kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng iman di ambang maut
## Bab 23: Benteng Iman di Ambang Maut
"Astaghfirullahal'adzim..." seru Ahmad spontan. Langkah kakinya otomatis mundur satu jengkal melihat perwujudan makhluk yang begitu raksasa dan mengerikan di hadapannya.
Ahmad terpaku, napasnya tertahan di kerongkongan. Meski sudah sering mendengar kisah tentang makhluk halus dan siluman selama di pesantren, menyaksikan wujud sekejam itu secara langsung tetap membuat bulu kuduknya meremang. Di hadapannya kini bukan lagi seorang dukun tua yang ringkih, melainkan entitas gaib yang memancarkan aura pekat yang menindas.
Seketika, bau anyir bangkai yang teramat tajam menyeruak memenuhi halaman, bercampur hawa panas yang membakar kulit. Ahmad terpaksa menahan napas demi menghalau rasa mual yang mendadak bergolak di perutnya.
"Kau pikir aku akan kalah semudah itu?" suara makhluk itu menggema berat, keluar dari rongga tenggorokan yang menganga. Itu bukan lagi suara manusia, melainkan raungan parau yang menggelegar hingga menggetarkan permukaan tanah di bawah kaki mereka.
Makhluk bertanduk itu melangkah maju, membuat gelang-gelang logam di lengannya berdenting nyaring. "Aku adalah penguasa hutan ini, semua makhluk tunduk padaku! Dan kau baru saja membangunkan amarahku, manusia bodoh!"
Ahmad menarik napas panjang, mencoba mengendalikan pasokan oksigen sekaligus menekan gejolak ketakutan yang mulai merayap di dadanya. Ia tahu pasti, jika detik ini mentalnya runtuh, maka nyawanya—juga nyawa Agus dan Paman Mira—akan tamat di tempat ini. Genggaman tangannya mengencang, bersiap menerima badai serangan dari sang penguasa kegelapan.
Tanpa aba-aba, makhluk raksasa itu mengayunkan tangan besarnya yang berbulu lebat. Angin kibasan dari ayunan tersebut menderu keras, siap meremukkan tubuh sang santri.
Serangan yang datang mendadak dan sangat cepat itu sempat membuat Ahmad tersentak. Namun, insting bertarungnya jauh lebih sigap. Dengan mengerahkan seluruh tenaga di kedua kaki, Ahmad melompat tinggi ke udara, melambung melewati sambaran tangan raksasa yang menyasar tempatnya berdiri tadi.
Wusss!
Lengan berornamen logam milik sang penguasa hutan menghantam udara kosong, menimbulkan dentum angin yang menerbangkan debu dan dedaunan kering. Namun belum sempat Ahmad turun, makhluk itu dengan cepat mengayunkan tangan kirinya ke atas, memburu Ahmad yang masih melayang.
Dalam posisi tak bertumpu, Ahmad sadar tidak akan mampu menghindar lagi. Jarak yang terlalu dekat membuat peluang selamatnya seolah tertutup rapat.
Di detik kritis itu, Ahmad tidak membuang waktu untuk merangkai jurus fisik yang sia-sia. Ia justru memejamkan mata erat-erat, memasrahkan hidup dan matinya, lalu memusatkan seluruh sisa tenaga batinnya ke dalam satu titik keyakinan terdalam.
"Laa haula wa laa quwwata illa billaahil 'aliyyil 'adziim..." Kalimat itu bergetar lirih dari bibirnya, tetapi bergema keras penuh penyerahan diri di dalam sanubari.
Seketika itu juga, seberkas cahaya putih keemasan yang lembut namun menyilaukan memancar deras dari seluruh tubuh Ahmad. Cahaya suci yang lahir dari kemurnian iman itu menjelma menjadi perisai gaib yang kokoh di sekeliling raganya.
Tepat saat tangan kasar makhluk raksasa itu hendak mencengkeram dan meremukkan tubuh Ahmad di udara, benturan dua kekuatan ekstrem pun terjadi.
Ctaarrr!
Ledakan energi tersebut menimbulkan rambatan gelombang angin yang berputar hebat, menyapu bersih dedaunan kering di halaman. Lengan berbulu milik sang penguasa hutan seketika terpental balik dengan kasar, seolah baru saja menghantam dinding beton tebal tak kasat mata.
Arrrghhh!
Makhluk bertanduk itu melenguh parau. Ia menarik kembali tangannya yang mendadak melepuh layaknya menyentuh permukaan besi mendidih. Gelang-gelang logam di pergelangan tangannya bergetar hebat, sementara tubuh raksasanya sempat limbung akibat hantaman balik cahaya iman Ahmad.
Namun perlindungan gaib itu harus dibayar mahal. Meski berhasil menyelamatkan nyawanya dari jepitan maut, daya dorong dari benturan luar biasa tersebut tetap melemparkan tubuh fisik Ahmad ke bawah.
Bugh!
Ahmad jatuh terhempas cukup keras di atas tanah yang lembap. Hantaman itu seketika memutus konsentrasi zikirnya, membuat perisai cahaya di sekeliling tubuhnya lenyap.
Ahmad terbatuk-batuk, dadanya terasa nyeri seakan dihantam gada besi. Ia berusaha keras untuk langsung bangkit bertumpu pada kedua lutut, tetapi napasnya tersengal parah. Seluruh persendian tubuhnya terasa linu; menahan serangan penuh dari penguasa mutlak hutan ini telah menguras habis sisa tenaga dalam yang dimilikinya.
Belum sempat Ahmad berdiri tegak, serangan susulan kembali datang membabi buta. Seakan tak memberi jeda sedetik pun bagi Ahmad untuk menghirup udara, makhluk bertanduk yang murka itu meluncurkan cakaran kilat. Satu kuku panjang yang hitam dan runcing menyambar cepat, siap merobek dada Ahmad yang masih terduduk lemas.
Bersambung
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁