NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Rendang, Rumus, Dan Rasa Cemburu

Ruang makan rumah Clarissa itu tipikal rumah orang kaya, lampunya kristal, kursinya dari kayu jati yang kalau didudukin bunyinya nggak ada (beda sama kursi plastik di kantin kita).

Dan aromanya bau pengharum ruangan otomatis yang nyemprot tiap lima belas menit. Gua duduk di sebelah Dedik, masih pake topi rimba bapak kost yang tadi lupa gua lepas saking tegangnya.

Di depan gua, Clarissa duduk dengan anggunnya, dan di ujung meja ada Mamanya Clarissa, Tante Rosa yang penampilannya kayak sosialita lagi mau arisan.

"Jadi, ini Reyna ya? Temennya Dedik?" tanya Tante Rosa sambil senyum, tapi matanya kayak lagi nge-scan harga baju gua.

"Pacarnya, Tante. Eh, maksud saya... partner riset yang merangkap jadi variabel tetap di hidup Dedik," jawab gua berusaha tetep sopan.

Meski Arlan di sebelah gua lagi sibuk nyedot es sirup sampe bunyinya slruuup kenceng banget.

"Logikanya, Ma," potong Dedik sambil benerin sendoknya biar sejajar sama piring, presisi sampe ke milimeter.

"Reyna adalah komponen esensial. Tanpa dia, riset saya cuma sekumpulan data bisu. Dia yang kasih 'jiwa' lewat frekuensi vokalnya."

Tante Rosa cuma mangut-mangut cantik. "Oh, begitu ya. Kirain Dedik masih sama Clarissa. Soalnya pas di Singapura dulu, kalian kan udah kayak paket bundling."

"Ke mana-mana berdua, belajar bareng, bahkan foto kalian yang di depan patung Merlion itu masih Tante simpen loh di album ruang tengah."

Gua ngerasa ada petir nyamber di tengah meja makan. Foto di depan Merlion?

"Foto itu diambil dalam rangka dokumentasi kemenangan olimpiade, Tante," sahut Dedik lempeng. "Secara teknis, itu adalah bukti fisik pencapaian akademis, bukan materi sentimental."

"Tapi kamu kelihatan senyum loh di situ, Ded. Padahal kamu kan susah banget disuruh senyum kalau difoto," Clarissa nambahin sambil ngelirik gua pake tatapan 'Gue punya kenangan yang nggak lo punya'.

Gua langsung panas. Gua ambil sepotong rendang yang paling gede, terus gua taruh di piring Dedik. "Makan yang banyak, Sayang. Kamu kan butuh banyak protein buat mikirin 'Konstanta Reyna' yang tadi kamu bilang di Lab."

Dedik ngelihatin rendang itu, terus ngelihatin gua. "Rey, secara biologis, potongan rendang ini mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi kalau dimakan sekaligus."

"Tapi... demi menjaga stabilitas hubungan kita di depan umum, gua bakal makan."

Arlan hampir tersedak kerupuk. "Anjay! 'Demi stabilitas hubungan'. Lo emang juara, Ded!"

Suasana makin 'asik' pas rendangnya mulai masuk ke mulut. Clarissa kayaknya nggak mau kalah. Dia mulai buka topik yang gua nggak paham sama sekali.

"Ded, kamu inget nggak algoritma Stochastic yang kita bahas di perpustakaan NUS dulu? Yang pas kita kehujanan terus harus neduh sampe malem?" Clarissa nanya sambil senyum manis banget.

"Inget. Kita nemuin bug di baris ke-402," jawab Dedik tanpa ekspresi.

"Ih, bukan bug-nya! Tapi momen pas kamu ngelepas jaket kamu terus dikasih ke aku karena aku kedinginan," Clarissa ketawa kecil. "Kamu masih inget nggak kata-kata kamu waktu itu?"

Gua udah siap-siap mau ngelempar sendok. Tapi Dedik dengan tenangnya malah jawab,

"Gua inget. Gua bilang: 'Cla, pake jaket ini. Kalau lo sakit dan demam, kecepatan koding lo bakal turun 40% dan kita bakal kalah di babak final'. Itu adalah tindakan preventif untuk menjaga performa tim."

Hening.

 Gua pengen ngakak guling-guling tapi gua tahan. Clarissa mukanya langsung mendadak datar kayak penggaris. Tante Rosa cuma bisa ngeremes serbetnya.

"Dedik... kamu emang nggak berubah ya," gumam Clarissa sambil nusuk-nusuk nasinya pake garpu.

"Secara fundamental, kepribadian manusia dewasa cenderung stabil setelah melewati fase remaja," balas Dedik telak. Dia terus nengok ke Tante Rosa.

"Tante, ngomong-ngomong soal rendang ini, saya perhatiin sistem pemanas di kompor Tante agak kurang efisien."

"Api yang keluar warnanya agak kemerahan, itu tandanya pembakaran gasnya nggak sempurna. Kalau dibiarin, Tante bakal boros gas sekitar 15% tiap bulan."

Tante Rosa melongo. "Eh... masa sih, Ded?"

"Iya. Nanti setelah makan, saya ijin ke dapur buat kalibrasi ulang spuyer kompornya. Logikanya, kalau Tante bisa hemat 15%, uangnya bisa dipake buat beli tas baru."

"Wah, boleh banget itu! Dedik emang mantu... eh, maksud Tante, emang anak yang pinter!" Tante Rosa langsung semangat.

Gua nendang kaki Dedik di bawah meja. "Ded! Kita ke sini mau bahas paten, bukan mau jadi tukang servis kompor gas!"

"Paten itu urusan otak, Rey. Kompor itu urusan perut. Keduanya harus sinkron," bisik Dedik ke gua.

***

Selesai makan, beneran dong, Dedik langsung ke dapur. Dia buka itu bagian bawah kompor, keluarin kunci inggris kecil yang ternyata selalu dia bawa di tasnya (tuhan, kenapa gua cinta sama robot ini?), dan mulai utak-atik.

Gua, Clarissa, sama Arlan berdiri di pintu dapur ngelihatin dia.

"Lo liat kan, Cla?" bisik gua ke Clarissa. "Dia ke rumah lo bukan buat balikan, tapi buat benerin barang rusak. Dedik itu kayak aplikasi antivirus, dia cuma peduli sama 'kesehatan sistem', bukan 'nostalgia pengguna'."

Clarissa ngelipat tangannya di dada. "Kita liat aja nanti, Rey. Dedik itu butuh orang yang se-level sama dia buat diskusi. Kamu emang bisa bantu dia koding? Kamu emang paham apa itu latency frekuensi?"

"Gue emang nggak paham koding," jawab gua mantap.

"Tapi gue paham kalau dia laper, gue paham kapan dia harus istirahat, dan gue paham gimana cara bikin dia senyum tanpa harus menang olimpiade. Dan yang paling penting... gue punya password laptopnya."

Clarissa langsung diem. Skakmat.

Tiba-tiba dari kolong kompor, Dedik teriak. "Rey! Sini sebentar!"

Gua nyamperin dia. "Apa, Ded?"

"Pegangin senter HP lo. Gua butuh pencahayaan minimal 500 lumen buat liat baut kecil di sebelah sini."

Gua langsung jongkok di sebelah dia, nyenterin bagian dalem kompor yang kotor itu. Kita jadi pusat perhatian Tante Rosa dan Clarissa dari jauh.

"Ded," bisik gua sambil nyenter. "Lo beneran nggak ada perasaan apa-apa pas liat foto Merlion tadi?"

Dedik berenti muter baut. Dia nengok ke gua, kacamatanya agak berdebu. "Rey, dengerin gua. Foto itu cuma susunan piksel di atas kertas. Masa lalu itu cuma cache yang udah gua clear."

"Sekarang, sistem gua udah di-install ulang pake data baru, dan lo adalah sistem operasinya. Tanpa lo, semua perangkat keras gua nggak ada gunanya."

Gua ngerasa pipi gua panas. "Bisa aja lo, Baut Karatan!"

"Gua nggak gombal. Ini murni analisis sistem," dia balik lagi muter bautnya. "Oke, selesai. Tante! Coba nyalain kompornya!"

Tante Rosa nyalain kompor, dan wuusshh! Apinya biru sempurna, suaranya halus banget kayak bisikan angin. Tante Rosa senengnya bukan main.

"Wah! Dedik hebat! Reyna, kamu beruntung banget ya dapet cowok model begini. Biarpun kaku, tapi sangat fungsional!" seru Tante Rosa.

Clarissa cuma bisa gigit jari di pojok dapur. Rencana dia buat bikin gua cemburu lewat nostalgia Singapura gagal total gara-gara spuyer kompor gas.

Pas kita mau pamit pulang, Clarissa nahan Dedik di depan pager.

"Ded, soal berkas paten itu... besok kita harus lembur di perpus ya? Ada beberapa poin hukum yang harus kita tajemin," kata Clarissa dengan nada yang masih berusaha manis.

Dedik pake helmnya, terus dia nengok ke gua yang udah nangkring di boncengan motor bebeknya.

"Logikanya, Cla... kalau cuma urusan hukum, lo bisa kirim draft-nya lewat email. Gua bakal review bareng Reyna sambil kita makan bakso di depan kostan dia."

"Interaksi tatap muka nggak diperlukan kecuali ada urgensi teknis yang tinggi."

"Tapi Ded..."

"Ayo, Rey. Pegangan yang kenceng. Secara aerodinamis, kalau lo meluk gua, hambatan angin bakal berkurang dan kita bisa sampe kostan 30 detik lebih cepet," kata Dedik sambil tancap gas.

"Dah Clarissa! Makasih rendangnya! Kompornya jangan sampe rusak lagi ya!" teriak gua sambil melambaikan tangan dengan penuh kemenangan.

Arlan ngikutin di belakang pake motornya sambil teriak-teriak, "CILOK! CILOK MANA CILOK?!"

***

Malam itu, di bawah lampu jalanan kota yang remang-remang, gua nyenderin kepala di punggung Dedik. Gua tau Clarissa nggak bakal nyerah gitu aja, dan mungkin di bab ke depan bakal ada drama yang lebih lucu lagi.

Tapi buat sekarang, gua sadar satu hal, Nggak peduli seberapa cantik atau pinter masa lalunya, Dedik udah milih gua buat jadi "variabel tetap" di masa depannya.

"Ded," panggil gua di tengah deru angin.

"Apa?"

 "Besok ajarin gua koding dikit dong. Biar gua paham dikit kalau lo lagi ngomongin jitter atau apa itu."

Dedik diem sebentar. "Boleh. Tapi syaratnya satu."

"Apa?"

"Jangan pernah nyoba benerin kompor sendiri. Itu berbahaya buat keselamatan lo, dan secara logika... gua nggak mau kehilangan satu-satunya orang yang frekuensinya udah sinkron sama jantung gua."

Gua senyum lebar. Hari ini gua menang banyak. Bakso, rendang, dan hati si Robot Sialan ini.

***

Kemenangan Reyna di rumah Clarissa ternyata berbuntut panjang. Clarissa yang dendam akhirnya mutusin buat pake "Rencana B".

Besoknya di kampus, beredar rumor kalau riset "Harmoni Nada" sebenernya adalah ide Clarissa yang "dipinjam" Dedik saat di Singapura.

Gimana cara Reyna ngebersihin nama Dedik tanpa harus pake kekerasan? Dan apakah Dedik bakal diem aja pas integritasnya diragukan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!