil yang lewat.
Sarapan sudah siap.
Nasi Ayam, Pansoh di bambu masih banyak juga sisa semalam sudah di bakar lagi, Nasi kuning, ayam panggang, sayur pakis,Mie goreng. sambal Kecombrang,Umbut Koruh, martabak manis sisa semalam. Bau wangi nyebar sampai ke loteng.
Pasangan itu masih betah di kamar.
Hari pertama sebagai tunangan, mereka sangat bahagia. Nggak buru-buru turun.
Di luar orang pada sibuk, di dalam mereka ngobrol panjang.
Zaki: “Semalam ada cowok-cowok yang dateng salamin kamu ya?”
Indry ketawa kecil. “Iya. Anak sekitar sini, ada juga yang dari jauh datang. Mereka bilang ‘selamat ya Indry’. Biasa aja.”
Zaki cemberut. “kayaknya mereka agak agak beda gitu liatin kamu? Kok kelihatan akrab banget.”
Indry cubit pelan lengan Zaki. “Cemburu ya?”
Zaki diem. Angguk.
Indry: “aku gak punya waktu buat pacaran. gak punya energy buat cinta cintaan waktu dulu. Mereka cuma lewat. Jangan gampang cemburu dong, calon suami.”
Zaki peluk. “Iya. Maaf. Aku takut kehilangan kamu lagi.”
Indry: “Nggak akan. Kamu udah resmi.”sambil nunjukin cincin di jari.
Obrolan geser ke persiapan pernikahan.
“Tanggalnya kapan ya? Tempatnya di Tegal apa di sini apa di karawaci?”
“Di sini karawaci aja Pemberkatan Nikahnya dan Ijab qobul.Di Tegal nanti resepsinya. Biar dua keluarga ketemu.”
“Biaya gimana?kan kita juga boyong keluarga”
“Kakek Rahmat udah bilang bantu. Tapi kita juga harus nabung. Malu dong kalau cuma ngandelin orang tua."
Indry senyum. “Kita kerja bareng ya, Zak.”
Zaki angguk. “Sampai tua.”
Obrolan makin serius, makin romantis.
Zaki cerita gimana dia nunggu Indry tiap malam. Duduk di depan laptop, buka chat lama, baca ulang.
Indry cerita gimana dia kerja keras biar adik-adik nggak kelaparan. bisa tetap sekolah.
biaya berobat Deoni dan mama.
gimana Berkat Tuhan gak pernah terlambat. gak selalu pake uang. lebih sering pake orang lain jadi berkat. seringkali kalo pas gak ada uang selalu Tuhan kasi cara Nya yang entah gak bisa dijelaskan secara logika. ada aja orang baik. ada aja jalan keluar. .
.
“15 tahun, Zak. Kita nggak buang waktu.”
Zaki kecup kening Indry. “Nggak. Tuhan lagi nyiapin kita.”
****
Di luar, Meta paling bocor.
Dia turun duluan, ngumpul di dapur, cerita ke Mama Zaki dan Bibi Rina.
“Kalian tau nggak? Tadi malem mereka…”
Mama Zaki langsung tutup mulut Meta. “Udah! Jangan diceritain!”
Semua ketawa.
---
_Suasana akrab di dapur._
Paman Marsel duduk ngopi, ngasih wejangan ke Carel, Paul, Mauba,Ogah.
“Jaga kakak kalian. Jangan bikin malu. Kalau Zaki marah, kalian yang salah.”
jaga diri. jaga adab. iman yang teguh. Doa di setiap nafas.
Carel angguk serius. “Siap, Paman.”
Bibi Rina ngasih wejangan ke Meta : “belum tunangan, jaga diri. Jangan pulang malam. Jangan tidur berdua kalau belum nikah.”
merah. “Iya, Bi.siap laksanakan. Mas Bule auto aku ajarin adat Timur.”
Sepupu-sepupu ngumpul. Ngasih wejangan setengah bercanda.
“Kalau nikah nanti, undang kami ya. kaan mau terbang pesawat juga.”
“Kalau punya anak, namanya harus pakai ‘Dayak’!”
Zaki ketawa. “Siap. Anak pertama namanya Zaki Dayak.” abis itu naik lagu nyusul Indry niatnya ngajak turun juga.
Mr Bule duduk di lantai, dikelilingi para nenek. Dia lagi belajar bahasa kampung pakai kode.
Nenek Maria nunjuk kepala: “Bak.”
Mr Bule: “Bak… kepala. Okay.”
Nenek Rina nunjuk kaki: “Kojok.”
Mr Bule: “Kojok… kaki. Hard word.”
Nenek Maria ketawa: “Nua!” nunjuk hidung.
Mr Bule: “Nua! Hidung! Rubanua?”
Nenek: “Iya! Lubang hidung!”
Mr Bule ngak. “Rubanua! Rubanua!”
Nenek Maria lanjut: “Makan \= man. Tidur \= bis. Bertamu \= mansu. Jalan-jalan \= begoyap. Pantat \= kona. Wajah \= muo.”
Mr Bule catet di HP. “Besok aku test Meta. Kalau dia nggak tau ‘kona’, aku cubit.”
Meta dari dapur teriak: “Bule! Jangan ngomong kona-kona!”
Semua pecah ketawa.
---
_Jam 11 siang. Zaki dan Indry masih ngamar._
Pintu ketok pelan. “Indry! Turun! Sarapan!” suara Carel.
Indry bangun. Rambut berantakan.
Zaki masih rebahan. “5 menit lagi.”
Indry cubit. “Udah jam 11. Nanti dikira kita ngapain aja di sini.”
Zaki senyum nakal. “Memang ngapain aja?”
Ciumannya makin berani. Nggak cuma di kening.
Tangan Zaki udah mulai berani usap-usap pinggang, turun pelan.
Indry nahan napas. “Zak… jangan. Nanti ketahuan.”
Zaki bisik di telinga: “Sebentar aja. Aku kangen.”
Indry dorong pelan. “Nanti malam aja. Sekarang turun. Malu sama keluarga di bawah”
Zaki mengalah. Tapi sebelum lepas, kecup leher Indry sekali. Panjang.
Indry gemetar. “Kamu… nakal.”
Zaki ketawa. “Tahan sampai nikah ya, Sayang.”
Mereka turun. Pura-pura biasa aja. Tapi pipi Indry merah, Zaki senyum-senyum sendiri.
---
Siang itu. Sungai kampung Bisomu
Sebelum pulang, mereka sempetkan mandi sungai.
Kecuali Pak Ustadz yang ogah membayangkan akan telanjang dada di sungai.tapi penasaran pengen nyicip air gunung
“Aku nunggu di pinggir aja. Jagain baju.”
Air begitu jernih. Sungainya cukup lebar, air batu dan pasir. Masih sangat alam.
Kiri kanan masih pohon-pohon besar. Di bagian hulu ada pantai pasir yang cukup luas.
Di hilir ada bapak-bapak nongkrong boker di sungai.
Mandi penuh keseruan.
Meta paling heboh sama Mr Bule main cipratan air.
“Alex! Jangan ciprat muka gue! Makeup gue!”
Mr Bule ketawa sambil nyiprat lagi. “Sorry babe! Accidental!”
Carel yang pake sarung sambil berenang, balonkan sarungnya kayak balon sarung . Anak-anak ketawa.
Paul, Mauba, dan Ogah nostalgia masa kecil di sungai. Salto, terjun dari atas pohon ke tempat yang dalam.
“ Cancame!” teriak Ogah sebelum loncat.
Mereka lari-larian di pasir. Main kejar-kejaran. Quality time mandi yang berjam-jam.
Indry dan Zaki mode malu-malu. Paling kalem di antara pasukan mandi.
Mereka duduk di batu besar, kaki celup air.
Zaki: “Kamu cantik banget kalau basah gini.pakai sarung gitu gak sabar buat buka di kamar”
Indry cubit pelan. “Nakal banget sih. mulai ngelantur ngomongnya. Jangan gombal. Nanti jatuh.”
Zaki pegang tangan Indry. “Aku serius. Aku bersyukur Tuhan bawa aku ke sini.”
Ibu udah mandi di rumah. Kali ini jadi fotografer aja buat laporan ke Tuan Takur.
“Zaki! Indry! Senyum! Buat Kakek Rahmat!”
Mereka senyum. Foto. Simpan.
Jam 3 sore baru semua naik. Badan gigil karna dinginnya air batu, tapi hati puas.
---
_Sore. Jam 4. Pamitan._
Mereka berpamitan dengan keluarga. Malam nanti menginap di hotel dulu sebelum besok pagi balik ke tempat masing masing. Tegal. Karawaci.
Pamitan yang berat. Pelukan keluarga. Foto-foto.
Nenek Maria peluk Indry lama. “Jaga diri, Cucu. Jangan nakal sama suami.”
Kakek Laban jabat tangan Zaki kuat. “Jaga anak kami. cucu saya.”
Paman Marsel peluk Zaki. “Kalau ada apa-apa, telepon Paman. Paman datang.”
Mama Zaki peluk semua keluarga “Kalian keluarga saya sekarang.”
Meta nangis bombay.
“Gue nggak mau pulang! Gue mau tinggal di sini! Bule, kita nikah di sini aja ya!”
Mr Bule peluk Meta. “Okay babe. Whatever you say.”
Ogah nangis juga. “Paman bibi kakek nenek abang kakak, Titip makam sama Rumah ya.”
Indry peluk Ogah erat. “ semua pasti baik.”
Carel, Paul, Mauba, Ogah lambai tangan. Mata berkaca.
4 hari Rasanya sebentar banget.
Zaki pamit terakhir ke Kakek Laban.
“Kakek, doain kami.”
Kakek Laban pegang bahu Zaki. “Tuhan jaga kalian. Pulang lagi ya. Bawa cucu.”
Zaki angguk. Suara tercekat.dalam hati bilang udah gak sabar nanam.
Mobil travel sudah nunggu.
Semua naik. Kaca diturunkan. Tangan melambai.
Anak-anak lari nganter sampai ujung jalan.
“Datang lagi ya, Kak!”
“Iya! Nanti bawa oleh-oleh Tegal!”
Mobil jalan pelan.
Indry liat ke belakang. Kampung Bisomu makin kecil.
Zaki pegang tangan Indry.
“Nggak usah sedih. Kita bakal balik lagi. Kali ini bawa status suami istri.”
Indry angguk. Air mata jatuh.
“Bismillah.”
Di belakang, Meta masih nangis. Mr Bule peluk.
Ogah tidur di pangkuan Mama Zaki. Capek nangis.
Carel, Paul, Mauba duduk di kursi depan. Di chat grup keluarga, foto-foto udah 200 lebih.
Malam itu mereka menginap di Hotel Pontianak lagi.
Tapi rasanya beda.
Mereka pulang sebagai tunangan.
Pulang dengan janji.
saat menangis. Tuhan tau